Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
bu Susan ikut ditangkap


__ADS_3

Sebenarnya bukan itu alasan utama Budi tidak menjawab pertanyaan ibunya tadi. Dia teringat pesan dari rekan sejawat Nungki. Kalau tembok saja bisa mendengar, apalagi ponsel. Mudah saja untuk mencuri dengar pembicaraan orang melalui telepon. Budipun berjalan menuju kamar rawat Adel. Terlihat Icha keluar dari kamar itu.


“Heh. Kamu ngapain di sini?”


Sebuah suara sanggup membuat Budi memutar tubuhnya secara spontan.


“Mbak. Jangan kenceng-kenceng suaranya!” tegur wanita lain di sebelah orang itu. Budi menatap dengan bingung.


“Eem. Maaf, apa yang ibu maksudkan itu, saya?” tanya Budi bingung.


“Iya, lah. Siapa lagi?”


“Maaf. Rasanya saya belum mengenal ibu. Apa ibu mengenal saya?”


“Aku Susan, ibunya Luki” jawab wanita itu.


“Oh” respon Budi pendek.”


“Kamu ngapain di sini?”


“Saya ditugaskan oleh ibu saya untuk membantu keperluan Adel di sini, bu” jawab Budi.


“Omong kosong. Pasti ini semua ulah kamu, kan? Kamu yang memfitnah Luki, kamu yang bikin Luki dikejar-kejar polisi, sampe akhirnya masuk rumah sakit dan mati. Semua ulah kamu, kan? Ngaku, deh!” tanya bu Susan penuh amarah.


“Mbak. Jangan teriak-teriakan! Tujuan kita ke sini cuman mau ngamanin menantu kamu, mbak. Jangan bikin heboh!” tegur wanita di sebelahnya.


“Kamu pasti masih nggak terima kan, Adel jadi milik Luki? Dasar pengecut. Kalo berani, satu lawan satu! Jangan beraninya nabok nyilih tangan!” kata bu Susan lagi.


“Mbak, udah! Masuk aja! Jangan bikin tambah heboh!”


Wanita di sebelahnya terus mengingatkan bu Lusi. Kali ini suaranya bertambah lirih. Budi jadi tambah bertanya-tanya.


Bu Susanpun menuruti permintaan wanita itu. Mereka masuk ke dalam kamar rawat Adel. tak berselang lama, terdengar suara beberapa orang tergopoh-gopoh mendekati Budi. Budi menoleh. Dan sebuah isyarat untuk diam dia dapatkan. Walau memakai masker, tapi Budi masih bisa mengenali orang itu.


Nungki? Dan itu temannya yang tadi. Ada apa dengan bu Susan, ya?


Beberapa orang yang mendekat itu, semaunya berpakaian biasa. Tapi dari berak-geriknya, mereka tampak terlatih untuk penyergapan.


Dua orang lelaki bersiap di kanan dan kiri pintu. Satu orang lagi bersiap dengan posisi duduk di sebelah Icha. Seolah sedang berbincang dengan Icha. Sedangkan Nungki dan temannya, bersiap dengan posisi seperti orang yang hendak bertanya sesuatu kepada Budi.


Klek


Krieeeet


Sreeet


“AAAA”


Adel memekik terkejut.


“HEI”


Bu Susan berseru setengah berteriak.


“AAA”


Gantian teman bu Susan yang berteriak.


Sreeet


“Apa-apaan ini?”


Dengan berurutan, Adel yang berjalan paling depan, ditarik polisi yang bersiap di sebelah kiri Adel. Perempuan yang bersama bu Susan langsung ditarik polisi yang bersiap di sebelah kanannya. Dan bu Susan sendiri diamankan oleh polisi yang bersiap di sebelah Icha.


“Maaf, bu Susan. Kami dari kepolisian”


Nungki berseru, menjawab pertanyaan bu Susan. Dia menunjukkan lencananya.


“Apa salah saya? Kenapa kalian perlakukan kami seperti buron, ha?”

__ADS_1


“Ibu tenang dulu! Ikut kami saja dulu, ke kantor! Kami pastikan, ibu akan baik-baik saja. Apa ibu bisa tenang?”


Bu Susan tidak menjawab. Tapi perlahan dia mengendurkan perlawanannya.


“Baik, ibu. Kalau ibu kooperatif, kami akan perlakukan ibu dengan penuh hormat. Tapi kalau ibu tidak kooperatif, kami akan bertindak sesuai kebutuhan” kata Nungki menegaskan posisinya.


“Baik” jawab bu Susan.


“Silakan!”


Nungki memberikan perintah kepada bu Susan untuk berjalan terlebih dahulu bersama anggota yang mendampinginya.


Bu Susan tidak diborgol, berbeda dengan perempuan yang datang bersamanya. Dia diborgol dan digiring seperti seorang tersangka.


“Makasih ya, mas” kata Nungki, setelah mereka cukup jauh.


“Makasih buat apa?” tanya Budi bingung.


“Memangnya mertua saya terlibat, Bu?” Adel ikut bertanya. Tampak dia masih syok dan bertanya-tanya.


“Tidak” jawab Nungki.


Tapi tidak ada senyum yang terlukis di wajahnya. Dia seperti masih mengambil sikap waspada.


“Lalu?” tanya Adel lagi.


“Tidak sadar” jawab Nungki singkat, tapi tidak jelas. Adel dan Budi saling menatap.


“Mertua anda tidak sadar, kalau dia berada di lingkungan pengedar. Dari kemarin, dia terus dilindungi orang-orang di sekitarnya. Sehingga kami kesulitan melacaknya. Beruntung, mas Budi bisa menahan amarahnya. Jadi tugas kami jadi lebih ringan” lanjut Nungki menjelaskan.


“Apa boleh saya menjenguknya, bu?” tanya Adel.


“Jangan!” jawab Nungki tegas. Adel terkesiap.


“Saran saya, jangan dekat-dekat sama beliau! Karena posisi mbak Adel sendiri sedang tidak aman. Menjauhlah selagi bisa!” lanjut Nungki.


“Tapi itu mertua saya, bu”


Terpaksa Budi menggunakan jurus pamungkasnya, agar Adel tidak mendesak Nungki. Karena dia merasa ada makna lain yang tersirat dari kata-katanya.


“Kamu pake gesper, mas?” tanya Nungki.


Suaranya sontak menarik perhatian Adel dan Budi yang sedang beradu pandang.


“Pake” jawab Budi singkat.


“Good” komentar Nungki, pendek.


“Aku permisi dulu. Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


Nungkipun berlalu diiringi rekan sejawatnya. Adel menatap kepergian polwan itu dengan penuh tanda tanya. Diapun beralih menatap Budi, meminta penjelasan.


Karena menurutnya, polwan tadi sempat bertanya secara tidak formal kepada Budi. Seolah polwan itu pernah dekat dengan Budi.


“Jangan banyak nanya, Del. Aku juga sama bingungnya” kata Budi, menjawab tatapan mata Adel.


“Bram, please! Bilang aja terus terang! Aku pengen denger” pinta Adel.


“Aku harus bilang apa, Ta? Aku nggak ngerti maksud dia apa” jawab Budi. Adel masih tidak mengalihkan tatapannya.


“Intinya kamu harus selamat sampe rumah. Itu aja yang aku paham. Ada apa dan kenapanya, itu aku nggak tahu” lanjut Adel.


“Pak dokter. Maaf, bagaimana kondisi Adel? Apa masih harus dirawat?” tanya Budi kepada dokter yang tadi memeriksa Adel.


“Oh, iya. Eeeh, tidak” jawab dokter itu tergagap.


Dia masih syok dengan adegan pemaksaan dan penangkapan tadi.

__ADS_1


“Saudari Adel sudah kami nyatakan sehat, dan bisa pulang” lanjut dokter itu.


“Alhamdulillah” sahut Budi mengucap syukur.


“Silakan mengurus administrasinya terlebih dahulu!” kata dokter itu mengingatkan Budi.


“Baik dok, terimakasih” jawab Budi.


Dokter itupun pamit undur diri. Adel diantar kembali kedalam kamar oleh Icha. Sedangkan Budi pergi mengurus administrasi.


Sebelumnya, dia berpesan kepada kang Jupri, untuk segera menelponnya kalau ada kondisi berbahaya seperti tadi. Kang Jupri mengiyakan.


Tak butuh waktu lama untuk Budi mengurus administrasi. Tak sampai sepuluh menit, dia sudah kembali berada di kamar rawat Adel. Langsung saja dia mengambil alih tugas kang Jupri mengemasi bawaan Adel yang memang hanya sebuah tas saja.


“Apa nggak sebaiknya istirahat dulu di kontrakan saya?” celetuk Icha. Sontak semua perhatian tertuju padanya.


“Kang Jupri kan belum istirahat. Kayaknya, cukup berbahaya kalo maksain pulang saat ini juga” lanjut Icha.


“Eeem” Budi hendak menjawab, tapi dia menimbang-nimbang kembali jawabannya.


“Saya sih siap aja, mas Bud. Tadi abis subuh kan saya sudah tidur. InsyaAlloh kuat” sahut kang Jupri.


“Bukan gitu, kang. Tapi saya punya rencana lain” kilah Budi.


“Rencana apa, Bram?” tanya Adel.


“Eem. Sebenarnya aku pengen pulang pake pesawat. Kebetulan Putri juga udah boleh pulang, jadi aku pengen cepet-cepet nyampe di rumah” jawab Budi.


“Oh, ya? alhamdulillah. Ikut seneng dengernya. Aku telepon Tika juga deh, biar nyamper ke sana. Barangkali ada yang bisa dibantu” seru Icha.


“Ya Alloh, mbak Icha. Kaya mau pindah rumah aja. Udah ada yang bantuin, mbak. Makasih” tolak Budi, halus.


“Lha terus, sampe sana, lanjut pake apa? kan paling mentok kalo nggak landing di solo, ya di jogja” tanya Icha lagi.


“Oh. Kita pake hercules kok”


“Emang hercules bisa landing di pacitan?” tanya Adel.


“Dilempar dari atas” celetuk kang Jupri.


“Itu” sahut Budi.


“Suek. Kirain beneran” komentar Adel. Dia mencubit gemas pinggang Budi.


“Gampang kalo udah di sana, sih. Siapa yang nggak kenal Budi?” seru Budi bercanda.


“Iya. Orang fotonya aja diabadiin di buku bahasa Indonesia anak SD” celetuk kang Jupri.


“Ini Budi. Ini bapak Budi. Ha ha ha” sahut Icha sambil tertawa. Membuat semuanya ikut tertawa.


“Landing di Adi sumarmo aja, mas! Mobil Adel masih di sana” usul Adel.


“Oh, ya? Cocok, tuh” sahut Budi.


“Jadi gimana, kang Jup? Kang Jupri aja yang istirahat di tempat mbak Icha. Kali aja mbak Icha mau ikut mudik” lanjut Budi.


“Iya, deh. Saya sih, di pom bensin juga bisa tidur”


“Atau nginep aja di hotel deket situ, kang?” usul Budi.


“Nggak usah mas Bud! Di tempat saya aja. Saya ngontrak rumah kok, bareng temen-temen saya. Bisa dikondisikan” tolak Icha.


“Oh, begitu?” sahut Budi.


“Makasih banget ya mbak Icha. Sudah berkenan direpotin. Lemah teles ya, mbak. Yang jelas kami nggak bisa bales kebaikan mbak Icha” lanjut Budi berterimakasih.


“Nggak papa, mas. Icha seneng kok bantunya. Icha juga lega, akhirnya kalian baik-baik aja. Dan semoga kalian selalu diberi keselamatan dimanapun kalian berada” jawab Icha.


“Amin” semuanya mengaminkan doa Icha.

__ADS_1


Adel juga mengucapkan terimakasih kepada Icha. Kepada kang Jupri keduanya juga berterimakasih.


Dan tak lama kemudian, mereka beranjak keluar dari rumah sakit itu. Bersama-sama, kang Jupri dan Icha mengantarkan Budi dan Adel menuju bandara. Mereka menunggu keduanya sampai boarding. Barulah setelahnya, mereka pergi ke kontrakan Icha.


__ADS_2