Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
kesedihan Madina


__ADS_3

Seperti yang telah direncanakan, pagi ini mereka pergi meninggalkan apartemen tempat mereka menginap selama ini. Mereka akan ikut dengan penerbangan pagi, sekitar pukul tujuh. Dengan mobil jemputan dari pihak maskapai, mereka berangkat bersama-sama.


Masing-masing memberikan kabar kepada keluarganya, kalau mereka sudah dalam perjalanan menuju bandara. Tak terkecuali dengan Budi. Dia menyempatkan diri mengabari ibunya. Dia yang memang baru pagi ini menyampaikan kabar gembira itu, membuat bu Ratih terkejut bahagia. Kerinduannya yang sudah menggunung, sebentar lagi akan tercurahkan.


Saking bahagianya, bu Ratih sampai berencana akan menyewa mobil untuk menjemputnya di bandara jogja. Tapi kata Budi, itu tidak perlu. Karena dari perusahaan sudah menyiapkan akomodasinya. Budi bilang, ibunya bisa menjemputnya di pabrik.


“Kapan kira-kira sampai di jogja, ngger?” tanya bu Ratih.


“Kalo waktu Indonesia barat, kayaknya jam enam deh, bu” jawab Budi.


“Lebih, Bud. Kan transit dulu di jakarta” tegur Erika.


“Masa? Berapa lama?” tanya Budi.


“Nggak tahu. mungkin sejam”


“Enam, tujuh, delapan. Jam delapanan, dong?”


“Bisa jadi”


“Wah, jam delapanan, bu” seru Budi.


“Berarti sampai pabrik, jam dua belasan, ya?”


“Mungkin”


“Ya udah. Ibu pesenin tempat buat makan siang, ya? Ada cafe baru lho, di deket sekolahmu dulu”


“Wuih, ibu. Nggak mau kalah sama Rika. Huntingnya cafe. Ha ha ha” seru Erika. Dia miringkan tubuhnya ke kiri, agar terlihat di kamera ponsel Budi.


“Iya dong. Kan gaulnya sama anak muda” jawab bu Ratih.


“Ikut dong, bu. Masa Budi doang yang diajak. Kita-kita enggak, nih?”


“Hayu, kalo mau. Semuanya deh, biar rame!”


“Yei. Gaes. Entar kita mau ditraktir makan sama bu Ratih. Mau nggak?” seru Erika.


“Mau dong” sahut Ratna dan Hilda.


“Yaah, ketahuan, jomblo” seru Bayu.


“Kaya lu punya pacar aja, Bay” sergah Hilda.


“Ha ha ha ha” merekapun tertawa kegirangan. Menyisakan sang supir yang kebingugan.


“Putri ikut nggak, Bud?” tanya Deni.


“Woooo” seru yang lain menyoraki Deni.


Bu Ratih tertawa mendengar candaan mereka. Dia tahu, kalau Deni hanya bercanda saja. Dan tanpa terasa mereka sudah sampai di bandara. Panggilan videopun diakhiri. Teriring doa dari bu Ratih untuk mereka semua.


***


Di dapur yang minimalis itu, Madina sedang sibuk memasak untuk makan siang dan sore. Hari ini dia tidak pergi ke sekolah, karena memang tidak ada kegiatan belajar-mengajar. Selain itu, dia memang merasakan badannya agak meriang di pagi tadi. Beruntungnya sekarang sudah segar kembali.


Saat sedang asyik memasak, dia terkejut dengan kedatangan kakaknya. Adel yang datang, sengaja ingin membantu Madina. Tentu saja Madina senang mendapat bantuan dari kakaknya. Tapi malah dia menemukan keanehan pada diri kakaknya.


“Kamu kenapa, gitu amat ngeliatinnya? Embak tambah cantik, ya?” tanya Adel.


“Perasaan mbak Adel aneh deh, hari ini” jawab Madina, sambil melanjutkan memasaknya.


“Aneh kenapa?”


“Baru sekarang Madin liat mbak Adel jam segini baru keluar kamar. Mana jalannya aneh, lagi” jawab Madina. Adel tersenyum mendengar jawaban adiknya itu.


“Ye. Bukannya dijawab, malah senyam-senyum sendiri” komentar Madina.


“Semalem abis dari mana sih, mbak? Siang amat bangunnya. Subuhan nggak tuh?” tanya Madina.


Duh, adikku ini beneran polos apa pura-pura nggak tahu nih? Kalo aku jelasin, takutnya masih polos.


“Mbak. Ambilin piring oval dong, di lemari situ!” pinta Madina.


“Oh, oke” jawab Adel.


Diapun berjalan ke arah lemari yang ditunjuk Madina. Karena dirasa kelamaan, Madina memutar badan untuk melihat posisi kakaknya. Pas sekali saat dia memutar badan, pas si Adel sedang berjalan kembali ke arahnya.


Di saat itulah dia merasakan keanehan pada diri kakaknya semakin jelas. Jalannya tidak seperti biasanya.


Ya Alloh, beneran udah terjadi. Kok jadi aku yang nyesek, ya?

__ADS_1


“Hei. Nih” tegur Adel.


“Oh. Iya. makasih” jawab Madina.


Kini giliran Adel bertanya-tanya. Karena jawaban Madina kali ini terkesan mengandung kesedihan.


Dia mengingat-ingat, apa kiranya yang membuat Madina sedih.


Apa sebenernya dia udah tahu kalo aku abis pecah perawan? Terus kenapa sedih? Apa jangan-jangan?


“Kamu kenapa, dek?” tanya Adel.


“Enggak. Nggak papa” jawab Madina.


Dia langsung pergi tanpa pamit dari dapur, setelah selesai menghidangkan sayur dan lauk ke atas meja makan. Sekilas Adel sempat melihat ada air mata yang meluncur di pipi Madina.


“Astaghfirullohal ‘adzim” uh Adel sambil memegangi keningnya.


Ya Alloh. Kenapa selalu aja ada yang ngingetin hamba soal Abram? Hamba jadi merasa terbebani lagi, ya Alloh. Baru saja semalam hamba merasakan keikhlasan. Bisa tersenyum dan tertawa bareng suami hamba. Juga menjalankan kewajiban hamba sebagai seorang istri. Mengapa engkau berikan rasa bersalah ini kembali ke hati hamba ya Alloh?


“Kamu kenapa, nduk?” tanya bu Lusi.


Adel terkejut dan tergagap. Dia seka air mata yang sempat meleleh di pipinya.


“Kau bertengkar sama Madin?” tanya bu Lusi lagi.


“Enggak. Adel abis bantuin dia masak” jawab Adel.


“Terus, kenapa dia lari ke atas sambil nangis?”


Adel tidak segera menjawab. Dia bingung bagaimana menjelaskan keadaannya.


“Mungkin Madin udah tahu, apa yang terjadi sama embaknya”


“Iya, sih. Ibu juga liat, jalanmu aneh” komentar bu Lusi. Ada senyum geli di bibirnya.


“Eh, tapi kenapa dia sedih gitu?” lanjut bu Lusi.


Adel tidak menjawab. Hanya ekspresi mukanya yang kembali sedih. Bu Lusi menghela nafas sedih. Dia tahu apa arti dari raut wajah putri sulungnya itu.


Dia elus-elus kepala Adel. Dia kecup keningnya juga. Kelembutan sikap ibunya itu membuat kesedihan yang sedari tadi Adel tahan justru pecah seada-adanya. Dia memeluk ibunya, sambil menahan tangisnya, agar tidak bersuara.


Di kamarnya, Madina langsung mengambil ponsel dan menelepon seseorang. Panggilan pertama yang tidak mendapatkan respon, membuatnya gusar. Tapi dia coba lagi menghubungi nomer yang sama.


“Lagi di pasar, Din” jawab Putri.


“Loh, ibu ke pasar lagi?”


“Iya. Kan galeri udah ada yang jaga, sekarang”


“Ha, siapa?”


“Mbak Hanin, tetanggaku”


“Oh. Mbak Hanin”


“Kenapa, Din? Masih sakit, badannya?” Tanya Putri.


“Enggak. Udah sembuh, kok” jawab Madina.


“Alhamdulillah. Terus, kenapa nih? Kok kaya sedih gitu? Ada apa?”


“Bisa ketemu nggak, di deket sangarnya mbak Adel?”


“Sekarang?”


“Iya. Bisa nggak?”


“Aduh. Gimana, ya?”


“Emang pasarnya lagi rame banget, ya?”


“Enggak juga, sih. Kalo aku start dari sini sekitar sejam lagi, gimana? Soalnya aku ke cafe dulu, yang baru itu”


“Ciee, mau ngedate, nih?”


“Enggak. Aku mau reservasi aja, buat acara besok. Kan besok mas Budi pulang”


Astaghfirulloh. Mas Budi besok pulang? Ya Alloh, kenapa aku yang nyesek, sih? sumpah, sakit banget hati aku ya Alloh. Kaya aku sendiri yang ngalamin semua itu. Sumpah, lebih sakit daripada putus dari Geo.


“Din. Kok malah nangis? Ada apa sih?” tegur Putri.

__ADS_1


“Put. Kamu masih sahabat aku, kan?” tanya Madina.


“Lah, nanya lagi. Lha iya, lah. Nggak mungkin aku pacaran sama kamu. Kamu nggak punya singkong”


“Hus. Ngomong apa, sih?” Terdengar teguran bu Ratih.


“Ha ha ha”


Putripun tertawa, mendapat teguran dari ibunya. Madina jadi ikut tertawa karena kekonyolan sahabatnya.


“Ya udah. Abis reservasi kamu chat aku, ya!” pinta Madina.


“Iya, deh. Langsung aku gas, nih. Kamu, bikin orang penasaran aja” jawab Madina.


“He he. Makasih, ya. Assalamu’alaikum”


“Iya. Wa’alaikum salam”


Madina memutus sambungan telepon itu. Dia langsung merebahkan tubuhnya di kasur. Walau sempat tergelak, tapi rasa sedih di hatinya kini kembali lagi. Dia putar tubuhnya hingga tengkurap, dia benamkan wajahnya ke bantal, lalu menangis sejadi-jadinya.


Putri langsung pamit sama ibunya untuk melakukan reservasi tempat makan siang besok. Bu Ratih berpesan kepada Putri untuk memilih tempat yang paling nyaman untuk berbincang-bincang santai. Putri mengerti dan mengiyakan. Dia langsung melajukan motor bongsor milik kakaknya.


Setibanya di cafe itu, dia langsung memesan tempat, sekaligus menu untuk makan siang. Beruntung, belum ada yang memesan tempat untuk besok siang. Jadi dia bebas memilih tempat yang paling cocok sesuai permintaan ibunya.


Setelah selesai memesan tempat, Putri segera memberitahukan Madina, kalau dia akan segera berangkat menemuinya. Karena dia terlalu fokus mengetikkan pesan, dia sampai tidak sadar kalau di depannya ada orang yang berjalan menuju ke arahnya. Sama-sama sedang asyik bermain ponsel.


Duukkk


“Aduuh” seru orang yang ditabrak Putri.


“Aduh, maaf, mbak. Saya nggak sengaja. Embak nggak papa?” tanya Putri, menyadari kesalahannya.


“Nggak papa. Saya nggak papa” jawab wanita itu. Dia menoleh ke arah Putri.


“Vani?” guam Putri.


“Putri?” gumam wanita itu.


Ya, wanita itu adalah Stevani. Karena sudah keluar dari penjara, dia bebas mau kemana saja. Termasuk ke cafe ini. Putri langsung buru-buru balik kanan dan melangkah pergi.


“Putri” panggil Stevani. Tapi Putri tidak menghiraukan panggilan itu.


“Put, tunggu, Put!” pinta Stevani. Dia berlari mengejar. Tapi Putri masih tidak menghiraukan.


“Putri!”


Stevani mendahului dan menghadang langkah kaki Putri. Kini mereka berhadap-hadapan.


“Put. Aku pengen ngomong sebentar sama kamu” kata Stevani.


“Aku lagi buru-buru” Jawab Putri ketus. Tatapannya tajam penuh ketidaksukaan.


“Sebentar aja, Put. Aku cuman mau minta maaf”


“Nggak perlu. Buat apa? Nggak bakal bikin aku simpati sama kamu lagi”


“Aku nggak berharap kamu mau bersimpati sama aku. Aku akui aku emang jahat. Aku cuman mau minta tolong satu hal. Tolong sampein permintaan maafku sama Budi. Maaf, kalo cintaku ke dia bikin aku gelap mata” sahut Stevani.


Putri terdiam. Walau matanya masih tajam menatap Stevani, tapi sebenarnya hatinya mulai luluh.


“Kan bukan kamu otak kriminalnya. Kenapa minta maaf?” tanya Putri.


“Kamu tahu nggak sih, gimana rasanya dihantui perasaan bersalah? Kalo aku tahu ternyata Isma itu prikopat, aku pilih mundur. Ketimbang ngeluarin ide, yang akhirnya dimanfaatin dia. Demi apapun, nggak pernah sedetikpun terlintas di pikiran aku untuk nyakitin orang yang aku cintai. Aku cuman pengen bikin keluarga ceweknya takut, dan misahin mereka. Udah”


“Ya. Aku ngikutin semua persidangan itu” kata Putri.


Stevani mengernyitkan keningnya. Dia belum paham maksud ucapan Putri.


“Memang. Secara fakta di persidangan, aku tahu, kamu bukanlah orang yang nyelakain mas Budi. Dan aku lari barusan, juga bukan soal salah dan bener. Tapi lebih karena urusan perasaan. Aku belum bisa nerima kamu. Hatiku masih penuh sama rasa nggak suka sama kamu. Aku lari, karena aku masih menghormatimu, karena aku lebih muda dari kamu. Aku takut kelepasan omong. Bakal nyakitin banget kalo aku sampe kelepasan omong. Jadi, mending kita udahin obrolan ini. Dan jangan tegur aku lagi kalo kamu liat aku!” lanjut Putri.


Stevani terkesiap. Dia tidak menyangka kalau Putri sudah bisa berpikir dewasa.


“Ya udah. Itu aja. Tolong sampein permintaan maafku sama kakakmu” kata Stevani.


“Ya” jawab Putri singkat.


Putripun pergi tanpa peduli apa yang terjadi pada Stevani. Dia langsung melajukan motornya menuju barat kota.


Putri sempat tidak bisa berkata-kata saat Madina menceritakan tentang kakaknya. Ada rasa pedih di hatinya, jika mengingat perjuangan kakaknya untuk kakaknya Madina.


Ingin marah, sebenarnya. Tapi itu tidak mungkin. Karena kenyataannya, Madina justru merasakan juga apa yang dia rasakan. Seolah-olah dia juga adalah adiknya Budi, bukan adiknya Adel.

__ADS_1


Akhirnya, seulas senyum dia berikan kepada Madina. Sesuai kesepakatan mereka, kalaupun kakak-kakak mereka tidak berjodoh, mereka tetap akan menjadi sahabat. Putri juga mengundang Madina untuk ikut dalam acara makan siang besok. Tapi Madina menolak. Dia bilang, dia tidak berani bertemu dengan Budi.


__ADS_2