Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
ujian mental buat Adel


__ADS_3

Besoknya, pak Fajar sudah dinyatakan bisa rawat jalan. Dia sudah dibawa pulang dari puskesmas. Hanya saja, pak Fajar belum sanggup untuk pergi ke PT.PRAM untuk mengurusi proyek yang akan dia ambil. Sesuai rencana awal, pak Fajar menugaskan Adel untuk menggantikannya.


Di lobi PT.PRAM, sempat terjadi situasi yang kaku. Itu karena Adel bertemu Erika di ruang lobi. Awalnya Erika menyambutnya dengan senyum ramah. Tapi saat dia tahu kalau kedatangan Adel karena akan mengambil proyek untuk bapaknya, seketika keramahan Erika memudar. Dia menampakkan ketidaksukaannya pada Adel. Dia juga menyindir bagaimana perlakuan bapaknya Adel terhadap Budi.


Untuk beberapa menit lamanya, Erika terus menyindir Adel. Tanpa menyadari kedatangan Budi. Sedangkan Adel terus menahan diri. Terlebih saat Budi memberinya isyarat untuk tetap kalem. Pada akhirnya, Budi menyapa Adel, seolah-olah baru saja masuk lobi. Adel tersenyum, karena merasa penderitaannya sudah berakhir.


Merasa tidak suka, Erika berlagak mengingatkan Budi akan pekerjaan yang harus Budi selesaikan. Dia juga memberikan penekanan bahwa pekerjaan di lapangan sedang tinggi, dan tidak bisa ditinggal lama-lama. Budi tersenyum mengiyakan.


“Tuh, kan. Percaya nggak, kalo dia itu suka sama Abram?” celetuk Adel lirih. Tapi Marsya masih bisa mendengarnya. Dia tersenyum melihat Adel cemburu.


“Biarin aja! Erika ini. Kalo Marsya noh, baru” jawab Budi.


“Kok aku dibawa-bawa?” seru Marsya dari balik meja resepsionis.


“Ha ha ha ha” Budi tertawa, merasa kelakarnya mengena.


“Sun amatek ajiku jaran goyang. Goyang sakjeroning latar” kata Budi sambil menarik tangan Adel untuk berjalan.


“Dih. Jelek-jelek juga aku masih punya iman, mas. Kurang kerjaan amat, melet orang pake jaran goyang” seru Marsya merasa tersindir oleh kata-kata Budi.


“Ha ha ha ha”


Budi tertawa tanpa menoleh. Hanya Adel yang menoleh, sambil tertawa juga. Marsya juga ikut tertawa. Itu karena dia tahu, kalau Budi hanya bercanda.


Di dalam kantor, Adel langsung disambut oleh Farah. Kebetulan juga Farah sedang berdiskusi dengan Aldo dan Riki, tepat di tengah-tengah kantor.


*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...


Tiba-tiba ponsel Budi berdering. Budi sempat mengernyitkan keningnya, saat membaca nama yang tertera pada layar ponselnya.


“Ta, selanjutnya, sama mbak Farah, ya!” kata Budi pada Adel.


“Mau kemana?” tanya Farah.


“Ini. Mr. Isaac nelpon” jawab Budi.


“Lah. Nggak tidur apa, itu orang?” komentar Farah.


“Tahu” jawab Budi sambil berlalu.


Adel masih memperhatikan Budi beberapa saat. Tapi dari pembicaraan dalam bahasa inggris itu, Adel mengerti, kalau kekasihnya itu memang sedang membicarakan bisnis dengan customer perusahaan ini. Dia tersenyum bangga saat nama bapaknya juga disebut beberapa kali oleh Budi. dengan pencitraan yang baik.


Di kantor marketing, Farah menjabarkan apa-apa yang menjadi kewajiban dan yang menjadi haknya pak Fajar jika pesanan ini jadi diambil. Haknya, sudah pasti. Harga lima belas juta, bersih. Tanpa ada potongan pajak, tanpa ada biaya pengiriman.


Tapi kewajibannya, menyediakan lima set kursi tamu dalam waktu dua hari kedepan. Karena ada lima pemesan yang menginginkan adanya sample, khusus untuk mereka.


Jangka waktu inilah yang kemudian membuat Adel berpikir ulang. Dia menelepon bapaknya dulu, untuk menanyakan kesiapan produksinya. Saat Budi masuk untuk koordinasi ekspo eropa, Adel belum selesai menelepon.


“Kayaknya pusing banget, ta?” sapa Budi, saat Adel selesai menelepon.


Hilda bersiul menggoda Budi. Membuat Budi, dan Adel tersenyum. Termasuk juga Farah.


“Itu, pesanan dari Luki, jadi ganjalan” jawab Adel.


“Kok ganjalan? Rejeki lho, itu” komentar Budi.


“Hemhh. Tapi tetep aja jadi ganjalan, Bram” jawab Adel.


*Krieeeet*


Suara pintu ruang marketing dibuka. Tampak seseorang muncul dari celah pintu yang tidak dibuka sempurna.

__ADS_1


“Far, DP nya jadi diproses, nggak? Mau aku ajuin sekalian, ke pak Paul” orang itu berseru kepada Farah.


“Tunggu dulu, mbak Isma! Lagi dibicarain, nih. Entar aku kabarin” jawab Farah.


“Setengah jam, ya? Kalo belum oke, berarti besok ngajuinnya”


“Oke, mbak Isma. Makasih” jawab Farah.


Pintu ruang marketingpun ditutup kembali. Adel tampak menerima telepon. Jelas sekali itu dari bapaknya. Tapi sepertinya mereka belum menemukan jalan keluarnya.


“Kenapa pusing-pusing, Ta?” tegur Budi.


“Ya terus?” tanya Adel.


“Subcont aja punya si Luki! Salah satu kepala divisi di sini, punya adek yang bikin mebel juga. Kemarin dia cuman bertengger di nomer empat. Tapi hasil kerjanya nggak kalah bagus. Cuman kalah desain aja. Kalo mau, masukin ke sana aja! Toh mereka lagi longgar. Bisa ngejar waktu” jawab Budi.


“Oh, iya. Subcont, ya? Bener juga, tuh” komentar Adel.


Dia langsung menelepon bapaknya. Sembari menunggu hasil dari pembicaraan itu, Budi menyela waktu Farah untuk mendiskusikan permintaan dari Mr. Isaac.


“Bram” panggil Adel pelan.


“Hem?” Budi teralihkan perhatiannya.


“Minta nomernya yang punya mebel itu” kata Adel.


“Mbak, kamu punya, kan?” Budi malah melemparkannya pada Farah.


“Oh, ada” jawab Farah.


Adel meminta ijin untuk menelepon terlebih dahulu. Karena ada Budi, Farahpun mengijinkan. Lalu Farah sendiri kembali berdiskusi dengan Budi tentang prospek penjualan di eropa nanti. Hildapun dilibatkan dalam diskusi itu. Beberapa lama kemudian, Adel kembali ke meja Farah.


“Gimana, mbak?” tanya Farah.


“Sudah teratasi, ganjalannya?”


“Alhamdulillah, sudah”


“Baik kalau begitu, silakan tanda-tangan di sini dan di sini!” jawab Farah.


Tak berapa lama kemudian, proses penandatanganan kontrakpun selesai. Selanjutnya, Farah meminta Adel untuk menunggu pembayaran uang muka dilakukan.


Farah mengatakan kalau uang itu akan cair dalam satu atau dua jam kedepan. Tapi ternyata jauh lebih cepat. Karena pak Paul hadir langsung ke kantor, dan Isma bisa mengajukannya secara langsung. Hanya berselang sepuluh menit kemudian, Adel mendapat telepon dari rumah, kalau pembayaran uang muka itu telah masuk. Adel bertermakasih kepada Farah, Hilda, dan tentunya kepada Budi.


“Selanjutnya, gimana?" tanya Budi basa-basi, saat Adel hendak pulang.


“Langsung pulang, lah. Kan pak Heri mau ke rumah” jawab Adel.


“Pak Heri?”


“Ya yang punya mebel tadi”


“Oh. Adeknya pak Tanto. Tata juga yang nanganin?”


“Kayaknya bapak deh, yang nego-nego”


“Oke. Mau sarapan dulu?” tawar Budi.


“Jangan aneh-aneh, deh! Nyenengin Erika, itu sih”


“Lah, kok Erika?” tanya Budi bingung. Tapi juga tergelak.

__ADS_1


“Ya kalo Abram bermasalah gara-gara sarapan sebelum jam istirahat, siapa duluan yang nyidang? Dia kan?” jawab Adel lirih, dengan pertanyaan. Budi tergelak lagi.


“Acting doang kalo marah, dia. Aslinya sih, seneng banget bisa berduaan sama Abram” lanjut Adel.


“Ha ha ha ha. Iya, iya, iya. Ya udah, ati-ati pulangnya!” sahut Budi sambil tertawa. Dia merasa lucu saat melihat kekasihnya dilanda cemburu begini.


“Bram. Kalo kedepannya bapak jadi minta Tata buat ngurusin mebelnya bapak sendiri, gimana, dong?” tanya Adel.


“Ya nggak papa. Bagus, dong. Ngamalin ilmu” jawab Budi.


“Tapi kan Tata jadi nggak bisa bantuin Abram”


“Oh. Ya nggak papa. Ibu masih bisa handle, kok. Toh, rata-rata kunjungan paling rame cuman di week end. Dan semalem emang ibu bilang ke Abram buat nyariin karyawan lagi. Kata ibu, job manggungnya mbak Adel lagi rame”


“He he. Emang iya sih, Bram. Makanya Tata kepikiran. Udah ada kandidatnya?” sahut Adel.


“Belum, sih. Belum kepikiran” jawab Budi.


“Ya udah. Entar kabarin Tata, kalo udah punya kandidat. Biar Tata yang nyeleksi. He he”


“Siap. Mantep deh, kalo Tata yang nyeleksi, sih”


“Tata pulang ya, Bram. Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


Adel pergi diiringi lambaian tangan dari Budi. Pastinya dengan iringan doa yang terlantun dari dalam hati.


Seperti yang sudah disepakati bersama, pak Fajar langsung mengebut pengerjaan lima sample yang akan dikirim ke customer di eropa.


Kesempatan ini dimanfaatkan Adel untuk membuat video promosi. Budi sempat menyambangi bengkel kayunya pak Fajar. Menjalankan tugasnya untuk memantau waktu dan kualitas. Sayangnya Adel sedang kuliah, jadi tidak bisa bertemu.


Foto-foto yag diambil bu Lusi, sukses membuat Adel tersenyum. Menjadi penyemangat disaat kuliahnya terasa membosankan. Bagaimana tidak, dengan seragam putih-putih itu saja, Budi sudah terlihat gagah di mata Adel. Belum lagi kali ini Budi berdiri dan berbincang dengan bapaknya dalam kapasitasnya mewakili sebuah perusahaan yang sudah bermain di kancah global. Adel merasa yakin kalau tak lama lagi, restu yang sudah sempat hilang tempo hari, akan kembali lagi.


Malam harinya, di saat Budi sedang sibuk menyiapkan keberangkatannya ke Berlin, Adel membagikan video laporan terkini progres pembuatan lima set sample.


Di samping Budi senang karena progressnya masih berjalan tepat waktu, Adel juga terlihat sangat cantik malam ini. Paling tidak itulah yang terlihat di mata Budi. Membuatnya tak kuasa menahan diri untuk tidak meneleponnya.


Budi semakin terpana saat melakukan panggilan video. Wajah polos tanpa polesan make up Adel terlihat berseri-seri dengan butiran-butiran air yang belum dikeringkan.


“Tata mau sholat isya’, Bram. Abram udah sholat, belum?”


“Oh, iya. udah isya’. Iya deh, Abram juga mau sholat dulu” jawab Budi.


“Ya udah. Dilanjut abis sholat ya, Bram?”


“Iya” jawab Budi sambil tersenyum.


“Gitu amat senyumnya. Kenapa sih,Bram? Ada yang aneh apa, sama Tata?” tanya Adel heran.


“He he. Abram gak tahan nunggu entar. Liat video Tata, bawaannya pengen liat langsung” jawab Budi.


“Apanya?” tanya Adel dengan mimik wajah lucu.


“Ya wajahnya, dong. Emang apanya?” sahut Budi.


“Huufft. Syukur deh. Kirain” komentar Adel setelah menghela nafas.


“Kalo pengen lihat yang lain, hem jadi tanda tanya nih. Abram abis liat apa, hayo?” lanjut Adel.


“Ha ha ha ha. Ada-ada aja, Ta”

__ADS_1


Mereka sempat saling memandang. Saling mengagumi wajah satu sama lain. Sampai Budi tidak sadar kalau Aldo datang mendekatinya. Dan sudah pasti, bersama Riki dia menggoda Budi sampai Budi tersipu malu.


***


__ADS_2