Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
bertemu dengan rival


__ADS_3

Di sebuah anjungan tunai mandiri, pak Fajar terlihat baru saja menarik sejumlah uang. Cukup banyak sepertinya, sampai dompetnya menggembung. Entah untuk apa. Mungkin untuk biaya rumah sakit Adel. Di saat baru keluar dari ATM, ponsel pak Fajar berbunyi. Diapun menghentikan langakahnya, dan merogoh ponsel yang berada di dalam sakunya.


*Sialan. Ngapain si brengsek itu nelpon segala? Mau sok-sokan jadi pahlawan lagi*?


“Halo, assalamu’alaikum” sapa pak Fajar.


“Wa’alaikum salam. Fajar, apa kabar?” jawab penelepon dari seberang sana.


“Alhamdulillah, sehat. Kamu sendiri gimana, Mam?” jawab pak Fajar. Suaranya dibuat seolah tidak pernah terjadi sesuatu diantara mereka.


“Alhamdulillah, sehat juga. Lagi sibuk, nggak?”


“Oh, enggak. Abis dari ATM, ini. Gimana-gimana?”


“Workshop masih lancar, kan?”


*Cih, pake nanya lancar apa enggak. Bulshit banget*


“Lancar” jawab pak Fajar. Sekuat tenaga dia menekan emosinya.


“Semua perbaikan udah aku kerjain. Sesuai dengan masukan kamu. Order ngetengan juga aku layanin” lanjut pak Fajar. Nada suaranya dia buat persis seperti biasanya dia berbincang dengan pak Imam.


“Alhamdulillah” komentar pak Fajar, mengucap syukur. Tapi kemudian hening sejenak.


“Kenapa?” tanya pak Fajar.


“Aduh, gimana bilangnya, ya?”


“Ada apa, mam? Kaya ngomong sama siapa aja”


“Eeemm” pak Imam masih terdengar menggantung kalimat.


“Gini, Jar. Berat benernya mau ngomongin ini. Tapi aku pikir, kamu harus tahu. biar nggak ada salah paham antara kita” lanjut pak Imam.


*Cih, salah paham? Ya, aku udah salah menilai. Yang aku pikir bang\*\*\*, ternyata malah pahlawan. Yang aku bilang pahlawan, justru bang\*\*\* yang sebenernya*.


“Kenapa sih? Berat amat kayaknya?” tanya pak Fajar.


“Maaf ya, Jar. Aku nggak bisa support kamu lagi” jawab pak Imam.


“Loh. Maksudnya? Kenapa?” tanya pak Fajar seolah benar-benar kaget.


“Ya, aku nggak bisa order sama kamu lagi”


“Kenapa, Mam? Konsumenmu kecewa, sama NG kemarin?”


“Bukan, Jar. Produk kamu bagus. Cuman, “


“Kenapa?”


“Aku nggak main mebel rumahan lagi. Sumber dayaku aku alihin buat mebel kantoran. Prospeknya lebih aman ketimbang rumahan. Apalagi diera digital begini”


“Oh? Yah. Nggak nyisa satupun, Mam?” tanya pak Fajar. Nadanya dibuat seperti memelas. Seperti layaknya orang yang di PHK. Padahal wajahnya sudah merah dan dia sudah muak.


“Ya begitulah, Jar. Sory banget, ya? nggak enak aku, sebenernya. Tapi, “


“Ya udah, nggak papa. Nggak usah nggak enak kaya gitu segala! Kaya apa aja” sahut pak Fajar.


“Ya kan kamu bukan orang lain, Jar. Kalo orang lain sih, aku nggak mikir” jawab pak Imam.


*Tikus curut. Bukan orang lain? Abis ngatain aku kantong sampah, terus bilang aku bukan orang lain? Anj*\*\*\*


“Hemmhh. Berat sih, benernya. Tapi mau gimana lagi” komentar pak Fajar, pura-pura sedih.


“Makasih, udah mau bantuin aku selama ini. Semoga kamu sukses di bidang yang baru itu” lanjut pak Fajar.


“Maafin aku ya, Jar. Aku juga doain semua yang terbaik buat kamu” jawab pak Imam.


“Makasih, ya”

__ADS_1


“Oke. Gitu aja, Jar. Assalamualaikum”


“Wa’alaikum salam”


*Aku nggak butuh doa dari manusia terkutuk sepertimu. Kantong sampah kamu bilang? Aku bakal tunjukin sama kamu, siapa yang sebenernya kantong sampah. Ingat itu Mam*!


***


Sampai di rumah sakit, Budi langsung berjalan masuk tanpa bertanya lagi. Sandi mengekor tanpa bertanya. Dia serahkan kantong plastik berisi buah-buahan itu kepada Sephia. Dia merasa tidak enak kalau dia yang menyerahkan buah-buahan itu.


Tiba di pintu kamar rawat Adel, terlihat pintu terbuka. Beberapa orang keluar dari kamar itu. Mereka adalah tetangga-tetangga Adel. Langsung saja Budi mengucap salam dan masuk. Tapi suasana berubah kaku, setelah Budi melihat siapa yang ada di samping ranjang Adel.


“Wow. Liat, liat, liat! Siapa yang datang, kawan?” kata Sandi merujuk pada orang yang berada di samping Adel.


Tapi Budi lebih memilih untuk salim pada bu Lusi, dan menyalami Madina. Sandi juga melakukan hal yang sama.


“Kamu belum berubah, ya?” komentar bu Lusi.


“Tapi saya sangat menyesali kebodohan saya dulu, Bu. Maafin saya” sahut Sandi.


“Ya, ya, ya. Semua orang berhak untuk berubah” jawab bu Lusi.


“Apa kabar, Luk?” sapa Budi.


Dia mengulurkan tangannya kepada Luki. Adel jadi salah tingkah dibuatnya.


“Oh, baik. Baik, mas” jawab Luki tergagap. Dia menyambut uluran tangan Budi.


“Udah lama?” tanya Budi lagi.


“Oh, ya. Lima menitan” jawab Luki masih dengan tergagap.


“Gugup gitu, lu? Kenapa? Emang lu kenal sama dia?” tanya Sandi pada Luki.


“Ndi” tegur bu Lusi. Sandi tersenyum mendengar teguran itu.


Adel bingung harus menjawab apa. Bagaimanapun juga, buat Adel, Luki juga merupakan tamu di sini.


“Kita makan dulu, mas Luki” sahut bu Lusi menengahi kekakuan yang terjadi.


“Ee, nggak usah bu, makasih. Harusnya saya yang bawain, tapi, “


“UHUK, UHUK”


Tiba-tiba sandi terbatuk. Semua mata teralihkan padanya. Dia lantas pergi ke luar ruangan, lalu batuk lagi.


“Saya langsung aja, bu” lanjut Luki.


“Ya Alloh, jauh-jauh dari solo cuman dianggurin aja” kata bu Lusi.


“Ibu, bisa aja. Pamit ya, bu”


Luki menyalami bu Lusi. Tak lupa dia menyalami Adel, walau dalam bayang-bayang tatapan mata Budi.


“Aku pamit ya, mas” pamit Luki pada Budi. Budi sempat bingung harus menjawab apa.


“Oh, ya. Ati-ati. Makasih ya, udah nengokin Adel” jawab Budi, akhirnya.


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


Suasana masih terasa kaku, sekalipun Luki sudah keluar dari kamar itu. Sempat terdengar suaranya berbincang sejenak dengan Sandi. Entah apa yang mereka bicarakan. Tidak terdengar jelas dari dalam ruangan.


“Akhirnya” celetuk Adel. Sontak Budi memutar tubuhnya, memadang wajah Adel.


“Akhirnya Tata bisa liat wajah cemburu abram. Ha ha ha. Lucu juga ternyata” lanjut Adel menjawab tatapan penuh tanya dari Budi.


“Ta!” tegur Budi sambil berkacak pingang. Semua orang tertawa melihat ekspresi malu Budi.

__ADS_1


“Haih. Aku sih cocoknya Adel sama lo aja, Bud. Daripada sama bocah ingusan itu” komentar Sandi. Semua perhatian tertuju padanya. Bu Lusi tergelak.


“Tapi mas, papa dia itu customer terbesarnya bapak. Jadi, tolong hormati dia ya! Paling enggak jangan nyolek dia!” sahut Adel.


“Aku? Nyolek dia? Kurang kerjaan. Mending nyolek Dina” jawab Sandi. Sontak Sephia melotot padanya.


“Eh, he he he he. Phia, ding. Adoow”


Semua orang tertawa melihat Sandi kesakitan terkena cubitan Sephia. Tak terkecuali dengan Budi. walau masih dilanda cemburu, tapi dia senang mendapat dukungan penuh dari sahabatnya.


“Mbak, ini ada sedikit buah tangan dari kita” kata Sephia sambil maju memberikan plastik hitam yang dibawanya.


“Ya Alloh, makasih Nat” jawab Adel.


“Din, Buah tangan itu apa? Pisang?” tanya Budi pada Madina.


“Hempf” Sephia tergelak mendengar pertanyaan konyol Budi.


“Ha ha ha ha ha” Madina malah tertawa ngakak.


“Itu kiasan, Abram. Bikin malu aja, ih” kata Adel sambil mencubit manja lengan Budi.


“Gara-gara Sandi nih. Tiap pelajaran pak Syukur ngajakin bolos mulu” keluh Budi. Sephia tergelak lagi.


“Buah tangan itu apa, Ndi?” lanjut Budi.


“Tau. Kan gua bolos ama lo” jawab Sandi. Sontak semua orang tertawa mendengar jawaban itu.


“Itu kiasan, mas Budi” kata Madina menjawab pertanyaan Budi.


“Artinya?”


“Oleh-oleh” jawab Madina setengah tertawa.


“Oh. Kaya buah dada, gitu ya?”


“Abraaam” seru Adel.


“Eh, buah bibir ding. Adooow. Iya. Ampuun” ralat Budi sambil memekik kesakitan dicubit Adel. Bu Lusi hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak dan calon menantunya.


“Ngomong-ngomong, pak Fajar kemana, bu?” tanya Sandi. Sontak semua perhatian tertuju padanya.


“Eh, ibu saya sama Putri juga kemana, bu?” Budi jadi ikut bertanya.


“Nah, kan. Mikirin buah dada, jadi nggak ngeh ibunya ngak ada” komentar bu Lusi.


*PLAAK*


“Aduh”


Adel melotot setelah menampar manja lengan Budi. Tepat saat Budi menoleh padanya.


“Ibumu sama Putri lagi sholat. Kalo bapak lagi ambil duit ke ATM” jawab bu Lusi.


“Bapak siapa?” tanya Budi dengan raut muka terkejut.


“Bapaknya Adel, lah” jawab bu Lusi.


“Hufft” Budi menghela nafas lega.


Adel tertawa tanpa suara. Dia teringat dengan cerita Budi yang dihantui suara almarhum bapaknya.


“Budi, jangan nakal sama Adel, ya!” kata Adel menirukan suara lelaki.


“Nduk” tegur bu Lusi, tepat disaat Budi berkacak pinggang ke arah Adel. Semua orangpun tertawa melihat tingkah mereka.


Dalam hati Budi merasa senang. Karena candaannya selalu mengena di hati Adel. Dia merasa bahagia bisa membuat Adel selalu tersenyum, bahkan tertawa, sekalipun raganya sedang tidak baik-baik saja. Mereka berbincang sampai beberapa saat lamanya.


Setelah cukup lama, Sandipun pamit untuk pulang. Merasa ikut menjadi bagian dari keluarga Adel, Budi berinisiatif mengantarkan Sandi dan Sephia sampai ke pintu depan rumah sakit. Sekalian membicarakan rencana untuk mengejar bodyguardnya Stevani.

__ADS_1


__ADS_2