
Setelah menjalankan sholat maghrib, Budi kembali ke kantornya. Dia menyapa beberapa orang maintenance yang sedang lembur memperbaiki mesin las. Saat melihat lampu ruang PPIC & HRD/GA masih menyala, dia tahu Erika masih ada di kantor. Budi berharap, ada sesuatu yang bisa membantunya menjauh dari Erika. Terlebih di saat malam begini, sudah bisa ditebak, dia pasti akan melepas seragamnya.
“Eh,Bud. Syukur, deh. Kirain udah balik”
Dan benar. Tak hanya kekecilan, warnanya yang serupa dengan warna kulitnya membuat Budi terperanjat. Walau tidak begitu terlihat.
“Kenapa, mbak?” tanya Budi datar.
“Laporan penilaianmu, udah kelar kan?” jawab Erika dengan pertanyaan.
“Oh. Udah, mbak” jawab Budi.
“Udah aku submit juga, kok” lanjutnya.
Erika merasakan kecanggungan dari gelagat Budi. Dia juga merasakan hambarnya senyuman yang tersungging di wajah tampan itu.
“Coba jelasin! Aku pengen paham apa yang kamu maksud. Sekedar baca masih bisa missed” perintah Erika. Dia mendekat ke meja Budi seperti biasanya.
“Aku pasang proyektor dulu ya, mbak? Lebih mantep tuh” jawab Budi.
Tanpa menunggu persetujuan dari Erika, Budi lantas bangkit dari duduknya. Dia merakit kabel dari komputernya ke proyektor. Sengaja dia bawa dari ruang meeting untuk mengantisipasi hal-hal semacam ini.
“Kamu sengaja ngejauh dari aku, ya?”
Sebuah teguran sukses menyita perhatian Budi. dia menoleh ke arah Erika.
“Hem?”
Dia mengernyitkan dahinya, sebagai pertanda kalau dia tidak paham dengan maksud pertanyaan itu.
“Kamu sengaja ngehindar, kan? Jujur, deh!” tanya Erika lagi.
“Ya” jawab Budi pendek.
“Ih” komentar Erika pendek juga. Dia memukul pelan meja kerjanya.
“Kenapa sih, Bud? kamu risih?”tanya Erika.
Budi hanya tersenyum sambil terus mempersiapkan proyektornya.
“Apa jangan-jangan Adel tahu?” tanya Erika lagi.
“Ya” jawab Budi pendek lagi.
“Astaga. Kok bisa? kamu cerita sama dia?”
“Mbak. Kamu itu kan sahabat dia. Masa nggak paham tentang dia?”
“Ya kalo kamu nggak cerita, darimana dia bisa tahu?”
“Come on, mbak. Mata Adel itu udah kaya forward looking infra red, tahu. Satu turret isinya bermacam-macam sensor. Kupingnya udah kaya sonar. Otaknya udah kaya komputer AEGIS. Sekecil apapun keanehan pada diriku, dia bisa deteksi itu”
“Dan dia ngamuk-ngamuk sama kamu?” tebak Erika.
Budi merasa aneh melihat Erika terkesan marah dan tidak suka.
“Kalo dia nggak bisa ngasih solusi buat kamu, ya ngapain dia ngamuk-ngamuk? Harusnya dia nyadar. Itu kode keras. Nggak bisa gitu, dong. Dia yang punya prinsip kok orang lain yang jadi repot”
“Justru sebaliknya, mbak” jawab Budi.
“What?”
“Ya. Dia justru kalem”
“Lah. Udah nebak kok malah kalem?”
“Itu yang bikin aku takut, mbak. Permata kalo udah baret susah ngalusinnya” jawab Budi.
Erika terkesiap. Dia jadi teringat pada seseorang. Seseorang yang sangat menyayanginya. Seseorang yang selalu berusaha mengerti dirinya, tapi dia kurang mengimbanginya. Sampai akhirnya, orang itu lelah dan pergi menghindar.
“Ya tapi kamu nggak bisa bersikap gitu, dong. Kamu pikir aku anjing budukan apa, sampe kamu ngehindar kaya gitu?”
“Justru aku kali mbak, yang anjing budukan. Nggak bisa ngontrol syahwat” sahut Budi. Erika terkesiap.
“Udah deh, nggak usah jaga jarak lagi kaya tadi. Kan aku udah maklum sama kehilafanmu”
“Tapi, mbak?”
“Oke. Kalo kamu nggak nyaman liat aku buka baju, aku pake lagi seragamnya” potong Erika.
Dia mengambil seragamnya dan memakainya dengan gerakan cukup kasar.
“Cukup?” tanya Erika. Budi tidak segera menjawab.
“Tadinya aku pikir, dengan begitu kamu bisa rileks, Bud. Kamu bisa nyaman ngobrol sama aku. bukan sekedar atasan sama bawahan” kata Erika. Budi hanya mengernyitkan dahinya sebagai tanda dia belum mengerti.
“Aku tuh stress mikirin semua pekerjaan ini. Aku butuh temen buat ngobrol. Aku butuh temen buat bercanda. Tapi kamu tahu sendiri kan, siapa aku dimata semua karyawan? Buat mereka aku tuh hidup mati mereka” lanjut Erika. Budi menatap lekat mata Erika sebagai tanda dia mendengarkan.
“Riki aja beraninya cuman begitu, sekali doang lagi. Padahal aku seneng dibercandain gitu. Aku juga pengen kali kaya cewek lain, ada yang bercandain, ada yang godain. Tapi yang ada mereka jiper semua. Liat aku jalan aja udah kaya liat setan. Pusing aku, Bud” lanjut Erika lagi. Budi tersenyum setengah tergelak mendengar cerita itu.
“Oke. kalo cuman butuh pendengar sih, aku bisa. Tapi kalo butuh penonton, oh no. Aku nggak kuat” jawab Budi sambil tertawa.
“Iya, paham. Aku yang jadinya adem-panas”
“Loh, kenapa? Kentang? Ha ha ha”
“Udah ah, mau bikin kopi dulu, biar seger. Mau nggak? Sekalian nih”
“Makasih mbak, nggak usah”
“Kenapa? Takut amat?”
“Kopi mbak mengandung perangsang” jawab Budi tanpa memandang Erika.
Dia melihat tembok tempat memproyeksikan layar komputernya. Erika melotot mendengar jawaban itu.
“Bukan kopinya ding. Kamunya, mbak” ralat Budi.
“Maksudnya?” tanya Erika penasaran.
“Mendingan ngantuk, deh. Paling cuman molor. Daripada melek, tapi jelalatan. Bahaya” jawab Budi.
“Tapi aku kan udah pake baju, Bud. Ada-ada aja kamu” kilah Erika.
__ADS_1
*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...
Suara ponsel Budi mengalihkan perhatian mereka. Budi buru-buru mengambil ponselnya. Terpampang nama adiknya di layar ponselnya.
“Halo, assalamu’alaikum” sapa Budi.
“$$$$$$$$”
“APA?”
Erika terkejut mendengar Budi berteriak sangat kencang.
“Innalillahi. Kok bisa? Dimana?”
“$$$$$$$$$”
“Oke, oke. Mas Budi ke sana” kata Budi lalu menutup saluran teleponnya.
“Adel kecelakaan” kata Budi bahkan sebelum ditanya.
“Apa?” kali ini Erika yang memekik.
“Aku cabut dulu ya, mbak?” pamit Budi.
“Ikut” pinta Erika.
“Tolong beresin dulu, mbak! Entar nyusul aja! di rumah sakit daerah” jawab Budi sambil menunjuk komputer dan proyektornya.
Budi bergegas keluar kantor tanpa mempedulikan Erika. Bahkan dia berlari untuk bisa mencapai posisi motornya secepat mungkin. Scurity yang bertanya hanya mendapat satu kata jawaban dari Budi, darurat.
Budi langsung tancap gas dan menuju rumah sakit daerah. Sesampainya di rumah sakit, Budi langsung bertanya kepada petugas di meja resepsionis. Saat dijawab kalau Adel sudah berada di ruang perawatan, dia merasa agak aneh. Apa ruang UGDnya penuh? Tidak mungkin. Begitu pikirnya.
“Assalamu’alaikum”
Budi menyapa sesampainya di kamar yang ditunjuk petugas tadi. Agak kasar dia membuka pintu kamar itu sampai yang ada di dalam terkejut.
“Wa’alaikum salam” jawab semua yang ada di dalam kamar rawat itu.
Ternyata Adel sudah bisa tersenyum. Dia sedang disuapi oleh Madina. Ada bu Lusi di sebelahnya, sedang berbincang dengan ibunya dan juga Putri. Tapi tidak ada pak Fajar di sana.
“Ta, kamu nggak papa?” tanya Budi seraya masuk dan mendekat.
Putri dan Madina menyingkir, memberikan ruang untuk Budi bersua dengan Adel. Mata Budi langsung melakukan scanning tanpa menunggu jawaban dari Adel. Keningnya mengkerut melihat luka-luka di lengan dan pelipis kiri Adel. Matanya terpaku ke betis yan tertutup selimut.
“Iya. di situ juga luka, Bram. Sama kaya ini” kata Adel menjawab tatapan mata Budi.
Budi menyentuhkan tangannya ke dagu Adel, lalu menggerakkan kepala Adel dengan lembut hingga menoleh ke kanan. Dari kerutan di sekitar perban, Budi menebak kalau pelipis Adel mendapatkan jahitan. Artinya kulit itu tersayat benda tajam.
Perban yang menutupi luka di tangan kiri Adel juga berbentuk persegi panjang. Dan juga ada sebuah kerutan yang masih terlihat oleh Budi. Artinya di sana juga ada jahitan. Luka parut yang hanya ada di sekitaran jari membuat Budi berpikir kalau Adel terlempar setelah benturan keras. Tapi, dengan tidak adanya gips atau kayu penopang tulang, menandakan kalau tidak ada tulang Adel yang dislokasi.
“Boleh liat betisnya?” tanya Budi.
“Bud!” tegur bu Ratih.
Budi terkesiap. Dia tergagap ketika ingin mengatakan sesuatu. Tapi pada akhirnya, tidak ada sepatah katapun yang terucap dari bibirnya. Hal itu membuat bu Lusi tertawa.
“Nggak papa, Bud. Toh Adel pake celana ini, bukan telanjang” kata bu Lusi memberi ijin.
Dengan sedikit tergelak Adel menyibak selimut yang menutupi kakinya.
Budi terkejut melihat luka cukup panjang di paha Adel. Memanjang hingga ke betis. Ada banyak sekali jahitan di sana.
Agak merinding dia saat melihat lagi luka itu.
Dia jadi teringat dengan luka sabetan dipunggungnya. Dia ingat rasanya bagaimana. Tapi melihat luka serupa di tubuh kekasihnya, terasa lebih membuat ngilu. Dalam hati dia ingin memindahkan luka itu ke tubuhnya. Tapi itu mustahil.
“Emang tata nggak ngerem?” tanya Budi.
Sudah terbayang di benaknya, bagaimana kronologi kecelakaan itu. Dia tahu tempat di mana Adel kecelakaan. Pertigaan jalan menuju kampusnya Adel. Memang ada warung di seberang jalan, kalau dari arah kampusnya Adel. Warung sekaligus konter pulsa itu kebanyakan lemari dan etalasenya dari kaca.
“Itu dia, Bram. Motor Tata nggak bisa direm. Kaya nyeplos, gitu”
“Astaghfirulloh. Nyeplos?” tanya Budi kaget.
“Iya. sama sekali nggak ngerem. Ngeblong, gitu. Motor abram pernah nggak sih, kaya gitu?”
“Dari kapan kerasa nyeplosnya?” Budi semakin penasaran.
“Ya baru tadi pas kejadian. Abis dari kampus”
Budi merenung. Dia sedang menganalisa beberapa kemungkinan kasus yang berkaitan dengan sistem hidrolik pada rem. Kalau masih bawaan pabrik, dan belum pernah diperbaiki, harusnya tidak akan jadi blong total seperti itu, pikir Budi.
*Apa jangan-jangan ini sabotase? Masa bisa nyeplos gitu aja tanpa gejala-gejala awal*?
“Pas kejadian, Tata masih sadar?” tanya Budi.
“Enggak. Sadar-sadar udah di UGD. Udah ada ibu sama Madin”
Wajah Budi masih terlihat tegang. Ada beribu perasaan yang hendak keluar bersamaan. Banyak kata yang ingin dia ungkapkan, tapi dia bingung, yang mana dulu yan mau dia katakan.
*Ya Alloh Ta, kasihan banget kamu. Kenapa aku nggak punya firasat apa-apa, ya? seburuk itukah hatiku? Padahal dia kerasa banget pas mau banjir tempo hari*.
“Udah, Tata udah aman, kok” kata Adel sambil menyentuh tangan Budi.
“Ya sakit, sih. Tapi udah ditangani dokter. Jadi Abram jangan hawatir, ya! lanjut Adel sambil tersenyum. Budi menghela nafas berat.
Aku harus lihat motor Adel. Kalo itu sabotase, pasti ada jejak yang tertinggal. Secanggih apapun mekanik itu, pasti ada tanda-tandanya. Tapi dimana motor Adel?
“Assalamu’alaikum”
Perhatian mereka semua teralihkan oleh sapaan salam dari luar ruangan.
“Wa’alaikum salam” jawab mereka hampir bersamaan.
Putri berlari kecil menghampiri pintu lalu membukakannya.
“Eh, mas Zul. Masuk, mas!” kata Putri, mengetahui siapa yang datang. Diapun salim dengan Zulfikar.
“Ah, ini dia yang aku cari” seru Budi. Sontak semua mata tertuju padanya.
“Zul, motor Adel dimana?” tanya Budi tanpa basa-basi.
Tapi zulfikar tidak langsung menjawab. Dia menyalami dulu calon mertua dan ibunya Adel. Termasuk Madina dan Adel sendiri.
__ADS_1
“Di polres, mas” jawab Zulfikar saat menyalaminya.
“Liat, yuk!” ajak Budi setengah memerintah.
“Yah, mas. Baru juga dateng” keluh Zulfikar.
“Udah ayo. Jatah jagamu masih entar, tengah malem” ajak Budi.
“Sama Putri?” goda Zulfikar.
“Sama aku, lah. Sembarangan” jawab Budi heboh. Sontak semua orang tertawa.
Budipun pamit untuk melihat motornya Adel. Zulfikar hanya bisa garuk-garuk kepala. Sedangkan Putri haya bisa melongo. Tapi tingkah konyol Budi justru sukses membuat Adel tertawa terbahak-bahak. Paling tidak, itu bagus untuk mengurangi traumanya atas kecelakaan yang baru dialaminya.
Di polres, Zulfikar langsung menunjukkan Budi dimana motor Adel di simpan. Ternyata masih ada beberapa petugas dari unit laka-lantas yang sedang memeriksa motor Adel. Tapi ada juga petugas dari bagian lain. Termasuk pak Daud juga ada di sana.
“Nah, loh. Baru kesini, kamu” komentar pak Daud, saat Budi menyalaminya.
“Iya. dikasih tahunya juga baru, pak” jawab Budi.
“Hemm. Kurang peka nih, feelingnya” komentar pak Daud sambil tersenyum menggoda.
“Ada temuan, pak?” tanya Zulfikar pada seorang petugas.
Pertanyaan Zulfikar itu mengalihkan perhatian Budi. Dia terhenyak menyaksikan motor Adel hancur bagian depannya. Peredam kejutnya sampai bengkok ke belakang karena benturan dengan beton pembatas jalan dalam kecepatan tinggi.
Dia membayangkan bagaimana kerasnya benturan itu. Badannya terasa ngilu membayangkan Adel terlempar sampai menabrak etalase dan lemari kaca. Hatinya miris membayangkan bagaimana rasanya tersayat benda tajam sampai begitu panjangnya. Dia menghela nafas berat. Masih saja dia berandai-andai. Andai bisa, dia ingin memindahkan sayatan-sayatan di tubuh Adel ke tubuhnya.
“Ini. Brake padnya udah abis” jawab petugas yang ditanya. Dia memberikan brake pad itu pada Zulfikar.
Budi tertarik perhatiannya mendengar jawaban itu. dia menyesalkan keadaan ini. Dengan sudah dilepasnya brake pad itu oleh petugas, berarti dia tidak bisa memastikan secara langsung, apakah ada bekas dilepas atau tidak sebelumnya. Dia mendekati polisi itu.
“Sebelum bapak lepas tadi, apakah ada jejak kalau brake shoenya pernah dilepas?” tanya Budi. semua perhatian tertuju padanya.
“Nggak ada, pak” jawab polisi itu.
“Ada videonya?” tanya Zulfikar.
“Ada. Nih” jawab polisi yang satunya.
Budi memperhatikan dengan seksama video pelepasan baut brake shoe motor Adel. Memang tidak ada bekas penyok ataupun goresan sebagai tanda kalau baut itu pernah dilepas. Kelihatannya masih baru.
“Bekasnya kaya kepanasan. Kaya sering buat ngebut terus ngerem dadakan” seru petugas yang memperlihatkan video itu.
“Aneh” komentar Budi.
“Apanya?” tanya Zulfikar.
“Brake pad itu dibuat dari bahan yang tahan panas. Kecepatan maksimal motor ini nggak nyampek dua ratus kilometer per jam. Terlalu susah untuk bikin pad ini jadi meleleh begini” jawab Budi.
“Terus, ini?” tanya petugas itu. Budi mengambil alih brake pad itu.
Dia melihat
“Bentukannya kaya abis di gerinda. Pake batu yang alus. Tapi buru-buru. Terlalu banyak makannya”
“Yang keluar api banyak gitu ya, mas?” tanya Zulfikar.
“Iya” jawab Budi sekenanya.
Matanya sedang fokus memperhatikan setiap guratan dari brake pad itu. Dengan bantuan lampu ponselnya dia menyisir setiap mili dari keempat brake pad itu.
“Heem”
Budi mengeluarkan suara khas orang yang menemukan sesuatu. Raut marah seketika menyelimuti wajahnya. Dia menunjukkan sesuatu yang mengkilat terselip di antara brake pad itu kepada Zulfikar.
“Kalo aku bilang, yang mengkilap itu butiran serbuk batu gerinda” ujar Budi pada Zulfikar.
Zulfikar mengambil alih brake pad yang dipegang Budi. Dengan lampu ponselnya juga, Zulfikar mengamati apa yang ditunjukkan oleh Budi.
“Perlu dibawa ke lab, mas. Biar lebih pastinya” kata Zulfikar.
“Ya, bawa aja” jawab Budi.
Tapi di wajahnya, kemarahan itu masih sangat terlihat. Dia mengambil ponselnya, hendak menelepon seseorang
“Mas,serahin kasus ini sama aku!” kata Zulfikar mencegah Budi.
Budi menatap Zulfikar dengan tatapan kurang suka atas sikapnya. Beberapa saat mereka saling menatap.
“Kapan hasil labnya keluar?” tanya Budi.
“Aku usahain besok pagi udah keluar, mas” jawab Zulfikar.
“Oke. Aku tunggu kabarnya” kata Budi.
Budipun pergi setelah berpamitan dengan semua yang terlibat percakapan itu. Zulfikar tidak ikut. Dia langsung memproses temuan Budi agar segera bisa dimasukkan laboratorium. Agar segera bisa ditemukan jawabannya, apakah yang Budi temukan itu sebenarnya.
Saat sudah mencapai posisi motornya, Budi berjongkok dan memperhatikan rem motornya sendiri. Dia berusaha mencari perbedaan dari rem yang dimiliki Adel.
*Perasaan tadi bautnya kaya kekuningan, ya? Itu emang bautnya kuning, apa efek lampu, ya*?
Budi kembali menuju tempat dimana motor Adel berada. Tanpa bicara, dia langsung jongkok dan memeriksa baut motor Adel.
*Baji\*\*\*\*. Emang baru, tapi ini bukan baut aslinya. Kepa\*\*\*. Depan-belakang diganti semua. Kerjaan siapa ini? Awas Van, kalo ini kerjaan lo sama Dino, gua nggak akan inget-inget lagi kebaikan lo sama gua. Gua bakal bikin hidup kalian sengsara*
“Bud”
Sebuah suara menyentakkan lamunannya. Budi menengadahkan kepalanya.
“Jangan bikin Sandi masuk penjara lagi!”
Budi berdiri setelah mendengar saran itu. Dia menatap penuh tanda tanya. Saran yang ambigu menurutnya.
“Iya, pak Daud. Nggak akan” jawab Budi.
“Ada baiknya kamu pulang. Biarkan kami yang mengungkap kasus ini” saran pak Daud lagi.
“Baik, pak” jawab Budi.
Dia pergi. Memang dia sedang tidak mau berdebat dengan pak Daud. Bukan berarti dia nurut dengan saran pak Daud. Dia masih penasaran dengan motor Adel.
*Gimana ceritanya ada orang yang punya waktu banyak buat ngelepas brake shoe tanpa menimbulkan kecurigaan*?
__ADS_1
Otaknya penuh dengan berbagai skenario berkenaan dengan proses sabotase. Dia pernah melakukan itu, dan harus membawa motor taget ke tempat aman dulu agar bisa menggantinya dengan sempurna.
*Tapi parkiran kampus kan tempat terbuka, dan dijaga scurity. Gimana ceritanya dia bisa leluasa ngelakuin sabotase itu? kan Adel selalu ngunci stang kalo parkir*.