
Bu Lusi pulang dari rumah sakit keesokan harinya. Walau belum dinyatakan cukup sehat untuk menjalani rawat jalan, tapi bu Lusi memaksa untuk pulang. Di rumah sakit malah membuatnya teringat terus pada almarhum suaminya.
Setelah mengantar sampai ke rumah, bu Ratih lantas berpamitan. Dia mengatakan kalau kepalanya sudah mulai terasa pusing, karena sejak kemarin belum tidur.
Mewakili tuan rumah, bu Susan mempersilakan bu Ratih untuk beristirahat. Dia mengucapkan terimakasih, dan menawarkan diri untuk mengantar bu Ratih pulang. Tapi bu Ratih menolak dengan halus. Karena dia dan Putri membawa motor.
“Mohon maaf ya, bu. Sama sekali saya tidak bermaksud memutuskan tali cinta antara Adel dan putra ibu” kata bu Susan.
“Ah, nggak papa, bu. Namanya juga ikhtiar. Segala hasilnya, kembali pada kehendak dari Sang Pencipta” jawab bu Ratih sambil tersenyum.
“Saya hanya bisa mendoakan, semoga mas Budi mendapatkan jodoh yang terbaik”
“Terimakasih atas doanya, bu. Semoga mas Luki langgeng bersama mbak Adel” jawab bu Ratih.
“Amin” kata bu Susan mengaminkan.
“Permisi, bu. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Putripun menggandeng ibunya pergi menuju motornya, dan membawa ibunya pulang dengan kepiluan hati. Pilu, karena dia tidak bisa protes sedikitpun atas keputusan mantan calon iparnya. Pilu, karena bisa merasakan kesedihan macam apa yang dirasakan kakaknya. Dan betapa berat hari-hari esok yang akan dijalani kakaknya.
Budi sama sekali tidak berselera untuk makan. Terasa hambar sayur yang dikata asin oleh Bayu. Banyak sekali kenangan bersama Adel yang berkelebat di pikirannya. Keromantisan, penderitaan, perjuangan, tawa, canda, tangis, semua berjejer rapi, berbaris membentuk sebuah tontonan.
“Aak!”
Erika berinisiatif menyuapkan nasinya ke Budi. Tapi Budi tidak segera menyambut. Bukannya tidak suka, tapi lebih karena dia sendiri sudah kehilangan arti dan tujuan dari makan itu sendiri. Dia merasa sudah tidak tahu lagi untuk apa dia makan. Sudah tidak ada lagi yang dia perjuangkan.
“Bud. Makan, dong!” pinta Erika. Dia mulai tidak sabar.
Beruntung Budi membuka mulutnya. Jadi dia tidak jadi marah. Sebaliknya, dia malah terlihat senang saat Deni menyindirnya dengan berlagak menyuapi Hilda. Tapi ditolak mentah-mentah oleh Hilda.
***
Sesampainya di rumah, tetangga-tetangga banyak yang mendatangi rumah bu Ratih. Mereka menanyakan perihal desas-desus tentang kandasnya hubungan Budi dengan Adel. Putri langsung masuk ke dalam rumah. Kesedihan yang semenjak tadi dia tahan, malah seperti dikobarkan oleh tetangga-tetangganya itu.
Bu Ratih meminta maaf kepada mereka. Dia mengatakan kalau saat ini, dia merasakan pusing karena kurang tidur. Bu Ratih meminta waktu untuk bisa beristirahat dahulu. Seorang tetua kampung mengerti dan mempersilakan bu Ratih untuk beristirahat. Dia juga mengajak para warga yang bertamu untuk membubarkan diri.
Di saat bu Ratih masuk ke dalam rumah, dia melihat Putri sedang menelepon seseorang. Dia tampak gelisah, dan bahkan menangis. Dari sikapnya itu bu Ratih bisa menebak siapa yang ditelepon Putri.
“Angkat dong, mas!” Kata Putri.
Di sisi lain, Budi bukannya tidak tahu. Tapi dia memilih membiarkan telepon itu sampai mati dengan sendirinya. Ponselnya berdering lagi, lagi, dan lagi. Tapi dia masih enggan untuk menjawabnya.
“Bud. Putri tuh, yang nelepon. Kok nggak diangkat?” tegur Erika.
Budi yang sedang mengunyah sarapannya, tidak menghiraukan teguran itu. Dia hanya melirik saja sebentar, lalu kembali melihat ke arah lain. Saat ini dia sudah terlanjur kesal pada adiknya itu. Dia ingin memberi adiknya pelajaran, tentang bagaimana rasanya tidak dipedulikan.
“Bud. Angkat, dong! Lu punya utang jasa banyak banget lho, sama adik lu. Masa gitu aja terus nyuekin?” tegur Erika lagi.
Budi tidak menjawab. alih-alih mengambil ponselnya, dia malah mengambil piring yang dipegang Erika.
“Bukan piringnya, Budi. Angkat itu telepon dari Putri!” tegur Adel keras.
Mereka sempat beradu pandang. Walau tidak memancarkan aura kemarahan, tapi tatapan Budi tetap terasa tajam di hati Erika. Hilda saja yang tak ditatap Budi bisa merasakan tajamnya tatapan itu. Budi mengalah. Dia mengambil ponselnya, lalu dia nyalakan pelantang suara.
“Halo” sapa Budi tanpa salam.
“Mas Bud, maafin Putri!”
Suara Putri, yang diiringi suara tangis, membuat semua yang mendengarnya merasa pilu. Aktivitas makan mereka sontak terhenti. Mereka fokus melihat Budi. Budi sendiri malah memejamkan matanya.
“Maas. Putri minta maaf. Putri bingung, mas” kata Putri lagi.
Tapi Budi masih tidak bergeming. Seolah kekesalannya sudah sangat dalam, sehingga enggan untuk menjawab. Erika yang kesal karena sikap Budi, serta-merta mencubit paha Budi. Membuat Budi terkejut lalu membuka matanya.
“Maaas. Maafin Putri!” pinta Putri lagi.
__ADS_1
Erika melototkan matanya kepada Budi. Seolah dia ingin memaksa Budi untuk menjawab permintaan maaf Putri.
“Iya” jawab Budi masih dengan perasaan malas.
Jawaban itu tak lantas melegakan perasaan Putri. Dia tahu kalau kakaknya masih marah padanya. Tapi dia juga tidak berani untuk protes.
“Udah kelar pemakamannya?” tanya Budi.
“Udah, mas” jawab Putri.
“Ini Putri sama ibu baru balik” lanjut Putri.
“Baru balik?” tanya Budi sewot.
“Iya. Bu Lusi sama Madina dirawat, mas. Baru siang ini dibolehin pulang” jawab Putri.
“Adel?” tanya Budi.
Sontak Putri tergagap. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
“Astaghfirullohal ’adzim” keluh Budi.
Emosinya mulai merangkak naik, membayangkan Adel sedang dimana dan sedang apa.
“Maaas” rengek Putri.
“Kenapa situasi penting seperti itu nggak putri kabarin ke mas Budi? Jangan bilang Putri nggak tahu!” tanya Budi lirih, tapi penuh penekanan.
“Nggak dibolehin sama ibu” jawab Putri.
“Apa? Yang bener aja! Buat apa ibu bohong sama mas Budi?”
“Beneran, mas”
“Jawab dengan jujur! Diancam apa kamu sama manusia tengik itu?”
“Buat apa, coba? Bukannya ngebelain mas Budi, malah ngebelain manusia tengik itu”
“Maaas. Ibu mau bicara” kata Putri.
Budi terkesiap. Dia tidak menyangka kalau ibunya ternyata ada di samping adiknya.
“Bud” panggil bu Ratih, lembut.
Budi tidak menyahut. Dia merasa seperti terbentur dinding karang. Dia ingin sekali marah, tapi marah kepada ibunya adalah hal yang mustahil baginya. Hanya suara helaan nafasnya yang terdengar sampai ke seberang telepon sana.
“Ngger. Maafin ibu, ya! ibu ngelakuin ini semua, karena keadaan memaksa ibu untuk ngelakuin hal itu” kata bu Ratih.
Budi masih tidak menjawab. Terlihat betul kemarahan yang tergambar di wajahnya. Tapi dia berusaha menahan amarahnya itu. Jelas tersirat dalam helaan nafasnya.
“Ibu” panggil Budi.
“Iya, ngger” jawab bu Ratih.
“Apa ibu pernah liat Budi mundur dari medan laga?” tanya Budi.
Bu Ratih tidak segera menjawab. Dia bingung dengan pertanyaan Budi. Dia sempat beradu pandang dengan Putri. Setali tiga uang, Putri juga tidak mengerti maksud pertanyaan kakaknya itu.
“Berapa kali Budi masuk rumah sakit, karena mempertahankan harga diri?” lanjut Budi.
Bu Ratih semakin tidak mengerti. Dia bingung harus menjawab apa, sekalipun dia hafal betul berapa kali putranya itu masuk rumah sakit.
“Apa ibu pikir, pulang dari berlin ke pacitan akan bikin Budi masuk rumah sakit? Apa ketemu pak fajar kemarin itu, sama kaya waktu Budi duel sama Sandi? Bakal ada pertempuran, bakal ada polisi, dan Budi bakal kena tembak lagi?” tanya Budi lagi.
Bu Ratih menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Terlihat sekali dia pusing menghadapi pertanyaan-pertanyaan Budi. Bukannya dia tidak punya jawaban, tapi dari pertanyaan itu, dia bisa membaca, betapa hancurnya hati Budi saat ini.
“Enggak, ngger” jawab bu Ratih, pendek. Suaranya parau, tersamar oleh tangisnya.
__ADS_1
“Budi tidak pernah lari dari tantangan, ibu. Apapun jenisnya. Dan udah sekian tantangan Budi terima. Budi yakin, Budi bisa ngeyakinin pak Fajar, andai saja Budi dikasih kesempatan” kata Budi.
Bu Ratih tidak menyahut. Hanya isak tangisnya yang terdengar semakin jelas. Terdengar pula suara Putri yang menghibur ibunya.
“Adel mungkin panik, bu Lusi mungkin nggak kepikiran. Luki? Mustahil mikirin Budi. Yang punya kemungkian terbesar mikirin budi, cuman ibu. Tapi ibu nggak ngabarin Budi sedari awal. Jadi mohon maaf bu, Budi mau nanya. Kenapa, bu?” lanjut Budi.
“Mas. Mbok jangan gitu sama ibu! Marahnya sama Putri aja! Nggak sopan kalo kaya gitu sama ibu” tegur Putri.
Budi tidak menjawab. Emosinya malah terasa meledak-ledak mendengar teguran dari adiknya.
“Kalo emang Adel yang udah berpaling dari Budi, ibu nggak usah nutup-nutupin, bu!” kata Budi.
Bu Ratih tidak menjawab. Dia masih larut dalam kesedihannya. Tangisnya terdengar lebih jelas dari sebelumnya.
“Harta memang kadang bikin orag lupa. Realistis sih, milih yang mapan ketimbang yang berjuang. Apalagi kalo belum siap jadi tulang punggung” lanjut Budi.
“Kalo kamu marah sama keadaan ini, jangan lantas kamu jelek-jelekin mbak Adel!” bentak bu Ratih.
Semua yang mendengar percakapan itu terkejut mendengar bentakan itu. Tak terkecuali dengan Budi. Dia sama sekali tidak menyangka ibunya akan membentaknya.
“Asal kamu tahu, ngger. Di pikirannya mbak Adel itu, isinya cuman kamu, kamu, dan kamu lagi” lanjut bu Ratih. Budi tidak menjawab.
“Kamu sama sekali nggak nyentuh bapak, disaat terakhir bapak sakit. Mbak Adel ngerawat bapaknya sejak dari rumah”
Budi terbelalak mendengar ibunya menyebut-nyebut soal almarhum bapaknya sebagai perbandingan.
“Dia ngeliat langsung gimana menderitanya almarhum saat kesulitan bernafas karena kebanyakan lendir, sampai harus disuction. Kamu nggak pernah ngalamin itu, ngger”
Mata Budi melotot saat dia diperbandingkan lagi. Tapi dia mengakui, memang benar apa yang ibunya katakan. Dia terlambat. Dan itu adalah penyesalan terbesarnya saat ini.
“Itu juga mbak Adel nggak langsung mau saat diminta almarhum buat nikah sama Luki. Dia terus bilang kalau bapak bakal sembuh, dan Adel akan nikah sama mas Budi. Berkali-kali dia bilang begitu. Kalo aja pak Fajar sembuh, pasti mbak Adel bakal tetep ngotot buat nikah sama kamu, ngger”
Ada setitik kebahagiaan disaat mendengar keterangan itu. Paling tidak, dia masih menguasai hatinya Adel.
“Jadi bukan karena hartanya Luki yang bikin mbak Adel berpaling, tapi lebih karena mbak Adel sudah nggak tega ngeliat bapaknya semakin menderita. Di saat peralatan medis yang memantau kondisi vital bapaknya berbunyi semua, di saat itulah mbak Adel luluh” lanjut bu Ratih.
Budi tertegun. Dia tahu peralatan medis yang ibunya maksudkan. Terdiri dari beberapa sensor terpisah, yang mempunyai tugas yang berbeda-beda. Kalau semuanya sudah memberikan peringatan bersamaan, artinya ada kondisi darurat yang berbahaya.
“Kondisi bapaknya, semakin menurun. Terlebih disaat dokter menyatakan, kalau kondisi pak Fajar, secara medis sudah tidak mungkin bisa sembuh. Semua saraf organ geraknya sudah lumpuh. Tinggal organ dalamnya saja yang masih bekerja. Itupun dokter tidak bisa memastikan, seberapa lama lagi organ dalam pak Fajar akan bertahan. Andaikan ibu berada di posisi pak Fajar, apa kamu akan tetap menolak permintaan terakhir ibu, ngger?”
*JEDEEEERRRR*
Penjerlasan panjang lebar itu berakhir dengan sebuah pertanyaan yang sangat tajam. Buat Budi, pertanyaan itu bagaikan peluru yang pernah menusuk punggungnya. Sudah jelas jawabannya adalah tidak. Seberat apapun permintaan itu, demi bakti dan rasa cintanya terhadap sang ibu, Budi telah menyatakan dalam hatinya, bahwa dia akan menuruti permintaan itu.
“Astaghfirullohal ‘adzim”
Budi beristighfar saat tangisnya pecah. Dia tidak bisa lagi membantah perkataan ibunya. Hanya kemarahan yang masih tersisa, tapi entah untuk siapa. Masih terasa berat untuknya mengiklaskan cinta yang telah pergi. Dia masih merasa kalau dia punya kekuatan, dia punya kemampuan, dan dia punya sumber daya yang cukup untuk memperjuangkan seorang Adel. Tapi perasaan punya itu hanyalah tinggal perasaan.
Pada dasarnya dia sendiri juga sadar, kalau dirinya bisa kuat, itu karena Alloh yang menguatkannya. Dia bisa jagoan, itu karena Alloh yang membuatnya menang. Dia bisa kenal dan berpacaran dengan Adel, itu karena Alloh yang menumbuhkan rasa cinta itu di hatinya dan Adel. Dan kalau Gusti Alloh tidak menghendaki, semua yang dia punya, nyatanya sama sekali tidak membantunya.
“Ngger” panggil bu Ratih.
Budi masih saja menangis. Membuat hati bu Ratih semakin pilu. Dia ingin terlihat tegar sebagaimana di saat dia kelepasan emosi tadi. Tapi tangis putranya itu selalu saja membuat hatinya ambyar.
“Rodhitu billahi robbah” kata Budi dalam isak tangisnya.
“Maas” sahut Putri. Dia tersentak mendengar kalimat itu.
“Wabil islami diina” lanjut Budi.
“Mas Buuuud”
Putri menangis mendengar kelanjutannya. Dia tahu apa makna kalimat itu.
“Wabim Muhammadin nabiyau warosulah”
“Ya Alloh”
__ADS_1
Putri semakin kencang menangisnya. Dia tahu dari Madina, kalau kalimat itu adalah bukti kepasrahan paling paripurna dari seorang Budi Utomo. Pasrah akan keputusan yang dibuat Adel untuknya. Kata Madina, kalimat itulah yang kakaknya ucapkan disaat tubuhnya diterjang sebutir timah panas.