Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
madin histeris


__ADS_3

Budi yang belum tahu mengenai musibah yang dialami Adel, asyik saja meeting dengan pak paul secara daring. Bersama dengan Erika juga, mereka serius membahas kelanjutan kerja sama dengan rekanan di Eropa, sehubungan dengan adanya pandemi korona. Tapi pak Paulus sama sekali tidak menyinggung mengenai penundaan kontrak dengan pak Fajar yang baru berjalan tiga kali pengiriman itu.


Ponselnya yang sengaja dia matikan suaranya, membuat dia tidak menyadari kalau sudah ada sekian banyak panggilan tak terjawab. Begitu meeting selesai, barulah dia menyadari kalau sudah ada lima panggilan tak terjawab dari adiknya.


“Halo, assalamu’alaikum, mas Budi. Belum bangun, ya?” sapa Putri heboh.


“Wa’alaikum salam, Put. Heboh amat, sih?” sahut Budi.


“Ya abisnya, ditelpon bolak-balik nggak diangkat-angkat. Masih molor, emang?”


“Sembarangan. Mas Budi abis meeting sama pak Paul, Put”


“Oh. Pantesan. Rame-rame, meetingnya, mas?”


“Enggak. Bertiga doang, sama Erika juga”


“Aah. Nggak percaya deh, kalo meeting. Perasaan nggak pernah silent hape, deh”


“Aduh. Udah kaya bapak aja, lagaknya”


“He he. Inget, mas. Ada yang nungguin, loh. Jangan macem-macem!”


“Haduh. Nggak usah dibilangin, Putri. Kalo niat gitu sih, bule Jerman banyak yang mau”


“Sombong” komentar Putri meledek.


“Ha ha ha ha” Budi tertawa mendengar komentar pendek itu.


“Ada apa, Put? Tumben kaya ngebet gitu, nelponnya?” tanya Budi mengembalikan topik pembicaraan.


“Oh, iya. Sampe lupa kan, denger mas Budi berduaan sama mbak Erika” sahut Putri.


“Ha ha ha ha”


“Gini, mas. Mas Budi tega banget sih, sama Putri?” tanya Putri.


“Hah, tega? Tega apaan?”


“Kok nggak bilang kalo di PRAM ada lowongan kerja? Kan Putri juga mau. Mana lowongannya jalur referensi, lagi. Masa malah ngereferensiin orang lain, adiknya sendiri malah enggak?”


“Siapa yang bilang, Putri?” tanya Budi bingung.


“Barusan Madina dijemput buat tes medikal. Dibilangnya Madina lulus tes penerimaan karyawan dari jalur rekomendasi. Udah gitu gradenya highly recomended, lagi” jawab Putri.


“Yang jemput, siapa?”


“Yang atasannya Vani, itu”


“Farah?”


“Iya. Mbak Farah”


“Lah. HRDnya sih, masih Erika, Put. Farah sih nggak ada urusan sama lowongan kerja”


“Lah, kok?”


“Kalopun mau ada penambahan karyawan, pasti tadi dibahas, Put. Kan Mas Budi juga staf HRD” lanjut Budi.


“Terus, tadi Madina dijemput dari sekolah, buat apa dong, mas?”


“Wait! Mas Budi telepon Farah dulu, ya? Putri terusin belajarnya, ya!”

__ADS_1


“Mbak Farah nggak ada kaitannya sama Vani kan, mas?” tanya Putri hawatir.


“Kalo dia ada hubungannya sama Vani, pasti dia juga nggak akan ngebiarin mas Budi deket-deket Erika”


“Kalo sama yang baru ditangkep itu?”


“Ya sama aja, Put”


“Semoga aja begitu”


“Ya udah. Disambung entar, ya? Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


Di tempat berbeda, Madina masih belum mengetahui yang sebenarnya. Dia masih terbawa dengan perasaan senang. Dia bahkan sempat bersenandung. Dia mengikut saja kemana kaki Farah melangkah. Dia baru merasa Aneh setelah dekat dengan ruang ICU.


“Kok ke arah ruang ICU, mbak? Emang medical check upnya di sana?” tanya Madina.


“Rumah sakit ini kan luas, dek. Masa iya isinya ICU doang?” jawab Farah diplomatis.


“Iya juga, sih. He he”


Madina tidak bertanya lagi. Dia terus berjalan sambil melihat layar ponselnya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa pesan singkat dari sahabatnya. Dia bingung, tidak biasanya Putri begitu. Tapi dia tersenyum. Dia berpikir kalau Putri hanya iri padanya.


“Loh. Mbak Adel?”


Putri terkejut saat Farah berhenti berjalan, dia menemukan kakaknya sedang duduk di dekat pintu ruang ICU. Dia juga heran saat melihat Luki ada di kursi yang berseberangan, berjajar dengan ibunya.


“Kalian mau medical check up juga, ya?” tanya Madina sambil tersenyum menggoda.


Tentu saja pertanyaan itu mengundang kebingungan di benak Adel. Termasuk juga Luki dan Bu Susan. Mereka juga bingung dengan kehadiran Madina yang tiba-tiba dan bertanya demikian.


Madinapun menoleh ke arah Farah. Dia bingung dan merasa kalau Farah sedang mengerjainya.


“Maafin aku, dek!” kata Farah.


“Maksudnya apa, mbak? Nggak lucu ngeprank kaya gini, tahu nggak?” tanya Madina emosi.


“Adek, adek, adek. Jangan marah ke mbak Farah, ya!” pinta Adel.


“Ya terus, apa maksudnya semua ini? Nggak ada ide lain apa, buat ngeprank? Kan Madin malu, kalo temen-temen Madin tahu, ini semua cuman prank, mbak”


“Dek. Mbak Farah itu nggak ngeprank adek. Mbak Adel yang minta mbak Farah buat jemput Adek ke sini” kata Adel menenangkan. Dia pegang kedua pundak Madina.


“Maksud mbak Adel?”


“Iya. mbak Adel yang minta mbak Farah buat jemput Adek di sekolah. Dengan satu pesen, jangan sampe bikin Adek kaget. Mungkin itu tadi cara mbak Farah, biar adek mau ikut tanpa bikin syok” jawab Adel menjelaskan.


“Oke. Terus ada apa? kalo cuman mau bilang mbak Adel sama mas Budi udahan terus sekarang mau sama mas Luki, ya jangan di rumah sakit juga kali, mbak! Nggak ada tempat lain, apa? di depan ICU, lagi” omel Madina. Adel sempat melotot. Dia tidak percaya dengan apa yang dipikirkan adiknya.


“Dek. Bapak sakit, ” kata Adel pelan.


“Mau alasan sakit, mau alasan jauh, “ potong Madina.


“Apa? Bapak sakit?” lanjut Madina, baru tersambung.


“Iya” jawab Adel pelan.


“Astaghfirullohal’adzim” gumam Madina, syok.


“Bapak” panggil Madina.

__ADS_1


“Bapak dimana, mbak? Bapak gimana kondisinya, mbak?” tanya Madina sambil merangsek maju, ingin membuka pintu ruang ICU.


“Bapaaak”


Madina memanggil bapaknya lagi. Itu karena badannya ditahan kakaknya.


“Dek, sabar! Jangan histeris, gitu!” pinta Adel.


“Madin pengen liat bapak, mbak”


“Iya. Tapi tenang dulu! Kalo histeris malah nggak dibolehin. Kan bapak harus istirahat”


Perlahan tapi pasti, Madina mengendurkan perlawanannya. Pikirannya mulai bekerja, kepanikannya mulai mereda. Dia mengangguk dalam tangisnya.


“Adeeek”


Adel terkejut, saat dia melepas tubuh Madina, tubuh itu malah nyaris terjatuh. Reflek dia menggapai tubuh itu lagi.


“Duduk dulu, Din!”


Bu Susan yang ikut menangkap tubuh Madina menyarankan Madina untuk duduk dulu. Karena memang lemas, Madina tidak menolak saat dia didudukkan di kursi yang sebelumnya Adel duduki.


“Minum dulu, dek!”


Seorang suster yang baru saja keluar dari dalam ruang ICU, memberikan sebotol air mineral yang masih tersegel. Adel menerima air mineral itu dan langsung membuka tutupnya. Dia meminumkan kepada adiknya.


“Madin? Udah pulang, nduk?”


Suara bu Lusi membuat Madina tersentak. Sontak dia bangkit hendak berdiri. Adel sempat terkejut.


“Ibuuu. Bapak gimana, bu?bapak nggak papa, kan?” tanya Madina sambil menangis. Dia terduduk lagi, karena kakinya belum kuat untuk berdiri.


“Nggak. Bapak nggak papa, kok” jawab bu Lusi. Dia berusaha tegar. Dia tidak ingin terlihat rapuh di depan Putri bungsunya.


“Bapak lagi istirahat” lanjut bu Lusi.


“Madin pengen ketemu bapak, bu” pinta Madina dalam tangisnya.


Bu Lusi sempat terdiam. Dia sempat tengok kiri-tengok kanan. Seperti mencari sesuatu yang bisa membantu Madina.


“Apa ini bisa membantu?”


Suara seorang wanita mengalihkan perhatian mereka semua. Seorang suster datang membawa sebuah kursi roda.


“Suster Feni?’ gumam Adel.


“Ya. itu yang saya cari, sus” jawab bu Lusi.


“Silakan, saya antar ke dalam” kata suster yang Adel sebut sebagai suster Feni.


“Terimakasih, Sus” kata Madina.


Dia berusaha berdiri dibantu kakak dan ibunya. Lalu perlahan dia duduk di kursi roda.


“Tolong ketemukan adek saya dengan bapak ya, sus!” pinta Adel.


“Baik, mbak Adel” jawab suster itu. Mereka tampak saling menghormati, kali ini.


Suster Feni membawa Madina masuk melewati pintu samping. Pintu khusus untuk membawa pasien masuk dengan ranjang. Untuk beberapa saat lamanya, mereka terdiam dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Farah meminta ijin Adel untuk menerima telepon. Adel mengijinkan, setelah berterimakasih.


***

__ADS_1


__ADS_2