
Sore ini, bu Ratih pulang lebih awal. Hari ini bu Ratih mendapatkan rejeki lebih. Dia membeli mesin cuci dua tungku. Dimaksudkan agar tenaga Putri tidak terlalu terforsir untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Sehingga Putri bisa lebih fokus belajar dan mempersiapkan tugas Sekolahnya.
Tapi ide seperti itu tidak berlaku untuk Bu Kusno dan kroni-kroninya. Yang terbersit dalam benak dan pikiran mereka hanyalah perasaan tidak suka. Mereka langsung berkumpul dan sok bertanya-tanya disaat bu Ratih dan Putri sampai di rumah bersamaan dengan mobil bak pengangkut mesin cuci itu.
“Wuuss. Nggak ada Rouf, malah makin kaya aja lu” seru bu Kusno. Dia berdiri di jalan di depan rumah bu Ratih.
“Iya, bu. Baru juga kemarin masuk rumah sakit, sekarang udah beli mesin cuci. Duit dari mana tuh bu?” saut bu RT.
“Iya. Budi kan belum gajian lagi. Wah, pasti punya cemceman nih, si Ratih” sahut ibu-ibu di sebelahnya.
“Ya, dana bantuan, lah. Kan Budi dapet bantuan dari perusahaannya. Ya nggak, Tih?” sahut bu Kusno.
“Langsung bawa masuk aja, pak! Anak saya lagi nyiapain tempat” pinta bu Ratih pada karyawan toko yang membawakan mesin cucinya, tanpa menghiraukan bu Kusno.
“Baik bu” jawab kedua karyawan toko itu.
Bu Ratih lantas hendak pergi, mengikuti langkah kedua karyawan toko itu. Tapi mendadak ada yang menarik tangan kanannya, hingga tubuhnya tersentak kembali ke tempat semula.
“Hei, hei, hei. Mau kemana? Di sini aja! itu mesin cuci kan, udah ada yang urus. Kamu di sini aja dulu!” ledek bu Kusno.
Bu ratih diam saja tidak menjawab. Dia hanya berdiri, menatap mata bu Kusno dengan tatapan datar, tapi menunukkan keberanian. Sambil tangannya bersedekap.
“Harga berapa tih?” tanya bu RT. Bu Ratih tidak menjawab.
“Ya, cukuplah dengan sekali jalan sama bosnya Budi” sahut bu Kusno.
“Ow, bos yang mana bu?” tanya ibu-ibu yang satunya.
“Ih, kamu nggak gaul banget, sih. Itu, yang orangnya kaya bule”
“Oh, yang mobilnya BMW itu?”
“Itu. Orang kaya kan?”
“Oh, pantes. Eh ibu-ibu, dengerin nih, kabar terbaru! si Ratih punya gebetan baru, nih. Wuuh, orang kaya, ibu-ibu. Sekali kencan aja, mesin cuci keluar” kata ibu-ibu tadi berteriak menyebarkan fitnah.tapi dia tidak menyadari sesuatu.
“Jangan pada ngiri ya! besok kulkas dua pintu turun, nih” sahut Bu Kusno.
“Belum kalo udah gini”
*Plak plak plak*
Teman bu Kusno tadi menyatukan kedua telapak tangannya, lalu bagian belakangnya dia ketuk-ketukkan seperti bertepuk tangan, tapi dengan ujung jari masih menyatu. Sebuah simbol untuk adegan suami-istri.
“Turun apa lagi, Yuli?” tanya bu Kusno mengompori.
“Mobil, bu Kusno. Pasti ngasih mobil. Orang kaya”
“Ha ha ha ha”
Mereka tertawa lepas. Sama sekali mereka tidak menyadari sesuatu.
“Pssstt”
Terdengar seseorang memanggil dengan desisan. Sontak mereka berhenti tertawa. Yuli dan bu Kusno menoleh.
*PLAAAAKKKKK*
Sebuah tamparan keras mendarat tepat di bibir lemesnya. Saking kerasnya, Yuli sampai terpental, melayang di udara, dan mendarat beberapa meter ke belakang.
“Budi?”
*Pretak, kretak, kreeek*
Terdengar suara gemeretak dari tulang belulang Budi. Dia sengaja membuat suara itu, dan berjalan menghampiri Yuli. Ibu muda itu terlihat ketakutan melihat Budi menghampirinya.
“Bud, mau ngapain kamu?”
*WUUUSS*
“AAAA”
Bu Kusno memekik terkejut saat Budi memajukan kepalanya, seolah hendak mengadunya dengan kepala bu Kusno. Tapi itu tidak terjadi. Budi menghentikannya tepat beberapa mili dari jidat bu Kusno. Tatapannya tajam mengintimidasi Budenya itu.
“Bu RT, ayo lari, bu!” ajak Yuli. Mukanya kini bersimbah darah.
“Yul, bu Kusno, Yul”
“Lari, bu!”
Yuli sudah tidak peduli lagi dengan bu Kusno. Dia lari tunggang-langgang.
“Tunggu Yul!”
Bu RT juga lari, mengikuti langkah kaki Yuli. Menyisakan bu Kusno yang masih terdiam ketakutan.
Mata Budi memerah bagai kesurupan. Giginya gemeretak menahan amarah. Sekali lagi saja bu Kusno mengeluarkan hinaanya, tamat sudah riwayatnya.
“Udah, ngger! Ada pakdemu di sini” tegur Bu Ratih.
Untuk beberapa saat lamanya, Budi tidak mengindahkan teguran itu. Dia tidak menggeser wajanya barang semilipun.
“Ngger, udah!” tegur bu Ratih lagi.
Suaranya lirih, karena dia mendekat ke Budi. dan dia tarik perlahan lengan anaknya yang mengeras dan kaku itu.
“Pak, tolog aku, pak! Aku mau dicelakai Budi, pak”
Bu Kusno merengek minta pertolongan pada suaminya. Sedangkan pak Kusno sendiri hanya diam dan geleng-geleng kepala.
“Ngger!”
Sudah kali ke tiga, bu Ratih menegur anak sulungnya. Dan itu menjadi perhatian tersendiri bagi Budi. Dia mulai mundur perlahan, walau sama sekali tidak melepaskan tatapannya dari mata bu Kusno.
“Pak, istrimu mau celaka, kok diem aja?” tanya bu Kusno dengan nada kesal pada suaminya.
“Kalo masih pengen selamat, pulang! Dan jangan pernah bikin gara-gara sama Ratih lagi!” sahut pak Kusno.
“Kamu ini bener-bener, ya” komentar bu Kusno, geram. Suaranya lirih, karena masih ketakutan.
“Sekali lagi kamu bikin gara-gara sama Ratih, aku nggak akan pernah ngelarang Budi buat lakuin apapun yang dia mau”
“Kamu pengen liat istrimu celaka, pak? Ha?”
“Kamu sendiri yang nyari celaka”
“Bener, bener kamu, pak. Suami macem apa, kamu?”
“Kalo emang nggak suka, pulang aja ke gunung!” jawab pak Kusno.
Bu Kusno pergi dengan masih marah-marah. Sebagian warga yang melihat tertawa melihat akhir dari drama tadi. Bahkan ada yang menyorakinya. Membuat bu Kusno semakin mencak-mencak.
__ADS_1
“Kita ke rumah dulu, mas! Nggak enak diliatin warga” ajak bu Ratih.
“Ya” jawab pak Kusno setuju.
Di teras rumah, Putri terlihat berdiri sambil menahan tangis. Serta merta dia berlari menyongsong ibunya. Tangisnya pecah di pelukan ibunya.
“Mesin cuci ini kan dapet dari arisan, bu. Kenapa mereka bilang kaya gitu ya, Bu? Salah kita apa, sama mereka?” tanya Putri dalam tangisnya.
“Nggak ada, nggak ada yang salah, kok, sama kalian. Pakde yang salah” sahut pak Kusno.
Putri terkejut mendengar jawaban itu. tangisnya mendadak berhenti. Dia menatap bingung ke pakdenya itu.
“Pakde minta maf, ya. Budemu udah bikin fitnah kaya gitu. Putri boleh kok, nampar pakde. Sini!” lanjut pak Kusno.
Putri tertegun. Dia menoleh ke ibunya, meminta pendapat. Bu ratih menggeleng. Dia tidak setuju dengan apa yang dipikirkan Putri.
Putri lantas berlari, masuk ke dalam rumah.
Kedua karayawan toko yang membawa mesin cuci tadi kebingungan dengan drama yang mendadak muncul di dean mereka. seolah terjebak, mereka tidak bisa langsung pergi.
“Maaf, bu Ratih. Instalasinya sudah beres. Kita mau langsung pamit” kata salah satu dari mereka.
“Oh, astaghfirulloh, iya. saya buatkan teh dulu, ya!” tawar bu Ratih.
“Terimakasih, bu Ratih. Tapi masih ada yang mesti kita anterin lagi” jawab yang satunya.
“Oh, gitu ya? baik, makasih banget ya pak? Jazakumullohu khoir” kata bu Ratih.
“Amiin. Sama-sama bu Ratih” jawab mereka.
Merekapun langsung berjalan ke luar halaman. Lalu melajukan mobil mereka meninggalkan kampung ini.
Di dalam rumah, Budi masih terlihat sangat emosi. Tapi sekuat tenaga dia menahannya, demi rasa hormatnya kepada pakdenya.
Berkali-kali pak Kusno mengucapkan permintaan maaf. Dan Budi hanya memberikan anggukan saja. terlalu berat rasanya buatnya, menerima tuduhan bahwa ibu telah berkencan dengan seorang bos pabrik, hanya demi mendapatkan barang-barang remeh temeh. Yang pada kenyataannya, itu adalah buah dari jerih payah ibu selama setengah tahun terakhir.
Pak Kusno semakin merasa malu kepada keluarga adiknya ini. Demi menenangkan hati Budi, pak Kusno menjanjikan sekali lagi, apa yang telah dia janjikan kepada istrinya, tadi. Sekali lagi, Budi hanya mengangguk sambil memaksakan diri untuk tersenyum. Kemudian pak Kusno pamit untuk pulang.
Selepas kepergian pak Kusno, Budi langsung menutup pintu depan. Dia menghadap ibunya, lalu berjalan jongkok menuju tempat dimana ibunya duduk. Dia salami ibunya, dan dia cium tangannya.
Seperti saat lebaran idul fitri, dia menangis sejadi-jadinya di pangkuan ibunda tercintanya. Hatinya hancur, hatinya remuk melihat ibunya diperolok sampai sejelek itu.
Andaikan tadi itu pelakunya laki-laki, Budi sudah bersumpah dalam hati, akan membinasakan semua yang terlibat. Persetan dengan apa yang akan dia hadapi keesokan harinya.
“Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu... “
Ponsel Budi berdering. Menandakan ada panggilan masuk. Tapi Budi tidak mengindahkannya. Dia masih enggan untuk beranjak dari sungkemnya.
Bu Ratih tahu siapa yang menelepon, Adel. Tapi dia juga masih enggan untuk bergerak. Sekalipun dia mampu meraihnya. Dia juga masih larut dalam kesedihan. Dalam hati dia berkomentar, kalau menjadi janda, ternyata lebih banyak godaanya, daripada menjadi istri orang tak punya.
“Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu... “
Ponsel Budi berdering lagi. Masih dengan penelepon yang sama. Tapi Budi masih tidak peduli. Hatinya masih belum lega dari kemarahan tadi. Tapi berbeda dengan bu Ratih. Dia menjadi perhatian dengan ponsel yang tergeletak di meja itu. Barangkali ada yang penting dari Adel.
“Ngger, angkat dulu teleponnya! Siapa tahu penting” perintah bu Ratih.
Berselang dua detik, suara qiroatil qur’an dari masjid besar, terdengar berkumandang. Menandakan kalau waktu sholat magrib tak lebih dari setengah jam lagi. Budi tersadar, kalau dia harus segera bersiap untuk beribadah.
“Budi mandi dulu, Bu” kata Budi. Dia berdiri
dan langsung menuju belakang. Meninggalkan ponselnya di meja depan.
“Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu... “
Hawatir kalau ada yang penting, bu Ratih berinisiatif untuk mengankatnya. Jadi bisa disampaiakan ke Budi, kalau memang ada yang sangat penting.
“Abram sayang. Masih sibuk, ya? Sampe telepon tata dicuekin” sapa orang di seberang telepon.
*Abram? Tata? Inikan suara mbak Adel, kok bilangnya Tata*?
“Bram, sayang?” panggilnya lagi. Bu Ratih mendadak emosi.
“Kamu ngomong sama siapa?” tanya Bu Ratih dengan nada agak tinggi.
“Eh, Ibu” kata Adel kaget.
*TUUUT*
Sambungan telepon dimatikan oleh bu Ratih. Terlihat dia naik pitam, mendengar suara manja Adel, yang justru tidak menyebut nama Budi, anaknya.
*Dasar orang kaya, segitu gampangnya bersandiwara. Kemarin aja nangis-nangis, terharu. Seneng bisa jadian sama anakku. Sekarang dia malah manja-manjaan sama orang lain. Nggak nyadar, apa, yang dia telepon itu siapa? Dasar orang kaya. Setaaaaan*.
Bu Ratih pergi dari ruang tamu, dan langsung masuk ke dalam kamarnya.
*DAAAAARRR*
Dia membanting pintu kamarnya dengan sangat kencang. Membuat Putri terkejut. Begitu juga dengan Budi. Dia sampai keluar dari kamar mandi, hanya dengan berbalut handuk. Dia pergi ke ruang tengah, dimana suara keras tadi berasal.
“Ada apa, Put?” tanya Budi.
“Nggak tahu, mas. Tiba-tiba aja ibu ngebanting pintu” jawab Putri.
“Ada tamu, emang?”
“Nggak ada, kalo tamu, sih. Kalo telepon, kayaknya ada deh, barusan"
“Dari siapa?"
“Nggak tahu. Tapi kayaknya ibu ngangkat teleponnya mas Budi deh. Soalnya yang bunyi dari tadi tuh, hapenya mas Budi, bukan punya ibu”
*Tok tok tok*
“Bu. ini Putri sama Budi, bu. boleh kami masuk?” tanya Budi.Tak ada jawaban dari dalam kamar. Budi dan Putri saling memandang.
*Tok tok tok*
“Bu, kita masuk, ya?” tanya Budi. tak juga ada jawaban.
*Klek, krieeeett*
“Bu, ibu kenapa?” tanya Budi pelan.
Terlihat bu Ratih duduk di depan meja riasnya. Dengan wajah ditutupi tangan. Dia menangis.
“Bu?” tegur Budi. dia sentuh perlahan pundak ibunya.
“JANGAN DEKET-DEKET ADEL LAGI!” seru Bu Ratih dibarengi dengan tamparan keras ke meja riasnya. Membuat Budi dan Putri terkejut hebat.
“Ibu, sabar, bu! udah mau magrib. Istrighfar, bu!” pinta Budi pelan.
Dia kebingungan melihat mata ibunya di pantulan cermin rias. Sorot mata kemarahan yang belum pernah ibunya tampakkan sebelumnya.
__ADS_1
“Turuti kata ibu! Jangan dekati Adel lagi! Dia nggak baik buat kamu”
Kali ini bu Ratih berbalik arah, dan menatap langsung mata Budi. Budi seakan melihat cerminan dirinya sendiri di wajah ibunya.
Bukankah itu raut kemarahannya tadi? Tapi tadi dia marah karena ada yang menghina ibunya. Tapi raut itu ada di wajah ibunya. Apa yang telah membuatnya murka?
“Ibu, istighfar dulu, bu! udah mau maghrib. Banyak setan lewat. Redam dulu ibu, marahnya. Lanjutin nanti abis maghrib!” pinta Budi.
“Ibu belum pernah semarah ini, ngger. Sama sepertimu, ibu tidak masalah kalau ibu yang dihina. Tapi ibu sangat tidak terima, kalau anak-anak ibu yang dipermainkan hatinya” jawab Bu Ratih.
Budi belum mengerti apa yang dimaksud ibunya. Siapa yang mempermainkan hatinya? Kan dia sedang mandi. Selesai juga belum. Dia memandang ke arah Putri. Yang dia dapatkan justru ketakutan Putri atas kemarahan ibunya.
“Dia menelepon kamu, nyapa mesra dengan nada manja. Tapi yang dia sebut bukan nama kamu, ngger. Dia malah nyebut nama cowok lain” lanjut bu Ratih. Nadanya masih tinggi.
“Sebentar! Tadi Adel nelpon Budi, budi lagi mandi, ibu angkat teleponnya? Terus Adel nyapa manja, tapi nyebit nama cowok lain? Siapa yang dia sebut, bu?’"tanya Budi mengurutkan kronologi kejadiannya.
“Kenapa kamu masih pengen tahu nama yang dia sebut? Apa masih kurang penghinaan yang dia kasih sama kamu, ngger?” sentak bu Ratih penu emosi.
“Ya, darimana Budi bisa tahu benar dan salah, kalo masih ada pertanyaan yang belum terjawab?”
“BRAM. ABRAM. DIA NYEBUT NAMA ABRAM, NGGER. BUKAN BUDI” teriak bu Ratih. Kekesalannya benar-benar sudah memuncak.
“Allohu akbar, ibu” komentar Budi. dia tersenyum mendengar jawaban ibunya itu.
“Kamu udah kurang waras apa, ngger? Segitu tergila-gilanya kah, kamu sama dia? Sampe-sampe ibu udah sebut nama cowok itu, kau masih senyam-senyum, cengengas-cengenges” tanya ibunya masih kesal.
“Ibu, tenang dulu, bu. ibu salah paham” jawab Budi.
“Salah paham gimana? Apa kamu pikir kuping ibu udah budeg, ngger?”
“Bukan gitu, bu. Ibu duduk dulu, nggeh! Budi jelasin”
Budi memutar kursi pasangan meja rias ibunya. Dia posisilkan sedemikian rupa, agar ibunya bisa duduk dengan posisinya sekarang.
“Ibu...”
Budi mengawali penjelasannya dengan bersimpuh di depan kaki ibunya. Seperti saat di ruang tamu tadi.
“Nama itu, adalah panggilan sayang Adel untuk Budi” jawab Budi.
“Apa?” tanya bu Ratih kaget.
“Iya. jadi, kemarin itu, Budi sama Adel, lagi nyari panggilan sayang, yang berbeda dari kebanyakan orang. Kalo panggilan mas sama dik, kan udah biasa, bu. Adel pengen panggilan yang khusus. Tapi dianya sendiri belum punya ide. Ya udah, Budi ajuin aja ide Budi. Budi punya sepasang nama, yang belum pernah dipakai pasangan manapun. Nama itu, Abram dan Armata”
“Abram dan Armata?” tanya Bu Ratih.
“Iya. Abram itu, merujuk pada Budi. Nah, Armata, merujuk pada Adel. Karena ada tiga suku kata, Adel kerepotan. Makanya dia milih singkatan aja, Tata. Dan abram, disingkat jadi bram. Jadinya, Bram dan Tata. Bram itu, mas. Ta itu, dek. Abram itu, kangmas. Armata itu, adek”
“Astaghfirulloh, ngger” seru bu Ratih.
Dia menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. Dia merasa malu telah berburuk sangka kepada Adel, tanpa bertanya terlebih dahulu.
Untuk beberapa saat lamanya, bu raih menangis. Dia merasa berdosa telah menjatuhkan tuduhan berat tak berdasar. Dan tuduhan itu salah besar.
“Tolong teleponin mbak Adel, dong! Ibu mau minta maaf” pinta bu Ratih.
Tepat saat Budi hendak mengambil ponselnya, Adel menelepon lagi. Langsung dia berikan ponselnya pada ibunya.
Dan terjadilah perbincangan saling meminta maaf. Dengan bercucuran air mata, bu Ratih mengakui kesalahannya, dan berkali-kali meminta maaf pada Adel.
Di sisi lain, Adel juga sama. Dia juga menangis. Dia masih ketakutan karena kaget, mendengar kemarahan bu Ratih yang buatnya itu mengerikan.
Pada akhirnya, keduanya sama-sama saling memaafkan. Sempat mereka akhirnya tertawa menyadari kehilafan mereka. Yang salah paham gara-gara panggilan sayang yang belum diberitahukan secara resmi.
“Bram” panggil Adel, setelah Budi memisahkan diri dari ibu dan adiknya.
“Ya, kenapa, ta?” tanya Budi.
“Sumpah, kakiku masih bergetar, bram. Masih berasa takutnya”
“Allohu Akbar. Calon menantu idaman, ini sih” goda Budi.
“Alhamdulillah, amin” komentar Adel.
“Oh ya, bram. Malam ini, kamu ada acara, nggak?” lanjut Adel.
“Em, belum, sih. Tapi kamu perform kan, entar?”
“Iya. justru itu, tadi itu, tata nelpon, karena mau minta tolong sama abram”
“Oh, ada apa?”
“Motor tata rusak, bram”
“Loh, kok bisa? Tata abis jatuh?” tanya Budi cemas.
“Enggak. Abis dipake sodara. Jatuh ke sawah. Mati mesinnya. Belum kelar dibenerin”
“Ya Alloh, orangnya gimana itu?”
“Ya nggak papa, sih. Cuman mandi lumpur aja. Ha ha”
“Alhamdulillah. Syukur kalo nggak papa. Terus, mau dianterin jam berapa?” tanya Budi langsung pada inti.
“Jam tujuh, bram. Bisa nggak?”
“Insya Alloh, bisa”
“Alhamdulillah. Makasih ya, bram”
“Iya, sama-sama. Udah, jangan takut gitu dong!”
“Sumpah, belum pernah tata takut kaya gini, bram”
“Takut nggak jadi diambil mantu ya?”
“Iya. He he”
“Ya udah, abram mau lanjut mandi. Bentar lagi maghrib” pamit budi.
“Loh, lanjut? Maksudnya?”
“Ya tadi kan abram lagi mandi. Terus kaget denger ibu banting pintu. Ya abram keluar”
“Pake handuk doang?”
“Iya, lah. Makanya, nggak enak ini, menggantung bebas nggak ada yang megangin. He he”
“Sini, tata pegangin!” goda Adel.
“Mauuu”
__ADS_1
“Huu, ngarep. Belum waktunya, abram” jawab Adel.
Akhirnya mereka mengahiri percakapan mereka. Dan Budi, kembali melanjutkan acara mandi sorenya.