Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
manuju panggung utama


__ADS_3

“Oke. Elang udah siap dengan piring kertas."


“Si badut udah main beberapa trik juggling, hadirin udah lumayan terpingkal-pingkal” info si Sephia.


“Apa kue tartnya siap dipotong?” tanya tim Garuda.


“Tunggu tiup lilin dulu, dong” jawab Sephia.


“Apa kita nyiapin lilin? Aku cuman bawa kembang api” tanya si Petir.


“Lilinnya udah ditiup. Siap buat main kembang api” jawab Sephia.


“Sounf balap, make some noice after fire works!” perintah Cobra.


“Siap” jawab Sephia.


“Kue tart masuk bareng piring kertas!”


“Oke”


“Petir?” panggil si Cobra.


“Ya” sahut si Petir.


“Nyalain kembang api!” perintah si Cobra.


“Oke” jawab si Petir.


*Thesss*



*Praaakk*


“AAAAA”


Terdengar teriakan kesakitan dari dalam pagar.


“Hadirin berseru kegirangan” lapor si Petir.


“Move!” perintah si Cobra.


Sontak mereka semua bergerak keluar dari persembunyian. Sedari tadi mereka sudah bersiap di sekitar rumah besar tempat si Bejo bersembunyi. Rumah yang menjadi jalan menuju ruang bawah tanah, tempat si Moreno memproduksi narkoba.


Dengan bergotong royong, mereka saling membantu menaiki pagar tembok yang mencapai ketinggian tiga meter.


Si Cobra dan dua anggota densus delapan-delapan adalah yang pertama menaiki pagar tembok itu. Dengan cepat mereka memotong kawat berduri dan membengkokkan besi-besi tajam di puncak pagar tembok itu.


Beberapa kali si Petir memberikan tembakan single, sebagai perlindungan untuk mereka. dua tembakan kembang api juga dilepaskan lagi oleh si Petir selama mereka merangkak naik. Sehingga, saat mereka sampai di balik pagar, sudah tiga puluh orang terkapar terkena peluru kembang apinya si Petir.


*Darr darr darr darr*



*Breeeeetttt*


Mereka langsung terlibat kontak senjata dengan para prajurit yang berjaga di dalam tembok. Tim Garuda, Elang dan alap-alap masuk melalui tiga sisi berbeda. Elang dari sebelah kiri, garuda dari arah belakang, dan alap-alap dari arah kanan.


Tim elang dan garuda, fokus menghajar barak prajurit yang ada di sisi kiri belakang halaman rumah besar si Bejo.


Tembok pagar belakang rumah ini berjarak tak kurang dari seratus meter dari rumah induk. Masih tersisa cukup luas, sekalipun sudah ada barak prajurit yang hampir sebesar rumah utamanya. Sehingga butuh usaha maksimal bagi mereka untuk bisa mendekat dan menghajar prajurit bayaran di sekitaran barak.


Dari sini, Budi jadi bisa melihat, siapa Erika sebenarnya. Wanita yang sangat fokus, dan kelincahannya tak kalah dengan si Cobra. Hampir di setiap peluru yang dia tembakkan, selalu mengenai sasaran.


Di sisi berseberangan, Erika juga melihat hal yang sama. Dia merasa takjub dengan kemampuan Budi memainkan senapan serbu di tangannya.


Seperti seorang prajurit terlatih saja, Budi bisa menghajar sasarannya dengan tepat dengan berbagai macam situasi. Dan Budi seperti sudah menyatu dengan si Cobra.


Dia paham bahasa isyarat yang dipakai di kesatuan militer, termasuk yang digunakan juga di kepolisian.

__ADS_1


“Sound balap masuk lokasi. Panggungnya sudah terlihat” Terdengar suara Sephia memberikan laporan.


“Oke. Piring kertas bersiap masuk” jawab si Cobra.


“Kue tart, stand by!” perintah si Cobra.


“Oke. Buat motong kue jangan lupa!” terdengar suara Nungki menjawab.


*Darr darr darr darr*



*Darr*


“AWW”


“KA?”


Erika melayang diterjang sebutir peluru. Dia mendarat tak jauh dari Budi. Sontak Budi menariknya ke dekat pohon taman.


“Ka. Kamu nggak papa?” tanya Budi.


Erika menggeliat sambil meringis. Tak ada noda darah yang terlihat di badannya.


“Nggak papa, mas. Alhamdulillah, pas di rompi” jawab Erika.


“Oke. Kita masuk” ajak Budi.


Erikapun segera berdiri dan ikut Budi berlari menuju rumah utama. Mereka saling melindungi dari tiga arah berbeda.


*Praakk*


“Aww”


Erika terkejut dengan suara keras di depannya. Dia yang paling depan, tadinya sedang fokus menghajar musuh di kirinya. Ternyata di depannya ada juga. Beruntung si Petir memberikan tembakan perlindungan untuknya. Pecah kepala musuh di depannya diterjang peluru sniper.


“Makasih, Petir” kata Erika.


Mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah utama. Di sekitar kolam, mereka menjumpai beberapa orang yang dibawa Zulfikar sudah tergeletak tak bernyawa. Tapi dimana Zulfikar, mereka belum melihatnya.


*Berrrrrrt*


“Aww”


Erika berteriak lagi. Kali ini karena ditarik Budi. Hampir saja dia dihajar senapan yang menyalak dari tempat yang tidak terlihat.


*Bberrrrtttt*


Mereka terpaksa bersembunyi dulu di bawah gazebo kayu. Mereka bertiarap berdampingan.


“Petir. Satu benteng mesti dirobohin” kata si Cobra lirih.


“Untung-untungan, bos. Nggak keliatan” jawab si Petir.


“Coba aja!”


“Oke”


Tak ada suara dari si Petir lagi. Sedangkan senapan mesin berat itu masih terus memuntahkan pelurunya secara membabi-buta.


*Pratak*



*Prangg*


“AAA”


Terdengar suara kayu berderak dan kaca pecah. Disusul suara teriakan seseorang. Si Cobra mengeluarkan night vision googlenya.

__ADS_1


“Nice shot dude” puji si Cobra. Pujian sekaligus konfirmasi, kalau tembakan si Petir mengenai sasaran.


“Wow. New record, bos” sahut si Petir.


Budi dan Erika mengikuti si Cobra memakai NVG. Dan mereka bersiap untuk keluar dari bawah gazebo.


*Darr*



*Darrr darrr*


Erika dan Budi memberikan tembakan perlindungan saat si Cobra keluar. Begitupun saat Erika keluar, Budi dan si Cobra melindunginya. Termasuk kepada Budi. mereka terus kontak senjata dengan para prajurit bayaran sembari terus bergerak maju memasuki rumah utama.


Bisa masuk ke rumah utama bukan berarti kontak senjata berakhir. Di sini justru tak kalah gencarnya. Tim alap-alap saja sampai terpencar, karena para prajurit bayaran di dalam rumah ini, seperti sudah sangat lihat memanfaatkan setiap ruangan yang ada.


Melihat pasukan musuh yang seakan tiada habisnya, mereka menduga, ada pasukan dari bawah tanah yang dikirim ke atas lewat lift khusus di dalam rumah ini.


“Garuda masuk!” perintah si Cobra.


Dia terpaksa memanggil tim Garuda, karena dia merasa, percuma saja meladeni musuh yang tiada habisnya. Harus ada yang menahan, dan ada yang merangsek masuk.


“OTW” jawab si Nungki.


Tak seberapa lama kemudian, terdengar tembakan dari arah pintu belakang. Ya, merekalah tim Garuda. Nungki dan dua teman dari densus delapan-delapan, juga Isma datang membantu.


“Elang, maju!” seru si Nungki.


“Oke” jawab si Cobra.


“Kalian lurus aja! Panggungnya kamar ke dua, di sebelah kanan” kata Sephia.


“Copied” sahut si Cobra.


Merekapun terus bergerak maju sembari terus menembak. Banyaknya musuh yang datang dari arah depan, membuat mereka yakin, kalau tebakan mereka benar.


“Gator, kubik tembaga apa kabar?” tanya si Cobra di sela-sela menembak.


“Masih banyak hadirin bersiap makan malam. Hind belum sampe”


“Oh my god”


“Appetizer udah aku siapin, tinggal menghidangkan. Gimana pesta kalian?”


“Meriah”


“Apa udah siap makan malam?”


“Tunggu! Bentar lagi”


Dengan bersusah payah, si Cobra, Budi dan Erika akhirnya bisa masuk ke dalam kamar utama. Kamar yang di dalamnya terdapat lift untuk turun ke ruang bawah tanah.


Di dalam kamar itu, mereka masih juga disambut dengan tembakan gencar. Membuat kamar itu tak ubahnya neraka, dengan kontak senjata jarak sangat dekat.


Tapi dengan kegigihan ditambah kecerdikan mereka, dibumbui pengalaman pertempuran nyata si Cobra, perlahan-lahan mereka bisa menghabisi setiap musuh yang muncul dari bawah tanah.


“Kalian nggak papa?” tanya si Cobra.


“Nggak papa” jawab Budi.


“Aku juga nggak papa” kata Erika.


“Oke. Kita turun” ajak si Cobra.


“Mau minum?” tawar si Cobra pada Erika.


“Aku punya” jawab Erika.


Sambil memasuki lift yang kebetulan masih terbuka, Erika meminum beberapa teguk air bawaannya. Sedangkan Budi masih bersiaga, sama seperti si Cobra.

__ADS_1


Darah yang mengalir dari pelipisnya, tidak dia seka sama sekali. Bahkan mungkin lukanya itu tidak dia rasakan. Tak sampai satu menit, lift yang mereka tumpangi sudah sampai dasar.


__ADS_2