Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
kebohongan Erika


__ADS_3

Lukipun mengantar Adel berobat ke dokter. Di depan Adel, dia menelepon customernya untuk membatalkan pertemuan yang sudah mereka rencanakan.


Sempat Adel dihinggapi rasa curiga. Karena Luki menelepon menggunakan telepon biasa, bukan video call. Dan berbicaranya juga di tempat yang agak jauh. Tapi segera dia tepis perasaan curiga itu. Karena samar-samar dia bisa mendengar apa yang Luki bicarakan.


***


Sore ini, Budi meminta ijin kepada ibunya untuk pergi ke pabrik terlebih dahulu. Dia ingin melakukan pengecekan jumlah barang di gudang material. Tanpa ada pertanyaan, bu Ratih langsung mengijinkan Budi pergi.


Budi tiba di pabrik setelah para karyawan pulang. Tanpa memperhatikan parkiran mobil, Budi langsung menuju jalur produksi. Tidak semua barang consumable memang, yang akan dia periksa, hanya material stainless dan juga rotan. Dia buka ponselnya, dan dia tampilkan data yang diperbaharui oleh Aldo.


“Loh, Bud. Sendirian aja?”


Sebuah sapaan mengejutkannya. Dia sampai berbalik arah saking terkejutnya.


“Erika kemana?” lanjut orang itu.


Budi mengernyitkan keningnya. Dia juga baru tersadar, kalau semenjak berangkat ke kantor, Erika belum menghubunginya lagi.


“Bukannya di kantor?” sahut Budi.


“Tinggal Riki, barusan. Langsung ke parkiran, dia”


“Loh. Kemana, ya? Sama pak Paul kali. Kan urusan legalitas masker medis belum kelar” terka Budi.


“Bisa Jadi, sih”


“Eh. Udah bilang pak Paul belum, yang suplier kemarin?” lanjut orang itu.


“Aku udah email sih. Udah WA juga. Abisnya aku telepon nggak diangkat-angkat” jawab Budi.


“Udah direspon?”


“Udah. Mbak Farah diminta nego harga. Tapi budgetnya berapa, pak Paul nggak bilang” jawab Budi.


“Ya udah. Entar aku nego” komentar Farah.


“Terus kamu ngapain, jam segini malah ke pabrik?” lanjut Farah.


“Ini. Mau cek inputan Aldo. Sesuai nggak, sama aktualnya” jawab Budi.


“Emang Aldo pernah miss?”


“Belum sih. Bukan curiga sama Aldo sih, mbak. Mbak Rika minta aku buat cek jumlah aktual material yang tersisa”


Farah merasa aneh dengan sapaan Budi yang merujuk pada kekasihnya sendiri.


“Sesuai nggak, antara pembelian, pemakaian, sama sisa. Kalo selisih, perlu dicari tahu, selisihnya kenapa. Kalo disebabkan oleh proses pemotongan yang nggak efisien, berarti perlu dipikirkan lagi, gimana caranya motong yang kalo bisa nggak meninggalkan sisa. Alias habis semua selonjor ini dipake jadi mebel. Gitu, mbak Farah”


Farah manggut-manggut. Dia paham sekarang. Budi menggunakan kata ‘mbak’, merujuk pada Erika, sebagai atasannya.


“Ya udah. Mau ditemenin, nggak?” goda Farah.


“Waduh. Makasih mbak Farah. Beneran Dylanda amukan Erika, kalo saya terima” jawab Budi sambil tergelak.


“Hempf. Ha ha ha” farah tertawa mendengar jawaban Budi.


“Ya udah kalo gitu. Aku pulang dulu, ya?” pamit Farah.

__ADS_1


“Oke, mbak” jawab Budi.


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


Farahpun pergi masih sambil tertawa, membuat Budi geleng-geleng kepala.


Walaupun di dalam hati dia bertanya-tanya, tentang kemana perginya Erika, namun dia berusaha kembali fokus pada apa yang sudah dia niatkan untuk dia kerjakan.


Diapun langsung tenggelam dalam deretan angka dan juga benda aslinya. Dia juga mengukur panjang dari tiap-tiap material yang ada. Tak ada temuan pada material hollow yang masih belum dipotong. Hanya ada beberapa catatan mengenai material terpakai.


“Kok ini potongannya beda, ya? Kaya berkurang, tapi dikit banget?”


Budi mendapati kenaehan saat mengukur rotan lonjoran yang masih belum terpakai. Kebtulan sekali, material rotan tidak pernah dipotong secara utuh begitu. Pemotongannya biasanya dilakukan setelah menjadi anyaman.


“Rotan kan nggak bisa disambung. Kenapa dipotong? Lagian, sejak kapan rotannya dipotong di awal? Bukannya emang sengaja dilebihin buat perapihan?” Budi bertanya pada diri sendiri.


“Bekas potongannya juga kasar. Masa dari suplier begini?” gumam Budi.


“Tapi kalo ada yang sengaja motong di sini, buat apaan? Rotan segitu sih nggak bisa buat prakarya” lanjut Budi.


Diapun menuliskan temuannya di aplikasi catatanya. Dia juga mengambil foto rotan tersebut sebagai bukti temuannya.


“Belum ada kabar juga itu anak” gumam Budi.


Diapun mencari nomor Erika, lalu meneleponnya dengan panggilan video.


Sayang, panggilan pertamanya tidak mendapat sambutan. Dia telepon lagi. Sampai waktu tunggunya habis, panggilannya belum juga mendapat sambutan. Budi mencoba untuk yang ketiga kalinya.


Kali ini panggilannya bersambut.


“Wa’alaikum salam” jawab Budi.


Tampak Erika sedang berada di dalam mobil, di sebuah jalan yang agak asing buat Budi.


“Lagi dimana, Ka?” tanya Budi.


“Iya. Aduh. Maaf, mas. Lupa mau ngabarin. Aku lagi mau ke bandara mas, Jogja” jawab Erika.


“Loh. Ngapain?” tanya Budi, agak kurang suka. Tampak raut cemburu menghiasi wajahnya.


“Mau jemput papa” jawab Erika.


“Papa? Emang terbang jam berapa?”


“Berangkatnya sih udah dari kemarin, mas. Bilangnya mampir Surabaya dulu. Ada pertemuan bisnis, semalem. Terus tadi tuh nelpon, katanya udah boarding. Lah, surabaya ke jogja kan, nggak nyampe dua jam. Ya kalang kabut lah, aku” jawab Erika, menjelaskan.


“Terus, ini di mana?”


“Gunung Kidul, mas” jawab Erika.


“Tenang! Aku nggak selingkuh, kok. Suer” lanjut Erika, sambil tersenyum geli, melihat Budi cemburu.


“Oke” jawab Budi singkat.


“Mas Budi, aaah. Masa aku harus balik dulu?” rengek Erika, mengetahui Budi belum sepenuhnya percaya padanya. Budi tersenyum.

__ADS_1


“Ya udah. Lanjut aja. Orang udah deket, masa balik?” jawab Budi.


“Ya tapi jangan marah gitu dong, mas! Jadi ngerasa serba salah, iiih. Aku beneran lupa mas, saking kagetnya aku, denger kabar papa udah boarding”


“Iya, iya. Aku nggak marah, kok. Jealous doang”


“Bener?” tanya Erika memastikan.


“Iya, sayang” jawab Budi. Erika tersenyum dipanggil, sayang.


“Ati-ati di jalan, ya! kabarin, kalo udah nyampe rumah! Besok, kalo ada waktu, aku mau silaturohmi” lanjut Budi.


“Iya, mas. Makasih ya, udah maafin aku. Aku jalan dulu ya, mas?” pamit Erika.


“Iya, sayang. Ati-ati” jawab Budi.


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


Budi termenung, setelah memutus sambungan video callnya. Di angannya sudah berjejer sekian rencana, jika papanya Erika sudah tiba di rumah Erika. Dia benar-benar mau sowan dan kenalan. Barangkali bisa langsung melamar Erika dalam waktu dekat.


“Huuffft. Untung mas Budi nggak nginterogasi” gumam Erika, setelah menghela nafas lega.


Tok tok tok


Terdengar kaca pintu mobilnya di ketuk orang. Diapun menurunkan kaca pintunya yang sebelah kiri.


“Gimana Ka, ketahuan?”


Seorang wanita berjilbab dan bercadar menanyainya dari luar mobil.


Klek


Erika membuka kunci pintunya, dan menyuruh wanita itu masuk.


“Untung aja mas Budi nggak nginterogasi aku. Jadi masih aman” jawab Erika.


“Syukurlah. Terus, sekarang kita ke bandara?” sahut wanita bercadar itu.


“Ngapain? Kan papaku masih besok, pulangnya” jawab Erika.


“Terus?”


“Kita ke tambak sari aja, cek lokasi”


“Barry Prima udah siap” info si cewek bercadar.


“Ha?” Erika tersentak.


“Hempf. Ha ha ha. Barry Prima?” Erika tertawa, mengingat sosok Barry Prima.


“Hei. Otaknya” tegur wanita bercadar itu.


“Ha ha ha. Dasar Sephia”


Wanita bercadar itu hanya geleng-geleng kepala, saat Erika melajukan mobilnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2