
Di sel tahanan, Stevani menjadi lebih religius. Dia sudah mau menunaikan sholat, walau belum mau berhijab. Dia juga sudah mau mengaji. Pihak kepolisian mengijinkan salah satu lembaga islam mengirimkan anggotanya untuk memberikan siraman rohani kepada para tersangka. Terutama mereka yang sudah sekian lama mendekam menunggu sidang.
Seorang ustadzah secara rutin dua hari sekali memberikan bimbingan membaca Al-Quran. Membuat Stevani merasa mempunyai teman. Tausiah-tausiah dari ustadzah itu juga berangsur-angsur menenangkan batinnya. Menebalkan semangatnya yang kian menipis.
Ustadzah itu juga mengajarkan amalan untuk memohon perlindungan kepada Alloh dari mara bahaya, termasuk kekerasan fisik selama berada di sel tahanan ini. Dan menurut Stevani amalan itu cukup sukses merayu Tuhannya. Sampai saat ini, dia belum pernah mendapatkan kekerasan fisik separah Dino atau tahanan lainnya saat diinterogasi. Hanya beberapa tamparan yang tidak berbekas.
“Kamu abis ditampar lagi, ya?”
Seorang laki-laki bisa melihat bekas tamparan itu meski buat orang lain itu tidak terlihat.
“I, iya om” jawab Stevani.
Dia menunduk dan membuang muka, menyembunyikan pipinya yang masih terasa sedikit perih. Lelaki itu mengela nafas berat.
“Apa nggak ada kabar dari papa, om?” tanya Stevani.
“Hem?” lelaki itu terkesiap.
“Huff. Papamu, ya?” lanjut laki-laki itu.
“Emang om Paul nggak ngasih tahu papa?” tanya Stevani lagi.
“Udah dari pertama kamu di sini, om udah kasih tahu papa kamu. Tapi kamu kan tahu sendiri, papa kamu sekarang kaya gimana” jawab orang yang Stevani panggil om Paul. Ya, pak Paul atasan Budi.
“Ya Alloh” keluh Stevani.
“Udahlah, Van! Ngapain juga mikirin papa kamu? Dia udah bukan papa yang dulu kamu kenal. Udah kaya kebo dicucuk hidungnya. Nurut mulu sama ibu tiri kamu. Susah dibilangin”
“Iya, om. Vani cuman kangen aja sama papa. Vani pengen banget dijenguk sama papa. Sekali juga nggak apa-apa”
“Hemm”
“Makasih ya, om. Udah mau ngerawat dan selalu ada buat Vani”
“Van, buat apa kamu berterimakasih? Aku nggak butuh itu. Kamu mau nggantiin posisi Antasena aja, om udah bahagia banget, Van. Yang ada, om yang berterimakasih sama kamu. Kamu mau nganggep om seperti papa kamu sendiri”
“Iya, om. Vani kan keponakan om. Sama aja Vani kaya anak om sendiri. Tapi maafin Vani ya, om. Vani malah ngerepotin om Paul”
“Kalo Vani nggak ngerepotin, om malah sedih. Itu artinya kamu udah bisa urus semuanya sendiri. Dan kamu udah nggak butuh om lagi” jawab pak Paul.
“Allohu Akbar, om”
Stevani mencium tangan pak Paul sambil menangis. Dia merasa bahagia masih memiliki keluarga yang sangat menyayanginya. Sekalipun itu hanya adik papanya, bukan papanya sendiri.
“Kamu yang sabar ya, Van!” kata pak Paul beberapa saat kemudian.
“Polisi sedang berusaha mecahin misteri rekaman itu. Nggak bisa cepet emang, karena terlalu rapi. Siapapum pelakunya, dia bukan orang sembarangan. Dia ahli berbagai software. Yang sabar, ya!” lanjut pak Paul.
“Iya om, Vani tahu. Vani juga udah dua kali ini ditanyain tentang rekaman itu” jawab Stevani.
“Terus, kamu jawab apa?”
“Ya Vani jawab apa adanya. Urut-urutan percakapan itu. Tapi ya, begitulah. Vani malah dipaksa mengaku” jawab Stevani sambil memperlihatkan pipinya.
“Om cariin jimat, ya?” tawar pak paul.
__ADS_1
“Hempf. Buat apa? Ada-ada aja om ini”
“Ya biar kamu kebal, nggak mempan dikasari”
“Ha ha ha ha. Vani udah punya, om”
“Jimat?”
“Lebih hebat dari jimat”
“Oh ya? Apa itu?”
“Ibadah” jawab Stevani. Pak Paul tertegun dengan jawaban itu.
“Pake jimat itu kan berarti kita minta tolong sama jin. Vani, minta tolongnya langsung sama yang nyiptain jin itu, om” lanjut Stevani, menjawab kebingungan omnya.
“Hem, om nggak nyampe ilmunya. Ketinggian. Mending ngomongin rotan aja, deh” kata pak paul.
Sontak Stevani tergelak mendengar jawaban omnya. Memang dia masih belum tahu apakah pak Paul benar-benar tidak paham dengan maksudnya, atau hanya pura-pura saja, agar dirinya senang. Tapi melihat gestur tubuh omnya yang lucu itu, dia merasa geli dan ingin tertawa.
***>>>
Sepulang sekolah, Putri dijemput oleh Zulfikar. Dia diajak makan terlebih dahulu di fishbed cafe, tempat calon kakak iparnya perform setiap malam minggu. Walau agak canggung karena masih menggunakan seragam, tapi Putri sangat menikmati momen kebersamaan dengan orang yang dicintainya.
“Lulus nanti, mau kuliah dimana, dek?” tanya Zulfikar.
“Di sini aja, mas. Aku nggak tega ninggalin ibu” jawab Putri.
“Kenapa, mas?” tanya Putri.
“Ciee, yang takut ditinggal. Ha ha ha ha” goda Putri.
“He he. Iya” sahut Zulfikar.
“Oh ya, mas. Adek mau nanya sesuatu, nih” kata Putri.
“Apa?”
“Tentang kasusnya Vani. Yang rekaman itu. Itu beneran rekaman, mas?” tanya Putri. Ada raut wajah cemas di wajahnya. Zulfikar tersenyum.
“Adek nggak usah takut. Adek nggak bakal berubah status, kok. Kan Adek juga nggak tahu. Semuanya kan kebetulan. Perkara yang dikamar Vani itu ternyata rekayasa, ya bukan salah di kita, kan?” jawab Zulfikar sambil menggenggam telapak tangan Putri.
“Tapi beneran nggak sih, itu rekaman? Sejelas itu? Kedengerannya tuh, kaya adek ngobrol sama mas gini. Bukan suara dari atas” tanya Putri masih penasaran.
Zulfikar tersenyum lagi. Dia tahu, kekasih hatinya sedang merasakan takut, kalau dirinya dianggap memfitnah orang.
“Ya. Manusia itu kan diberikan kelemahan dan juga kelebihan. Nah, kelemahan itu dimanfaatkan oleh orang yang punya kelebihan” jawab Zulfikar.
“Maksudnya?”
“Adek nggak salah. Pendengaran adek bener. Cuman ada orang yang ahli mengolah suara, sehingga bisa terdengar seperti beneran asli suara orang”
“Ya Alloh. Jadi itu beneran rekaman? Kok suaranya bisa mirip suara Vani sama temennya itu, mas? Berarti itu cuman alibi, kan?”
“Alibi?”
__ADS_1
“Ya, alibi. Pasti dia sudah tahu kalo polisi bakal nyari bukti sampe ke sudut yang paling nggak mungkin sekalipun. Mungkin ada sesuatu yang luput dari perhatian banyak orang, tapi dia yakin kalo polisi pasti bakal nemuin. CCTV misal”
“Ya terus buat apa, dek? Sama aja. Jatuhnya ke dia juga, tuduhannya” Zulfikar tersenyum senang, melihat Putri bisa berpikir taktis begitu.
“Ya buat nimbulin kesan, seolah-olah dia dijebak seseorang. Kan kalo ada CCTV, terus dia keliatan pergi sebelum kita dateng ke kontrakan, itu bisa jadi alibi dia. Kalo hari itu dia tidak berada di kontrakan. Kalo polisi nanya tentang rekaman itu, dia tinggal bilang kalo rekaman itu bukan satu kesatuan utuh. Somehow, i don’t know, maybe she hided some thing in the tape. Sesuatu yang nggak bisa kita dengar, tapi bisa dideteksi di laboratorium digital. Some one will be black sheep, and she will get her freedome” jawab Putri panjang lebar. Masih dengan suara nyaris berbisik. Zulfikar tersenyum semakin lebar.
“Adek mau jadi polwan?” tanya Zulfikar.
“Mas. Jangan ngalihin topik, deh!” keluh Putri.
Zulfikar tergelak. Mereka saling memandang dalam keterdiaman selama beberapa saat.
“Insting, penting buat dipakai. Tapi baper, jangan sampai!” kata Zulfikar. Putri mengernyitkan keningnya.
“Dalam pengungkapan kasus, kita harus bebas dari prasangka. Sekalipun kita nggak suka sama tersangka, tapi kalo bukti-bukti yang kongkrit membuktikan kalo dia nggak bersalah, ya harus diterima kalo dia emang nggak bersalah” lanjut Zulfikar.
“Mas Zul mau bilang kalo bukti-bukti yang ada sekarang, mengarah pada kebebasan Vani? buktiin kalo dia nggak bersalah? Gitu?” tanya Putri dengan wajah sewot. Tampak sekali dia tidak suka mendengar Stevani akan segera bebas.
“Kita lagi dalemin kasus ini. Preman yang disewa Dino, udah ditangkep di luar jawa. Ini lagi proses buat dibawa kemari. Hasil pemeriksaan sementara, preman-preman itu bilang kalo rekaman yang mereka kasih ke K buat diputer di kamar Vani saat kita di kontrakan itu, mereka dapet dari Dino”
“Dino?”
“Ya”
“Emang terkutuk itu orang. Beda banget sama kakaknya” komentar Putri lirih, penuh emosi.
“Tapi dia mengelak. Dia tidak mengakui tentang rekaman itu. Dia cuman ngakuin tentang pengeroyokan itu”
“Loh, tentang suntikannya?”
“Ya. Itu juga dia akui. Itu inisiatif dia” jawab Zulfikar. Putri tertegun.
“Klop, sih. kita juga belum nemuin yang secara eksplisit menyatakan kalo Vani yang yang punya ide tentang penyuntikan itu” lanjut Zulfikar.
“Huuuufffftt”
Putri menghela nafas berat. Dia merasa sangat tidak suka mendengar berita itu. Di dalam hati dia sudah terlanjur kecewa dengan Stevani. Tapi di kepalanya, logikanya mengatakan kalau bukti adalah segalanya. Zulfikar menggenggam lagi tangan Putri.
“Kita juga lagi menganalisa, device apa yang kiranya dipake buat ngerekam suara itu” kata Zulfikar. Putri tidak menyahut.
“Mas tahu, pasti adek nggak suka denger berita ini. Kalo mas ada di posisi adek, pasti mas juga ngerasain hal yang sama” lanjut Zulfikar.
“Iya, mas. Jujur aja, adek udah terlanjur nggak suka sama Vani. Terlepas dia bersalah atau enggak” sahut Putri.
“Suka atau nggak suka, itu hak setiap orang. Tapi mas pesen, adek jangan bikin pernyataan yang bertentangan sama hukum! Bisa blunder” pesan Zulfikar sambil tersenyum.
“Iya, mas. Adek tahu, kok” jawab Putri ikutan tersenyum.
“Tapi, beneran kan, Adek nggak bakal naik status?” tanya Putri.
“Enggak” jawab Zulfikar singkat.
Putri menghela nafas lagi. Ada senyum kelegaan yang tersungging di bibirnya. Baginya, kalaupun pada akhirnya Stevani bebas, tidak jadi soal baginya. Asal dia tidak ikut terseret. Toh rasa tidak sukanya itu hanya karena hubungan Stevani dengan kakaknya. Selama dia tidak berhubungan dengan kakaknya, berarti dia tidak mempunyai persoalan dengan Stevani.
***
__ADS_1