
Satu hari di dalam tahanan, terasa seperti sebulan bagi Stevani. Dia selalu dilanda rasa gelisah. Bukan dinginnya suhu sel tahanan itu yang dia permasalahkan, melainkan kabar dari Hendralah yang selalu dia tunggu-tunggu.
“Van, ada tamu”
Suara dan kalimat yang sudah sejak kemarin-kemarin dia tunggu-tunggu. Dengan senyum mengembang, dia berjalan penuh harap. Dia berharap ada kabar baik dari pengacaranya itu.
“Siang, mbak. Apa kabar?” sapa Hendra.
“Alhamdulillah, baik” jawab Stevani.
“Syukurlah. Saya seneng kalo mbak Vani selalu tersenyum kaya gini” komentar Hendra.
“Aku bakal selalu tersenyum, selama kamu nggak bawa kabar buruk buat aku” jawab Stevani.
“Ya. semoga ini bukan termasuk kabar buruk” kata Hendra.
“Katakan!” pinta Stevani.
“Gini. Kemarin aku ngobrol sama yang punya warung makan, di gang masuk menuju kontrakan” kata Hendra mengawali penjelasannya.
“Mbak Ning?” tanya Stevani.
“Ya, mbak Ning”
“Dia ngomong apa, mas?” tanya Stevani.
Raut wajahnya menyiratkan harapan, kalau pemilik warung itu akan memberikan keterangan yang mendukungnya.
“Pertama, dia kasih info kalo anaknya pemilik kontrakan itu, terobsesi banget sama mbak Vani”
“Oh ya. Si berandal tengik itu” sahut Stevani.
“Jangan-jangan, “ lanjutnya, tapi tidak selesai.
“Terlalu dini buat nyimpulin”
“Pantes juga dong, dicurigain. Kan dia punya kunci cadangan kamar aku. Pas aku keluar, bisa aja kan diamasuk ke kamarku, terus begituan sama ceweknya? Saking keenakan, dan ngayal kalo lagi gituan sama aku, terus dia nyebut nama aku secara lengkap. Bisa, kan?”
“Masuk akal, sih. tapi yang jadi pertanyaan, kenapa harus hari minggu? Kenapa nggak hari-hari biasa? Kan hari-hari biasa udah jelas mbak Vani kerja. Kalo hari minggu kan mbak Vani justru di rumah”
“Hari minggu yang dibilang penyidik itu, aku lagi nggak di rumah. Aku lagi pergi ke Jogja, ada ketemu calon pelanggan perusahaan. Pulang-pulang udah sore. Nyampe kontrakan juga udah malem. Jam berapa ya? jam delapan juga lewat deh, kayaknya”
“Oh” komentar Hendra pendek.
“Kenapa?” tanya Stevani bingung.
“Match sih, sama yang dibilang mbak Ning” jawab Hendra.
“Nah, kan. Apa lagi? buruan minta mbak Ning buat jadi saksi!”
“Masih terlalu dini, mbak. Penyidik pegangnya bukti. Suara di rekaman itu, jelas banget punya kemiripan identik sama suara embak. Suara cowoknya juga, punya kemiripan yang identik dengan suaranya Dino” jawab Hendra. Stevani terkesiap. Semangatnya turun lagi.
“Apa menurut mbak Vani, suara dari anaknya ibu kos itu punya kemiripan dengan suara Dino?” tanya Hendra.
Stevani tidak menjawab. Untuk beberapa detik lamanya dia hanya mematung sambil menatap lekat mata Hendra. Kemudian dia menggelengkan kepalanya, sebagai ganti dari kata, tidak.
“Aku masih ngupayain buat nyari bukti otentik, yang bisa disodorkan ke penyidik. Tapi sejauh ini, aku belum nemuin CCTV di kontrakan itu”
“Kamu harus cari, mas! Apapun itu. Bisa jadi ada yang sedang streaming waktu itu. Atau mungkin di rumah ibu kontrakan. Di sana ada CCTVnya deh, kalo nggak salah”
“Oh, ya?”
“Ya. Coba aja ke sana! Caranya gimana, jangan tanya aku! Harusnya itu udah jadi keahlianmu, mas”
“Oke” jawab Hendra singkat. Dia terlihat sibuk mencatat apa yang dia dapatkan dari Stevani.
“Aku pergi, ya? aku kabari secepetnya” pamit Hendra.
“Jangan lama-lama ya!” pinta Stevani.
“Oke. Aku cabut ya”
“Silakan”
Stevani tersenyum. Ada secercah harapan untuknya bisa bebas dari sel tahanan ini. Di dalam hati dia mengucapkan doa, supaya segera bisa dikasih jalan untuk membuktikan kalau dirinya tidak bersalah.
***
Di hari yang telah mereka sepakati, Budi berangkat lebih awal. Putri yang ikut berbahagia melihat kakaknya akan berjumpa dengan kekasihnya, memberikan kesempatan untuk tidak membantu ibunya. Dia mengambil alih semua tugas kakaknya.
Walau awalnya Budi tertawa, karena terdengar lebay, tapi akhirnya dia setuju. Terlebih saat ibunya juga mengamini apa yang dikatakan Putri.
Bertemankan embun pagi, juga kabut yang masih menggelayut, Budi sudah tiba di tempat tujuan. Sepi, hening, dan masih asri. Membuatnya keasyikan menikmati secangkir kopi, sambil menikmati pemandangan lembah di kejauhan sana.
Sejenak angannya teringat akan Stevani. Raut wajah itu, entah mengapa dia merasakan kalau wanita itu seperti kebingungan. Dia merasakan ada yang janggal, tapi dia belum bisa memastikan, apakah yang janggal itu. Budi merasa belum pernah dibohongi oleh Stevani, jadi dia belum bisa memastikan apakah dia hanya berpura-pura bingung, atau benar-benar bingung.
Lo nggak boleh baper, Bud! Hukum tetaplah hukum. Kalo emang dia bisa buktiin kalo dia nggak salah, pasti dia keluar. Jangan sampe lo lemah gara-gara raut wajah yang memelas itu. Lo pernah ketipu. Jadi jangan pernah lo kemakan sama wajah memelas kaya gitu. Satu-satunya cewek yang boleh lo percaya sekalipun dia bohong, cuman Adel.
“Assalamu’alaikum”
“Haah”
Budi terkejut mendapat sapaan salam yang terdengar sangat dekat dengan telinganya. Diapun reflek menoleh ke kanan. Ada wajah cantik yang tersenyum manis, hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
“Wa’alaikum salam” jawab Budi.
“Ha ha ha ha. Gitu amat kagetnya? Mikirin apa, hayo?” tanya Adel sambil tertawa. Dia menyalami Budi lalu mencium tangannya.
“Hehe, enggak. Lagi ngebayangin kalo kita udah halal” jawab Budi sekenannya.
__ADS_1
“Huu, pagi-pagi udah menghayal”
“Ha ha ha ha. Namanya juga terlintas, Ta. Suasananya ngedukung banget, sih”
“Bikin kopi cuman satu nih, Bram?”
“Eh, mau? Abram bikinin, ya?”
“Join aja” jawab Adel. Dia langsung menarik cangkir Budi, lalu menyeruput kopi yang masih berkepul asapnya itu.
“Kirain on time. Kalo tahu bakal lebih awal, abram bikinin juga.
“Tadi sih, Tata yang pengen bikinin abram kopi. Biar berasa kaya pengantin baru. Eh, malah abramnya udah ngelamun di sini”
“Ha ha ha ha. Oh, gitu? Aduh, emang belum rejeki abram, kalo gitu”
“He he he”
Adel kembali menyeruput kopi panas itu. Matanya terpaku pada keindahan alam di hadapannya. Walau tidak seindah yang di vila itu, tapi cukup memanjakan mata. Terlebih, kabut tipis itu masih terlihat menari-nari di awang-awang.
Lain halnya dengan Budi. Dia malah terpaku dengan wajah ayu yang ada di hadapannya. Serasa tak bosan dia memandang wajah itu. sampai tidak sadar kalau yang punya wajah sudah menengok kearahnya.
“Hei. Gitu amat ngeliatinnya?” tegur Adel.
“Eh, eemm”
Budi terkejut mendengar teguran itu. dan dia tidak punya alasan untuk mengelak. Dia hanya bisa tersenyum malu dan tergelak.
“Nggak papa kok, Bram. Tata seneng tahu, diliatin Abram kaya gitu. Berasa jadi cewek paling cantik sedunia” kata Adel.
“Emang Tata paling cantik, buat Abram” sahut Budi.
Adel terdiam. Hanya senyum yang mengembang, sebagai reaksi atas pujian itu.
“Yang paling sukses bikin abram begadang semalam suntuk” lanjut Budi.
“Ha ha ha ha”
Adel tertawa mengingat kejadian Budi terlambat masuk kerja karena terbayang-bayang wajahnya. Sampai-sampai dibilang diganggu kunti. Untuk beberapa saat lamanya, mereka saling memandang.
“Abram pengen, sampe tua bisa mandangi Tata kaya gini” kata Budi. Adel tersenyum.
“Apapun tantangan yang akan kita adepin ke depannya, asal Abram terus bisa mandangin wajah Tata, akan Abram adepin dengan kepala tegak” lanjut Budi.
“Bram?” panggil Adel.
“Ya?"
“Kalo nantinya Tata kena fitnah, Tata keliatan ada jeleknya, apa Abram tetep percaya sama Tata?” tanya Adel.
“Kok tiba-tiba nanya gitu?”tanya Budi bingung.
“Ya, Tata keinget aja sama ucapan Putri. Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin berhembus” jawab Adel.
“Kalo Tata juga boong?”
“Sekalipun sebenernya kisah kita ini juga bohong, abram tetep percaya sama Tata”
“Kalo Abram ancur karena Tata?”
“Itu jauh lebih baik dibanding ancur tanpa alasan yang jelas, Ta”
Adel tersenyum. Dia memandang lekat-lekat mata Budi. Seolah dia tidak mau pemandangan terindah itu menghilang dari hadapannya.
“Kenapa, ta? Dalem banget pertanyaannya?” tanya Budi memecah kesunyian.
“Ah? Enggak” jawab Adel singkat.
Dia memindahkan tatapan matanya ke perbukitan di depannya. Budi tersenyum. Dia merengkuh pundak Adel, dan dibawanya tubuh lansing itu ke pelukannya.
“Tata cuman takut kehilangan Abram” lanjut Adel. Budi menoleh, dia tersenyum.
“Abram bukan suku nomaden, yang suka ngilang orangnya sekalian sama rumah-rumahnya” celetuk Budi.
Sontak Adel menegakkan tubuhnya. Dia tatap wajah Budi dengan tatapan bingung.
“Bener kan? Kalo ngilang, ya tinggal tungguin aja di rumah!” lanjut Budi sambil tergelak.
“Gajebo, deh”
“Adooh”
Budi memekik kaget, mendapat cubitan di pahanya. Tapi sesaat kemudian, dia tertawa melihat kekasihnya pura-pura merajuk.
Di sisi lain, Adel memalingkan wajahnya, bukan karena dia merajuk, melainkan untuk menyembunyikan senyum gelinya.
“Ha ha ha. Tata kalo lagi ngambek, lucu deh. Kalo lagi kentang gimana, ya?” celetuk Budi. Sontak adel menoleh.
“Ha ha ha ha”
“Abraaam. Gajebo banget, ih. Berenti nggak?”
Adel gemas melihat kekasihnya tertawa sambil kabur menghindar. Tapi dia juga tertawa saat mengejar, menyadari kalau kekasihnya itu sudah bisa membaca apa yang akan dilakukannya kalau gemas. Mereka kejar-kejaran sampai mengelilingi vila itu.
*Duuk*
“AAAAA”
Adel tersandung batu karena fokus mengejar Budi. tubuhnya limbung ke depan.
__ADS_1
“TAAA?”
*BRUUKKK*
Budi yang baru saja memutar tubuhnya, tidak sempat menyeimbangkan diri. Walaupun tubuh Adel kecil, tapi cukup untuk membuat Budi ikutan limbung saat tubuh mungil itu menimpanya. Dan mereka berdua jatuh ke tanah.
Bukannya segera bangun, tapi Adel malah menatap wajah Budi. Antara terkejut dan terkesan. Ini momen pertama dia berada di pelukan Budi tapi dalam posisi yang sama sekali berbeda. Ada desiran halus di hatinya. Terasa indah buatnya. Dan serasa enggan mengakhiri keindahan momen ini.
“Ta, lama-lama Abram bisa khilaf, lho” celetuk Budi.
“Ha? oh”
Adel tersentak dari angan-angannya. Ada perasaan malu, karena menatap wajah Budi dalam keadaan telungkup di atas tubuhnya. Seketika dia bangun dan berdiri.
Seperti remaja yang baru kenal cinta, Adel memutar tubuhnya, memunggungi Budi, sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Budi bangun dengan tergelak.
“Abram juga seneng kok Ta, diliatin Tata” kata Budi sambil memeluk tubuh mungil itu.
“Abram berasa menjadi cowok paling ganteng di dunia” lanjutnya.
Adel tidak menjawab. Tapi sebenarnya dia tersenyum. Semilir angin mengibarkan rambutnya. Membuat lehernya terbuka tanpa penghalang. Dia merasakan desiran itu lagi, saat hembusan nafas Budi menyentuh lembut kulit lehernya.
“Bram?” panggil Adel lirih. Kali ini dia sudah tidak menutupi lagi, wajahnya.
“Ya?” sahut Budi.
Tapi Adel tidak segera menjawab. Dia tampak berpikir dulu, kalimat apa yang akan dia keluarkan.
“Kalimat apa yang akan abram katakan, buat nunjukin keseriusan abram yang paling paripurna?”tanya Adel.
“Hem?”
Budi bingung dengan pertanyaan itu. Dia lepaskan pelukannya lalu dia putar tubuh Adel menghadapnya. Adel tersenyum mendapat tatapan bingung penuh tanya.
“Kalo misalnya nanti abram yang kena fitnah. Mungkin Tata belum sampai ke levelnya abram, untuk mempercayai tanpa bertanya sampai mendalam. Tapi Tata pengen bisa sepenuhnya percaya, sekalipun mungkin keadaan saat itu, nggak ada sama sekali gambaran di depan mata Tata yang bisa bikin tata percaya sama Abram. Aduh, gimana sih bilangnya, ya?” jawab Adel.
“Oke, oke. Abram ngerti. Tapi sebelum Abram jawab, Tata punya firasat apa sih?” sahut Budi.
“Emm” kalimat Adel menggantung lagi.
“Tata sempet mimpi, Bram. Tata tuh kaya marah sama Abram. Tapi Tata nggak ngerti, kenapa Tata marah sama Abram. Dan rasa marah sama kesel itu, kebawa sampe bangun, Bram” jawab Adel.
Budi mengernyitkan dahi. Bicara mengenai mimpi, Budi jadi teringat dengan almarhum bapaknya. Lebih dari sekedar mimpi, suara suara yang dia dengar di alam mimpi itu, masih terngiang-ngiang setelah dia bangun.
“Bram. Kenapa?” tegur Adel.
“Eh, eng, enggak. Keinget sama almarhum Bapak. Abram juga pernah mimpi kaya gitu. Tapi suara doang. Dan kaya masih kedengeran gitu suara bapaknya, padahal udah bangun” jawab Budi. dia berikan seluas senyum untuk menetralisir ketegangan yang terjadi.
“Terus gimana, bram? Apa mimpi itu bermakna sesuatu?”
“Eeem, ya. Itu emang impiannya bapak, bisa liat Abram hidup bener”
“Terus?”
“Ya, bener”
“Bener gimana?” cecar Adel penasaran.
“Ya kaya yang Tata udah denger. Karir Abram di sana ancur, tapi Abram dapet ganti yang jauh lebih berharga dari rupiah yang bisa abram hasilin di sana” jawab Budi sambil mencolek dagu Adel. Senyumnya sukses menular kepada Adel.
“Tapi mimpi Tata tuh, marah Bram. Marah, kesel, bahkan ada rasa kecewa juga”
“Hei, hei, hei. Jangan terlalu takut sama yang belum terjadi! Pasrah aja sama Gusti Alloh! Kalo emang nanti entah tata, entah Abram kena fitnah. Insya Alloh, kalo Tata emang bener-bener sayang sama Abram, pasti bakal dikasih jalan” potong Budi.
“Apa kalimatnya, bram? Tata akan tunduk sama kalimat itu” tanya Adel.
“Rodhitu billahi robbah. Wabil islamidina. Wabim muhammadin nabiyyaw warosulah” jawab Budi.
“Bram?”gumam Adel.
“Dalem banget kalimatnya?” tanya Adel. Hatinya bergetar mendengar kalimat itu.
“Itu bentuk kalimat kepasrahan, Ta. Ridho kepada Alloh, berarti ridho juga dengan segala takdir yang diberikanNya” jawab Budi. Adel tidak berkomentar, hatinya masih terasa bergetar.
“Kalau Abram udah mengatakan kalimat itu, tandanya fitnah yang akan kita hadapi kelak, udah terlalu besar buat Abram adepin sendiri. Saat Abram mengatakan itu, mungkin Abram udah nggak bisa ngapa-ngapain. Entah stress entah bonyok. Dan saat Abram mengatakan kalimat tadi, itu artinya Abram udah pasrah dengan semua yang telah dan akan terjadi. Abram pasrah dengan sikap yang akan Tata ambil” lanjut Budi.
“Abraaam”
Adel tak kuasa menahan getaran hebat di hatinya. Ada rasa takluk saat kalimat yang diucapkan budi tadi terngiang-ngiang di telinganya. Serta-merta dia peluk tubuh kekasihnya itu.
Dia menangis, membayangkan kepedihan apa yang akan mereka hadapi nanti, jika mimpinya itu benar-benar menjadi nyata.
Bang bang wes rahino, bang bang wes rahino....
Suara ponsel Adel berbunyi. Tapi tidak segera dia raih ponsel itu. Seolah enggan melepaskan pelukannya. Sampai ponsel itu berbunyi kembali. Budi berinisiatif menegurnya. Adelpun melepaskan palukannya.
“Halo, assalamu’alaikum, dek” sapa Adel.
“Wa’alaikum salam, mbak. Mbak Adel, tolong ibu, mbak!” jawab yang di seberang telepon.
“ Astaghfirulloh, ibu kenapa, Dek?” tanya Adel panik.
“Ibu pingsan, mbak. Nggak tahu kenapa. Bapak juga lagi pergi”
“Oke, oke. Embak pulang, ya? Napasnya ibu aman, kan?”
“Aman, mbak. Tapi Madin takut, mbak”
“Oke, oke. Mbak jalan, nih” jawab Adel.
__ADS_1
*TUUUT*
Sambungan telepon dia putus tanpa salam. Dia langsung berari tanpa memperhatikan Budi. Budi maklum. Dia juga ikut berlari mengejar Adel. Saat Adel akan menaiki motornya, Budi mencegahnya. Maksud dia, dia yang membawa motornya, Adel yang dibelakang. Adel setuju. Mereka langsung tancap gas menuju rumah Adel.