Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
di rooftop hotel itu


__ADS_3

Hari berganti. Malam ini Adel menepati janjinya. Dia datang ke hotel yang ditunjukkan oleh Sephia. Hotel terbaik di kota ini. Dengan sebuah kolam renang di dalamnya. Tapi tampaknya malam ini tidak banyak orang yang menginap di hotel ini. Di parkiran saja, hanya terdapat dua unit mobil yang terparkir.


Sejenak, dia tersenyum dan geleng-geleng kepala. Tanpa dia undang, satu ingatan justru melintas di angannya. Hotel ini adalah hotel yang sama, saat beberapa waktu yang lalu dia panas dingin setelah meminum minuman cokelat yang telah terkontaminasi dengan obat perangsang. Di hotel ini juga, dia melakukan hal yang seharusnya tidak dia lakukan.


Salah satu kelebihan lain dari hotel ini, adalah rooftopnya. Sebuah suit room, bergaya alam terbuka. Tidak ada keramik pada lantainya. Lanscapenya terlihat seperti kepingan dari sebuah bukit. Kagum, itulah kesan pertama, saat Adel menginjakkan kakinya di tempat ini. Keluar dari lift, dia seperti memasuki sebuah goa. Ada tumbuhan merambat di mulut goa. Seperti menjadi pembatas pandangan, antara di dalam dan di luar goa. Walau sebenarnya, tidak banyak menutupi pandangan.


Ada sebuah ranjang yang sangat elegan di sebelah kiri. Seperti ranjang seorang ratu. Dengan kain putih tipis, yang mengelilingi ranjang itu. seperti kelambu anti nyamuk, kalau jaman dulu. Bisa dibilang, kain putih itulah, pembatas pandangan yang sebenarnya. Yang melindungi penghuninya, saat melakukan yang asik-asik di atas ranjang.


Dan ada sebuah kolam di sebelah kanan. Kolamnya tampak seperti kolam yang terkadang bisa ditemui muncul secara alami di dalam sebuah goa. Benar-benar terasa seperti berada di dalam sebuah goa.


Melihat ke depan, tampak seorang wanita berjalan ke arah Adel.


Orang yang sama dengan yang memberinya kartu nama. Kali ini dia tampak lebih santai. Hanya memakai rok jeans pendek, selutut. Di atasnya, dia hanya menggunakan tanktop warna merah. Dan sebuah kacamata bening, mempermanis wajah cantiknya.


“Luar biasa. Nggak aneh kalo mbak Adel nggak bisa disaingi. Tepat pada waktunya” komentar Sephia, sambil melihat jam kecil keemasan, yang melingkar indah di lengan kirinya.


“Itu modal utama yang aku warisi dari bapak” jawab Adel.


Keduanyapun bersalaman. Tak ada lagi basa-basi seperti halnya watu di kafe, kemarin. Keduanya sudah tahu, untuk apa mereka bertemu malam ini, di tempat ini.


“Mari! Kita ngobrol di depan” ajak Shepia.


Adelpun mengikuti kemana Sephia melangkah. Walaupun dia orang asli kota ini, tapi untuk bisa sampai ke atas sini, bukanlah suatu impian buatnya. Lagipula, terlalu mahal buatnya. Di dalam hati Adel mengakui, kalau pemandangan dari atas sini memang menakjubkan.


Sejauh mata memandang, hamparan pasir, dengan lampu kerlap-kerlip menjadi penyegar bagi hati yang penat. Di ujung depan sana, andai hotel ini benar-benar berada di bibir pantai, pasti akan lebih menakjubkan. Deburan ombak yang meninggi karena bulan purnama, menjadi suguhan utama tempat ini. Dari sini saja, dia sudah merasa takjub.


“Bahagia versi orang kaya, emang susah diterima nalar” komentar Sephia. Adel tersentak, mendapati Sephia sudah berada di sebelah kirinya.


“Bagiku, lari-larian di pasir sana, udah merupakan kebahagiaan” lanjut Shephia.


“Nginepnya?” tanya Adel.


Sephia tidak segera menjawab. Dia malah tergelak. Dia tidak menyangka Adel akan menanyakan penginapan.


“Cukuplah di guest house. Seratus, dua ratus ribu. Yang penting bisa buat tidur” jawab Sephia.


Adel tergelak. Pastinya jawaban itu kontras jika melihat, dimana sekarang dia menginjakkan kakinya. Tapi Adel tidak menyoal tentang itu. Dia masih terpukau dengan keindahan pantai di kotanya sendiri itu.


“Oh iya. Gimana kabarnya Dino?” tanya Sephia.


Walau sudah tahu, akan muncul pertanyaan-pertanyaan seperti itu, tapi Adel cukup terkejut, mendapat pertanyaan yang langsung mengarah kepada inti masalah.


Adel melihat ke arah meja. Terlihat dua set alat makan sudah tersedia rapi di atas meja itu. Dia menghampiri meja, dan mengambil sebuah pisau dari sana. Dia berikan pisau itu kepada Sephia. Sephia tersenyum.

__ADS_1


“Oke”


Sephia menerima pisau itu dengan tangan kirinya. Lantas dia genggam bagian tajam dari pisau itu dengan tangan kanannya.


*Kress*


“Emh”


Sephia menarik pisau itu. Perlahan, warna perak pada bagian tajam pisau itu berubah menjadi merah.


Darah segar mulai mengalir dari telapak tangan Sephia yang tersayat. Adel mengeluarkan sesuatu dari tas selempangnya.


Sebuah wadah bedak. Dia buka penutupnya, lalu dia acungkan ke Sephia. Sephia melepaskan genggamannya pada bagian tajam pisau itu. Lalu dia meneteskan darah yang keluar dari telapak tangannya ke dalam wadah yang diacungkan Adel. Dia isi sampai membanjiri lantai wadah bedak itu. Setelah merasa cukup, Adel menutup wadah bedaknya.


Dia berikan obat dan perban untuk menutupi luka sayat di telapak tangan Sephia.


Seolah tak merasakan sakit, Sephia menuangkan minuman untuknya dan Adel. Dia berikan gelas untuk Adel, sedangkan dia sendiri, lebih memilih untuk menyalakan rokok terlebih dahulu.


“Aku bangun, seperti baru terlahir” kata Adel membuka jawabannya. Sephia menghadapnya, sambil menghembuskan asap rokoknya.


“Aku sama sekali nggak ingat apa-apa. aku bingung dengan begitu banyaknya pertanyaan. Jangankan ini dan itu, siapa akupun, aku nggak inget” lanjut Adel.


“And Dino claiming to be your savior?” tanya Sephia.


“And he got respect from your dady. Because he save you from moto gangster. Right?”


“Yes. Even though he just took me to the clinic. No body save me from the gangster”


“Your driver?” tanya Sephia. Adel tergelak.


“Dia hanya cerita kalau kita dibegal. Tapi dia tidak bilang kalau dia ngelawan” jawab Adel.


“Dia bahkan bilang, kalo dia lari ngikut ngumpet di tempat aku nyungsep” lanjut Adel, sambil tergelak. Shephia juga ikut tergelak. Untuk beberapa saat, masing-masing terlihat menikmati apa yang ada di tangan mereka.


“Melihat tukang ojek itu ketakutan dicecar bapak, Dino berlagak sok berani. Dia mengaku-ngaku berani membabat gengster itu sendirian” kata Adel.


“Gitu?” tanya Sephia.


“Ya. aku sih nggak denger penuh. Tapi sejauh yang aku denger, Dino mengaku kalo punya sodara orang paling disegani di kota ini. Dan dia nawarin buat jagain aku, kalo aku lagi pergi sendirian”


“Terus, diterima?”


“Ya, karena mobil dia eropa punya, omongannya jadi meyakinkan. Ya, di terima”

__ADS_1


“Great. Dia jadi bodyguard kamu, dong? Beneran jadi pahlawan, deh”


“Bapak sama ibu, pengennya gitu” jawab Adel.


“Tapi aku kan nggak kemana-mana. Jangankan main, sama diri sendiri aja aku lupa. Ya aku ketawa dong, liat dia dateng karena dipanggil bapak. Ya aku nanya apa adanya. Ini aku lagi sakit apa dihukum? Segala dicariin bodyguard”


“Ha ha ha ha. Aduh, gagal jadi superman dong?”


“Ya, abisnya, konyol”


“Ha ha ha ha”


“Tapi emang dia beberapa kali main ke rumah. Bilangnya mau nengokin”


“Emm. Oke. Itu saat kamu belum inget. Terus, sekarang, apa yang kamu inget tentang kejadian itu?” tanya Sephia. Adel terkesiap.


Setelah menghabiskan sisa minuman di tangannya, Adel mulai bercerita. Dia ceritakan kronologi awal sebelum kejadian. Bahkan dari semenjak masih berada di tempat hajatan.


Dia ceritakan juga mengenai pencegatan segerombolan preman bermotor. Adel menegaskan, kalau kejadian itu bukanlah pembegalan, melainkan kejahatan terencana. Dengan tujuan akhir, memisahkan dirinya dengan Budi.


“Oke. Aku akan hubungi kamu lagi” kata Sephia, setelah Adel selesai bercerita. Adel mengangguk.


“Kita makan dulu, yuk!” ajak Sephia.


“Makasih, Phia. Tapi aku udah janji mau ke rumah sodara aku. Udah hampir telat” jawab Adel. Sephia tersenyum.


“Aku kawal, ya?” tawar Sephia.


“Kaya bocah aja, dikawal” jawab Adel sambil tergelak.


“Emang kamu nggak pernah takut sesuatu, gitu? Apalagi abis kejadian itu”


“Hidup-matiku udah ada yang ngatur. Yang penting aku nggak jalan ke tempat maksiat, dan aku jalan dengan menyebut namaNya. Kalo aku harus mati di tengah jalan, insyaAlloh aku syahid. Dan itu, sebaik-baiknya kematian”


“Wow. Amazing” komentar Shephia.


“Aku cabut, ya? makasih jamuannya” pamit Adel.


“Ngeledek. Cuman air segelas juga”


“Ha ha ha ha”


Sephia mengantarkan Adel sampai ke depan pintu lift. Dan pertemuan mereka, berakhir saat pintu lift memisahkan pandangan mereka.

__ADS_1


__ADS_2