
Selepas berbicara di telepon, Adel masih melihat bayangan dirinya berbincang dengan sahabatnya, Tati. Dalam bayangan itu, Tati tampak mengucapkan syukur. Mungkin karena dia merasa sudah mendapatkan penyelesaian dari masalahnya.
Nah, tuh. Don juannya udah dateng
Aku cabut dulu, ya?
Buru-buru amat, mbak?
Iya, bram. Eeh, mas Budi
Kemaruk
Ha ha ha. Iya, maaf. Ketularan.
Cieeeee
Kali ini dia melihat bayangan dirinya sedang berdiri di pinggir jalan. Bertemankan tati, dan teman-teman dari grup campur sari. Tati berseru memberitahukan kedatangan Budi. diapun langsung pamitan. Dia juga melihat bayangan dirinya salim pada Budi, yang disoraki teman-temannya. Setelah itu, dia melihat bayangan dirinya sedang berjalan-jalan santai di alun-alun, lalu sholat di masjid Agung.
Bram, lewat jalur bis aja, ya!
Loh, muter, dong?
Nggak papa, tata pengen lamaan dikit, meluknya
Mending lewat utara
Mampir rumah abram, dong?
Ketemu camer
Ha ha ha. sebenernya sih, boleh juga. Cuman tadi tata juga lupa bilang sama ibu, kalo ngejobnya tadi, dari pagi
Kok bisa?
Ya, ibunya pagi-pagi keluar, sama bapak. Tahu kemana. Pulang-pulang, nelpon tata, ngomel deh
Oh
Kalo tata pulangnya kemaleman, aduh, alamat dapet sepuluh sks sekaligus, nih
Ha ha ha ha. Ya udah, nggak papa. Bisa lain waktu kok, mampirnya
Muncul bayangan saat dia melanjutkan perjalanan. Dia meminta Budi untuk lewat jalur bis. Selanjutnya, berkelebat bayangan pengeroyokan yang dilakukan segerombolan preman.
“Aahh”
Adel merasakan kepalanya semakin berdenyut. Tapi dia tetap memaksa untuk menyelami lautan memori yang ada di kepalanya. Adegan demi adegan perkelahian berkelebat dan berebut ingin keluar. Sampai di sini, Adel sudah mulai ingat. Antara hati dan igatannya sudah mulai ada koneksi. Dia mulai bisa menebak adegan perkelahian selanjtnya, dan itu benar. Sampai di adegan terakhir,
“ABRAAAAAM”
Adel berteriak dengan kerasanya. Membuat seisi rumah terkejut. Bahkan Budi sendiri juga ikut terkejut. Padahal sudah beberapa saat dia memperhatikan Adel. Dia hawatir saat Adel mulai memegangi kepalanya. Dia ingin menegur, tapi dicegah oleh Madina.
“E, eh mbak”
Budi memekik terkejut, saat melihat Adel limbung. Dengan cekatan, dia maju dan menangkat tubuh Adel. Dia membawa tubuh itu untuk duduk di sofa.
“Mbak, embak nggak papa?” tanya Madina hawatir.
Adel tidak segera menjawab. Bu Ratih memberinya minyak angin. Madina segera menempatkan ujung botol itu di bawah lubang hidung Adel. Agar uapnya bisa dihirup oleh kakaknya itu. beberapa saat kemudian, Adel mulai terlihat sadar sepenuhnya.
“Baru lihat, ada minyak angin tulisannya arab semua. Beli dimana, bu?” tanya Adel. Seulas senyum sudah menghiasi bibirnya.
“Itu punya mbak Vani” sahut Putri.
Mendengar nama Vani disebut, sontak raut wajah Adel berubah total.
__ADS_1
Wuusss
Daaaak... klotak, klotak, klotak
Tanpa peduli sedang berasa di mana, Adel melempar begitu saja, botol minyak angin itu. terlihat sekali kalau dia marah mendengar nama itu. Apalagi saat dia tahu kalau minyak angin yang dia hirup adalah milik Vani.
Tenang sinden, kagmasmu nggak akan mati, kok. Dia hanya akan sakit untuk beberapa saat aja...
Bayangan saat budi ditembak salah seorang kembali terngiang di kepalanya. Pelakunya bukan seorang laki-laki, seperti preman lainya. Melainkan seorang perempuan.
Siapa kamu sebenernya? Apa mau kamu, ha?
Oh. Nggak penting, siapa aku......
“Haaaah”
Adel tersentak dari kepingan memori yang sedang berputar di kepalanya, saat merasakan tubuhnya disuncang-guncangkan seseorang.
“Kamu kenapa, mbak?” tanya Madina.
Dia bingung melihat kakaknya. Matanya terbuka lebar, tapi dia seolah tidak sadarkan diri.
Kepingan memori itu berputar lagi di kepalanya. Menunjukkan seseorang datang dengan membawa sebuah mobil. Bentuknya khas sekali sebagai mobil catering. Dia turun bersama beberapa orang lagi. Di belakang mereka, datang lagi beberapa mobil lainnya.
Kamu ngapain sih? malah main-main sama dia.
Tenang! Biarkan dia melihat kekasihnya dahulu! Karena sebentar lagi, mereka akan berpisah.
Kelamaan.
“Haaah”
Untuk kedua kalinya, dia merasa dicabut paksa dari kepingan memori itu. tepat saat laki-laki yang sinis itu mengayunkan tinjunya, tepat ke wajahnya.
“Enggak. Nggak papa. Kepala embak, masih nyut-nyutan” jawab Adel.
“Diminum dulu tehnya, mbak!” saran Budi.
Sontak perhatiannya teralihkan ke sosok di sebelah kirinya. Sosok laki-laki itu kini sudah terlihat berbeda. Wajahnya kini terlihat serius. Auranya kembali memancarkan hawa tegas, walau aura misteriusnya belum terasa.
Di sisi lain, Budi juga merasakan adanya kedekatan dengan Adel, saat menatap matanya. Sama sekali belum ada yang dia ingat. Tapi hatinya merasakan kalau Adel bukanlah orang asing. Dia seperti merasa sudah mengenal lama, dan sangat dekat dengannya.
Adel merasakan kalau ada jiwa kekasihnya dalam tatapan mata itu. tatapan mengintimidasi, tapi sekaligus mengayomi. Tatapan yang fokus, yang tidak takut dengan rintangan apapun.
“Braam”
Tanpa peduli ada bu Ratih dan Putri di dekatnya, serta merta Adel memeluk tubuh Budi. Dia tidak mampu berlama-lama hanya saling menatap saja. Walau dia tahu, Budi belum mengingatnya, tapi hasrat ingin memeluknya terlalu kuat untuk bisa dia cegah lagi. Tangisnya pecah lagi.
Mendapat pelukan itu, budi merasa salah tingkah. Reflek dia ingin melepaskan pelukan itu. Dia takut disangka kurang ajar. Tapi Madina melarangnya melakukan itu. Akhirnya dia diamkan saja Adel memeluk tubuhnya. Setelah beberapa saat, dia merasakan ada yang lain dengan pelukan itu. Dia juga merasa, suara tangis yang ditahan itu, bukan pertama kalinya dia dengar.
Tiba-tiba, di penglihatannya berkelebat bayangan dia sedang naik motor, dipeluk oleh seorang wanita. Dia mengerjabkan matanya.
Bayangan itu hilang, tapi tidak lama. Kini muncul lagi bayangan seorang ibu-ibu yang sedang marah-marah padanya. Di sebelahnya berdiri seorang wanita, mirip sekali dengan wanita yang memeluknya. Berlanjut dengan bayangan saat di dermaga, saat dia berciuman dengan seorang wanita. Saat berlari mengejar seseorang yang mengendarai sepeda, saat berjalan di bibir pantai, pertengkaran kecil di warung soto. Semua wajah dalam bayangan itu, mirip sekali dengan wanita yang sedang memeluknya. Bahkan terkesan sama persis.
Dan bayangan itu belum berakhir. Kini berganti lagi, bayangan dia sedang berada di sebuah kafe. Dia menyalami seorang wanita bergaun hitam. Budi menyebutkan namanya. Dan wanita itu, menyebutkan juga satu nama.
“Adel?”
Adel terhenyak mendengar Budi menyebut namanya. Dia sampai melepaskan pelukannya, dan bergerak menjauh. Dia tidak percaya, dia akan mendengar namanya disebut Budi. Terlebih dengan penekanan yang berbeda. Sebagai orang yang memang mengenalnya dengan sangat dekat.
Bayangan di kepala Budi masih terus berputar. Membawanya ke ingatan dimana dia sebelum kejadian kecelakaan itu. Matanya terbelalak, dan memerah, saat berbagai bayangan yang berkelebat itu menciptakan sebuah ingatan yang utuh.
“Armata?”
Budi kembali menyebut sebuah nama. Nama yang membuat air mata Adel meluncur seketika. Dia sampai harus menutupi mulutnya yang ternganga, karena masih tidak percaya dengan apa yang sedang dia saksikan itu.
__ADS_1
“Abram”
Seketika dia memeluk tubuh Budi lagi. Pelukannya kali ini tidak lagi hampa. Kini pelukannya bersambut tak kalah eratnya. Dia sampai tidak bisa menahan suara tangisnya sendiri.
“Kamu baik-baik aja, ta?” tanya Budi.
“Tata nggak papa, bram. Tata nggak papa” jawab Adel. Dia masih larut dalam keharuannya.
Beberapa lama kemudian, mereka melepaskan pelukan itu. Budi memeriksa lokasi-lokasi pada tubuh Adel yang diperkirakannya mengalami luka di saat pengeroyokan malam itu.
Adel menggelengkan kepalanya, pertanda kalau tidak ada luka yang terdapat pada tubuhnya. Saat ingat apa yang terakhir terjadi sebelum semuanya gelap, budi meraba dadanya sendiri. Tapi dia tidak merasakan adanya bekas luka di sana.
“Kamu hanya terkena tembakan listrik, ngger”
Bu Ratih membuka suara. Jawaban itu sontak membuat Budi memutar tubuhnya. Melihat wajah bu Ratih tersenyum dalam linangan air mata, sontak memicu bayangan-bayangan lain berkelebat. Bayangan-bayangan masa kecilnya, masa sekolah, masa-masa dia suka ikut tawuran, dipenjara. Ada satu orang yang selalu hadir dan selalu tersenyum, walau matanya berkaca-kaca. Orang yang selama setengah bulan ini, dia pertanyakan, siapa dia.
“Allohu Akbar, ibuuu”
Seketika dia melompat dari duduknya. Lalu merendahkan tubuhnya. Dengan posisi bersimpuh, dia salim kepada bu ratih. Lalu memeluk kakinya dengan berderai air mata. Rasa sedih, haru, dan perasaan bersalah, membuncah sekaligus dalam tangisnya.
Ingin bu ratih mengangkat tubuh Budi, agar berdiri. Tapi Budi tidak mau. Dia masih mau memeluk kaki ibunya. Tenaganya juga sudah terlalu kuat dibandingkan dulu jaman masih SD. Bu Ratih hanya bisa mengelus-elus kepala putranya.
“Put, tutup jendela sama pintu!” pinta Madina.
“Ha, apa? kenapa?” tanya Putri tergagap. Dia tidak siap, karena dia tenggelam dalam keharuan itu.
“Udah, tutup aja!” jawab Madina.
Putripun mengikuti saran dari Madina. Dia tutup semua jendela. Sedangkan pintu depan, ditutup Madina.
“Kenapa ditutup, nduk?” tanya bu Ratih.
Budi beranjak dari bersimpuhnya, kembali duduk di sofa. Bu Ratih juga ikut duduk di sofa.
“Maaf bu. Madin pikir, berita kesembuhan mas Budi, akan menjadi kabar buruk bagi orang yang mencelakai mas Budi dan mbak Adel. Madin hanya takut, ada orang yang akan mencelakai mbak Adel lagi. Sebelum pelakunya bisa kita pidanakan, sebaiknya kita jangan memperlihatkan kalau mas Budi sudah ingat siapa dirinya” jawab Madina.
“Oh, iya. Bener” jawab bu Ratih.
“Udahlah, dek. Nggak usah pake acara sandiwara-sandiwara lagi! Embak capek. Embak udah inget, siapa pelakunya. Dan embak tahu, gimana ngatasin dia” kata Adel keberatan.
“Emang siapa?” tanya Budi
Adel menceritakan apa yang dia lihat setelah Budi pingsan terkena tembakan listrik. Budi terkejut bukan main, mendengar apa yang dikatakan Adel. Budi mempertegas beberapa kali akan kebenaran cerita itu. Dia tidak mau Adel salah orang, dan salah menuduh.
Adel sampai tiga kali menyatakan kebenaran ceritanya. Bahkan sampai bersumpah dengan membawa nama Tuhannya.
Putri juga menambahi, dengan menceritakan apa yang dia dengar saat mampir dikontrakan pacarnya. Madin sampai terkejut dibuatnya. Karena dia tidak menyangka kalau yang dikatakan Putri, jauh lebih mencengangkan daripada apa yang dia duga.
Ternyata isi pesan Putri itu, jauh lebih dalam. Sambil berbisik, Madin meminta agar Putri menggunakan bahasa yang sudah mereka sepakati, agar mudah membacanya. Putri tergelak mendengar keluhan Madin.
“Abram pikir, Madin bener, ta” sahut Budi.
“Bener gimana?”
“Kita kerjai balik, mereka”
“Ya Alloh, Bram. Harus berapa lama lagi tata harus pura-pura nggak kenal abram lagi?”
“Enggak lama, kok. Abram juga nggak mau lama-lama”
“Tapi Tata harus ngejob lagi. Udah terlalu banyak yang tata cancel, bram”
“Justru Tata harus kembali ke panggung. Entar abram kasih tahu rencananya”
“Oke”
__ADS_1