Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
adel salim, budi salting


__ADS_3

Budi mencoba menghubungi ibunya, untuk menanyakan, apakah sudah ada yang membawakan makan siang atau belum. Tapi panggilannya tidak mendapatkan jawaban. Hanya berdering saja. Ponsel Putri juga sama. Dia mencoba menghubungi Stevani, tapi juga tidak mendapat jawaban. Merasa ada yang aneh, Budi bergegas menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Budi mendapati dua anggota kepolisian yang bersiaga di ujung, dekat ruang tunggu. Sedangkan di depan kamar rawat Putri, hanya tersisa seorang perempuan yang duduk di tepian taman.


“Adel?”


Budi menyapa tanpa salam, karena tidak menyangka akan bertemu Adel di sini, tanpa ada orang lain di dekat Adel.


“Mas Bud” sahut Adel.


Adel mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Budi menyambut uluran tangan Adel. Tapi sesaat kemudian, dia menarik tangannya.


“E eh. Maaf, mas. Lupa” seru Adel.


Ya, Adel hendak mencium tangan Budi. Dan disaat itulah Budi menarik tangannya. Suasana seketika kaku. Bukannya tak mau. Di dalam hatinya, sebenarnya Budi mau sekali dicium tangannya oleh Adel. Tapi status Adel, membuatnya menahan diri.


“Kok ada polisi? Ibu kemana?” tanya Budi.


“Oh. Bu Ratih lagi nemenin Putri, di dalem. Lagi diambil keterangannya. Ada Aldo juga, lagi nemenin si Vani” jawab Adel.


“Madin?” tanya Budi, beberapa saat kemudian.


“Lagi keluar dulu. Diajakin ibu ke rumah Sinta”


“Oh” komentar Budi pendek.


“Udah sehat emang, bisa nganter ibu ke sini?” tanya Budi.


“Emang Adel kenapa, mas? Orang Adel nggak kenapa-kenapa” jawab Adel berkilah.


Ada senyum tipis merekah di bibirnya. Dia merasa senang, masih mendapatkan perhatian dari Budi.


“Syukur, deh” komentar Budi.


“Periksa kandungan, ya?” tanya Budi lagi.


“Ha?”


Adel terkesiap mendengar pertanyaan Budi. Pertanyaan wajar, tapi menjadi tidak wajar, setelah kejadian pesan singkat yang menumbuhkan kecurigaan di hatinya.


*Aku malah belum pengen hamil dulu, Bram. Aku masih belum yakin sama mas Luki*.


Melihat Adel terdiam, Budi mengangguk-anggukkan kepalanya. Seolah menjadi konfirmasi kalau tebakannya adalah benar.


*Ya Alloh. Kenapa aku masih ngerasa sakit hati ya? Hamba belum ikhlas ya Alloh. Membayangkan Adel dinikmatin si manusia tengik itu aja hamba sakit hati, apalagi membayangkan Adel hamil anak dia*.


“Siapa yang ngegosip sih, mas? Suster Feni, ya?”


Suara Adel sontak membuyarkan lamunan Budi. Dia menoleh ke arah Adel.


“Adel emang ke klinik, kemarin. Tapi bukan buat periksa kandungan” kata Adel, menjawab pertanyaan awal Budi.


“Iya, Adel emang berobat, kemarin. Kepala Adel pusing” lanjut Adel.


“Udah sembuh?” tanya Budi.


Adel tidak segera menjawab. Dia malah tersenyum. Budi bingung dibuatnya.

__ADS_1


“Awas. Ada yang marah lho, kalo nanya-nanya tentang Adel” kata Adel kemudian.


“Hem? Oh, Erika?” sahut Budi.


“Ya. Pasti. Saingan beratnya sih, kamu” lanjut Budi.


“Lah. Dia kemana, mas?” tanya Adel.


“Lagi jemput papanya, di bandara” jawab Budi.


“Oh” komentar Adel pendek.


“Luki kemana?” tanya Budi.


“Nggak tanggung jawab banget. Abis bikin pusing anak orang, maen ditinggal aja. Dikata anak jangkrik, abis diadu dimasukin ke biji mangga” lanjut Budi setengah menggerutu.


“Hempf. Ha ha ha ha”


Adel tertawa lepas mendengar kelakar Budi. Perbandingan yang out the box menurut Adel. Dan cukup menggelitik hatinya.


“Dia lagi ke Solo, mas. Ada masalah sama perusahaan bu Susan” jawab Adel, setelah berhenti tertawanya.


Budi mengernyitkan keningnya. Ada yang aneh dalam ucapan Adel. Tapi kemudian dia mencebirkan bibirnya.


“Tumben nggak diajak? Nggak takut apa, dicolong mbadol?”


“Hempf. Ha ha ha ha” Adel tertawa lagi.


*Kalo mbadolnya kamu, aku rela Bram, kamu colong*


“Suek” komentar Budi, menanggapi kata mbadol yang Adel alamatkan padanya.


“Ha ha ha ha. Peace”


Adel mengacungkan dua jarinya membentuk huruf ‘V’, sebagai tanda damai. Budi hanya geleng-geleng kepala.


Budi kembali termenung. Banyak sekali bayangan terlintas di kepalanya. Kejadian semalam membuatnya khawatir akan keselamatan Adel dan keluarganya. Tapi tidak termasuk Luki.


“Mas. Kenapa?”


Suara Adel membuyarkan lamunannya.


“Hem? Oh, enggak. Nggak papa” jawab Budi setengah teragagap.


“Ada masalah lagi, mas?” tanya Adel.


“Eh. Kasus semalem itu, mas Budi tahu, nggak?” lanjut Adel.


“Kata orang doang, sih” jawab Budi.


“Masa sih, mas? Sandi lho yang ditangkep. Sephia juga. Ada yang mati juga ketembak, lima orang” tanya Adel tak percaya. Dia masih ingat seperti apa sifat Budi.


“Kan dia lagi marah sama aku, Del. Mana mungkin dia bilang sama aku. Apalagi polisi bilang, penyergapan semalem ada kaitannya sama peredaran narkotika. Nggak bakal, dia bilang sama aku soal gitu-gituan” jawab Budi.


“Kok mas Sandi gitu ya, sekarang? Kenapa juga si Phia mau?” keluh Adel.


“Kamu yang waspada ya, Del!” pinta Budi.

__ADS_1


“Ha? Emang kenapa, mas?” tanya Adel bingung.


“Ya, nggak papa. Kaya yang ibu pernah bilang, Sandi dicurigai sebagai pengedar. Dan semalem kena grebek. Sekalipun nggak ditemuin barang bukti narkoba. Kita pernah deket sama dia. Kita masih punya potensi buat keseret” jawab Budi.


“Oh” respon Adel kaget.


“Iya juga, ya. Nyatanya Putri langsung diambil keterangannya lagi” lanjut Adel.


“Dulu, aku sering nanem orang buat jadi mata dan telingaku. Ya, meskipun masih bisa dikenali kalo orang itu adalah preman, tapi nggak ada yang tahu kalo orang itu adalah orangku. Erika, ternyata adalah gurunya Sephia, “


“Apa?” potong Adel terkejut.


“Sandi baru bilang kemarin, saat tahu kalo aku jadian sama Erika”


Ada rasa cemburu yang menyeruak di hati Adel, saat mendengar pengakuan Budi, kalau dia telah jadian dengan Erika.


“Ngomongin soal narkotika, pastinya nggak sesimpel bisnis parkiran dan keamanan. Aku jadi kepikiran, apa ada orang dekat kita yang ternyata gerombolannya Sandi juga? Karena namanya pengedar, apalagi kelas kakap, pasti nggak akan gampang buat diliat” lanjut Budi.


“Tapi mas Budi bukan mau bilang kalo mas Luki ikut gerombolannya Sandi, kan?” tanya Adel.


“Hempf. Dia? Ha ha ha ha. Nggak ada tampang-tampangnya, Del” jawab Budi setengah tidak jujur.


“Apa otak intelektual kasus kita dulu itu, bagian dari gerombolannya Sandi juga, mas?” tanya Adel.


“Maksudnya?” Budi kurang mengerti.


“Adel pikir, yang ditangkap polisi itu bukan otak intelektual yang sebenernya, mas” jawab Adel.


“Wow. Tahu dari mana?”


“Kemarin, ada yang ngirim pesan singkat ke nomornya mas Luki. Ngakunya dia sofia. Ngakunya punya janji sama mas Luki. Seolah-olah Sofia itu adalah istri pertamanya mas Luki. Dan mas Luki, masuk ke kehidupan Adel, karena ada satu target yang harus dia capai” jawab Adel.


“Terus?”


“Kan yang balesin pesan itu kan, Adel. Pas mas Luki kelar mandi dan liat aku sakit kepala, dia malah maksa buat nganter Adel ke dokter. Dia lebih milih buat batalin pertemuan sama pelanggannya, daripada kehilangan Adel. Di sini Adel mikirnya, itu bukan beneran Sofia. Tapi orang lain yang mengatasnamakan sofia”


Budi termenung. Matanya masih lekat menatap wajah Adel. Tapi tatapan mata itu kosong. Karena pikirannya justru melayang, merangkai ingatan demi ingatan.


“Oke. Perlu dipertimbangkan” jawab Budi.


Tapi senyum Budi seolah menjadi pertanda buat Adel, kalau Budi mempunyai pemikiran lain, tapi tidak enak buat mengungkapkannya.


“Apa mas Budi mengira kalo mas Luki punya gadget yang bisa berkomunikasi sama Sofia tanpa Adel ketahui? Semacem apa? Adel nggak liat dia bawa apa-apa waktu mau mandi”


Budi menggoyang-goyangkan kepalanya. Dia merasa muak dan emosinya meninggi, membayangkan Adel dan Luki berdua tanpa busana sehelaipun.


“I have no idea” jawab Budi pendek.


“Aku cari makan dulu, ya?” pamit Budi.


Tanpa menunggu jawaban dari Adel, Budi langsung beranjak pergi.


*Maafin Tata, Bram. Emang begitu kenyataannya. Rebut tata dong, Bram! Tata berani ngadepin Erika, kalo Abram berani ngerebut Tata dari Luki*.


Kali ini, bisikan setan itu sama sekali tidak Adel tangkal. Dan seolah sependapat dengan bisikan setan itu, Adel malah berharap direbut oleh Budi dari suaminya.


***

__ADS_1


__ADS_2