Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
menyusun strategi


__ADS_3

“Oke guys. Time is tikking” seru Budi.


Tanpa menoleh ke arah keduanya, Budi mulai menunjuk ke salah satu titik di dalam peta.


Tanpa diminta, kang Sukron, Cobra dan yang lain mendekat. Nungki dan Erikapun pada akhirnya berdamai dan ikut mendekat.


“Nung. Are you in, or you out?” tanya Budi.


“Of course I’m in” jawab Nungki.


“Thanks” sahut Budi.


“Eemm” Budi bersiap untuk menjelaskan.


“Aku mau sampein dulu situasinya. Nanti aku minta saran sama kalian, tentang strategi yang tepat” kata Budi pada si Cobra dan lainnya.


“Oke” sahut si Cobra.


“Pertama. Pos pantau mereka ada sepuluh. Di sini bapak nulis, kalo pengen masuk, maka harus matiin pos pantau ini bersamaan. Yang kedua, penjagaan di bawah, lebih banyak dari yang di atas” kata Budi. Dia menunjukkan lokasi-lokasi penjagaan.


“Senjata-senjata yang tertulis di sini, pastinya senjata-senjata pada masa itu” lanjut Budi.


“Senjata terbaik lho, pada masa itu” komentar si Hind.


“Itu dia. Sekarang pasti juga mengikuti produk senjata terbaik saat ini” sahut Budi.


“Area ini, adalah area riset narkotika. Area ini adalah pabrik produksinya. Dan area ini adalah ruang akomodasi Moreno, Bejo, dan Handono. Ada ruangannya bapak juga” lanjut Budi.


“Tebel banget?” komentar si Alligator.


“Ya. tahan peluru kaliber dua belas koma tujuh, dan juga ledakan bom. Mungkin sekelas C4” sahut Budi.


“Kalo tahan C4, harusnya tahan kaliber tiga puluh, bos” komentar Apche.


“Eemm. Bisa jadi. Mungkin bapak belum pernah nyoba pakai amunisi segede itu” jawab Budi. Apache mengangguk-angguk mengerti.


“Di dalam ruang akomodasi ini, terdapat lorong pelarian. Bisa dibilang, ini adalah jalur kereta bawah tanah pertama di Indonesia. Cuman nggak ada yang tahu”


“Wow” seru si Cobra sambil tergelak.


“Jalurnya menuju ke sini, dan ini ada banyak banget cabang. Relnya udah kaya labirin aja. Kalo kita ngejar pake gerbong lain, bisa jadi kita dibelokin ke jalur lain. Tolong diapalin, jaga-jaga kalo kita harus kejar-kejaran kita harus ngikuti jalur yang dimerahin ini!” pinta Budi.


Semuanya memperhatikan denah itu dengan sungguh-sungguh. Budi membiarkan mereka mempelajari denah itu beberapa saat.


“DI jalur pelarian ini, tertulis ‘Jonggol’. Bisa jadi, ujungnya sana, adalah goa di kaki bukit, atau sebuah rumah, seperti yang ini” kata Budi, sambil menunjuk tulisan ‘jonggol’ itu.


“Sekali kita turun, kita pasti akan disambut dari berbagai arah. Kita harus mikirin dulu, gimana caranya kita melawan mereka, tanpa membuat si Moreno dan si Bejo kabur”


“Berarti paling tidak, kita harus jagain tiga jalur pelarian” kata si Cobra.


“Empat, malah” timpal si Hind.


“Hem?"

__ADS_1


“Itu di pabrik obat kan ada helipad. Harus dijagain juga”


“Oh, iya. Bener, bos” kata si Cobra.


“Sayangnya denah ini nggak memuat jalur keretanya ujungnya dimana. Jonggol kan luas” komentar Nungki.


Di sebelahnya, sephia langsung memainkan komputernya. Dia merasa tersindir dengan ucapan Nungki. Bagaikan perintah yang tersembunyi.


“Aku nemuin aktivitas radio nggak biasa di tempat ini” kata Sephia. Budi dan Nungki menoleh ke arahnya.


“Rumah ini, punya antena BTS di atas atapnya. Tapi aku nangkep sinyal radio kelas militer muncul dari antena itu. Juga sinyal telepon satelit”


*LRT jogja-Solo tahap dua harus segera berjalan! Bikin segera rampung birokrasinya*!


Terdengar suara dari rekaman yang diperoleh Sephia, dari sinyal yang keluar dari antena tersebut. Sephia berusaha mencocokkan suara itu dengan rekaman-rekaman lain yang dia dapat tadi siang.


“Match. Suaranya Moreno” kata Sephia.


“Juragan obat ngurusin LRT? Oleng kapten?” komentar Apache.


Sontak semua orang tertawa mendengar kelakar Apache. Tanpa diperjelas, semuanya sudah mengerti, kalau rumah itu, adalah terduga ujung dari rel kereta pelariannya Moreno.


“Bisa kamu pastiin, Phia?” tanya Nungki.


Sephia sempat berpikir sejenak, bagaimana dia bisa mendapatkan visual. Sedangkan tidak ada CCTV yang terhubung dengan internet.


Diapun mencoba untuk meretas sebuah ponsel. Dari suara yang dia dapatkan dari meretas microphonenya, Sephia dan yang lain menduga kalau orang itu sedang menyiapkan sebuah pintu. Dan sephia mencoba menelepon orang itu. Sambil menunggu direspon, sephia memegang kancing bajunya.


“Balik kanan, grak!” perintah Sephia.


“Halo” sapa Sephia saat panggilan videonya direspon.


“Hai” jawab laki-laki di seberang telepon. tampak laki-laki itu terpesona.


“Eeh. Siapa ini?” seru Erika.


“Lah. Situ yang nelepon”


“Kok beda, sama yang booking, ya?” kata Sephia bermain peran.


“Wow. Nggak papa, salah orang juga. Aku mau kok booking kamu”


“Lah. Berani berapa?”


“Weh. Nantangin. Sejuta juga gua bayar”


“Eh. Kamu lagi di hotel, ya? Bagus dong, nggak perlu sewa hotel lagi”


“Bukan hotel, wooi. Rumah gua, nih” sahut laki-laki itu sombong.


“Serius?” tanya Sephia pura-pura bodoh.


“Serius. Nih, liat!” kata laki-laki itu.

__ADS_1


Dia berputar-putar memamerkan ruangan itu. Tanpa dia sadari, Sephia telah merekam visual dari kamera ponselnya.


“Oke. Di rumahmu aja, ya? Biar utuh duitnya buat aku semua” kata Sephia sok genit.


“Boleh. Ke sini, gih!”


“Itu dimana?”


“Jonggol”


Orang itu menyebutkan alamat lengkapnya. Bahkan dia sebutkan juga arah jalan dari sebuah bangunan ikonik wilayah itu.


“Oke. Aku jalan, ya?”


“Oke. Ditunggu sayang” jawab orang itu.


*Tuuut*


Sephia menutup sambungan telepon video itu. Gelak tawa langsung membahana, menanggapi permainan peran yang baru saja dimainkan Sephia. Tentu saja Sephia langsung mencak-mencak. Walaupun hanya bercanda.


“Dari jendelanya, keliatan ada taman bunga. Berarti itu kamar samping kiri. Lantai di tengah-tengahnya agak terjungkit, tebakanku, itulah pintunya. Kalo mau disabot, lantai itulah targetnya” kata Sephia.


“Buat apa?” tanya Hind”


“Maksudnya?” tanya Sephia tak mengerti. Hind maju lebih mendekat.


“Di sana ada kos-kosan. Visibilitasnya cukup bagus buat si petir” kata Hind sambil menunjuk salah satu bangunan bertingkat tiga.


“Parkirannya sangat terbuka. Terlebih car portnya. Si Petir bisa mengidentifikasi langsung dari teropongnya. Kalo yang masuk mobil itu benar si Moreno dan Bejo, tinggal hajar aja pake peluru bakar. Nggak kena orangnya, mobilnya angus. Dia keluar, hajar lagi aja” lanjut si Hind.


“Boleh juga, tuh” komentar Budi.


“Tapi kita juga butuh sniper di sana” sahut Nungki.


“Tenang. Petir itu kode buat Sniper. bukan hanya merujuk pada satu orang” kata si Cobra, menjawab ucapan Nungki.


“Oke. Aku pikir itu lebih simpel” sahut Nungki.


“Tapi kan kita bisa masuk lewat sana. Belum tentu juga si Moreno langsung kabur. Orang penjagaannya ngalahin batalion gitu. Apalagi yang nyerang cuman si Panjul. palingan juga tidur, dianya” sahut Sephia.


“Kemungkinan itu bisa saja terjadi. Tapi kalo kita harus nyergap ke sana, kita perlu tahu kekuatan di sana berapa orang?” komentar si Cobra.


“Sementara ini baru lima orang. Kita bisa masuk lewat belakang rumah ini. Dari jalan besar, kita bisa masuk lewat jalan kecil ini. Apa perlu laras panjang?” sahut Sephia.


“Enggak, sih. Silent sentri removal” jawab si Cobra.


“Tapi setelah masuk, komunikasi bakal putus, deh” sahut Budi.


“Hem, waktunya nyoba radio baru kita, di kancah sebenernya” komentar Hind.


“Yap. Aku pikir juga gitu. Kamu bisa urus, Hind? Duet deh, sama si Apache!” sahut si Cobra.


“Bisa” jawab si Hind.

__ADS_1


“Untuk yang helipad?” tanya Erika.


Si Cobra menatap rekan-rekannya yang lain. Seolah sedang meminta pendapat. Si Hind langsung merendahkan badannya, untuk memperhatikan monitor Sephia.


__ADS_2