
Tok tok tok
“Mbak. Mbak Vani. Sudah subuh, mbak”
*Tok tok tok*
Perlahan tapi pasti, telinga Stevani mulai terusik dengan suara ketukan pintu dan teguran dari luar itu.
“Mbak. Udah subuh”
Vanipun membuka matanya. Dia bingung, mengapa dia tertidur di lantai kayu? Butuh beberapa saat untuk mengingat apa yang telah terjadi.
“Iya” serunya menjawab teguran dari luar.
Serta merta dia duduk. Sejenak kemudian dia berdiri dan membuka slot pengunci pintu kamarnya.
*Krieeet*
“Syukurlah. Mbak Vani nggak kenapa-kenapa. Sempet khawatir aku, mbak” kata Brandon.
“Iya. Makasih ya, udah bangunin”
“Sama-sama, mbak. Kalo gitu, saya mau bikin kopi dulu, terus mau ke depan lagi” pamit Brandon.
“Oh. Silakan” jawab Stevani.
“Mau dibikinin juga, mbak?” tawar Brandon.
“Nggak usah. Nanti aja aku bikin sendiri” tolak Vani halus.
“Ya sudah. Permisi”
“Eh eh, pak. Itu kayu-kayu datengnya jam berapa?” tanya Stevani saat Brandon balik badan. Sontak Brandon balik kaan lagi.
“Tengah malem, mbak. Emang mbak Vani nggak keberisikan, ya? Kok anteng aja, nggak protes?” sahut Brandon.
*Lah. Gimana si Brandon? Untung gua nggak kenapa-kenapa*.
“Berisik, sih” jawab Stevani singkat.
Tak ada lanjutannya, Brandonpun membungkuk sesaat untuk pamit. Dan diapun beranjak menuju dapur.
“Pak. Kalo ada stok pengharum ruangan, pasangin, dong!” seru Stevani.
“Loh. Bukannya udah ada ya, bu?” sahut Brandon.
“Apaan, pengharum ruangan kok aromanya cucian? Bikin pusing aja”
“Aroma cucian?” tanya Brandon, bingung.
“Mana ada mbak, pengharum ruangan aromanya cucian?” lanjut Brandon sambil tergelak.
“Itu” jawab Stevani. Tangannya menunjuk ke dalam kamarnya.
“Boleh saya cek?”
“Tuh. Liat aja!”
Dengan setengah tergelak Brandon kembali berjalan mendekati Stevani. Diapun masuk ke dalam kamar itu.
*Ceeesssst*
Pas sekali, mesin penyemprot otomatis itu baru saja bekerja. Dan bukan aroma cucian yang tercium.
“Ini sih kopi, mbak” seru Brandon.
Stevani sontak masuk. Dia mengendus-endus udara di kamarnya.
“Lah. Kok jadi kopi?” gumam Stevani, bingung.
“Kamu ganti, ya?” tanya Stevani curiga.
“Ganti?” sahut Brandon dengan tergelak.
“Gimana aku gantinya, mbak? Masuk darimana, coba? Kan pintunya mbak Vani kunci dari dalem” lanjut Brandon.
Stevani tidak menjawab. Dia merasa bingung dengan apa yang dia rasakan semalam.
“Lagian, bukannya dari sore juga aroma kopi ya, yang dipasang kang Sukron? Mbak Vani sendiri yang milih” kata Brandon lagi.
__ADS_1
*Iya sih. emang gua yang milih aroma kopi itu. Tapi semalem itu kenapa bisa ganti aroma cucian, ya? Masa iya gua ngigau? Nggak mungkin. Pusingnya aja beneran*.
“Mbak Vani dijahilin, kali” seru Brandon. Sstevani tersentak.
“Aku juga dijahilin,di depan” lanjut Brandon.
“Dijahilin siapa?” tanya Stevani.
“Ya yang nggak kelihatan, lah. Kan di belakang situ masih perbukitan. Alam liar, gitu. Di selatan sono, segoro kidul. Banyaklah, yang lalu-lalang. Termasuk yang suka jahil”
“Jangan bikin parno, deh! Masih gelap, ini”
“Ha ha ha. Ya itu kan tebakan saya aja, mbak. Orang nyatanya aroma kopi, gitu. Gimana bisa kecium sama mbak Vani jadi aroma cucian?”
“Huuffft”
Stevani menghela nafas berat. Antara bingung dan sedikit takut. Dia tidak tah harus bagaimana. Ya sudah, dia hanya bisa menerima, kalau semalam itu mungkin saja gangguan dari makhluk yang tidak bisa dia lihat.
“Ya udah, yuk subuhan!” ajak Stevani.
“Maaf, mbak. Saya non muslim” sahut Brandon.
“E eh, iya. maaf lupa” seru Stevani, menyadari kekeliruannya.
Merekapun keluar dari dalam kamar. Brandon melanjutkan acaranya membuat kopi, sedangkan Stevani menuju toilet, mengambil air wudhu.
***
Setelah semalaman berjibaku di jalanan, akhirnya Budi sudah masuk ke kota tujuan. Sempat beberapa kali berhenti, kini Budi memutuskan untuk berhenti lagi sejenak.
Dia ingin mandi dan berganti pakaian. Dia tidak ingin terlihat lusuh di depan Adel. Sekaligus sarapan terlebih dahulu. Sampai dia selesai sarapan, belum ada balasan dari Erika. Panggilan masuk juga belum ada. Dan Budi memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit, tempat Adel dirawat.
*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...
Tapi saat akan masuk ke dalam mobil, ponsel Budi malah berdering. Dan saat dia lihat, nama Erika terpampang di layar. Panggilan video. Dia minta ijin kang Jupri untuk menerima telepon terlebih dahulu.
“Halo, assalamu’alaikum” sapa Budi.
“Wa’alaikum salam. Mas, kok nggak nelepon dulu, sih?” sahut Erika dari seberang telepon. Tampak dia hanya berbalut handuk. Rambutnya masih tampak basah.
“Takut ganggu, Ka. Orang sebelum pulang aja kamu pucet gitu” jawab Budi.
“Mas. Kalo mas Budi masih marah sama ngilangnya aku kemarin, aku minta maaf, mas. Jangan kaya gini dong, caranya!” lanjut Erika. Kali ini nada suaranya merendah.
“Kan ibu yang merintahin, Ka”
“Ya masa mas nggak nolak? Nggak ada alternatif lain, apa? Kan ada Hanin. Tukangnya mas Budi juga ada tiga. Kenapa mas Budi sendiri yang turun? Hayo?”
Budi tergelak mendengar ending dari pertanyaan Erika. Seolah menuduhnya hanya beralasan saja.
“Aku udah bilang gitu, Ka. Tapi ibu malah tersinggung. Marah, tahu. Merah banget mukanya”
“Kok bisa?”
“Nggak tahu. Bingung aku juga”
“Sampe takut aku, Ka. Mana lama lagi marahnya. Ada kali lima menit” lanjut Budi.
“Terus?” tanya Erika, masih belum terima.
“Ya aku nurut, lah. Bisa durhaka kalo mbantah lagi”
“Ah. Emang maunya mas Budi itu, sih. Mana pake langsung ngacir, lagi” keluh Erika. Budi tergelak lagi.
“Kamu pikir nggak capek, apa? Kalo ibu mau dikasih opsi lain, aku milih tidur, Ka”
“Bokis”
*Tuuut*
Budi terkejut mendapati sambungan telepon itu diputus tanpa salam. Sambil tersenyum geli, dia telepon balik kekasihnya itu. Tapi tidak diangkat. Beberapa kali dia ulangi panggilan itu, tapi tetap saja tidak mendapatkan respon positif.
“Luar biasa” gumam Budi.
Dia bingung dengan respon Erika. Tapi justru respon keras itu membuat rasa bersalahnya malah menjadi berkurang. Dia malah jadi bisa menggunakan logikanya daripada perasaannya. Dia jadi penasaran, apa yang akan Erika lakukan selanjutnya.
“Gimana, mas?” tanya kang Jupri, setelah Budi masuk mobil.
“Lanjut, kang” jawab Budi.
__ADS_1
Dengan sedikit tergelak, kang Jupri melajukan kendaraannya secara perlahan. Budi ikut tergelak. Dia paham, kang Jupri tergelak karena tahu, dia habis diomeli Erika.
Bersamaan dengan lalu-lalang orang berangkat kerja, kendaraan yang membawa Budi akhirnya sampai juga di rumah sakit, dimana Adel dirawat.
***
Di galeri Budi, sudah semenjak lepas subuh, Aldo datang menyambangi Stevani. Dia membawa bungkusan untuk sarapan bertiga. Karena dia berpikir, Stevani belum bisa masak sendiri. Dan benar, memang, Stevani belum bisa bergerak bebas.
“Mas. Semalem ada kejadian aneh, di sini” celetuk Stevani.
Dia berbicara pada Aldo, tapi matanya seprti mengawasi pintu tembus menuju galeri.
“Ada apa?” tanya Aldo. Dia juga menyebarkan pandangan ke arah yang di tatap Stevani.
“Semalem itu, kan ada bongkar muat kayu. Yang itu, mas” kata Stevani, mengawali penjelasannya.
“Terus?”
“Vani kan keberisikan, ya. Nah, pas mau bangun tuh, kepala Vani sakit banget, mas. pusing banget. Mata tuh nggak bisa fokus. Kabur dan double gitu”
“Ya Alloh. Kamu sakit lagi, sayang?” tanya Aldo khawatir. Dia tempelkan telapak tangannya ke kening Stevani.
“Nah. Yang bikin aneh itu, pengharum ruangan itu, di penciuman Vani tuh berubah jadi aroma cucian tahu, mas”
“Aroma cucian?”
“Iya. Tiap nyemprot kaya bau cucian gitu”
“Bukannya kopi ya, yang kamu pilih kemarin?”
“Itu dia, mas. Aneh banget gitu"
“Terus?”
“Terus, Vani berasa kliyengan tahu, mas. pernah kena microsleep? Ya sampe kaya gitu, mas. antara sadar sama pingsan. Sampe beberapa kali. Sampe akhirnya, beneran nggak sadar, Vani”
“Ya Alloh. Tapi kamu nggak papa, kan?” tanya Aldo semakin khawatir.
“Nah, itu dia. Vani sempet bangun. Masih berat banget. Makin sakit kepala Vani. udah nggak kuat banget deh, pas itu”
“Nggak manggil Brandon?” potong Aldo.
“Itu dia. Vani mau manggil Brandon. Tapi mendadak, Vani kaya liat ada orang lewat, mas. Kan gedeknya ada yang bolong kecil. Sinar lampunya ada yang masuk. Tiba-tiba ngilang sesaat. Vani intip dong. Beneran ada orang, mas. Bukan si Brandon, tapi. Vani nggak tahu siapa. Yang jelas dia laki-laki. Dia kaya ngambil bungkusan gitu mas, di sela-sela kayu itu”
“Bungkusan apa?”
“Nggak tahu. Kaya lembaran kertas, warnanya putih kekecoklatan, gitu”
“Terus, orangnya pergi kemana?”
“Perginya lewat belakang tahu, mas. Lewat sebelah kamar ini”
“Lah. Kan situ nggak ada pintu?”
“Itu dia, mas. Vani jadi takut banget, tahu. Takut kalo tiba-tiba orang itu masuk dengan paksa ke kamar ini”
“Tapi dia nggak masuk, kan?”
“Nggak tahu. Vani keburu nggak sadar lagi. Bangun-bangun pas udah subuh. Si Brandon ketok-ketok pintu”
“Sekarang masih pusing?”
“Enggak”
“Aneh, kan? Seger lho badan Vani. Nggak kerasa sakit” lanjut Stevani.
Aldo tampak termenung, memikirkan apa yang telah terjadi dengan kekasihnya itu.
“Udah nanya Brandon?”
“Soal kayu aja, sih. Sama pengharum ruangan itu”
“Terus kata Brandon apa?”
“Dugaan dia sih, Vani dijahilin sama yang nggak keliatan. Dia sendiri juga dijahilin, bilangnya”
“Eem. Bisa jadi, sih” komentar Aldo pendek.
***
__ADS_1