Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
kotak peninggalan bapak


__ADS_3

“Menarik buat disimak. Apa yang akan Zulfikar lakuin” komentar Budi.


“Mending kita bahas dulu, tentang rumah ini” ajak si Cobra.


“Emh”


Budi bersuara seperti teringat sesuatu. Semua orang memandang bingung pada dirinya. Terlebih, dia malah mengedarkan pandangannya, seperti mencari sesuatu.


“Bu” Budi memanggil ibunya.


“Ya?” sahut bu Ratih.


“Pakde Baskoro apa di rumah ya, bu?” tanya Budi.


“Tadi sih ada. Sempet nelpon ibu. Kenapa, ngger?” jawab bu Ratih.


“Kalo kamarnya bapak dulu, apa masih dikosongin, bu?”


“Ya enggak, lah. Kan ditempati kangmasmu Fian”


“Oh. Nggeh. Makasih, bu” kata Budi mengakhiri pertanyaannya.


“Mau apa, ngger?” gantian bu Ratih yang bertanya.


“Mau ngambil kotaknya bapak, bu” jawab Budi.


“Ha?”


Bu Ratih tertegun mendengar jawaban dari putranya. Tapi tak melarang saat Budi balik badan, kembali menghadap rekan-rekannya.


“Apa yang kamu punya, Phia?” tanya budi.


“Aksesku nggak bisa untuk memindai bentuk dari rumah itu, mas. Cuman angkatan darat Amerika, yang punya satelit dengan radar yang bisa menembus beton dan tanah” jawab Sephia.


“Tapi dari emisi elektronik, aku bisa memindai banyak cctv, sekitar seratus prajurit di permukaan tanah, dan ada lebih banyak lagi di bawah tanah. Itupun hanya bisa aku deteksi dari banyaknya perbedaan suara orang yang berbicara. Tapi semuanya terpusat pada satu perangkat relay. Perangkat yang sama yang terdeteksi satelit, saat si bejo menelepon keluar. Tapi posisi si Bejo dan prajuritnya itu dimana, aku nggak bisa mendeteksi” lanjut Sephia.


“Seratus di atas, lebih dari seratus di bawah tanah” komentar Budi.


“Apa rumah itu terhubung dengan pabrik obat itu?” tanya Budi pada Erika.


“Ya” jawab Erika, singkat namun pasti.


“Kamu pernah ke sana?” tanya Budi lagi.


“Ya. Tapi aku masih bocah banget, mas. Aku cuman inget, masuknya dari pabrik obat. Masuk lift, berasa turun, ada bangunan luas banget, lebih luas dari pabrik itu sendiri. Masuk lift lagi, tahu-tahu udah ada di rumah itu” jawab Erika.


“Berarti kamu masih inget dong, tata letak rumah itu?” tanya si Cobra.


“Di atas tanah, iya. Tapi yang di bawahnya, aku nggak tahu”


“Coba gambarkan!” pinta Budi.


Erika menggambarkan sketsa rumah itu, mulai lantai satu, sampai lantai atap. Rumah bergaya kastil itu benar-benar megah. Ibarat kata, empat atau lima rumah cluster berderet dilebur menjadi satu. Dia juga menjelaskan dengan detil karakteristik di tiap-tiap ruangan. Informasi dari Erika dikonversi menjadi strategi oleh si Cobra. Budi memperhatikan dengan seksama.


“Oke. Sebelum kita berangkat, aku mau ngambil sesuatu dulu” kata Budi.


“Sesuatu apa, mas?” tanya Erika.


“Aku juga belum tahu apa isinya. Peninggalan bapak, sih. Tapi kayaknya bakal berguna buat kita” jawab Budi.


“Dimana, mas?”


“Di rumah simbahku. Nggak jauh, kok. Ujung belakang sana”


“Aku temenin, ya?” tawar Erika.


“Sori, Ka. Jangan dulu. Ibu lebih berhak buat nemenin aku” tolak Budi, halus.


Erika tertegun. Dia jadi bertanya-tanya tentang sesuatu itu. Tapi dia berpikir, namanya tinggalan orang tua, mungkin itu rahasia keluarga yang tidak boleh diketahui orang luar.


“Oke, mas” jawab Erika mengalah.

__ADS_1


“Tolong jagain Putri dulu, ya!” pinta Budi.


“Pasti” jawab Erika mantap.


Budi mengajak ibunya untuk pergi ke rumah mbah Ratmi. Rumah yang sekarang ditempati budenya sekeluarga. Karena simbahnya sudah meninggal dua-duanya.


“Loh. Kalian kok sampe sini? Apa udah aman?”


Seorang laki-laki bertubuh tambun menyambut keduanya.


“InsyaAlloh aman, pakde” jawab Budi.


“Ya wes, masuk dulu!” kata laki-laki itu mempersilakan mereka masuk.


“Eeh, Ratih. Kamu nggak papa kan, Tih?” seorang perempuan menghambur dari belakang dan memeluk bu Ratih.


“Nggak papa mbakyu, aku baik-baik aja” jawab bu Ratih.


“Maaf ya Tih, kita nggak sempet nengokin Putri. Istrinya Fian juga abis dirawat, keguguran, kemarin”


“Iya mbak, nggak papa. Banyak kok yang nemenin”


“Kalo gitu, kita makan dulu yuk! Aku masak banyak tadi. Ayo Bud!” ajak wanita itu.


“Wah tawaran menarik itu, bude Pipit. Tapi maaf. Saya mengajak ibu kesini, karena mau ngambil kotak, yang dulu saya titipin ke mas Fian” jawab Budi.


“Kotak?” yang dipanggil bude Pipit itu bingung.


“Oh. Yang kaya koper itu, ya?” tanya laki-laki tambun tadi.


“Betul de Bas. Warna biru” jawab Biru.


“Itu, di kamarnya Fian. Kamar bapakmu dulu”


“Boleh kami ambil, mas Baskoro?” tanya bu Ratih.


“Emang isinya apa sih, Tih? Kaya serius banget?” tanya bude Pipit.


Bu Ratih tidak bisa menjawab. Dia menoleh ke arah Budi.


“Deposito” jawab Budi.


“Ha? deposito?” tanya bu Ratih, kaget.


“Ha ha ha. Kali. Budi juga belum pernah buka” jawab Budi sambil cengengesan.


“Aduh aduh”


Alhasil, dia kena jewer oleh bu Ratih. Sontak perbuatannya menimbulkan gelak tawa.


“Ya sudah. Masuk gih! Kamarnya nggak dikunci, kok” kata pak Baskoro.


“Ijin ya mas, mbak” sahut bu Ratih.


“Silakan” jawab bude Pipit.


Bu Ratihpun mengajak Budi untuk masuk ke dalam kamar mantan suaminya. kamar yang juga pernah menjadi saksi kebahagiaannya menadi pengantin baru.


“Assalamu’alaikum, mas. Apa kabar?”


Budi menoleh ke belakang, saat mendengar ibunya berkata hal yang tidak sewajarnya. Dan terlihat olehnya, pipi sang ibu basah oleh air matanya. Budi tidak bersuara, saat sang ibu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar.


Tak banyak berubah. Bahkan masih ada satu foto pernikahannya yang masih tergantung di dinding. Mungkin keponakannya malas mengambilnya. Terlalu tinggi memang untuk dijangkau tangan.


Bu Ratih memegangi lemari baju di sebelah pintu masuk. Ada senyum yang mengembang seiring lelehan air matanya.


*Masih awet aja, lemari ini. Lemari pertama yang aku beli sama mas Rouf. Perjuangan banget bawa pulangnya. Tapi romantis pada akhirnya. Dapet pijitan dari suami tercinta*.


Bu Ratih kembali tersenyum saat membuka lemari pakaian itu. Walau pastinya isinya sudah tidak sama lagi.


Kenangan-kenangan manis pada masa-masa bulan madu kemali berputar di benaknya. Tapi beberapa sat kemudian, wajah bu Ratih kembali sendu.

__ADS_1


Ya Alloh, mas. Aku ngerasa berdosa sama kamu. Aku udah kepikiran buat nyari penggantimu. Padahal selama mas hidup, yang dipikiran mas cuman aku dan anak-anak kita.


Air mata bu Ratih kembali meleleh. Membuat Budi ikut merasa sedih. Budipun mendekati ibunya.


“Bapak udah ikhlas, bu”


Suara Budi sontak menyentakkan lamunannya. Terlebih saat Budi memeluknya dari belakang.


“Maksud kamu gimana, ngger?” tanya bu Ratih.


Tapi Budi tidak menjawab. Gantian dia kini yang merasakan sedih. Walau sekuat tenaga menahannya, tapi mengingat perjuangan bapaknya selama hidup harus secepat ini dilupakan, membuat tangis Budi pecah juga. Walau hanya isaknya saja yang terdengar.


“Ngger” panggil bu Ratih.


Budi masih tak menyahut. Kenangan akan senyum dan tawa bapaknya, saat berjumpa di alam lain tadi sore, membuat kesedihan di hatinya semakin menjadi.


Keikhlasan paripurna, dari seorang suami, yang malah tertawa saat dikabari, istrinya akan menikah lagi. Budi merasa sama sekali belum terpikirkan akan hal itu. Dan entah, apakah dia bisa seikhlas itu atau tidak.


“Bapak udah ikhlas bu, kalo ibu mau nikah lagi” kata Budi, beberapa saat kemudian.


“Kamu tahu darimana, ngger?” tanya bu Ratih menyelidik.


“Tadi Budi ketemu bapak, waktu Budi pingsan. Kita ngobrol banyak, bu” jawab Budi.


Bu Ratih terkejut mendengar jawaban Budi. dia sama sekali tidak tahu kalau Putranya itu tadi sempat pingsan. Tak ada yang memberitahunya.


“Salah satunya, Budi ngabarin bapak, kalau ibu mau nikah lagi. Dan bapak malah ketawa, bu. Justru Budi yang sedih, bu” jawab Budi.


Bu Ratih tidak bisa berkata-kata. Walaupun banyak yang ingin dia tanyakan, tapi tangisan Budi, membuat rasa bersalahnya kian membesar.


“Maafin ibu ya, Ngger! Ibu udah lupa diri. Ibu nggak mikirin perasaan kamu”


“Enggak bu, ibu nggak salah” sahut Budi cepat.


Budi melepas pelukannya dan buru-buru menyeka air matanya.


“Ngger?”


Bu Ratih memanggil sambil balik badan. Kini mereka saling berhadapan.


“Budi yang minta maaf, bu. Tiba-tiba Budi jadi sedih banget. Budi, Budi, Budi belum sebaik bapak, bu. Apa, apa, apa, “


“Ssst sst ssst. Udah ngger, udah! Jangan diterusin! Ibu nggak kuat dengernya, ngger. Ibu ngaku salah, ibu ngaku salah” potong bu Ratih, sambil mencium tangan Budi.


“Ibu bakal nurut, ngger. Ibu bakal nurut. Kalo Budi belum ikhlas ibu nikah lagi, ibu nggak akan nikah lagi” lanjut bu Ratih.


Budi tidak menjawab. Dia menatap sendu wajah ibunya. Tak lama kemudian dia merosot turun dan memeluk kaki sang ibu.


“Maafin Budi, bu. Budi memang belum ikhlas. Budi masih berat, bu” kata Budi sambil terisak.


Ada air mata yang terjatuh di kepala Budi, namun dia tidak merasakannya.


“Iya, ngger. Iya”


Sekuat tenaga bu Ratih menahan kesedihannya. Dia tidak ingin terlihat ambyar. Dia tahu, Budi sedang mereka-reka, seandainya dia berada di posisi bapaknya.


“Bibir Budi bisa bilang ikhlas, tapi nyatanya Budi masih ngerasa sedih, bu”


Bu Ratih tidak bisa berkata-kata lagi. Diapun kembali larut dalam kesedihan. Tangisnya sendiri tak bisa lagi untuk dia bendung. Beberapa saat lamanya, keduanya sama-sama menumpahkan kesedihan.


“Ngger. Kamu ditungguin mbak Rika, lho” tegur bu Ratih.


“Oh, iya” jawab Budi. Dia tersentak dan langsung beringsut melepaskan kaki ibunya.


“Harusnya di sini sih, bu” kata Budi, merujuk pada kotak yang sedang mereka cari.


Dan ternyata benar. Di lemari satunya, tepat di rak paling bawah, kotak mirip koper berwarna biru itu, Budi temukan. Langsung saja Budi mengeluarkan kotak itu dari lemari, dan menggelarnya di atas kasur.


Saat dibuka oleh Budi, yang pertama terlihat adalah album foto. Album yang berisi foto-foto pak Rouf semasa muda.


“Masya Alloh” komentar bu Ratih.

__ADS_1


__ADS_2