Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
sekilas bayangan


__ADS_3

Di kantor, Stevani langsung dipanggil untuk meeting. Tidak hanya dengan Isma, tapi ada Farah, pak Paul, dan juga Erika, yang bertindak sebagai assistennya pak Paul. Dia langsung dihujani berbagai pertanyaan sehubungan dengan perhelatan expo di eropa tahun lalu. Banyak juga pertanyaan yang menyangkut entertainment beberapa customer besar. Dimana Isma merasa ada mark up harga di sana.


Pertanyaan tajam yang dilontarkan langsung di depan kepala pabrik, tak pelak membuat Stevani sangat tersingung. Dia tersinggung karena merasa kalau Isma bukan hanya sekedar ingin mencocokkan antara data dan kenyataan di lapangan. Lebih dari itu, dia merasa kalau Isma sengaja ingin menjatuhkan nama baiknya di depan orang nomor satu di perusahaan ini.


Menurutnya, topik pembahasan kali ini tidak perlu diajukan ke kepala pabrik. Karena dia sudah menyiapkan data-data mengenai pertanyaan-pertanyaan Isma kemarin.


Berkali-kali Farah menginjak kakinya pelan, demi mengingatkan bawahannya supaya tidak kelepasan emosi.


Bagaimanapun juga, di ruangan ini, yang diadu adalah data. Jadi Stevani harus mengeluarkan data-data yang dia punya untuk meyakinkan Isma kalau laporan yang dia berikan adalah benar, sesuai kondisi di lapangan, bukan rekayasa semata.


Perang data terjadi dengan serunya di ruang meeting itu. Tuduhan-tuduhan yang dilancarkan Isma terdengar semakin tajam. Walau begitu, Stevani selalu mempunyai data untuk menjawab tuduhan itu. Membuat Isma berang, tapi sekaligus terdiam. Stevani tersenyum sinis kepada Isma. Dia senang, bisa membungkam Isma dengan telak.


***


Adel masih tertegun sendirian di kamarnya. Semanjak pulang, dia terus memandangi seisi kamarnya. Sama sekali belum ada yang bisa dia ingat.


Tentang foto berukuran besar yang tertempel di dinding, tentang gaun hitam yang digantung terpisah dari pakaian lainnya, tentang meja rias yang punya dua set alat rias, tentang microphone, tentang foto-foto yang menggambarkan dia sedang menyanyi di atas pentas, termasuk tentang dua wanita yang mengaku adik dan sahabat karibnya.


“Mbak, makan dulu”


Sebuah suara mengagetkannya. Seorang wanita memasuki kamarnya. Dia tampak membawa nampan berisi sepiring nasi, semangkuk sayur, dan piring lain berisi lauk-pauk. Juga ada segelas susu, dan segelas air putih.


“Udah siang, makan dulu Yuk!” ajaknya lagi. Dia meletakkan nampan itu di atas meja rias.


“Mau Madin ambilin, apa mbak Adel ambil sendiri?” tanya wanita itu.


“Aku ambil sendiri aja” jawab Adel. Dia berikan seulas senyum, sebagai apresiasi atas bantuan Madina.


“Mbak, numpang sholat, ya? rame banget di bawah” tanya Madina minta ijin.


“Sholat?” Adel tampak bingung.


“Oh, oke. Silakan” lanjutnya. Walau dia belum ingat apa itu sholat, tapi dia merasa tidak punya hak untuk melarangnya.

__ADS_1


Madinapun langsung menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Dia juga meminjam mukena Adel. Adel mempersilakan. Sambil makan, Adel memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan Madina.


“Aduh”


Tiba-tiba saja, kepalanya terasa berdenyut. Terasa menyakitkan, buatnya. Bersamaan dengan itu, dia seperti melihat gambaran dia sedang memakai setelan yang sama dengan yang dipakai Madina saat ini. Dia juga melihat bayangan sajadah itu. Tapi hanya itu saja. Tetap dia belum ingat siapa dirinya, dan siapa Madina.


“Mbak, kenapa?”


Adel yang masih memegangi kepalanya sambil memejamkan mata, tersentak mendengar peranyaan itu. Ternyata Madina sudah selesai melaksanakan sholatnya. Tanpa membuka mukenanya terlebih dahulu, Madina mendekati Adel yang duduk di pinggiran ranjang.


“Enggak, nggak papa, kok” jawab Adel.


“Embak ini, selalu bilang nggak papa. Sekali-sekali, berbagi dong, rasa sedih ataupun sakit yang embak rasain. Jangan ke mbak Tati mulu!” seloroh Madina.


Dia mengambil piring yang dipegang Adel. Dia ambil nasinya sesendok, lalu dia suapkan kepada kakaknya itu. Adel menerima suapan itu, sambil tersenyum.


Dalam hati dia seperti pernah mendengar gerutuan semacam ini. Tapi dimana, kapan, dan siapa yang menggerutu itu, masih terlalu dalam untuk dia ingat kembali.


*TOK TOK TOK*


Terdengar ketukan pintu, dan panggilan dari luar kamar. Keduanya menoleh ke arah pintu.


“Masuk, mbak. Ngak dikunci” seru Madina.


Dan masuklah orang yang mengetuk pintu tadi. Seperti yang sudah Madina duga, Tati masuk diiringi Nike. Buru-buru Nike menutup pintu. Sedangkan Tati langsung duduk di kursi rias Adel. Dia menatap Adel dengan perasaan iba, sekaligus ada raut kemarahan di wajahnya.


“Ada apa, mbak?” tanya Madina. Tati tidak segera menjawab.


“Kalo berita buruk, mending entar aja, mbak. Mbak Adel lagi makan” lanjut Madina.


“Huuufftt” Tati menghela nafas berat.


“Cerita aja! nggak papa kali. Barangkali, bisa bantu aku buat inget masa laluku” sahut Adel.

__ADS_1


Setelah beberapa saat terjadi keheningan, akhirnya Tati menceritakan apa yang baru saja dia temukan. Tentang Budi yang juga mengalami kecelakaan dan lupa ingatan. Tentang dokter wanita yang menceritakan apa yang dia lihat sebelum kejadian. Tentang perempuan yang dibilang hamil oleh dokter itu. Yang berebut Budi dengan Adel.


“BANG***” umpat Madina. Madina menunjukkan ekspresi marah. Tapi hanya pura-pura saja, pastinya.


“Din, kok kamu ngumpat, sih? nggak pantes ih, cewek kok ngumpat-ngumat gitu” tegur Adel.


“Din, sabar dulu ya! Belum tentu apa yang dibilang dokter itu bener” saran Nike.


“Kok kamu malah belain dia, sih?” tanya Tati.


“Aku nggak belain dia. Aku cuman minta agar Madina sabar dulu. Kita nggak bisa teriak-teriakan di sini. Entar kalo kedenger bapak sama ibu, bisa panjang urusannya. Kan kasihan Adelnya. Dia belum ingat apa-apa, kena marah” jawab Nike.


Tati terdiam, Madina juga terdiam. Dia melihat ke arah Adel. Lalu dia menghela nafas berat.


“Mbak Nike bener. Bapak sama ibu emang nggak bisa bedain, mana yang perlu dibahas sekarang, mana yang harus entar. Kasihan emang, kalo mbak Adel sampe kena marah” kata Madina. Dia masih menunjukkan ekspresi geram menahan marah.


“Terus?” tanya Tati.


“Aku harap, mbak Tati jangan ngomong sama orang lain dulu. Cukup kita aja yang tahu”


“Sampai kapan?”


“Selamanya, kalo perlu. Kalo mereka nggak inget kan, nggak bakal balik” jawab Madina.


Tati menghela nafas berat lagi. Dia tidak mengiyakan, tapi juga tidak menolak usul Madina. Dia hanya memutar tubuhnya, jadi menghadap cermin meja rias. Lalu membersihkan wajahnya dengan pembersih wajah, dari kumpulan alat make up di sebelah kanan.


Melihat Tati mengambil pembersih wajah dari kumpulan alat make up dari sebelah kanan itu, membuat sebuah bayangan berkelebat di mata Adel.


Sebuah bayangan dimana dia sedang berdiri, dan melihat wanita itu duduk di kursi yang sama. Dan dia seperti berseru senang. Tapi hanya itu saja. tapi siapa dia, dan apa yang mereka perbincangkan waktu itu, Adel belum bisa mengingatnya.


“Ehh” dia mengeluh.


“Mbak. Embak nggak papa?” tanya madina hawatir.

__ADS_1


“Enggak, nggak papa. Cuman nyut-nyutan aja” jawab Adel.


Madina melanjutkan suapan yang sempat terhenti. Dia masih menunjukkan ekspresi marahtertahan. Sesekali Adel memberikan seulas senyum, dan mengelus kepala madina. Dengan harapan, kemarahannya bisa segera reda.


__ADS_2