Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
adel sempat gelap mata


__ADS_3

Adel yang sedang risau, karena panggilannya tidak kunjung mendapatkan jawaban, teralihkan perhatiannya. Di bawah, di ruang tamu, terdengar ada tawa khas dari orang yang sangat dia kenal. Terdengar seru perbincangan di bawah sana. Adel lantas keluar dari kamarnya, dan berjalan menyusuri anak tangga, turun ke lantai bawah.


“Seru banget. Ngobrolin apaan, sih?” tanya Adel.


“Kepo, deh” jawab si tamu.


“Mbak Tati mau teh?” tanya Madina. Dia yang sedang asyik membaca novel di ruang tamu, ikut bicara.


“Nggak usah, makasih” jawab Tati.


“Ya udah, ke atas, yuk!” ajak Adel.


“Ke atas? Kan kita ada jadwal latihan, Del. Di jemput, kok malah ngajak ke atas” jawab Tati.


“Astaghfirulloh, iya. Lupa aku, Ti” sahut Adel sambil menepuk jidatnya.


“Ya udah, tunggu, ya!” pinta Adel.


“Nggak usah!” pak Fajar berseru, mengejutkan semua orang. Adelpun sampai balik badan.


“Nggak usah nyanyi-nyanyi lagi, kamu! Mendingan kamu siap-siap buat nikah sama Luki. Nggak lama lagi Luki akan segera ngelamar kamu” lanjut pak Fajar.


“Loh, nggak bisa gitu dong, pak. Adel masih punya banyak kontrak yang mesti Adel penuhin” Tolak Adel.


“Persetan sama kontrak” sergah pak Fajar. Nada suaranya jauh meninggi. Adel terhenyak.


“Kamu udah ngeruntuhin rasa percaya yang udah bapak kasih buat kamu. Kamu bilang mau ke rumah Tati, nyatanya kamu nyamperin tukang ojek sialan itu. Kontrak-kontrak itu pasti cuman alibi kamu doang kan? Biar kamu bebas ketemu sama tukang ojek kepar** itu. kamu siapin diri aja buat nikah! Biar kontrak-kontrak kamu, Luki yang urus” lanjut pak Fajar.


Adel tidak menjawab. Beberapa saat lamanya dia memandang bapaknya sambil mengernyitkan keningnya. Dari sekian banyak kata-kata dalam kemarahan bapaknya, dia merasa baru kali ini terasa sangat tajam menusuk hatinya. Dia hanya menghela nafas berat. Dia melihat ke arah ibunya. Bu Lusi hanya terdiam. Dia tidak tahu harus berkomentar apa.


“Ya udah, Adel ke atas, ya?” kata Adel.


“Hem?”


Tati merasa ada yang aneh dari jawaban Adel. Dia merasa tidak biasanya Adel menyerah secepat itu. biasanya dia lebih senang berdebat, apalagi kalau mengenai prinsipnya. Dia menatap penuh tanya kepada sahabatnya itu. Dia berikan seulas senyum, walau matanya berkaca-kaca. Dia tepuk pundak Tati dua kali sebelum kembali ke lantai atas.


“Nduk, tolong sampaikan ke mas Diki, kalo Adel nggak bisa lagi ikutan campursari! Juga semua kegiatan yang berelasi dengan itu. Mengenai kontraknya, nanti bapak yang urus” kata pak Fajar kepada Tati. Tati tidak segera menjawab. Sejenak dia mendongakkan kepalanya.


*Kok nggak ada suara bantingan pintu? Biasanya Adel paling marah kalo prinsipnya dimasalahin. Sekalipun yang masalahin itu orang tuanya sendiri. Aneh banget. Segampang itu dia nyerah. Kaya udah putus asa aja*.


Tati memandang bu Lusi dengan mata melebar.


*Putus asa*?


Tanpa menjawab pertanyaan pak Fajar, Tati langsung pergi ke arah tangga. Setengah berlari dia menaiki tangga itu.


“Kenapa?” tanya pak Fajar.


“Nggak tahu?” jawab bu Lusi.


Bu Lusi juga beranjak mengikuti langkah Tati. Walau bertanya-tanya, tapi pak Fajar tidak ikut naik ke kamar anaknya. Dia malah pergi ke bengkel kayunya.


“Del, lu apa-apaan sih?” seru Tati.


Serta-merta dia merebut sebuah gelas berisi cairan yang berwarna putih pekat seperti susu. Aroma yang keluar dari gelas itu, sama sekali tidak mencirikan kalau itu adalah susu. Malah identik dengan pembasmi nyamuk.


“Aku nggak mau jadi anak durhaka, Ti. Kalo emang bapak nggak mau aku nyanyi lagi, ya mau gimana lagi?” jawab Adel. Dia mengulurkan tangannya, hendak megambil lagi gelas itu.


“Ya tapi bunuh diri juga lebih dosa, Adel. Bego banget jadi orang” kata Tati.


Dia menahan gelas itu agar tidak bisa direbut Adel kembali. Tapi Adel juga tidak mau kalah. Dengan wajah yang menyiratkan ketidak sukaan tehadap sahabatnya itu, dia berusaha merebut gelas itu dengan kasarnya. Yang pada akhirnya berhasil dia rebut.


“ADEL”


Tati memekik, melihat Adel memutar badan, berjalan menjauh dan hendak meminum cairan itu. segera saja dia melangkah mendahului Adel.


*PLAAKK*



*TAAARRR*


Tati menampar gelas itu dengan kerasnya. Adel sempat terhuyung-huyung, karena wajahnya juga ikut tertampar tangan Tati. Dan gelas yang dipegang Adel, terlepas dari tangan Adel. Melayang dan jatuh ke lantai, hancur berkeping-keping.


“Nduk, kamu nggak papa?”


Bu Lusi yang sedari tadi terpaku di depan pintu, kini berlari mendekati Adel, lalu memeluknya. Menyadari kalau tubuhnya dipeluk erat oleh ibunya, Adel menangis dengan kerasnya.


Banyak kata yang ingin dia ungkapkan, tapi menurutnya terlalu banyak untuk bisa diperdengarkan seluruhnya.


Bu Lusi tetap memeluk Putri sulungnya dengan erat, sembari mengelus-elus punggungnya dengan lembut. Sekalipun Adel menangis seperti anak kecil. Cukup lama dia menangis, menumpahkan semua kepedihan hatinya.


***>>>


Mentari sudah tertutup gagahnya perbukitan di sebelah barat. Sinarnya yang tadi begitu terik dan terangnya, kini sudah meredup. Membuat hawa di halaman depan rumah Budi terasa sejuk.


Tuan rumah dan ketiga orang suruhan Adel itu sudah beristirahat menikmati semilirnya angin sore. Walau masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan, tapi buat Budi, yang sudah tercapai saat ini sudah lebih dari cukup.


Pelataran depan sudah bersih dari lumpur, sudah bisa dipakai untuk parkir motor. Bahkan sudah diuji coba juga oleh Putri. Dan dia senang, merasa tidak ada kesulitan saat bermanuver dengan motornya di pelataran itu. Urusan pagar depan yang roboh, biarlah nanti saja di lain hari.


*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...


Ponsel Budi berdering lagi. nama Adel tertera jelas di layar ponselnya. Dia ijin untuk menerima telepon dulu.


“Assalamu’alaikum” sapa Budi.


“Wa’alaikum salam, bram. Masih sibuk?” jawab Adel.


“Udah kelar. Tata kenapa? Kok nangis lagi?” tanya Budi.


“Biasalah, Bram”


“Tata lagi dimana? Kok ada suara musik? Ngejob?”

__ADS_1


“Enggak. Lagi di sanggar. Ada latihan buat besok”


“Oh. Pantesan. Request dong, sripat-sripit “ komentar Budi. Dia menirukan sekelumit kalimat dari sebuah tembang.


“Ha ha ha. Abram suka campur sari juga?” Adel tergelak mendengar suara Budi yang fals.


“Suka dong. Tapi jangan nanya lirik. Banyak nggak hafalnya, abram. Ha ha ha”


“Hu. Gimana sih?”


“Ya kan, abram generasinya Happy Asrama”


“Asrama? Asmara” koreksi Adel. Terdengar suara Tati tertawa di dekat Adel.


“Ya itu deh pokoknya. Ndak pundi mbak ayu, badhe tindak pundi”


“Itu cak Manthous, Abram. Rondho kempling itu lagunya cak Manthous. Happy asmara belum netes” koreksi Adel lagi. Terdengar lagi suara tawa Tati menanggapi komentar Adel.


Tak lama kemudian, Adel juga ikut tertawa. Budi senang, kelakarnya mengena. Satu kebahagiaan tersendiri buat Budi, saat mendengar Adel tertawa.


“Umpomo sliramu sekar melati cah ayu, aku kumbang ngidam sari” Budi membawakan satu lirik dari tembang lain. Membuat Adel terdiam.


“*Umpomo sliramu mergi wong manis, aku kang bakal ngliwati*” lanjut Budi.



“Asik” seru Tati.


“Loh, dikencengin apa, Ta?” tanya Budi kaget mendapat sambutan Tati.


“Hi hi hi. Iya” jawab Adel.


“Dih, suara fals gini di kencengin”


“Ha ha ha ha”


Adel dan Tati tertawa mendengar komentar Budi. Untuk beberapa saat, Budi membiarkan mereka tertawa.


“Bram, bisa ketemu nggak?” tanya Adel.


“Kapan? Sekarang?”


“Iya. Di deket sanggar”


“Emm. Dimananya tuh?”


“Deket pasar. Ada warung bakso. Kita ketemu di sana. Bisa nggak?”


“Oke. Abram butuh setengah jam, minimal”


“Nggak usah lama-lama mandinya! Entar aja kalo udah ketemu” seru Tati.


“Apaan sih?” sergah Adel. Terdengar suara tepukan cukup kencang.


“Ya udah, Abram mandi dulu, ya?” pamit Budi.


“Ja... eeem”


Terdengar suara Tati ingin bicara tapi terputus. Suaranya seperti kalau mulutnya dibungkam seseorang. Budi menebak kalau Adellah yang menutupi mulut Tati.


“Ha ha ha ha” Tati tertawa Lagi.


“Assalamu’alaikum”


*TUUUT*


Adel memutuskan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Budi. Budi tertawa membayangkan bagaimana Adel dan Tati saling menggoda.


“Wa’alaikum salam” jawab Budi akhirnya.


***>>>


Tak lebih dari setengah jam kemudian, Budi sudah sampai di warung bakso yang dikatakan Adel. Dia juga melihat motor Adel terparkir di depannya. Langsung saja dia parkir dan masuk. Adel melambaikan tangannya saat Budi mencari keberadaannya. Di sebelahnya, ada Tati yang sedang memainkan ponselnya. Budi langsung melangkahkan kakinya ke meja itu.


“Eh, mas ganteng udah nyampe sini aja” komentar Tati.


Saking fokusnya dengan ponselnya, sampai tidak sadar tadi, saat Adel melambaikan tangannya. Budi menyalaminya sebelum Adel.


“Iya, dong. Kan ngikutin saran situ” jawab Budi.


“Hmpf. Ha ha ha ha” Tati tertawa.


Adel gemas dengan tawa Tati. Dia cubit paha sahabatnya itu. Cubitan itu justru membuat tawa Tati semakin menjadi.


“Ya udah, udah ketemu kan?” kata Tati.


“Emang kenapa? Kaya mau pamitan?” tanya Budi.


“Iya. Aku juga mau makan. Makan sate sama cowok. Ada yang mau traktir aku” jawab Tati.


“Siapa?” tanya Adel.


“Om Diki” jawab Tati sambil cengengesan.


“Ha? serius?” tanya Adel dengan raut wajah terkejut.


“Bercanda lah. Mau makan sate aku, di situ” jawab Tati.


“Hem”


Tati pergi dengan tertawa. Meninggalkan sepasang kekasih yang baru saja bertemu.


“Ada apa, ta?” tanya Budi. Dia melihat raut wajah Adel kembali sendu.

__ADS_1


“Ah, enggak” jawab Adel. Dia bingung, yang mana yang dimaksudkan Budi.


“Bapak marah lagi, ya?”tanya Budi.


“Ya, gitu deh. Udah ketebak ya?” Adel berusaha tersenyum.


“Biasanya nggak sampe lemes gini. Tumben amat?”


Adel merasa bingung harus menjawab bagaimana. Ada dua hal yang membuatnya lemas seharian ini. Tentang perjanjiannya dengan ibunya. Dia sudah terlanjur mengucapkan janji, kalau ibunya mau berubah, dia akan menuruti permintaannya untuk menikah dengan Luki.


Juga tentang dirinya yang sempat gelap mata. Yang merasa kalau kehidupannya sudah tidak ada gunanya lagi. Sehingga memilih untuk mencoba bunuh diri. Kedua hal itu tidak mungkin dia katakan kepada kekasihnya itu.


“Hei, kok malah bengong?” tegur Budi. Dia menggenggam jemari Adel.


“Ha?” Adel gelagapan mendapat teguran itu.


“Ya, udah makin ngelantur, Bram. Macem-macem hal dibawa. Lama-lama tata ngerasanya kalo tata ini makluknya bapak, bukan anaknya” lanjut Adel.


“Hais, jangan aneh-aneh kalo ngomong!” tegur Budi.


“Ya abisnya, semuanya suruh nurutin. Semuanya harus seperti yang bapak mau. Bapaknya sendiri nggak peduli sama sekali gimana perasaan Tata”


Adel mencoba membawa sisi lain dari masalahnya, yang tidak membuatnya bohong, tapi juga masih merahasiakan kejadian utamanya.


Budi terdiam, ingatannya melayang di masa-masa dia nakal dulu. Tiap malam ibunya menangis memikirkan dia.


Terkadang, dia merasakan kalau ditakuti banyak orang adalah sebuah kebanggaan. Tapi terkadang juga dia merasa terjebak, dengan cap yang sudah melekat pada dirinya, sebagai seorang jagoan, yang tak pernah menolak tantangan.


Dan mundur dari dunia itu, hanya akan mencelakakan Sandi, sahabatnya. Jadi, walau dia suka sedih melihat ibunya menangis, tapi dia bertingkah seolah tak peduli.


“Bram” tegur Adel.


“Ha?”


“Kok bengong?”


Budi tersenyum. Dia malu kedapatan melamun di depan kekasihnya.


“Kalo Tata pengen dapet masukan, coba deh ngobrol sama ibu!” saran Budi.


“Bu Ratih? Apa hubungannya sama bu Ratih?”


“Posisinya kebalik, sih. Tapi intinya kurang lebih sama. Kan Abram juga, dulu bengalnya nggak ketulungan. Tapi ibu nggak pernah ngomong kasar sama Abram” jawab Budi.


Dia memegangi pangkal hidungnya dengan jempol dan telunjuk. Adel tertegun melihat ada air mata meluncur di sela-sela jari itu.


“Jangan ngomong kasar ya, sama bapak! Tata tetep harus hormat sama beliau” lanjut Budi.


“Ya. Tata tetep hormat kok, sama bapak. Kalo enggak, Tata udah dari tadi nonjokin orang” jawab Adel.


“Hem?” Budi tidak mengerti.


“Ya, pukul tujuhnya abram, ujung deket pintu. Ngikutin Tata sejak dari rumah” jawab Adel.


“Darimana Tata yakin?”


“Come on, Bram. Jangan bikin Tata malu”


“Iya deh. Sandi emang paling jago soal kaderisasi” komentar Budi.


Adel menutupi wajahnya, merasa malu saat ingat dia memperkenalkan pacar barunya kepada mantan pacarnya.


“Abram siap, nggak?” tanya Adel.


“Siap buat apa?”


“Tata pikir, perjalanan kita nggak akan selangsam sebelumnya”


“I’m listening”


“Tata pikir, bakal ada baku hantam lagi. Tapi kali ini, “ Adel tidak melanjutkan kalimatnya.


“Dulu, Abram hampir tiap hari berantem. Dan nggak pernah capek apalagi mundur. Walau Abram juga nggak tahu, tujuan utamanya apa, haslinya apa. cuman kebanggan semu yang sebenernya kosong. Tata, lebih dari tujuan utama. Tata adalah tujuan hidup Abram. Demi dapetin Tata, seribu orang bapak kirim buat nyingkirin Abram, Abram nggak akan mundur, Ta” sahut Budi pelan, tapi penuh penekanan.


“Tata percaya kok, Bram” kata Adel. Dia mengulurkan tangannya, dan dan menyeka sisa air mata yang belum kering.


“Tetep jadi Abram yang Tata kenal ya, Bram! Yang bisa bikin Tata ketawa, yang bisa bikin Tata semangat, apapun yang akan kita hadapi kedepannya” pinta Adel.


“Selalu Always” jawab Budi. Jawaban nyeleneh yang sukses membuat Adel tergelak.


Perbincangan mereka terputus dengan datangnya pesanan Adel. Dua mangkuk bakso, dengan dua gelas es jeruk sebagai penyegarnya. Masing-masing sibuk menambahkan topping saus dan sambal serta kecap.


“Bram, ada ide nggak, week end kita ketemu di mana? Yang nggak bakal direcoki” tanya Adel. Membuat Budi yang hendak melahap baksonya, menjadi urung. Adel tergelak melihatnya.


“Em. Kalo di vilanya Sandi, gimana?”


“Ya kali, Tata bilang sama dia, minjem vila dia buat berduaan sama abram” sahut Adel gemas.


“Kan dipinjemin ke Abram. Kuncinya juga di abram”


“Kok bisa sih, dipinjemin ke Abram?”


“Bilangnya sih, buat Natasya. Kalo dia perlu” jawab Budi sambil tersenyum menggoda.


“Abram”


Lagi-lagi Adel gemas digoda Budi. Dia tidak menyangka kalau ternyata Budi juga tahu kode khusus yang diberikan Sandi untuknya.


“Natasyanya udah ganti nama” kata Adel.


“Tapi mau, ketemu di sana?” goda Budi.


Adel tersenyum lebar. Dia tidak menjawab. Keterdiaman itu diartikan Budi sebagai persetujuan. Kini mereka menikmati bakso yang sudah tersaji di depan mereka.

__ADS_1


***


__ADS_2