Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
pembukaan pesta


__ADS_3

Hind dan Apache langsung menuju jonggol, sedangkan yang lain mendekat ke pos pantau. Tiba di kisaran satu kilometer, Budi mengajak yang lainnya untuk menepi. Kebetulan ada rumah makan berhalaman luas, yang sedang sepi. Dari tempat itulah, kang Sukron mempersiapkan peralatannya. Sepuluh batu sebesar kepalan tangan dia siapkan di atas kap mesin mobil.


*Wus wuss wusss wuss*


Secara berurutan, batu-batu itu dia lembarkan ke sepuluh baringan berbeda, namun masih dalam satu arah yang sama.


Sephia memonitor kesepuluh pos pantau itu. Dan seperti yang dijanjikan kang Sukron, kesepuluh pos pantau itu meledak berurutan. Seperti terkena serangan rudal presisi, bangunan rumah dan ruko bertingkat itu hancur, bahkan ada yang roboh.


“Gimana mbak Phia?” tanya kang Sukron.


“Positif. Tidak ada pergerakan lagi di kesepuluh pos pantau itu” jawab Sephia.


“Cek sekali lagi! pastikan tidak ada pergerakan sama sekali! Jangan ada aktivitas elektronik apapun! Tutup juga langit di atas pos-pos pantau itu!” perintah Budi.


Sephia langsung melaksanakan apa yang diminta Budi. butuh waktu beberapa lama untuk benar-benar memastikan bahwa sudah tidak ada yang bergerak. Dan dia juga mencoba menutupi langit di atas pos-pos pantau itu, agar tidak disadari siapapun yang memeriksa melalui satelit.


“Bos. Kita sudah masuk”


Terdengar suara laporan dari handy talky. Jelas sekali suara Hind yang berbicara.


“Status?” tanya Cobra.


“Lima Zombie telah diamankan, kubik satu kosong” jawab Hind.


“Lubang cacing?”


“Lubang cacing gelap. Pakai mata batin” jawab Hind.


“Sip. Kubik kaca udah pecah. Berlanjut mendekat ke kubik kaleng” kata si Cobra.


“Diterima” sahut Hind.


“Utamakan jurus mabuk dan tendangan tanpa bayangan!” perintah si Cobra.


“Oke” jawab Hind.


“Petir bersiap di posisi”


Terdengar suara laporan lagi. Cobra manggut-manggut mendengarnya.


“Oke. Bintang timur di kanan konstelasi” jawab si Cobra.


“Roger”


Si Cobra memberikan kode pada semuanya untuk kembali bergerak menuju posisi yang telah ditentukan.

__ADS_1


“Alligator bersiap ke muara”


Terdengar suara si Alligator di handy talky.


“Ati-ati, jangan tergoda putri duyung!” jawab si Cobra.


Mobil si Cobra memisahkan diri. Dia bergerak menuju rumah sakit. Dia menggunakan setelan seperti seorang dokter. Dia membawa sebuah koper.


Kalau staf rumah sakit, biasanya membawa koper berisi berkas atau peralatan prakteknya, tapi lain dengan Alligator. Dia membawa peralatan elektronik dan senjata api.


Sesampainya di rumah sakit, Alligator langsung menuju lift tanpa menyapa siapapun. Hanya seulas senyum yang dia suguhkan, saat berpapasan dengan beberapa perawat. Alih-alih bertanya, para perawat itu malah terpesona dengan ketampanan si Alligator.


Dengan lift itu, Alligator langsung naik ke lantai paling atas. Dari lantai paling atas, dia bergegas menuju lantai atap. Tentunya setelah memastikan bahwa keadaan di sekitarnya, aman.


“Alligator udah di muara” kata Alligator di handy talky, sambil melepas jas putihnya. Sebuah helikopter terparkir di depannya.


“Petir, kirim makan malam buat Alligator!”


Suara si Cobra menggema di Handy talky.


“Siap” jawab si Petir.


Alligator bersembunyi di balik sebuah dinding, tepat di belakang ekor helikopter. Bersiap untuk pertunjukan.


Tak lama kemudian, terdengar derap langkah orang berlari dari lantai di bawah atap. Alligator semakin waspada. Benar, empat orang berlari menuju helikopter. Dua orang menuju kokpit pilot, dan dua orang lagi menuju pintu samping heikopter. Saat mesin helikopter dinyalakan, Alligator bersiap untuk berlari.


Bisingnya suara baling-baling helikopter, membuat keempat orang di depan tidak menyadar ada yang membuka pintu rampa. Dengan santainya si Alligator memasuki helikopter, dan bersembunyi di antara peralatan medis.


Alligator memberikan ketukan ringan pada headsetnya, memberikan tanda bahwa dia telah terbang menuju sasaran. Pesan diterima oleh si Cobra. Dan si Cobra memintanya untuk tidak membuat keributan.


Sesaat sebelum mendarat, Alligator mengamati kondisi di sekitar landing pad. Masih belum ada orang di sana. Dan kebetulan sekali, helikopter itu mengarahkan ekornya menuju tempat yang ideal untuk bersembunyi.


Begitu menyentuh landasan, Alligator langsung membuka pintu rampa dan berlari menuju tempat untuk bersembunyi.


Tak lama kemudian, terdengar suara derap langkah orang membawa seseorang yang tertembak. Dengan gerak cepat, mereka membawa korban tembak itu ke dalam helikopter. Dan tak sampai semenit kemudian, helikopter itu telah terbang kembali.


“Makan malam telah selesai, bersiap untuk pesta” kata Alligator memberikan laporan.


“Bentar Tor, kartu undanganmu masih keselip” terdengar suara Sephia menanggapi laporan Alligator.


“Parkir aja dulu, Tor! Undanganmu biar kita kasih langsung di penerima tamu” suara si Cobra menggema memberikan perintah.


“Oke” jawab Alligator. Diapun berjalan masuk ke gedung tertinggi milik pabrik obatnya Moreno.


Seperti yang sudah direncanakan, Alligator masuk sebagai salah seorang ilmuwan di pabrik itu. dari dua pilihan jas, ternyata jas putih masih lebih cocok untuk dipakai. Diapaun memakai kembali jas putihnya.

__ADS_1


Dia berjalan secara wajar sebagaimana ilmuwan di tempat ini. Dia menuju lift tempat menuju ke bawah tanah. Ada beberapa orang di dalam sebuah kantor di sebelah kanannya, memperhatikannya sedang berdiri di pintu lift. Dia meniapkan sebuah kartu dari saku celananya.


“Aku udah di meja resepsionis. Undangannya gimana?” tanya Alligator.


“Done” terdengar suara Sephia menjawab pertanyaannya.


“Kasihkan, Tor!” lanjut Sephia.


“Oke”


Alligator menggesekkan kartunya ke mesin pengidentifikasi di sebelah pintu lift.


*Tiit*


Terdengar sebuah bunyi lirih, dan lampu hijau menyala di sebelah mesin pengidentifikasi itu. tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Alligatorpun masuk.


“Alihkan komunikasi di resepsionis!” perintah Alligator.


Dia merasa kalau orang di kantor tadi akan melaporkan kehadirannya ke kantor di bawah tanah.


“Oke” jawab Shephia.


Benar saja, ternyata orang yang di kantor tadi menelepon ke kantor di bawah tanah. Dan beruntungnya, jalur komunikasi di pabrik obat itu masih terhubung dengan internet.


Jadi, walaupun antara kantor atas dan kantor bawah tanah menggunakan kabel, Sephia masih bisa meretasnya. Dan dia meminta Budi untuk berpura-pura menjadi Moreno.


“Kubik tembaga terbuka”


Terdengar suara Alligator memberi laporan.


“Bintang timur memeluk bulan” jawab si Cobra.


“Petir siap main kembang api”


Terdengara laporan lain. Tapi bukan suara Petir yang biasanya. Dia adalah sniper lain yang juga disiapkan si Cobra.


“Garuda, Alap-alap, mana suaranya?” tanya si Cobra.


“Garuda mau motong kue”


Terdengar jawaban dari pertanyaan si Cobra. Suaranya adalah suara anggota densus delapan-delapan.


“Alap-alap lagi nyiapin sound balap”


Kali ini suara Nungki yang bergema di handy talky.

__ADS_1


“Oke. Elang udah siap dengan piring kertas.


__ADS_2