Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
siapa sih sebenernya?


__ADS_3

Sepeninggal polwan tadi, Adel kembali berurai air mata. Hatinya sangat terpukul mengetahui kalau ternyata Luki hanya memanfaatkannya. Dalam hati dia ingin teriak dan mengadu pada bapaknya, tapi itu tidak mungkin. Andai bapaknya tahu, pasti bapaknya akan bertindak brutal pada Luki. Begitu pikirnya.


Di tempat berbeda, Budi baru saja tiba di Rumah sakit, setelah mengantarkan Erika pulang. Pikirannya kembali kalut setelah bertemu dengan papanya Erika. Ingatan tentang foto yang ditunjukkan Fatoni itu sangat mengganggunya.


Tapi foto tentang bos Daniel, ternyata tidak seperti yang sekarang terungkap. Bisa jadi saat itu Fatoni hanya mengetesnya saja, dengan menunjukkan foto papanya Erika, kemudian dia sebut sebagai bos Bejo.


“Assalamu’alaikum” sapa Budi, saat masuk ruang rawat Putri.


“Wa’alaikum salam”


Tersisa Putri dan Zulfikar saja. tidak ada ibunya. Hal itu membuat Budi bertanya-tanya.


“Ibu kemana?” tanya Budi.


“Ibu nengokin bu Lusi, mas. Dianterin pak Paul” jawab Putri.


“Oh” respon Budi singkat.


“Gimana kondisi bu Lusi, mas? Udah siuman?” Putri ganti bertanya.


“Alhamdulillah, udah”


“Terus?”


“Ya sedih, lah”


“Dirawat inap, mas?”


“Iya. Tadi Hanin aku suruh bantu di sana”


“Oh. Iya. Sebaiknya gitu” komentar Putri.


Suasana berubah menjadi hening. Budi kembali tenggelam dalam pikirannya. Kali ini keadaan Adel yang jadi perhatiannya. Dia tidak punya teman di daerah tempat Adel berada sekarang.


“Mas”


Suara Zulfikar mengejutkannya. Tampak Zulfikar ingin menyampaikan sesuatu.


“Kenapa, Zul?” respon Budi.


“Maaf, mas. Malam ini, jadwalku piket. Sudah ada tugas dari kantor”


“Oh. Iya. Oke. udah makan?”


“Udah, mas”


“Ya udah. Biar aku yang nemenin Putri. Jalankan tugasmu!”


“Ijin berangkat ya, mas” pamit Zulfikar.


“Oke. Makasih. Ati-ati kerjanya!”


“Aku kerja dulu ya, Put” pamit Zulfikar pada Putri.


“Ati-ati ya, mas!” jawab Putri sambil salim”


“Oh ya, Zul” seru Budi, saat Zulfikar hendak mengucapkan salam.


Budi memberi isyarat untuk mengikutinya keluar dari kamar rawat. Zulfikar tidak segera mengikuti. Dia sempat menatap kekasihnya terlebih dahulu. Putri sama bingungnya dengan dia. Tak mendapat jawaban, Zulfikar memutuskan untuk mengikuti Budi.


“Ada apa, mas?” tanya Zulfikar lirih, setelah berada di luar kamar rawat.


“Bos Daniel” jawab Budi.


“Bos Daniel? Ada info terbaru, mas?”


“Udah terkonfirmasi. Bos Daniel itu, adalah Luki”


“Hemm. Beneran naik pangkat, itu curut” komentar Zulfikar”


“Maksud lu?”

__ADS_1


“Ya, kalo si Luki udah ditindak, berarti mereka udah pegang bukti kuat keterlibatannya. Dan itu bisa menjadi kunci untuk bertindak lebih. Kemungkinan nangkep si Bejo sama yang lain makin terbuka, mas” jawab Zulfikar.


“Jadi lu udah tahu, kalo si Luki itu anggota sindikat itu?” tanya Budi kaget.


“Ya. Tapi baru setelah temuan narkoba di ikannya mas Eko. Setelah temuan itu, Fatoni langsung nyebarin info tentang Luki”


“Tapi foto yang ditunjukin ke gua, bukan si Luki” kata Budi lirih.


“Ha? Foto siapa? Bukan fotoku, kan?”


“Bukan. Gua nggak kenal. Tapi yang jelas bukan si Luki”


“Heem. Bisa jadi dia lagi ngetes mas Budi”


“Emang dia suka gitu, apa?”


“Yap. Ke Putri, dia nunjukin fotonya Erika”


“Erika?”


“Ya. Pancingan doang. Kan Erika pernah ikut Sandi”


Budi sempat merenung sejenak. Ada dua pertanyaan yang mengganjal pikirannya.


“Tunggu, tunggu! Gua mau nanya dua hal. Kalo foto yang ditunjukin Fatoni soal bos Daniel itu cuman buat ngetes, berarti foto yang dia bilang itu bos Bejo, ngetes juga dong?”


“Bisa jadi”


“Emang foto siapa, mas?” Zulfikar balik bertanya, dengan suara lirih.


“Pak Daud” jawab Budi, mengetes.


“Apa?” Zulfikar terkejut mendengar jawaban Budi.


“Makin sembarangan aja itu curut. Mentang-mentang bapak yang ngurusin kasusnya Sandi yang sebelumnya, ikut dijadiin bahan” komentar Zulfikar kesal.


“Jadi, menurutmu itu cuman ngetes, apa beneran?” tanya Budi.


“Nggak tahu, mas. Bingung, aku. Masa iya, bapak?” jawab Zulfikar kemudian.


“Kalo aku boleh ngomong soal kebiasaan dia, Fatoni itu jarang berbagi informasi sepenting itu, mas. Contohnya aja soal bos Daniel. Dia berbagi foto yang berbeda sama mas Budi. Dan kenyataannya, foto yang dia bagi sama kita-ita yang terbukti” lanjut Zulfikar.


“Jadi kamu mau bilang, kalo foto pak Daud, yang Fatoni bilang sebagai bos Bejo itu, ngetes doang?”


Lagi-lagi Zulfikar tidak segera menjawab. Dia merasa berat untuk bilang, iya. karena hanya akan terdengar membela bapaknya, di hadapan Budi.


“Udah, udah! Aku percaya, kok. Pak Daud bukan orang yang gila harta” kata Budi menanggapi keterdiaman Zulfikar.


“Aku berharap dia cuman ngetes, mas. Aku nggak tahu harus bilang apa kalo, kalo , “


“Sama. Aku juga nggak tahu harus bagaimana kalo Erika sampe terlibat sindikat itu”


Zulfikar menatap mata Budi dengan lekat. Tampak sekali dia bingung dengan ucapan Budi.


“Emang Erika kenapa, mas?”


“Dia kaget banget, waktu Madina bilang, kalo bos Daniel itu adalah Luki. Seolah-olah dia itu udah tahu banyak tentang kasus ini. Dan reaksinya itu, kaya orang yang kecolongan, gitu. Ya semacam aku ini. Aku tahunya, bos Daniel itu ya orang seperti di foto yang ditunjukin sama Fatoni. Tapi kenyataannya, bos Daniel itu, Luki. Paham, nggak?”


“Ya, ya” jawab Zulfikar.


“Menurut kamu, gimana?”


“Eem” Zulfikar tampak berpikir lagi.


“Aku pindah ke sini, Erika udah nggak di Tarantula lagi, mas. Dan dia juga bukan fokus pengawasan dari sat intel. Aku mesti nanya ke bapak buat menjawab pertanyaan itu, mas” jawab Zulfikar.


“Oke. Ati-ati!”


“Iya,mas”


“Jangan bilang Fatoni, kalo aku cerita soal ini!”

__ADS_1


“Ya pastinyalah, mas”


“Oke”


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


Zulfikar melangkah pergi dengan langkah yang kurang mantap. Sedangkan Budi masih memperhatikan kepergian Zulfikar.


*Langkahmu gontai, berarti kamu beneran kaget. Semoga itu beneran ekspresi kagetmu. Dan semoga Fatoni beneran cuman ngetes aku. Semoga bukan pak Respati, bos bejo itu*.


“Ngobrolin apa sih, mas? Serius amat” tanya Putri, setelah Budi masuk ke dalam ruang rawat lagi.


“Ngobrolin masa depan kalian” jawab Budi berbohong.


“Bukan soal mbak Salma, kan?”


“Salma? Enggak” jawab Budi pendek.


Budi langsung duduk di kursi di sebelah ranjang. Tanpa menghiraukan Putri, dia langsung bersedekap dan memejamkan matanya.


Dia mulai kepikiran peristiwa demi peristiwa, sejak Adel kenal dengan yang namanya Luki. Kecelakaan, kebakaran, pertumpahan darah di sana, apa semuanya ada hubungannya dengan Luki?


*Tapi untuk apa, repot-repot kaya begitu? Apa yang dia lihat dari bengkel kecil itu? Apa juga yang dia lihat dari Adel? Kenapa ngebet ngedapetin Adel? Ngedeketin Erika rasanya lebih masuk akal. Diam-diam Erika kombatan juga. Bahkan mungkin bisa maksa aku buat ikutan sindikat mereka dengan manfaatin Adel. Toh kenyataannya dia udah beraliansi sama si Sandi. Kalo kaya gini kan dia jadi ribet sendiri. Nggak logis gitu, loh. Apa yang dia liat dari bengkel itu*?



*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...


Budi terkejut mendengar ponselnya berdering. Dia juga terkejut mendapati adiknya sedang memperhatikannya dengan serius.


*Riki*?


“Halo, assalamu’alaikum” sapanya.


“Wa’alaikum salam, Bud” jawab Riki.


“Kenapa, Ki?” tanya Budi tanpa basa-basi.


“Sori Bud, ganggu. Tadi gua dikasih tahu Erika, bilangnya lu mau minta kupasan rotan. Berapa banyak, Bud?” jawab Riki.


*Lah. Uda gercep aja, dia*.



“Oh. Selembar aja. Buat simulasi doang, kok” jawab Budi, setengah berbohong.


“Emang lu punya prototype baru?”


“Baru desain, sih. Makanya mau simulasi dulu”


“Mau yang mana?”


“Yang murahn aja. Yang A1”


“Oh. Oke. Besok aku pisahin deh”


“Sip. Makasih ya, Ki”


“Ya udah. Gitu aja dulu, Bud. Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


*Tuuut*


“Huuufffttt”


Budi menggeletakkan begitu saja ponselnya di atas ranjang rawat Putri. Dia juga tidak peduli pada Putri, yang terus menatapnya penuh dengan tanda tanya. Dia memejamkan matanya lagi. Kini dia memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Dan dia sandarkan punggungnya ke belakang.


Putri tidak berani menegur. Di matanya, sangat terlihat kalau kakaknya sedang stres. Tapi stres karena apa, itu yang masih menjadi tanda tanya. Maksud hati ingin menunggu sampai kakaknya bicara, tapi apa daya, matanya sudah terlalu mengantuk. Tanpa dia sadari, diapun kini sudah terbang ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2