
Di dalam hatinya, sebenarnya Adel ingin sekali mengunjungi rumah Budi. Tetapi orang tuanya selalu di rumah. Dia menantikan saat-saat bapak dan ibunya pergi ke luar kota lagi. Tapi sejauh ini, hanya perjalanan dalam kota, yang tidak memakan waktu lama. Belum lagi, baik Luki maupun Dino, selalu menenguknya.
Waktu mereka berdua selalu bergantian. Tidak pernah bertemu dalam satu waktu, tapi juga tidak ada hari terlewat tanpa salah satunya.
Madina juga selalu memberi kabar, kalau ibunya Adi selalu main di rumah tetangganya, di sekitaran rumah budi. Walau hanya dalam hitungan menit, tapi jam kedatangannya tidak bisa ditebak. Madina menyarankan Adel untuk bersabar dulu. Sampai Madina mendapatkan informasi yang presisi, tentang kapan waktu yang tepat untuk berkunjung ke rumah Budi.
Semakin lama, Adel semakin tidak sabar. Rasa sedih dan rindunya sudah tidak tertahankan lagi. Dia merasa semakin kepayahan, harus berpura-pura terus. Dia semakin muak harus sering bertemu dengan yang namanya Dino. Sampai di hari ini, tepat tepat satu minggu dari saat pesan dari Putri diterima Madina. Adel sudah tidak sanggup lagi bertahan.
“Mbak, jangan sekarang!” cegah Madina.
Suara pelan itu menyiratkan keadaan yang tidak aman untuk Adel menjalankan keinginannya. Madina menarik kakaknya kembali ke kamarnya.
“Terus sampe kapan, embak harus pura-pura gini, dek? Embak capek. Embak pengen liat kondisinya mas Budi” protes Adel.
“Tunggu sampe jam sembilan ya, mbak!” jawab Madina. Adel terkesiap.
“Nanti jam sembilan, bapak sama ibu mau ke jogja lagi. Madin pikir, ini memang hari yang tepat buat mbak Adel pergi ke sana. Tapi tunggu sampe bapak sama ibu berangkat dulu!”lanjut Madina.
“Masih dua jam lagi, dek” keluh Adel.
“Nunggu dua jam lagi, itu lebih baik, daripada ngebuang usaha mbak Adel seminggu terakhir”
“Aaaaaah. Apa bedanya, sih? kan kemarin kta juga udah jalan-jalan, pake motor. Nyatanya dibolehin, sama ibu. Kemarin lusa, bapak sama ibu perginya sampe malem. Tapi kamunya ngelarang embak terus. Sebenernya mau kamu tu apa sih, dek?” Adel mulai kesal.
“Kalo embak bisa jaga Emosi, Madin nggak akan ngelarang embak. Tapi Madin yakin, embak pasti akan ngelabrak dia habis-habisan. Dan itu, bikin usaha kita selama ini sia-sia. Karena apa yang mau kita ungkap ini, adalah sesuatu yang sangat besar. Kita mau ngungkap konspirasi, mbak. Konspirasi jahat, yang efeknya aja masih mbak Adel rasain. Emang mbak Adel terima diperlakukan kaya gitu? Kalo Madin yang dicelakain kaya gitu, demi apapun, Madin akan balas dendam, mbak”
“Emangnya, dia tiap hari ngerumpi, gitu?”
“Yap”
“Ish, suaminya nggak bisa ngatur dia, apa? biarin aja, lah! Kali aja kalo ketemu embak, mas Budi langsung keinget lagi, semuanya”
“Ya, Madin pikir juga begitu”
“Terus? Kenapa kamu ngelarang terus?”
“Kupingnya dia itu banyak. Jaringan dia itu melebihi sekitarannya mas Budi. Tiga hari berturut-turut kemarin, itu Putri lagi ngetes, siapa aja yang loyal sama dia. Makanya Madin larang embak buat pergi ke sana. Sekali mereka tahu kalo mbak Adel udah inget sama mas Budi, itu bahaya buat keselamatan embak. Kemarin cuman dibikin lupa. Entar?”
“Terus, gimana caranya bikin mas Budi inget? Kan jalan keluarnya cuman itu. Kalo mas Budi nggak sembuh-sembuh, masa embak mau selamanya gini?”
“Ya harus sabar. Sebulan minimal”
“Come on?”
“Hari ini, mereka yang loyal sama ibunya Adi, lagi kondangan ke luar kota. Bareng ibunya Adi juga. Ini momen yang tepat, mbak. Semoga, mbak Adel bisa menjadi pemantik kembalinya ingatan mas Budi”
“Tapi dua jam itu lama, Dek” rengek Adel.
“Mending embak sholat sunnah dulu deh! Semoga Alloh berkenan nurunin keajaiban. Alloh berkenan ngangkat penyakitnya mas Budi. Dan berkenan nyatuin lagi mbak Adel sama mas Budi” saran Madina.
“Huuuffftt. Iya, deh. Kayaknya bener apa yang kamu bilang” jawab Adel.
Dia lantas pergi mengambil air wudhu, lalu mendirikan sholat sunnah. Dalam setiap sujudnya, dia memohon dengan sepenuh hati, agar dia dan Budi, diberikan kesembuhan. Dan agar bisa kembali beraktivitas normal, bersama, seperti dulu lagi.
__ADS_1
Akhirnya, setelah menunggu sekian lama, bapak dan ibu Adel pergi. Baik Adel maupun Madina, melepaskan kepergian bapak dan ibunya, dengan wajah yang dibuat seolah sedih. Padahal, Adel sangat menginginkan mereka segera berangkat.
Sepeninggal orang tuanya, Madina langsung mengeluarkan motornya. Walau awalnya bingung, tapi kini Adel memahami. Madina sedang membuat skenario, seolah-olah mereka akan jalan-jalan disekitaran desa ini saja. Bukannya pergi jauh keluar desa. Hal ini untuk mengurangi kecurigan warga sekitar yang loyal terhadap bapaknya.
Ternyata benar apa yang dikatakan Madina. Sesampainya di dekat rumah Budi, terlihat ada rombongan pengantin yang baru saja bertolak menuju kediaman pengantin wanita. Untung Madina sigap, alih-alih belok di gang yang seharusnya, Madina memilih memutar melewati gang lain.
Sesampainya di depan rumah Budi, Adel gugup saat melihat Budi sedang menjemur pakaian. Terlihat di matanya, kalau Budi sudah sehat seperti sedia kala.
“Assalamu’alaikum”
Mereka berdua mengucapkan salam, setelah memarkir motornya.
“Wa’alaikum salam” jawab Budi.
Budi yang tadi tidak memperhatikan motor yang lewat di sebelahnya, terkejut, saat mendapati motor itu ternyata bertamu ke rumahnya.
“Mau ketemu siapa, mbak?” tanya Budi.
Dia tergopoh-gopoh menghampiri keduanya. Dia mengulurkan tangan untuk bersalaman. Di situlah, Adel mulai merasa sedih. Karena Budi tidak mengenalinya.
“Kita mau ketemu bu Ratih. Ada perlu” jawab Madina.
“Oh, ada. Beliau lagi di belakang, tadi. Silakan masuk dulu! Saya panggilkan dulu” jawab Budi.
Adel memutar tubuhnya. Dia tidak kuasa lagi menahan air mata kesedihannya. Budi yang sangat dicintainya, mempersilakannya masuk ke dalam rumah, seperti selayaknya tamu. Bukan seperti selayaknya kekasih belahan jiwanya. Dia tersentak, saat Madina mencolek tangannya. Diapun mengikuti adiknya, yang telah terlebih dahulu sampai di teras rumah Budi.
“Allohu Akbar, mbak Adel?” seru bu Ratih.
“Ibu” seru Adel juga.
Tangis Adel pecah di pundak Bu Ratih. Begitu juga sebaliknya. Suasana hening seketika berubah menjadi mengharu biru. Tak ketinggalan dengan Madina dan Putri. Keduanya juga berpelukan sambil sesenggukan. Menyisakan Budi yang tengah kebingungan.
“Mbak Adel udah fit lagi?” tanya bu Ratih.
“Alhamdulillah, bu. Adel sudah sembuh” jawab Adel.
Walau dia memaksa untuk tersenyum, tapi kesedihannya sama sekali tidak bisa dia sembunyikan.
“Syukurlah. Duduk dulu, mbak! Ibu bikinin minum dulu” pinta bu Ratih.
“Nggak usah repot-repot bu! Kaya sama tamu aja” tolak Adel halus.
“Kan emang tamu, mbak” sahut Putri.
“Tuh, udah dijawab” kata bu Ratih sambi tersenyum.
Adel tidak menjawab lagi. Matanya terpaku pada sosok atletis di sepannya. Sosok tampak, yang sanggup menyita perhatiannya.
Tapi sosok itu, kini tak ubahnya jasad tanpa nyawa. Tanpa wibawa, tanpa aura tegas, tanpa aura misterius. Dan pastinya, tanpa ingatan, bahwa yang di depannya ini adalah orang yang pernah membuatnya tidak bisa tidur. Orang yang bayangannya terus menganggu sepanjang malam. Kini dia tak ubahnya seperti anak jalanan yang diadopsi bu ratih. Benar-benar terasa bagai orang lain, buat Adel.
Saat Budi pamit ke belakang, Adel membalikkan tubuhnya. Air matanya meluncur lagi, tanpa bisa dia bendung. Beberapa saat lamanya dia memejamkan matanya. Saat dia membuka mata, dia terkejut melihat sebuah motor, berwarna merah marun. Motor yang sama persis dengan motornya. Motor yang keadaannya sudah berubah memprihatinkan. Banyak lecet di sana-sini, ada bagian yang pecah, bengkok, dan kerusakan lainnya.
Assalamu’alaikum
__ADS_1
Wa’alaikum salam. Udah mulai ngejob, ta?
Aduh, iya. Maaf bram, tata lupa ngabarin, kalo job hari ini, mulai dari pagi.
Wow, sampe malem?
Enggak, sih. malemnya wayangan. Jadi yang campur sari, cuman dari pagi, sampe sore aja. Kenapa emang, bram?
Nggak papa. Kangen aja. He he
Tiba-tiba sebuah bayangan berkelebat di penglihatan Adel. Bayangan di saat Adel sedang berada di sebuah hajatan. Dia sedang menunggu giliran menyanyi. Kemudian berbicara dengan seseorang melalui telepon.
Alhamdulillah. Seneng deh, dikangenin
He he. Pulang jam berapa, rencananya?
Eh, iya. alhamdulillah, abram nanyain
Ada apa?
Ini, tadi kan, tata berangkat bareng Tati. Jadinya, tata nggak diitung tuh, buat mobilnya. Eh, tahu-tahu dia dapet telpon dari bapaknya, buat jemput ke wawaran. Tata bingung, mau pulang sama siapa?
Emang motor tata kemana?
Rusak
Rusak lagi?
Iya. nggak tahu, mesinnya suka ngadat. Kata orang bengkelnya, harus ganti injektor
Wow, lumayan juga itu, biayanya
Ya, lumayan sih, bram. Tapi mau gimana lagi?
Ya udah, tenang! Share lokasi aja! entar abram yang jemput
Kepala Adel mulai terasa berdenyut, tapi dia berusaha menahannya. Dia sengaja menenggelamkan diri pada kepingan memori yang sedang diputar oleh otaknya. Satu jawaban sudah dia dapat. Yaitu tentang Budi yang akan menjemputnya.
Beneran, bram? Terus, ibu gimana?
Kan ada Putri. Sekali-sekali aja, masih dimaklumi, lah
He he. Kalo nggak diijinin, mending jangan, bram. Mending tata ngojek, daripada dicemberutin camer
Ha ha ha ha. emang pernah dicemberutin ibu?
Justru mumpung belum pernah. Jangan sampai kena
Iya, ta. Tenang aja. abram yakin, pasti diijinin
Amin. Makasih ya bram
Sama-sama. Assalamu’alaikum
__ADS_1
Wa’alaikum salam