Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
bunker senjata


__ADS_3

Si Shella tidak bergeming dengan kedatangan mereka. Dia tetap pada posisinya, bersedekap sambil menatap ke dasar kolam. Budi yang menyejajarinya, penasaran dengan apa yang ditatap Shella. Diapun ikut menatap ke tengah-tengah kolam.


“Hem?”


Diantara air kolam yang beriak ditiup angin sepoi, dan pantulan cahaya lampu dari pinggiran kolam, Budi menemukan adanya tulisan jawa di dasar kolam itu.


“Diajeng Ratri?” gumam Budi.


Budi mengernyitkan keningnya, saat Shella menoleh padanya karena mendengar gumamannya.


Dia masih mereka-reka, apakah petunjuk itu hanya simbol, yang harus dia pecahkan maksudnya, atau memang di situlah tempatnya. Atau tulisan itu semacam seleksi, untuk mengetahui, apakah yang datang ini benar-benar orang yang berhak atau orang yang merampas hak itu.


*Deeng. Ngiiiiing, deng*


Tiba-tiba terdengar suara dari dalam kolam. Dan muncul empat pusaran air di keempat sisinya. perlahan-lahan air kolam itu mulai surut, masuk ke lubang-lubang yang muncul di keempat penjurunya. Tak sampai lima menit, kolam renang itu sudah tidak ada airnya.


*Jegleg.... ngiiing dug... ngiiing dug... ngiiing dug... ngiiing dug*...


Tepat di depan Shella, di depan tepian berundak, dasar kolam itu tenggelam, membentuk anak tangga. Ada lampu darurat yang menyala menerangi tangga yang menuju ke bawah tanah.


“Ati-ati, licin!” kata Shella.


Dia beranjak mendahului para tamunya. Dia menapaki satu per satu anak tangga mulai dari tepian berundak.


“Mas?”


Erika menegur Budi, saat Budi mulai beranjak. Tak mendapat respon dari sang kekasih, tak ada yang bisa dia lakukan selain mengikuti. Nungki dan yang lain juga mengikuti.


“Wow”


Erika tak sadar telah mengagumi tangga yang dia pijak. Tangga itu laksana bunker perlindungan jaman perjuangan. Dengan desain melingkar beberapa kali, bahkan tidak hanya melingkar ke arah kanan saja, beberapa kali juga ada yang dibuat melingkar berlawanan arah. Sehingga dia jadi bingung, sekarang dia menghadap ke arah mana.


“Wuih?”


Si Hind berseru, saat tiba di dasar anak tangga. Sebuah pintu tunggal namun sangat besar, berdiri gagah di depan mereka. Daun pintu berdesain ukiran gunungan wayang, dan dua arca penjaga di bawahnya, membuat pintu itu terlihat antik.


Namun ada yang aneh. pintu itu tidak punya handle maupun anak kunci. Justru ada box kelistrikan di dinding sebelahnya.


“Udah banyak yang ingin membuka pintu ini, tapi nggak ada yang berhasil” celetuk Shella.


“Kenapa?” kali ini Shephia yang bersuara.


“Teknologi yang terlalu maju di jamannya, tapi terlalu jadul di jaman sekarang” jawab Shella.


“Terlalu maju di jamannya, terlalu jadul di jaman sekarang?” gumam Erika.


“Berapa banyak yang mau ngebobol pintu ini?” tanya Budi. Erika menoleh padanya.


“Dari jaman bapakmu, udah ratusan kali. Tapi nggak ada yang berhasil” jawab Shella.


“Sampe ada yang pake peledak segala. Tapi tetep aja, nggak bisa dibuka. Malah mati dianya, ketimbun reruntuhan” lanjut Shella, sambil menunjukkan bagian yang gosong dan juga retak di beberapa bagiannya.


Budi tertarik dengan bentuk-bentuk retakan daun pintu itu. Bentuknya sama sekali acak, tidak ada yang terlihat dibuat-buat.


“Kok masih kokoh kalo pake peledak? Peledak apa?” tanya Erika. Shella tersenyum.


“C4” jawab Shella singkat.


“Nggak mungkin. Kok bisa nggak ancur?”


“Apa kamu pernah riset?” Shella balik bertanya.


Erika terkesiap. Dia tidak bisa membantah. Memang dia belum pernah melakukan pembuktian, apakah sebuah pintu kayu langsung hancur berkeping-keping, saat dihadapkan pada ledakan bom sekelas C4.


Budi maju mendekat ke pintu itu. Dia meneleng-nelengkan kepalanya, memperhatikan satu dari lima retakan di tengah-tengah daun pintu itu.


Panjang retakan itu kurang-lebih sama dengan lebar kartu yang dia dapat dari bapaknya. Bentuk retakannya juga nyaris lurus, dengan derajad lengkungan yang besar.


Budi mengambil kartu yang dia kantongi. Sisi yang ada huruf ‘A’ dia arahkan ke retakan itu. Dia selipkan seperti saat bertransaksi di pusat perbelanjaan.


*Tiit*


Terdengar bunyi dari dalam pintu itu. Shella tampak terperangah


*Glek... eeeerrrrr..... glek*


Terdengar lagi suara lain, seperti pergerakan mekanik.


*Glek glek*


Suara yang lebih berat mengikuti. Membuat Shella mundur dua langkah.

__ADS_1


*Grek grek grek grek grek*


“Astaga”


Shella berseru lirih, mengiringi terbukanya pintu itu ke arah dalam. Dan rupanya pintu itu berlapis plat baja di belakangnya. Seperti khasnya pintu bunker, pintu itu juga sangat tebal, dengan beberapa selot pengunci sebesar tangan.


“Syukurlah. Akhirnya kalian datang juga” kata Shella mengucapkan syukur.


“Maksudnya?” tanya Budi.


“Banyak banget yang ngaku-ngaku sebagai Budi Utomo. Tapi semuanya terbentur pintu itu. Udah banyak para pendahuluku yang gugur di tempat kita berpijak ini. Karena orang itu menggunakan kekerasan untuk bisa membuka pintu itu” jawab Shella.


“Wow” komentar Budi singkat.


“Dari mana kamu tahu, ini Budi Utomo yang asli?” tanya Nungki.


“Cuma satu orang yang bernama Budi Utomo. Dan dia tidak mungkin sampai ke sini, tanpa petunjuk dari bapaknya” jawab Shella. Nungki mengernyitkan keningnya, tanda belum mengerti.


“Dan dia, diramalkan akan datang bersama anak sahabat bapaknya, dan anak angkat dari musuhnya. Bukan demikian, Salma binti Budi Jatmiko Utomo?” lanjut Shella.


“Dan Erika Tungga Dewi. Anak angkat Respati, alias Bejo” lanjut Shella lagi. Kali ini dia menatap dan tersenyum pada Erika.


“Boleh aku masuk?” tanya Budi.


“Silakan!” jawab Shella cepat. Dia mengacungkan jempol kanannya ke dalam ruangan.


Budi masuk tanpa ragu, diiringi Erika, dan yang lain. Si Cobra sengaja tidak bergeming, mempersilakan si Shella untuk ikut masuk. Dengan tergelak, Shella ikut masuk ke dalam bunker itu.


“Woow”


Si Hind berseru mengagumi isi dari bunker ini. Senjata yang tidak bisa dibilang tua, jika mengingat umur bunker ini.


Senjata terbaru yang baru keluar sekitar lima tahun yang lalu. Dan bukan sembarang senjata. Semua senjata di sini adalah senjata yang sama dengan yang digunakan para pasukan elit.


Dari pistol, senapan serbu, sub machine gun, sampai senapan penembak runduk alias sniper. Semuanya berkualifikasi komando.


Bahkan ada juga senapan anti material, yang panjang larasnya sampai dua meter sendiri. Senapan ini sendiri mampu menghajar sasaran dari jarak dua ribu meter. Dan mampu menghajar mobil lapis baja, dengan jarak yang lebih pendek.


“Siapa yang menyuplai senjata-senjata ini? Baru semua ini” tanya Hind.


“Iwan Satria” jawab Shella.


“Oh, si Bule” komentar Erika.


Dia membuka pintu di sisi sebelah kanan. Dan benar, ada banyak sekali amunisi dan bahan peledak di sana.


“Petir pasti seneng nih, diajakin ke sini” komentar Hind.


“Tapi dia punya asesoris yang lebih lengkap” sahut si Cobra.


“Ya” kata Hind setuju.


“Oke. Hind, Apache, gunakan peredam sebaik mungkin! Utamakan silent sentri removal!” perintah Cobra.


“Siap bos” jawab Hind.


“Gator. Perkuat perangkat elektronik! Pasti banyak CCTV di sana”


“Siap” jawab Alligator.


“Kita pakai strategi apa?” tanya Nungki.


“Oke. Kita bahas dulu” ajak si Cobra.


“Dengan ada dia?” tanya Erika.


“Tenang! Dia temennya Cobra” sahut Sephia.


“Excuse me?”


“Sersan dua Sundari, satgultor lima satu. Spesialis electronic intelegent. Versi lebih canggih dari aku” jawab Sephia.


“Wow” komentar Shella.


“Nggak nyangka, ada juga intel polisi yang hebat begini. Good job sister. Good luck. Go back one piece!” lanjut Shella.


“Ada info?” tanya Cobra, merujuk pada Shella.


“Yang ditanya tak lebih tahu dari yang bertanya” jawab Shella.


“Yang aku tahu, mereka kaya tawon yang abis disambit sarangnya. So, be carefull!” lanjutnya

__ADS_1


“Panjul udah nyampe” kata Sephia.


“Hem?” sahut Budi.


“Mereka memutus aliran listrik di kawasan rumah itu” jawab Sephia.


“Dikata yang punya listrik cuman PLN?” seru Erika.


“Aku punya sesuatu buat kalian” seru Shella.


Shella mengacungkan sebuah pipa paralon seukuran lengan kepada Budi. kedua ujung paralon itu ada penutupnya.


Tanpa bertanya, Budi langsung membuka penutup paralon itu. Segulung kertas dia dapati terbungkus plastik tipis. Langsung saja Budi mengeluarkan gulungan kertas itu dari plastik pelindungnya.


“Denah?” gumam Budi.


“Itu denah pabrik obat milik Moreno. Sejauh yang aku tahu, belum ada perubahan berarti pada bangunan fisiknya. Hanya perangkat keamanannya saja yang terus diperbaharui” seru Shella, tanpa beranjak dari posisinya.


Si Cobra tampak serius memperhatikan setiap detil dari cetak biru pabrik obat itu. Dia juga melibatkan Alligator untuk berdiskusi. Dengan bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka, Budi sendiripun hanya bisa menunggu, hasil dari diskusi itu.


“Kayaknya kita cocok pakai opsi satu” kata Cobra.


“Gimana tuh?” tanya Budi.


“Sini!” ajak si Cobra pada yang lain.


Dia memaparkan apa yang ada di kepalanya. Semuanya memperhatikan dengan serius, kecuali si Shella. Dia asyik mendengarkan musik dengan headsetnya, sebagai sopan santun terhadap para saudara seperjuangannya. Karena dia tidak menjadi bagian dari tugas itu.


“Semua sudah paham?” tanya si Cobra.


“Paham” jawab semuanya.


“Sip. Setelah dari sini, kita langsung berpisah. Cek radio selama perjalanan”


“Oke” sahut si Hind.


Merekapun bergerak menuju pintu keluar, dimana ada si Shella di sana.


“Andai aja aku boleh ikut. Pasti aku ikut” kata Shella.


Si Cobra tersenyum mendengar ucapan Shella. Begitu juga dengan Budi. Tapi tidak dengan Erika. Dia masih terbakar cemburu.


“Terimakasih, udah jagain harta karun kita” jawab Budi.


“Hempf” Shella tergelak mendengar kata ‘harta karun’ yang diucapkan Budi.


“Keep in touch, Phia! Jangan sungkan buat bertanya! Aku monitor kalian dari sini” pinta Shella.


“Oh. Oke” jawab Sephia.


Shella bergeser ke kanan, memberikan jalan untuk mereka keluar. Dia juga sempat mengetuk pintu bunker itu tiga kali. Dan pintu itu bergerak sendiri untuk menutup.


Terdengar suara mesin meraung-raung, tapi bukan mesin penggerak pintu tadi. Shella mengatakan kalau itu adalah mesin penyedot air kolam di atas.


Ternyata, selama mereka di bawah ini, dasar kolamnya kembali ditutup dan air kolamnya kembali diisi. Tak berapa lama kemudian, terdengar pergerakan yang lebih berat. Tak lain dan tak bukan, dasar kolam tadi kembali dibuka. Dan benar, saat mereka tiba di tangga lurus, kolam renang di atas mereka telah kering dari air.


Mereka terus berjalan sampai masuk ke dalam rumah besar itu. Wanita-wanita yang tadi menggoda mereka saat mereka datang, kini sudah berubah penampilan. Mereka telah menggunakan setelan sopan, meski bukan seragam dinas.


Mereka juga berjajar di ruang tengah, membentuk lorong hidup. Mereka memberikan hormat, saat mereka berjalan melalui mereka. Sudah tentu, Budi dan yang lain menjawab hormat mereka. Tak terkecuali dengan Erika. Kini dia merasa terharu, setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya.


“Terimakasih, atas sambutan hangatnya” kata Budi, saat hendak berpamitan.


“Ati-ati, guys! Sebagian dari kita, ada bersama mereka” jawab Shella, merujuk pada prajurit polisi dan tentara.


“Kapan-kapan kita mampir, boleh?” tanya Hind.


*PLAK*


“Yuuh”


Sebah tamparan di belakang kepalanya membuatnya mengeluh. Budi dan Shella tergelak melihat ekspresi kesal Hind dan juga ekspresi tanpa dosa Cobra yang baru saja menampar Hind.


“Boleh. Kecuali mas Budi” jawab Shella.


“Loh, kenapa?” tanya Hind. Seperti anak sekolahan yang masih polos.


Shella tidak menjawab. Namun dia tersenyum sambil melirik ke arah Erika. Kontan saja Erika berkacak pinggang.


Tapi bukannya suasana jadi menegang, mereka malah tertawa terpingkal-pingkal, melihat ekspresi Erika.


“Ya sudah. Kita pamit, ya?” kata Budi, menyudahi tawa mereka.

__ADS_1


“Oke. Good luck” jawab Shella. Mereka bersalaman.


Sambil berlalu, mereka juga menyempatkan untuk bersalaman dengan Shella. Tak seberapa lama kemudian, mereka pergi meninggalkan rumah besar itu.


__ADS_2