
Setelah berkendara dua jam semenjak bentrokan tadi, Budi dan Adel sampai juga di galeri. Di galery, ada empat buah mobil yang terparkir, tapi sepertinya ruangan galeri terlihat lengang. Hanya ada Hanin dan dua orang pembeli. Terlihat Hanin berlari ke belakang. Tak lama kemudian, beberapa orang tergopoh-gopoh menyambut mereka.
“Nduk. Kamu nggak papa?”
Bu Lusi menyongsong kepulangan putri sulungnya dengan deraian air mata. Adel sungkem dan langsung mendapat pelukan dari sang ibu.
“Ngger. Wajahmu kok lebam-lebam, kenapa?”
Bu Lusi terkejut melihat wajah Budi ada yang lebam.
“Mana, bu?” kilah Budi sambil sungkem.
Di belakang bu Lusi, ada Erika yang menatapnya lekat. Dia seperti ikut bu Ratih memeriksa wajahnya. Dia memindai dari jarak tiga meteran.
“Kamu abis dikeroyok, ngger?” tanya bu Ratih lagi. Sontak semua mata tertuju pada Budi.
Erika menuju mobilnya, membuka pintu belakang, lalu mengeluarkan sebuah kotak berwarna putih. Lambang palang berwarna merah memberitahukan setiap yang melihat tentang apa yang ada di dalamnya. Dan benar, Erika mengambil rivanol, kapas,kain kasa, dan juga plaster perekat.
“Permisi bu Ratih, saya bersihkan dulu lengan mas Budi” ijin Erika.
“Ya Alloh, ngger. Ini tadi kalian abis kenapa?” seru bu Ratih lagi.Dia terkejut melihat luka sayat di lengan kiri Budi.
Tanpa menunggu jawaban, Erika langsung mengambil alih lengan kiri Budi. Bagian belakangnya dia guyur sedikit dengan rivanol.
“Eessstt”
Budi mendesis lirih. Dia merasakan adanya rasa perih yang mengejutkannya.
“Ya Alloh, ngger. perbuatan siapa, ini?” tanya bu Ratih sedih.
Dia menarik tangan kiri Budi untuk membantu Erika membersihkan luka itu. Di seberang mobil, Adel memandang Budi dengan tatapan cemburu. Tapi segera dia tepis karena sadar siapa dirinya sekarang.
“Nggak tahu” jawab Budi singkat.
“Nggak tahu?” bu Ratih merasa aneh dengan jawaban putranya.
“Kita ke klinik ya, mas?” ajak Erika.
Tangannya masih memasangkain kasa untuk menutup luka sayatan di tangan Budi.
“Nggak usah” tolak Budi.
Sontak Erika menatap tajam ke arah Budi. Rasa cemburu yang sedari tadi dia tahan akhirnya membuncah juga. Itu karena dia tahu, Budi terluka karena menjaga keselamatan Adel. Dan luka itu masih saja tidak dirasa oleh Budi.
“Kan kamu juga bisa” kata Budi, menanggapi tatapan tajam Erika.
Erika masih tidak menjawab. Dia masih menatap lekat mata Budi. membuat yang lain menjadi bingung.
“Oke” sahut Erika.
__ADS_1
Dia mengambi ponselnya setelah selesai membalut luka Budi.
“Nelpon siapa?” tanya Budi.
“Dokter sunat” jawab Erika setengah jengkel.
“Ha?”
Budi menatap ibunya, menanyakan apa maksud Erika. Bu Ratih juga sama bingungnya. Budi ganti menatap lengan kirinya yang terluka.
“Nggak dokter sunat juga, Erik Tohir!” seru Budi sambil merangkul Erika.
“Ha ha ha” Erika tertawa, mendapati kelakarnya mengena. Budi memaksanya berjalan menuju bengkel kayunya.
Bu Ratih tertawa melihat kelakuan putranya dan kekasihnya itu. Tawa bu Ratih menular ke bu Lusi, Putri, dan Madina.
Bu Ratihpun mengajak Putri dan ibunya untuk kembali ke bengkel kayu. Namun bu Lusi tidak segera beranjak. Dia terpaku melihat mobil warisan mendiang suaminya penyok di sana-sini. beberapa bagian kacanya juga retak.
“Nanti biar dibawa Supri ke bengkel, Lus. Biar aku yang urus” kata bu Ratih menenangkan bu Lusi.
“Bukan soal penyoknya, mbak. Tapi soal keselamatan Adel. Masih untung tadi bareng Budi. selanjutnya gimana, mbak?”
“Tenang, Lus! Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini nggak ada yang tanpa ijin dari Gusti Alloh. Kalo Gusti Alloh nggak ridho, nggak akan ada yang bisa nyelakain kita”
“Nyesel aku ngebaikin mbak Susan. Nggak tahunya anaknya pengedar. Dasar baji***. Udah mati aja masih bisa bikin Adel celaka” geram bu Lusi penuh emosi.
“Bu” tegur Madina.
Bu Lusi tidak segera menjawab. Dia ingin berkomentar, tapi tidak enak hati. Keberadaan Erika pasti akan membuat jarak antara Budi dan Adel. Sehingga tidak mungkin Adel mendapatkan pengamanan seratus persen dari Budi. Pasti Erika akan mencemburui. Begitu pikirnya.
“Iya, mbak” jawab bu Lusi kemudian.
Merekapun berjalan masuk ke dalam bengkel kayu. Bu Lusi masih merengkuh Adel ke dalam pelukanya. Seolah tak mau berpisah barang sedetikpun.
“Eeh, ada tamu?” seru Budi, mendapati ada banyak orang mengerumuni Putri. Tak kurang dari tujuh orang di sana.
“Loh, mas Bud. Itu muka kenapa?” seru putri.
Tapi Budi tidak segera menjawab. Dia menyalami dulu teman-teman Putri yang menjenguk. Dan sempat dia tertegun melihat gips di kaki Putri. Dia berada di teras kamar, yang baru saja jadi, di sebelah kamar yang ditempati Stevani.
“Mas?” tegur Putri.
“Eh?” Budi tersentak dari lamunannya. Diapun menyambut uluran tangan Putri.
“Itu wajah kenapa?” tanya Putri lagi, sambil salim dan cium tangan.
“Tadi, ketemu kadal mesir” jawab Budi asal.
“Kadal mesir?” gumam salah seorang tamunya.
__ADS_1
“Hempf. Ha ha ha ha”
Yang lain tertawa mendengar kata kadal mesir. Julukan yang sangat lucu bagi mereka. Walau mereka tahu, siapa yang punya julukan lucu itu.
“Kang Bejo. Tolong ambilin es batu dong, sama handuk kecil Putri! Handuknya di tas itu tuh” pinta Putri.
“Put!” tegur Budi. Putripun menoleh.
“Yang sakit tuh, kamu. Ngapain mikirin aku?”
“Lha itu, pada bengep gitu” kilah Putri.
“Udah, tenang! Dicium Rika juga sembuh” kelakar Budi.
“Adow” dia memekik terkejut.
“Hobi banget sih, nyubitin?” protes Budi bersungut-sungut.
Sedangkan Erika malah memasang wajah tak berdosa. Senyum tipis terlukis di bibirnya.
“KDRT tahu” lanjut Budi.
Erika masih tidak bergeming. Hanya senyumnya semakin mengembang.
“Lapor ibu, ah. Nyubitnya makin ke bawah” lanjut Budi lagi.
“Maas”
Erika memekik terkejut. Karena kali ini Budi balik badan dan bersiap pergi.
Dia langsung menggamit tangan Budi, agar tidak pergi. Dan Budi tertawa, mendapati Erika panik. Mereka sempat ceng-cengan di depan para tamu. Membuat para tamu itu tertawa karena lelucon mereka berdua.
Budi dan Erikapun ikut duduk lesehan di teras kamar baru itu. Sejenak, Budi mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru bengkel kayunya. Beberapa mesin perkayuan digeser lebih merapat, karena dibangunnya kamar untuk Putri. Di meja makan, di depannya dapur, tampak bu Lusi, bu Ratih, Adel dan Madina sedang berbincang. Ada Stevani juga di sana.
Meski begitu, karena ruangan bengkel ini panjangnya tembus sampai ke bawah galeri, maka pergeseran itu masih cukup untuk mengakomodasi proses produksi. Bahkan untuk memproduksi kusen pintu dan kawan-kawan juga masih leluasa.
“Kamu nggak kebisingan, Put” tanya Budi. sontak semua mata tertuju padanya.
“Enggak, mas. Biasa aja” jawab Putri.
“Bising itu suara mak-mak rempong” lanjut Putri. Budi manggut-manggut mengerti.
“Ya udah. Aku mau ngobrol sama ibu. lanjut aja ngobrolnya!” kata Budi.
“Dikompres dulu, mas! Bisa sumeng itu entar” seru Putri, saat Budi beranjak berdiri.
“Busyet, Putri. Dikata bocah, apa? Masa preman sumeng?” sahut Budi.
“Hempf”
__ADS_1
Teman-teman Putri tergelak menahan tawa. Putri tertawa melihat teman-temannya tergelak. Tawanya malah menular ke yang lain. Budipun ijin untuk bergabung dengan para ibu. Erika, sudah pasti mengikuti Budi.