Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
menjelang boarding


__ADS_3

Keesokan paginya, Adel terlambat bangun. Saking kepikiran akan kepergian kekasihnya ke berlin, membuatnya susah tidur. Sekalinya bisa tidur, adzan subuh yang mengalun keras dari pengeras suara mushola, seolah tak cukup keras untuk mengejutkannya.


“Abram?”


Saat memeriksa ponselnya, terdapat banyak sekali notifikasi bejejer di layar. Panggilan tak terjawab dari Madina menjadi yang paling banyak. Disertai pesan ajakan untuk sholat subuh.


Di urutan selanjutnya ada panggilan dari kekasihnya. Tak kalah banyak juga jumlah notifikasi panggilan tak terjawab dari Madina. Sampai-sampai Adel menepuk jidatnya sendiri karena malu. Sekian banyak panggilan masuk, tapi sama sekali tak membuatnya terbangun.


*Ta, kamu masih tidur, ya? atau*,


Pesan singkat yang menggantung itu membuatnya kelabakan. Dia menebak kalau kekasihnya sedang mengira kalau dirinya sedang bersama Luki.


*Tata kesiangan, Bram. Tata nggak bisa bobok, mikirin Abram terus*.


Tata menuliskan pesan itu sebagai caption atas foto selfie yang dia kirimkan. Foto yang menampilkan kondisi Adel yang masih berantakan, belum tersentuh air.


Dari tempat yang jauh, Budi membalas pesan itu dengan emotikon tepuk jidat. Adel tertawa karena malu. Dia membayangkan kalau kekasihnya itu pasti sedang menertawakannya.


*Abram udah otw nih ke kulon progo. Tadinya pengen ke rumah Tata, tapi ada sesuatu yang mesti Abram kelarin, dadakan. Jadi Abram keabisan waktu*.


Adel tertegun beberapa saat. Dia seperti merasakan ketakutan yang entah karena apa. sekilas dia teringat mimpinya saat tadi tidur.


Tidak hanya kekasihnya yang pergi jauh, dalam mimpinya itu, bapaknya juga pergi dengan dua orang. Seperti orang hendak ihrom, ketiganya berpakaian serba putih.


Dengan kondisi iman bapaknya sekarang, Adel merasa sangsi kalau bapaknya terpikirkan tanah suci. Tapi mengingat perubahan sikap ibunya yang terbilang ajaib, Adel merasa tidak ada yang tidak mungkin.


*Ati-ati ya, Bram! Doa Tata selalu menyertai Abram*.


Pesan singkat itu terasa janggal bagi Budi. Alih-alih langsung menghubunginya lewat pangilan video, atau panggilan suara, ini malah hanya mengirimkan pesan hati-hati.


*Apa si Luki baru dateng, terus Tata dipanggil bapaknya? Atau dia lagi nangis? Semalem juga dia kaya sedih banget aku bilang bakal pergi sepuluh hari, plus tambahan empat hari. Aih, Ta. Semua bakal baik-baik aja, kok*


Di kamarnya, Adel bergegas menjalankan kewajibannya. Walau secara waktu, sudah sangat tertinggal. Tanpa wiridan seperti biasanya, Adel langsung bergegas mandi dan bersolek seadanya. Sambil dia menelepon Tati.


“Baru bagun, nduk ?” tanya bu Lusi, saat Adel sampai di meja makan.


“He he. Iya, bu. Abis Adel nggak bisa tidur, semalem”


“Astaghfirulloh, mbak. Tidur jam berapa sih, Madin telepon bolak-balik nggak bangun-bangun?” tanya Madina. Dia terlihat sudah selesai dengan sarapannya, dan bersiap berangkat.


“Ya nggak tahu. Orang merem, mana liat jam” jawab Adel cengengesan. Dia menyahut buah apel dan segelas susu di tengah-tengah meja.


“Madin berangkat dulu, mbak” pamit Madina sambil menyalaminya.


“Bareng aja. Embak mau ke rumah mbak Tati” jawab Adel.


“Loh. Emang ada job dadakan, nduk? Kemarin bilangnya hari ini nggak ada job? Kuliahnya juga off kan, hari ini?” tanya bu Lusi.


Adel tak segera menjawab. Dia menghabiskan dulu susu yang sedang dia minum.


“Adel mau ke jogja, bu. Mumpung Abram juga masih o te we. Kayaknya masih keburu deh” jawab Adel.


“Ya Alloh, nduk” komentar bu Lusi pendek. Adel menatap sekilas wajah sendu ibunya.


“Sarapan dulu, dong!” lanjut bu Lusi.


“Iya, mbak. Mentang-mentang cuman sama telur dadar, dianggurin” sahut Madina.


“Bukan soal sarapannya, dek. Ini soal waktu. Entar pulang dari jogja, embak makan deh, masakan adek” jawab Adel.


“Iya, deh” kata Madina sambil berlalu.

__ADS_1


Adel sempat beradu pandang dengan ibunya. Seolah mau bertanya, ada apa dengan Madina. Dan seolah mengerti dengan arti tatapan Adel, bu Lusi sontak menaikkan kedua pundaknya, sebagai isyarat kalau dia juga tidak tahu.


Adelpun pamitan untuk pergi ke rumah Tati. Bersama Madina, Adel berangkat menyusuri jalan kampungnya. Dan mereka harus berpisah di ujung jalan di dekat pasar. Karena rumah Tati ada di sebelah barat, sedangkan sekolah Madina ada di sebelah timur.


“Kamu bawa badan doang, Del?” tegur Tati, saat Adel baru masuk halaman depan rumahnya.


“Mau bawain sarapan, adanya telur dadar. Tinggal dua lagi” jawab Adel.


“Telurnya siapa?” tanya Tati sambil tergelak.


Adel berkacak pinggang, mengerti maksud dari kata telur itu.


“Ya udah, kalo udah siap, langsung berangkat aja. ngejar waktu” lanjut Tati.


“Kamu emang paling pengertian” komentar Adel.


“Semoga Alloh membalas dengan jauh lebih baik” lanjut Adel mendoakan.


“Amin” sahut Tati mengaminkan.


Merekapun langsung berangkat, mengendarai mobil bapaknya Tati. Seperti sudah janjian, mereka berdua sarapan di dalam mobil. Sama-sama makan buah. Bedanya tati makan buah pisang raja. Sontak menu sarapan Tati itu menjadi bahan bercandaan mereka di sepanjang jalan.


Sesampainya di bandara internasional yogyakarta, mereka langsung bertanya di pusat informasi. Dan mereka mendapatkan informasi, kalau penerbangan menuju jerman tinggal beberapa menit lagi menuju boarding. Langsung saja mereka berjalan cepat menuju terminal yang ditunjuk petugas infomasi tadi.


Sempat bingung karena mereka berdua sama-sama baru pertama kalinya masuk ke bandara ini. Tapi pada akhirnya, Adel menemukan sesosok laki-laki yang sangat dia kenal. Laki-laki itu sedang berada di tengah-tengah sekelompok orang, yang berjalan menuju tempat boarding.


“Abram” panggilnya.


Orang yang dia pangggil, menoleh. Termasuk juga Tati. Dia yang sedang menebar pandangan, tersita perhatiannya. Tapi saat dia menoleh, Adel sudah berjalan meninggalkannya. Sambil geleng-geleng kepala, dia mengikuti sahabatnya itu tanpa protes.


“Loh, ta? Kok ngak bilang kalo mau ke sini? Sama siapa?” tanya Budi. Dia yang hendak boarding, jadi terhenti langkahnya. Begitu juga dengan yang lain.


Sebuah suara menyahut mendahului yang ditanya. Sontak pandangan Adel tertuju pada sumber suara. Dia mengernyitkan keningnya. Ternyata si Erika yang baru saja menyahut. Adel merasa aneh, untuk apa Erika di sini? Dan lebih aneh lagi, dia memakai jaket yang sama dengan yang dipakai Budi dan yang lain.


“Sama aku, mas Bud” Tati menyahut dari belakang Adel. Dia sempat menatap Erika dengan tatapan tajam. Membuat Erika salah tingkah.


“Eh, mbak Tati. Apa kabar?” seru Budi sambil menyalami Tati.


“Iya. Tadi Tata nodong Tati buat nganter Tata ke sini. Tata pikir, waktunya pasti masih keburu buat ketemu Abram” kata Adel menjawab pertanyaan Budi tadi.


“Alhamdulillah. Alloh ngabulin doa Abram. Makasih ya Ta, udah nyempetin waktu datang ke sini. Abram pikir, Abram nggak bisa ketemu Tata lagi”


“Nggak ketemu Tata lagi? Maksud Abram?” tanya Adel tidak mengerti.


“Ya sebelum berangkat, maksud Abram” jawab Budi. Adel menghela nafas lega.


“Kenapa?” tanya Budi heran.


“Tata takut Abram marah”


“Hempf. Emang kalo Abram marah, terus abram minta dinaturalisasi, gitu?” tanya Budi sambil tergelak. Semua yang mendengar juga ikut tergelak. Membuat Adel tersipu malu.


“Aduh”


Budi keceplosan suara karena terkejut mendapat cubitan di perutnya. Adel melototkan matanya saat Budi menatapnya. Tingkah keduanya itu justru memancing candaan dari rekan-rekan Budi. Adelpun larut dalam candaan dan keramahan mereka.


“Oh, iya. mbak Farah mana, Bram?” tanya Adel, beberapa waktu kemudian.


“Eem”


Budi tidak segera menjawab. Dia mencoba merangkai kata dulu. Dia merasa, pasti akan timbul benturan saat dia mengatakan jawabannya.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Adel lagi.


“Itu yang Abram maksud dengan dadakan, tadi pagi”


“Oh. Emang mbak Farah kenapa, Bram? Sakit?”


“Enggak, sih”


“Terus?”


“Pak Paul minta mbak Farah buat tetep tinggal. Ada calon pelanggan dari Kanada yang harus diprospek intens. Ratna udah di sana. Kalo mbak Farah ikut pergi, marketing jadi kosong. Lagipula, kalo nanti jadi, pak Paul kan juga nyusul buat meeting sama rekanan di sana. Nah, yang pegang data-datanya pak Paul kan, mbak Rika. Mbak Farah sih, nggak tahu menahu soal data-datanya pak Paul ” jawab Budi.


“Oh. Samaan dong, kaya Aldo sama Riki?” komentar Adel.


“Terus, nggak ada gantinya? abram doang dong, pimpinannya?” tanya Adel dengan suara lirih.


Budi tidak segera menjawab. Dia mengarahkan jempol kanannya ke arah Erika. Seketika raut wajah Adel berubah. Sangat terlihat rasa tidak suka itu tergambar di wajahnya.


Di lain pihak, Erika terlihat senang. Ada senyum yang berusaha dia sembunyikan. Namun masih terlihat di mata Adel. Butuh beberapa detik buat Adel menenangkan hatinya.


“Jaga diri baik-baik ya, Bram! Tata cuman bisa bantu doa” kata Adel sambil tersenyum manis.


“Iya, Ta. Tata juga. Tetep cerdik ya, selama Abram di sana!” jawab Budi.


“Hempf”


Mendengar kata cerdik, Adel tergelak. Dalam hati dia merasa bahagia. Bahagia karena kekasih hatinya masih cemburu. Masih tetap waspada dengan keberadaan Luki, dan masih tetap mencintainya sepenuh hati. Sekalipun kini ada Erika di dekatnya.


“Iya, Bram. Tata akan selalu menjaga harga diri Tata, dan harga diri Abram” jawab Adel.


“Bud. Udah waktunya boarding” seru seseorang.


Sontak perhatian semua orang teralihkan ke orang yang baru saja berseru.


“Astaghfirulloh” gumam Adel, mengetahui siapa yang baru saja berseru.


“Ada pak Paul, Bram?” tanya Adel dengan suara pelan, nyaris berbisik.


“Iya” jawab Budi dengan senyum mengembang.


“Astaghfirulloh”


Adel menepuk jidatnya. Dia merasa malu, bermesraan dengan Budi di depan pemilik perusahaan tempat Budi bekerja.


“Siap pak” seru Budi menjawab teguran pak Paul.


“Udah, nggak papa” kata Budi menenangkan kekasihnya.


“Abram berangkat, ya?” lanjutnya.


“Iya, Bram. Ati-ati” jawab Adel.


Dia salim dan mencium tangan Budi. seperti sebelumnya, kebiasaan Adel cium tangan itu membuat rekan-rekan Budi baper. Mereka berseru bersama dan mencandai Adel.


Adel hanya tertawa saja menanggapi candaan mereka. Karena dia tahu, candaan itu adalah ungkapan penerimaan mereka akan keberadaannya.


Mereka semua melintasi dinding kaca pembatas satu per satu, setelah menyalami Adel dan juga Tati. Terkecuali dengan Erika. Kini dia menunjukkan sikap berlawanan dengan Adel. Membuat Adel agak hawatir.


“Udah! Percaya deh sama mas Budi. Dia pasti sanggup menolak semua godaan Erika” kata Tati.


Adel menoleh sesaat. Dia tidak menolak saat Tati merengkuh pundaknya, lalu membawanya mendekat ke pelukan. Dia terus memperhatikan kepergian kekasihnya sampai menghilang dari pandangan.

__ADS_1


__ADS_2