Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
pengintaian


__ADS_3

Ketiga orang itu memacu kendaraannya ke arah pantai. Zulfikar membuntuti dengan santai, seperti orang yang searah dengan mereka.


“Kita berenti di Marco aja” kata Budi, saat ketiga orang itu berbelok ke arah tempat pelelangan ikan.


“Oke” jawab Zulfikar.


Masih dengan gaya santai, Zulfikar tetap lurus mengikuti alur jalan. jembatan dan jalan berkelokpun dia lalui seolah tanpa memperhatikan ketiga orang itu. Tapi sudut matanya tetap memindai sinar lampu ketiga motor itu.


“Siagakan temen-temenmu!”


Budi memberi perintah sambil turun dari motor Zulfikar. Ada neon box bertuliskan Marcopolo di sebelah Zulfikar.


“Mas Budi mau kemana?” tanya Zulfikar.


“Aku mau turun lewat situ” jawab Budi sambil menunjuk tebing di sisi kiri jalan.


“Lewat depan terlalu sepi” lanjut Budi.


“Gila lu mas. Mana ada jalan di situ?” komentar Zulfikar.


Budi tidak menjawab. Dia hanya tersenyum. Di dalam hati dia merasa geli, karena ternyata Zulfikar ini masih butuh banyak pengalaman lapangan.


“Kita ketemu di kucur” kata Budi.


“Inget! Jangan ada tindakan kecuali mereka nyerang duluan!” lanjut Budi.


“Siap” jawab Zulfikar mantap.


Merekapun berpisah. Budi langsung masuk ke semak-semak pinggir jalan, dan terlihat merosot dengan cepat.


Zulfikar sempat terkejut dan reflek turun dari motornya. Tapi sesaat kemudian dia menghela nafas lega, karena Budi terlihat mendarat di sebuah pohon.


Kemudian Budi melompat dari pohon ke pohon, lalu melompat ke sebuah tebing yang hampir tegak lurus. Dia memanjat tebing itu bagaikan atlit panjat tebing profesional. Dengan mudahnya dia bergeser ke kanan hingga menghilang dari pandangan Zulfikar.


“Nggak salah kalo kamu ditakutin, mas. Kalo tentara, minimal kamu udah masuk raider, mas” gumam Zulfikar.


Diapun teringat perintah Budi. Dengan gerakan wajar, dia melajukan motornya kembali ke arah kota.


Di rumah sakit, Aldo terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi. Budi yang dia lihat pergi ke arah depan rumah sakit belum kembali. Sedangkan dia sendiri tidak melihat sosok orang yang datang. Hanya mendengar suara sepatu perempuan.


“Budi nggak ngasih tahu kamu, Do?”


Bu Ratih yang memang tidak tidur, merasa kehilangan Budi juga.


“Enggak, bu” jawab Aldo.


“Masa iya dia nyamar menjadi perempuan, mas?” Madina juga unjuk pertanyaan.


“Aku juga bingung, Din” jawab Aldo.


“Di depan nggak ada?” tanya bu Ratih.


“Nggak ada, bu” jawab Aldo.


“Tapi tadi sih, sebelum bersiap tidur, Budi sempat ngobrol sama Zulfikar. Saya pikir mereka punya rencana, bu” lanjut Aldo.


“Ya Alloh. Berilah keselamatan buat anak hamba, ya Alloh” doa bu Ratih.


“Amin”


Aldo dan Madina mengaminkan doa dari bu Ratih.

__ADS_1


Di tempat lain, Budi masih memanjat dinding tebing curam. Angin laut malam ini cukup kencang, membuat ombak laut di bawahnya cukup tinggi. Sempat kakinya tersambar ombak saat dia melewati point yang cukup rendah.


“Ngapain kita disuruh jaga di sini?”


Saat akan naik ke ujung jalan di sebelah dermaga, Budi terkesiap oleh sebuah suara.


“Orang jalan buntu begini. Siapa yang bakal dateng dari sini” lanjut suara itu.


Budi meringis, merasakan tajamnya dinding tebing yang dia pijak saat ini. Tapi dia tetap diam tak bergerak.


“Iya, ya? Kalo pos jaganya si jambu sih, masuk akal, ya?”


Terdengar suara yang berbeda, tapi masih laki-laki juga.


“Ya udah. Ikut jambu aja, yuk! Enak banget dia, dikasih kopi segala macem”


“Yuk”


Tak lama kemudian, terdengar suara orang melangkahkan kaki, menjauh dari ujung jalan buntu. Budi menunggu beberapa saat.


Setelah tak terdengar lagi suara langkah kaki itu, Budi memanjat naik menuju jalan buntu. Dia menintip, memindai keadaan sekitar jalan itu. Dan tidak terlihat ada orang lagi. Budipun bergerak lagi. Saat dia menginjakkan kaki di sebuah tempat datar, tapi masih di tebing itu, dia sempat tertegun.


*Ya Alloh. Aku pernah menciumnya di sini*.


Budi teringat kencan pertamanya dengan Adel. Di cerukan inilah mereka pernah menghabiskan pagi di akhir pekan.


Haih, Bud. lu ke sini bukan buat napak tilas. Lu punya tujuan lain.


Budi mengintip lagi ke arah jalan buntu. Keadaan mengijinkannya untuk melanjutkan perjalanannya.


Diapun bergerak denganhati-hati. Dia menduga kalau tempat ketiga laki-laki tadi melakukantransaksi adalah di sebuah bangunan di sebelah tempat pelelangan ikan.


Karena terapit oleh sebuah bangunan lain di sebelahnya, dan kios-kios di depannya. Jadi bangunan itu seperti tersembunyi dari pandangan orang luar. Dan kesanalah dia menuju.


“Mereka udah di sana” gumam Budi.


Terlihat ketiga motor tadi sudah terparkir di depan tempat pelelangan ikan. Tapi Budi melihat ada beberapa satpam berjaga di pintu masuk. Ada juga yang mondar-mandir di dermaga di bawah jalan dimana Budi berada.


*Nggak mungkin mereka satpam dermaga. Apa yang dijaga? Orang kosongan, nggak ada yang berharga*.


Budi mencoba mencari celah keamanan yang bisa dia terobos. Dia merasa tidak mungkin masuk lewat depan. Ada tiga satpam di sana. Pilihannya kan lebih mudah kalau masuk lewat dermaga di bawahnya. Tapi dia masih harus masuk ke tempat pelelangan ikan, yang jaraknya lebih dari lima puluh meter.


*Dari cara dia jalan, satpam di bawah ini, kayaknya kurang gesit. Bisa nih, masuk dari sini*.


Budi mencari waktu yang tepat untuk turun. Juga mencari rute yang tepat untuk turun tanpa menimbulkan suara.


*Nah, itu batuannya nonjol-nonjol*


Budi bergeser mundur tiga meteran. Lalu bersiap turun ke jalur yang sudah dia pilih.


*Sip. Dia meleng*


Budi beranjak menuruni tebing saat satpam di dermaga di bawahnya berjalan menuju ke arah ujung dermaga. Point demi point dia turuni dengan hati-hati agar tidak bersuara. Sampai akhirnya sampai ke bawah. Tanpa membuang waktu, Budi berjalan ke arah satpam tadi.


*BAAKKK*


“Aak”


Tepat di bawah ujung jalan buntu, Budi memukul leher si satpam dengan tepian telapak tangan kanannya. Saking kerasnya pukulan Budi, satpam itu langsung pingsan seketika.


*Sreeeek*

__ADS_1


Budi menarik tubuh satpam itu ke pinggir dermaga, tepat di bawah ujung jalan buntu. Lalu dia melucuti seragam satpam yang dikenakan satpam itu. Dia pakai seragam itu untuk menyamar. Termasuk masker buff yang dipakai si satpam.


Si satpam itu oleh Budi diikat mulutnya dengan kaos dalam si satpam, agar tidak bisa berteriak kencang saat tersadar. Tangan dan kakinya juga Budi ikat dengan cable ties yang satpam itu bawa.


Setelah merasa aman, Budi mulai beranjak manuju tempat pelelangan ikan. Dia berjalan dengan agak tergesa-gesa.


“HOE”


Salah seorang satpam yang berpatroli di arah pintu masuk dermaga, berteriak menegurnya. Budi hanya menoleh.


“Mau kemana?” tanya satpam itu. Jarak dua puluh meteran membuat satpam itu setengah berteriak.


Budi tidak menjawab. Dia hanya memegangi perutnya dengan tangan kirinya, dan pantatnya dengan tangan kanannya. Mengisayaratkan kalau dia sedang mulas.


“Makanya jangan kemaruk! Mules, kan?” seru satpam yang menegur tadi.


Budi tidak menjawab. Dia hanya terus berjalan cepat menuju ke dalam tempat pelelangan ikan.


Sesuai dengan penyamarannya, Budi langsung menuju toilet. Sempat dia bertemu dengan ketiga orang laki-laki bermotor tadi. Dia hanya menganggukan kepalanya sekali, sebagai isyarat ijin melintas. Dia jua mengisaratkan kalau dirinya mulas, seperti sebelumnya.


Ketiga laki-laki tadi tidak merespon isyarat Budi. Tapi mereka juga tidak menahan langkah kakinya.


“Gimana, udah dapet?”


Saat Budi memasuki toilet, dia terkesiap mendengar suara wanita yang tidak asing lagi di telinganya.


“Mana?”


suara itu menggema lagi. Cukup merdu untuk modal menjadi penyanyi.


“Coba”


“Maaf mbak Natasya, perjanjiannya adalah dengan Iskander, bukan dengan mbak Natasya”


Salah satu dari ketiga laki-laki tadi menolak permintaan si wanita.


*Iskander? Sandi? Jadi orang itu suruhan Sandi? Astaghfirullohal’adzim*.


Budi geram mendengar callsign Sandi di sebut laki-laki itu. Dan Natasya sendiri, sudah pasti merujuk pada Sephia, kekasih Sandi.


“Oke. Kalo sampe salah ambil, kepala kalian taruhannya”


Suara Sephia kembali menggema setelah terjadi keheningan beberapa saat.


“Kami jamin, kami nggak salah ambil. Sesuai sama yang dicirikan Iskander” jawab laki-laki itu.


“Ya udah. Kita berangkat! Iskander udah merapat” perintah Sephia.


*Loh. Mereka akan transaksi di atas kapal? Aduh, gimana nih? Gimana gua mastiin Iskander itu beneran Sandi apa bukan*?


“Ajak satpam satu!” perintah Sephia lagi.


Tak ada jawaban. Tapi ada langkah kaki mendenati toilet dimana Budi berada.


*Dekk dekk dekk dekk dekk*


Terdengar suara gedoran pintu dari luar.


*Seeerrrrrr*


Budi reflek menyalakan air. Diapun mengguyurkan air ke wc, pura-pura cebok. Tak lama kemudian diapun keluar.

__ADS_1


“Ikut kita!” perintah orang yang menggedor pintu tadi. Budipun hanya mengangguk.


Dia mengekor pada lelaki itu. Dan kelimanya berjalan bersama menuju dermaga tengah. Budi berada di paling belakang, dengan tangan siap siaga di pentungan.


__ADS_2