
Di dalam bengkel kayu Budi, ada yang sedang berkeringat dingin. Ya, Madina sedang gelisah, menantikan pergerakan dari dalam hutan di belakang bengkel. Tapi tidak kunjung datang. Sedangkan matanya sendiri sudah mulai berat.
Asap yang sempat mengepul dari arah gerbang bongkar muat, rupanya merupakan sirep. Beruntung dia sempat melihatnya. Handuk basah yang dia pakai untuk menutupi hidungnya, ternyata cukup manjur untuk memperlambat efek sirep itu baginya.
Semua orang sedang tertidur, mungkin akan bertambah lelap. Kakak dan ibunya sendiri sudah tidak merespon saat dia bangunkan.
“Ya Alloh. Ini gimana, dong?”
Kini dia berada di dapur kecil khusus kamar atas, tepatnya di atas kamarnya Putri. Dia mencoba bertahan dari rasa kantuk yang semakin berat.
“Apa tuh?”
Madina merasakan adanya getaran pelan di tembok belakang bengkel. Dia mencoba mengintip ke arah bengkel dari jendela dapur kecil kamar atas.
“Ya Alloh, itu siapa?”
Madina melihat seorang laki-laki mengendap-endap keluar dari bawah kamar Putri. Laki-laki itu tampak terkejut melihat Budi tidur di teras kamar Putri. Laki-laki itu berjalan menuju tumpukan kayu bahan kusen. Madina melihat laki-laki itu menyelipkan sesuatu ke celah-celah antar kayu.
“Nggak bisa dibiarin ini” gumamnya.
Dia bergegas keluar dari dapur kecil itu, kembali ke kamar yang sudah pengap itu. Dia ingin mengejutkan laki-laki itu, dan membangunkan Budi. Perlahan-lahan, dia buka pintu kamar itu.
“Haa”
Dia memekik nyaris tanpa suara. Dia terkejut, saat membuka pintu, dia melihat ada orang lain yang muncul dari bawah kamar si Putri.
*Clep*
“Aahh”
*Clep*
Orang yang baru muncul itu lantas membacok kedua kaki laki-laki pertama dengan menggunakan sebilah pisau. Dia langsung balik kanan, sedangkan laki-laki pertama tadi menggeliat-geliat kesakitan. Madina menutupi wajahnya, menahan kengerian yang dia lihat di depan matanya.
*DUAARRR*
Di pinggir hutan tadi, semua orang terkejut mendengar suara ledakan. Kang Sukron langsung meluncur, menuruni bukit tempatnya mengintai. Dia tak peduli lagi degan Erika. Ketiga rekannya juga melakukan hal yang sama.
Mereka lantas mengejar orangnya Erika. Tanpa perlawanan, orangnya Erikapun berhasil mereka tangkap.
Dari arah bengkel kayunya Budi, dari jalan yang sama, muncul seseorang. Nampak ketegangan di wajahnya. Ya, dia adalah Madina. Tadinya dia hendak mengejar laki-laki penusuk itu. Tapi karena sudah tertangkap, dia hanya melihat saja di sebelah tempat sampah.
Di belakangnya, muncul seseorang lagi. Dialah pemilik bengkel itu. Rupanya dia terbangun oleh suara ledakan keras tadi.
“Bagus” gumam Erika.
Dia masih berdiri mematung, memperhatikan apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
“Kalo emang bukan lu, gua harap lu bisa ngungkap, siapa yang bikin jalan tikus itu, kang Sukron” gumam Erika lagi.
Dia balik kanan, menyusuri jalan setapak di tengah hutan itu. Dan kembali ke mobilnya. Dia tersenyum puas, bisa melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan.
Budi meminta Madina untuk membukakan pintu gerbang bongkar muat, lalu mereka membawa orang sewaan Erika ke dalam bengkel kayu.
Selain Budi dan Madina, semua penghuni bengkel kayu itu masih tertidur. Pengaruh sirepnya luar biasa.
Dari depan, dua anak buah kang Sukron juga menggiring Brandon ke dalam bengkel kayu. Mereka menunjukkan video perbuatan Brandon yang menyebarkan sirep ke dalam bengkel kayu.
Tapi Budi mendiamkan saja si Brandon. Dia hanya meminta anak buah kang Sukron untuk mengikat Brandon ke salah satu tiang bengkel. Sampai-sampai kang Sukron bingung dibuatnya.
“Dia mantan pasukan khusus, Kang. Percuma juga kita sakitin, dia nggak akan bicara. Ngabisin tenaga aja” kata Budi menjelaskan maksudnya.
Madina, dibantu anak buah kang Sukron, sedang berusaha menghentikan pendarahan pada kedua kaki orang yang meletakkan bungkusan plastik ke sela-sela kayu gelondongan.
Sedangkan anak buah kang Sukron yang lain, mengambilkan bungkusan plastik itu. Ternyata isinya adalah obat-obatan biasa, jika dilihat dari kemasannya. Tapi jumpahnya banyak sekali. Kalau dalam kemasan kotak karton, bisa sampai lima kemasan karton.
“Pasti bukan obat biasa, bos” tebak kang Sukron.
Budi tidak menjawab. Dia menyobek salah satu kemasan obat itu. Dan benar, dia mengeali apa yang terkandung dalam kemasan itu.
“Ekstasi, bos” seru kang Sukron lirih.
“Siapa pemilik obat ini, kang?” tanya Budi lirih.
“Tidak tahu?” tanya Budi lagi. Kang Sukron masih terdiam.
“Bengkel ini, kang Sukron yang bikin. Apa salah kalo aku nanya begitu, kang?”
“Maaf, bos. Memang saya yang bikn bangunan ini. Tapi demi apapun, leher saya taruhannya bos, saya tidak pernah memerintahkan tukang-tukang saya untuk bikin lubang tikus itu” kilah kang Sukron.
“Ya terus siapa? Kang Supri? Bejo? Mangil?”
Kang Sukron terdiam beberapa saat. Membuat Budi mengalihkan pandangannya pada penyusup yang terluka itu. Tampak pendarahan di kedua kakinya sudah mulai berhenti. Dan Madina mulai menutup luka itu dengan perban seadanya, dari kotak P3k.
“Saya bukannya mau mengelak, bos Budi. Tapi kalau saya boleh sebut nama, saya curiga sama si gembul, Doni” kata kang Sukron kemudian. Budi menoleh padanya.
“Doni?”
Budi bingung dengan nama yang disebutkan kang Sukron. Seingat dia, nama itu hanyalah seorang kuli bangunan biasa. Jaman sekolah dulu juga selalu paling belakang kalau diajak tawuran. Di Tarantula juga dia hanya titip nama saja. Hampir tidak ada kontribusinya, selain royal soal makanan.
“Saya tidak tahu ada deal apa dia dengan bos Sandi, tapi dia pernah bohongin saya, bos”
“Soal?”
“Fitri”
__ADS_1
Budi menatapnya dengan alis berkerut. Dia belum menemukan korelasi antara Fitri dengan narkoba dan lubang tikus itu.
“Pas bikin bengkel ini, dia pernah ngasih tahu saya. Dia bilang kalau Fitri, istri saya, sakit. Dia juga bilang kalau saya disuruh Fitri buat pulang dulu” kata kang Sukron menjawab tatapan penuh tanya, Budi.
“Tanpa banyak tanya, saya langsung pulang, bos. Karena rumah kita kan deketan, saya pikir memang Fitri nitip pesen sama si gembul. Tapi sampe rumah, ternyata istri saya tidak nitip pesen sama si gembul. Meskipun emang bener dia sakit”
“Terus?” tanya Budi penasaran. Dia mulai menemukan korelasinya.
“Karena saya udah di rumah, ya Fitri minta saya ngerikin dia. Yang tadinya dia nahan sakit itu, jadi manja, bos. Ya sudah, saya bawa sekalian ke dokter. Yang dulu itu bos, yang gejala tipes”
“Jadi kang Sukron mau bilang, waktu kang Sukron ilang-ilangan terus selama tiga hari itu, si gembul yang bikin lubang tikus itu? Emang dia bisa nukang?”
“Secara skill sebenernya dia udah bisa, bos. Cuman belum dapet pasar aja. Soalnya dia selengehan sih. Kalo sama tukang lain, dia banyak bercandanya”
“Aku nggak mau tahu, kang. Silakan aja sebut seribu nama. Tapi yang pasti, aku tahunya kang Sukron yang bikin bengkel ini” tukas Budi.
Kang Sukron terdiam melihat Budi menunjukkan jati dirinya. Sorot matanya bengis, seolah tanpa belas kasihan.
“Saat ini, aku masih taruh kepercayaanku pada sampeyan. Kalo sampeyan sampai nusuk dari belakang, Fitri taruhannya” lanjut Budi lirih.
“Siap, bos. Lakukan apapun yang bos mau, kalo sampe saya berkhianat!” jawab kang Sukron.
“Buktikan secepetnya!”
“Siap bos”
Dengan sorot mata bengisnya, Budi mendekati penyusup yang terluka itu. Dia menanyai tentang siapa yang memerintahkan orang itu menyusup ke bengkel kayunya.
Beberapa kali ditanya, orang itu selalu menjawab tidak tahu dan tidak kenal. Budi habis kesabaran. Dia memungut potongan kayu tipis tajam yang tergeletak di depannya.
*Jleb*
“Mas”
“AAAAA”
Madina terkejut sekali melihat Budi menancapkan potongan kayu tipis tajam itu ke paha laki-laki itu. kontan laki-laki itu menjerit kesakitan.
“Mas. jangan dong! Biasa mati, dia”
“Mau dilebarin sampe perut?” tanya Budi, tak mengindahkan teguran Madina.
“AAAAAA”
Keterdiaman orang itu, membuat Budi naik pitam. Dia menyayat paha itu beberapa mili. Laki-laki itu menjerit lagi. Madina tidak tahan melihat kekerasan di depan matanya. Dia pergi meninggalkan Budi.
“AMPUUUUN”
__ADS_1