Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
permintaan terakhir Erika


__ADS_3

Hanya satu jam, Erika disemayamkan di rumah bu Lusi. Dan akhirnya, jenazah Erika diantar menuju tempat peristirahatan terakhirnya.


Lagi-lagi Budi tak mau jauh dari kekasihnya itu. Ada bu Lusi, Adel dan juga Madina di mobil yang sama. Dengan kawalan personil kepolisian, mereka bergerak menuju taman makam pahlawan.


Upacara militer diadakan untuk melepas Erika. Dan Budi masih harus dipegangi si Cobra dan Hind agar bisa berdiri tegak. Dan tangisnya kembali pecah, saat peti mati berisi jenazah kekasihnya itu diturunkan ke liang lahat.


Budi, masih tidak mau beranjak, sekalipun upacara pemakaman telah selesai dilangsungkan. Dia masih ingin terus bersama Erika. Dia merasa belum siap untuk berpisah.


Cukup lama dia tidak bergeming, sekalipun sudah sekian banyak orang menghibur dan membujuknya. Ketika dia diingatkan akan sholat asar yang belum ditunaikannya, barulah dia mau untuk beranjak.


Atas permintaan dari kepolisian, dua keluarga dan semua yang terlibat atas peristiwa kemarin, masih harus berada dalam satu tempat tinggal, sampai pihak kepolisian menyatakan aman untuk berpisah. Dan bu Lusi mengajak semuanya untuk tinggal di rumahnya. Dan begitulah, mereka kembali ke rumah bu Lusi.


Madina dan Adel mengambil alih peran ibunya sebagai tuan rumah. Dia membagi ruangan yang terbatas itu untuk semua tamunya. Dibantu bu Ratih, mereka menyiapkan segala keperluannya


. Tentunya Fitri dan Stevani tak tinggal diam. Walau masih menggunakan kursi roda, rupanya Stevani sudah bisa membantu memasak air untuk membuat minuman hangat.


Adel sempat terkejut saat Isma datang membantu. Ada rasa takut juga dalam hatinya, melihat sosok Isma yang sekarang jauh berbeda dengan yang dia temui di persidangan dulu.


Namun Isma hanya tersenyum melihat ketakutan di wajah Adel. Dia meminta Adel untuk tidak takut padanya, karena semuanya sudah ada yang mengatur. Walau belum paham maksudnya, tapi Adel mengiyakan saja.


Budi masih belum beranjak dari dzikirnya. Dia masih ingin menumpahkan kesedihannya di hadapan Tuhannya. Dia tak bergeming saat dibujuk untuk makan. Tak ada lapar yang dia rasakan. Hanya rasa sakit, yang lebih sakit dari luka di sekujur tubuhnya.


Semua orang prihatin atas kesedihan Budi. Dia hanya beranjak untuk sholat maghrib dan isya. Lalu kembali lagi menumpahkan kesedihan dengan membaca surat yasin berulang-ulang. Tahlilan dengan tetangga saja tidak dia ikuti, saking sedihnya dia.


Saat yang lain belum berhasil membujuk Budi untuk makan, Adel mencoba peruntungannya. Dia mendekati Budi, tapi tak langsung menyapanya. Dia hanya duduk bersimpuh di sebelahnya. Kontan saja tindakan aneh Adel menyita perhatiannya. Budi menoleh padanya. Adel sempat bingung, apa yang mesti dia katakan.


“Eeem. Besok Adel mau Ziarah. Mas ikut, ya?” kata Adel lirih, membuka percakapan. Budi hanya menganggukkan kepalanya.


“Tetep sehat ya, mas!” lanjut Adel. Budi tertarik akan kalimat itu. Dia menunggu kelanjutannya.


“Mbak Rika, pasti butuh doa dari mas Budi untuk waktu yang lama” lanjut Erika lagi.


Budi terkesiap. Dia seperti baru tersadar, benar apa yang dikatakan Adel. Dia harus tetap sehat. Dan sehat itu tidak mungkin diperoleh kalau dia tidak makan.


“Tolong panggilin si Cobra, Del!” pinta Budi. Adel paham maksud Budi.


“Mereka semua udah pulang, mas. Tinggal kita” jawab Adel.

__ADS_1


“Hem?”


Budi bingung dengan jawaban Adel. Dia yang menempati kamar tamu, melongok keluar.


“Cobra cs pulang, Isma dan Nungki juga pulang, termasuk kang Sukron cs. bener-bener tinggal kita, mas” kata Adel menjelaskan.


“Ya Alloh, kok pada nggak bilang, sih?” keluh Budi lirih. Dia mencoba untuk berdiri.


“Mas, jangan maksa dulu! Adel ambilin makan,ya?” seru Adel.


Berhadapan dengan tuan rumah, membuat Budi tidak enak hati kalau terus menurutkan kesedihannya. Dia menganggukkan kepalanya, seraya kembali duduk. Adel keluar kamar tamu untuk mengambil makanan.


“AAAAA”


Terdengar suara teriakan dari arah belakang rumah. sontak semua orang tergopoh-gopoh ke belakang. Termasuk juga dengan Budi. Walau kakinya masih terasa lemah dan harus merayap di dinding.


“Kertas apa itu, dek?”


Terdengar suara Adel bertanya. Saat Budi sampai di tempat mencuci baju, terlihat Madina sedang terduduk ketakutan. Matanya seperti mengintip dari balik jemari yang menutupi wajahnya. Adel dan yang lain juga belum berani untuk mengambil kertas putih dengan bercak merah itu.


“Budi”


“Tolong ambilin kertas itu, Do!” pinta Budi lirih.


Melihat kertas itu, ingatan Budi langsung kembali tertuju di momen Erika sekarat. Tubuhnya lemas dan terasa sakit semua, karena dia ingat karena apa Erika bisa gugur.


“Kita ke ruang tengah, yuk!” ajak bu Lusi.


Bu Ratih, yang mengambilkan kertas itu setuju dengan usul bu Lusi. Semuanya beranjak menuju ruang tengah. Tanpa berani membuka, bu Ratih menyerahkan kertas itu pada putranya.


“Erika” gumam Budi lirih.


Budi memejamkan matanya. Gestur tubuhnya menggambarkan, seperti dia sedang menahan sakit.


“Ngger. Kamu nggak papa?” tegur bu Ratih.


Perlahan Budi membuka matanya. Kali ini dibarengi dengan gemeretak giginya. Tampak sekali dia sedang menahan emosinya.

__ADS_1


“Ngger?” bu Ratih bingung dengan arti tatapan mata Budi padanya.


“Kertas apa itu, Ngger? Kok kaya, “ bu Ratih tidak berani meneruskan kalimatnya.


Budi menganggukkan kepalanya. Dia sudah bisa menebak, apa kelanjutan kalimat ibunya itu. Perlahan, dia membuka kertas putih dengan bercak darah itu. Sebuah surat dengan tulisan tangan Erika.


*Assalamu’alaikum*.


Apa kabar, mas? Aku harap mas baik-baik aja.


Mungkin, saat mas baca surat ini, itu artinya, aku udah nggak berada di samping mas lagi. yang artinya aku gagal menepati janjiku, untuk jadi pendamping mas Budi.


“Erikaaaa”


Budi tak kuasa membendung air matanya. Dia menangis sejadi-jadinya, tanpa peduli ada siapa saja di sekitarnya. Bu Ratih memeluknya dari samping.


“Yang tabah, ngger! Yang iklas!” hibur bu Ratih.


Dengan surat ini, aku ingin mengatakan sama mas Budi, purna sudah tugasku menjaga mas Budi sekeluarga dari si Bejo CS. Aku pamit undur diri.


Tapi sebelum pamit, ijinkan aku meminta satu hal sama mas Budi. Semoga mas Budi tidak keberatan dengan permintaanku ini.


Menikahlah dengan Adel, mas! Menikahlah dengan adikku!


“Ka?”


Aku baru akan tenang dan lega, kalau mas Budi menikahnya dengan adikku. Hanya pada Adel aku ikhlas menitipkan cinta di hatiku untukmu, mas. Aku belum bisa ikhlas kalau harus melepas mas untuk bersanding dengan yang lain. Hanya Adel, hanya dengan Adel aku ikhlas melepas mas. Aku sangat berharap, mas Budi bisa mengabulkan permintaan terakhirku ini.


Assalamu’alaikum.


Dari kekasih, yang selalu mencintaimu,


Erika Tungga Dewi


“Erikaaa”


Kertas itu terlepas dari tangan Budi, seiring dengan tangisnya yang kembali pecah. Bu Ratih meraih kertas itu dan membaca isinya. Dia lantas menatap Adel. Adel bingung mendapat tatapan dari bu Ratih.

__ADS_1


Surat itu bu Ratih berikan ke bu Lusi untuk dibaca. Dan bu Lusi seperti terkejut dan ikut menangis setelah membaca isinya. Adel yang penasaran, mengambil surat itu dari tangan ibunya. Dia sendiri terkejut membaca isinya. Air matanya tak bisa dia bendung, seiring mulutnya yang ternganga.


__ADS_2