
“Itu dia, Put. Ibu kenapa, ya? Kok ngambil keputusannya kaya grasak-grusuk gitu?”
*Gleekk*
Sebuah suara mengalihkan perhatian mereka. Dan betapa terkejutnya Erika, mendapati bu Ratih sudah berdiri di depan pintu, memperhatikan mereka. Dan dia tidak tahu, sejak kapan bu Ratih berdiri di situ. Sama sekali dia tidak mendengar suara pintu dibuka. Bu Ratih tersenyum penuh arti pada Erika.
“Jadi, mbak Rika ke sini cuman mau menyoal perintahnya ibu pada anak ibu sendiri?”
Sebuah pertanyaan yang terdengar menohok bagi Erika. Dia sampai tergagap, tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan itu.
“Bu, bu, bukan begitu, bu” jawab Erika masih tergagap.
Dia merasa kalah mental, berhadapan dengan calon mertuanya itu. Aura bu Ratih terasa sangat berwibawa buatnya. Sangat keibuan, tapi juga sangat mengintimidasi. Dia merasa takluk tanpa merasa direndahkan.
“Mbak Rika. Mbak Rika harus paham satu hal. Satu hal yang akan dirasakan oleh semua wanita. Termasuk juga ibu” kata bu Ratih sambil mendekat perlahan. Erika tidak kuasa untuk menjawab.
“Seorang ibu, masih memiliki hak atas anak laki-lakinya. Dia masih berhak untuk didengar suaranya. Dia masih berhak memerintah maupun juga melarang. Sekalipun anak itu telah mempunyai istri” lanjut bu Ratih. Erika masih diam tak bergeming.
“Tolong mbak Rika katakan, apa perintah ibu menyalahi hukum agama?” tanya bu Ratih.
Pertanyaan yang tak kalah menohoknya dari pertanyaan pertama. Dan Erika semakin tak berkutik dibuatnya. Cukup lama dia berpikir, kata apa yang tepat untuk menjawab pertanyaan itu.
“Tidak, bu. Tidak ada yang ibu salahi. Rika, Rika, Rika hanya terlalu cemburu, bu” jawab Erika kemudian.
Bu Ratih tersenyum. Dia semakin mendekat ke Erika, lalu mengelus pundak Erika.
“Jodoh Itu di tangan Tuhan, nduk. Ibu tidak bisa menentukan. Sekalipun misalnya ibu masih mengharapkan Budi balik sama mbak Adel, kalo Gusti Alloh tidak berkenan, ya nggak akan bisa, mbak Rika”
“I, iya. Iya, bu. Maafkan Rika, bu” kata Rika tergagap.
Dia langsung membungkuk dan salim sama bu Ratih. Tak Lupa dia cium tangan sebagai bentuk rasa hormatnya kepada calon mertuanya.
Di tangerang, Adel terlihat lebih baik setelah berpelukan dengan Budi. Dia sudah mau sarapan, sudah punya semangat untuk diajak berbincang oleh dokter yang memeriksanya. Sehingga, oleh dokter dikatakan kalau kesehatan Adel sudah berangsur membaik. Hanya perlu dijaga agar tidak terlalu stress.
Dokter itu juga berpesan agar mengikhlaskan kepergian sang suami. Dipesankan demikian, Adel jadi temenung lagi. Pertarungan antara benih-benih cinta dan kebencian akan jati diri suaminya yang baru terkuak, membuat hatinya kacau. Dia sudah merasa hambar dengan nama yang disebut dokter itu.
Selepas diperiksa dokter, Adel sempat berbincang dengan ibunya lewat panggilan video. Menggunakan ponsel Budi pastinya.
Bu Lusi tampak sedih dan terpukul mengetahui kenyataan yang harus dihadapi putri sulungnya. Namun di sini, Adel malah tampak tegar. Dia malah bisa tersenyum, seolah-olah apa yang dihadapinya itu tak lebih buruk dari yang dipikirkan ibunya.
*Tok tok tok*
Terdengar suara ketukan pada pintu kamar rawat. Semua mata tertuju pada pintu itu. Tanpa permisi, seseorang membuka pintu itu dari luar. Sontak Adel langsung berpamitan pada ibunya.
“Loh, mas Bud? Kok ada di sini?” sebuah suara mengajukan pertanyaan.
“Nungki?” sahut Budi.
Dia juga merasa aneh dengan kehadiran Nungki.
“Segitu bingungnya, mas? Belum pernah liat polisi kerja lintas resor?”
Nungki bertanya menanggapi kebingungan Budi. Budipun menganggukkan keplanya. Walau dia belum paham juga dengan maksud Nungki.
“Selamat pagi, mbak Adel. Gimana kondisinya pagi ini? Udah lebih sehat?” tanya Nungki, sembari menyalami Adel.
“Alhamdulillah. Lebih baik dari kemarin” jawab Adel.
“Masih ingat dengan rekan saya yang ini?” tanya Nungki sambil menunjuk rekan wanita di belakangnya.
“Iya, bu. Masih” jawab Adel.
“Baik. Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan, mbak. Sehubungan dengan kasus di hotel kemarin, dan kaitannya dengan beberapa kejadian di Pacitan. Apa mbak Adel sudah siap?”
“Eem. Maaf menyela bu Salma” potong Budi.
“Ya, mas Budi?” sahut Nungki. Kali ini nada bicaranya terdengar formal.
“Apa saudari Adel tidak diberikan hak untuk menggunakan pengacara?” tanya Budi.
“Oh. Apa sudah ada, pengacaranya? Bisa kok, dihadirkan” jawab Nungki.
“Eeem”
Budi bingung mau menjawabnya.
“Nanti aja, mas Bud. Kalo Adel udah kesulitan menjawab, baru Adel minta tolong diberikan pengacara” sahut Adel. Budi hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Oke” jawab Budi, sembari mengacungkan jempolnya ke arah Nungki. Sebagai isyarat memperilakan Nungki melanjutkan keperluannya.
“Maaf, mas Budi. Apa boleh, kami ditinggal dengan mbak Adel dulu?” tanya Nungki dengan sopannya.
__ADS_1
“Oh, siap. Maaf” jawba Budi.
Diapun menganggukkan kepalanya sekali kepada Adel, sebagai isyarat pamit keluar. Begitu juga kepada Nungki dan temannya.
Di luar, Icha dan kang Jupri menatap kehadiran Budi dengan penuh tanda tanya. Tapi mereka seperti tidak cukup berani untuk bertanya.
“Lagi diambil keterangan” kata Budi, menjawab tatapan mata Icha.
“Oh”jawab Icha sambil manggut-manggut.
Sembari menunggu, Budi menanyakan kepada Icha soal pengacara, penginapan, toserba, dan hal-hal lain yang dia butuhkan selama menemani Adel.
Dia mencatat semua jawaban yang disampaikan Icha. Dia juga merancang strategi untuk mendapatkan semua yang dia butuhkan. Mumpung masih ada kang Jupri, yang siap mengantarnya kemana saja.
Setelah menyambangi pengacara, menyiapkan perbekalan jika harus menginap di rumah sakit, dan juga setelah mencari tempat untuk menginap jika Adel tidak boleh meninggalkan kota ini setelah keluar dari rumah sakit, Budi dan kang Jupri kembali ke rumah sakit.
Dan dia terkejut, ternyata Adel masih dimintai keterangan. Ya sudah, Budi gunakan waktu kosong itu untuk berbincang dengan Icha.
Secara pribadi Budi menyampaikan rasa terimakasihnya pada Icha, yang telah rela membantu Adel, bahkan sampai harus mengambil cuti. Setengah jam kemudian, Nungki keluar dari kamar rawat Adel.
“Sudah selesai, bu Salma?” tanya Budi dengan gaya formal.
“Sudah, mas Budi. Mohon maaf, kalau kami terlalu lama”
“Iya” jawab Budi singkat.
“Mas Bud. Apa bisa ikut Nungki sebentar?”
Budi bingung mendapat pertanyaan semacam itu. Sapaannya, juga nama yang dia sebut untuk merujuk pada dirinya sendiri, terkesan tidak formal.
“Oh. Baik” jawab Budi.
Nungki mengayunkan tangan kanannya, mempersilakan Budi untuk berjalan. Dia mengajak Budi menuju ke sebuah pohon beringin yang tumbuh tak jauh dari kamar rawat Adel. Dan rekan Nungki tadi, mengikuti beberapa meter di belakang mereka.
“Ada apa, Nung?” tanya Budi lirih, sambil berjalan.
“Kenapa mas Budi nggak ngasih tahu aku, kalo mas Budi liat si Bejo itu?” Nungki balik bertanya. Budi tersenyum mengerti.
“Yang mana?” kilah Budi. nungki langsung menatapnya dengan tajam.
“Jangan mentang-mentang mas Budi calon menantunya, mas Budi terus menyembunyikan kebenarannya! Kita saling bantu lah, mas. Aku udah pasang badan buat kalian, kenapa mas Budi malah nggak bantu aku?”
Nungki mengernyitkan keningnya mendapat pertanyaan yang menurutnya aneh.
“Kan udah kita tunjukin, waktu pengambilan keterangan”
“Kamu mau bilang kalo foto yang ditunjukin Fatoni itu, bener?”
Nungki tidak segera menjawab pertanyaan Budi. Dia merasakan kalau Budi punya pertimbangan yang lebih dalam.
“Kalo emang foto-foto itu bener, kenapa Luki yang kalian grebek?” tanya Budi lagi.
Nungki masih saja tidak menjawab. Dia malah menatap lekat wajah Budi.
“Apa kamu mau bilang, kalo Luki itu shape shifter? Atau pake topeng kulit, kaya mission impossible?” kali ini Budi bertanya sambil tergelak.
“Atau, bos Daniel itu sebenernya ada lebih dari satu orang?”lanjut Budi.
Nungki membuang muka. Dia tidak menjawab. Tidak mengiyakan tapi juga tidak menolak pernyataan Budi.
“Aku nggak tahu, seberapa hebat si Luki itu. Tapi aku pikir, teknologi topeng kulit nggak serta merta bisa diaplikasiin kaya kita pake masker sekarang ini. Jadi, aku berpikir kalau bos Daniel itu ada lebih dari satu orang” lanjut Budi lagi.
“Katakan, kalo aku salah!” pinta Budi mempertegas pernyataannya.
“Emang salah, mas” sahut Nungki. Budi terkejut mendengar jawaban sepontan itu.
“Bos Daniel, Cuman satu. Dan bos Bejo, juga cuman satu” lanjut Nungki.
“Terus, kenapa ngasih foto yang berbeda? Jangan bikin bingunglah, kalo pengen dibantu!” desak Budi.
Nungki hanya bisa mengehela nafas berat. Pandangannya jauh mengawang kedepan. Budi tidak bisa mengartikan sikap Nungki saat ini.
“Oke. Aku cuman mau nanya itu, mas. Sekaligus pemberitahuan” kata Nungki, beberapa saat kemudian.
“Hem?”
“Sebaiknya mas Budi segera pulang, hari ini juga!” saran Nungki.
“Aku ke sini atas perintah ibu”
“Keselamatan Putri lebih penting. Keselamatan ibu, juga nggak kalah pentingnya, mas” potong Nungki.
__ADS_1
Budi tertegun beberapa saat. Banyak hal yang terlintas di kepalanya.
“Masih terkait soal dongle itu? Ada sama kalian kan, donglenya” tanya Budi lirih.
Nungki tidak menjawab. Dia hanya menganggukkan kepalanya sekali.
“Berarti papanya Vani terkait sama si Bejo itu? Apa hubungan mereka?”
Lagi-lagi Nungki hanya menganggukkan kepalanya sekali. Ada senyum penuh arti di akhir anggukannya.
*Dongle itu punya papanya Vani. Dirampas Sandi. Diserahin ke Luki. Kalo papanya Vani dan papanya Erika adalah rekan, berarti papanya Vani merintahin papanya Erika buat ngamanin dongle itu. Secara, dia kan lagi ditahan. Terus, kalo Fatoni nyandingin papanya Erika dengan bos Daniel, yang sekarang ketahuan orangnya ternyata adalah si Luki, bisa jadi, si Luki bisa di atas kapal itu karena diperintah papanya Erika. Dan dongle itu udah berhasil dia dapetin. Mungkin dia bisa sampe sini itu, dalam rangka mau nyerahin dongle itu. Tapi gagal karena keburu digrebek polisi. Ada berapa orang, pembesar di kelompok si Bejo itu*?
“Berasumsi tanpa konfirmasi, memang tidak akurat. Tapi terlalu banyak tahu, juga berbahaya”
Suara Nungki membuyarkan lamunan Budi. Senyum itu lagi-lagi penuh dengan misteri.
“Oke. Makasih atas warningnya” kata Budi, beberapa saat kemudian.
“Kita pisah di sini ya, mas?” pamit Nungki.
“Tunggu! Apa si Bejo itu yang ngabisin Luki?”
Nungki tertahan langkahnya karena tangannya digenggam Budi.
“Bukan” jawab Nungki singkat.
“Lah. Terus?” tanya Budi bingung.
Nungki tidak menjawab. Dia hanya menatap lekat mata Budi untuk beberapa saat.
“Assalamu’alaikum”
Nungki mengucapkan salam, sebagai isyarat permintaan ijin untuk pergi. Budipun melepaskan tangan Nungki.
“Wa’alaikum salam.
Nungki berjalan meninggalkan Budi. Memutari pohon beringin untuk kembali ke koridor tadi. Sama sekali tidak dia perhatikan rekan kerjanya tadi.
“Jangan diabaikan, peringatan bu Salma, mas!”
Suara perempuan sontak membuat Budi menoleh. Dan ternyata yang bersuara itu adalah temannya Nungki.
“Aku nggak ngerti deh, maksudnya gimana?” tanya Budi penuh keheranan.
“Turutin aja, mas! Gimanapun caranya. Tidak semua tembok tuli, mas” pinta polwan itu. Budi mengernyitkan keningnya, semakin tidak mengerti.
“Bahkan pohon beringinpun punya telinga” lanjut polwan itu.
Budi hanya manggut-manggut saja, meskipun pikirannya sedang bekerja keras mencerna semua pembicaraan tadi.
“Saya permisi, mas Budi” pamit polwan itu.
“Oh, iya. Silakan, bu!” jawab Budi setengah tergagap.
“Segera saja urus administrasinya saudari Adel, biar cepet beres!”
“Maksud ibu? Emang Adel sudah boleh pulang?” tanya Budi terkejut.
“Secara medis, silakan tanya kepada dokter yang menangani saudari Adel! Tapi secara hukum, saudari Adel telah kami nyatakan tidak bersalah. Dia tidak tahu menahu soal narkoba di seputaran rumahnya. Hanya saja, kami masih memerlukannya jika kami butuh keterangan lebih lanjut” jawab polwan itu. Dia memberikan sebuah amplop kepada Budi.
“Lalu? Apa Adel harus tinggal di kota ini sampai batas waktu tertentu?”
“Tidak, mas. Saudari Adel sudah diijinkan untuk pulang ke kotanya. Kami sudah bekerjasama lintas polres. Jadi, kalau memang kami butuh keterangan saudara Adel lagi, kami bisa melakukannya di polres setempat. Tapi mas Budi yang kami jadikan jaminan. Kalau sampai saudari Adel tidak terlacak keberadaannya, ya mas Budi yang kita pegang”
“Oh. Siap”
“Jadi, pastikan saudari Adel pulang dengan selamat! Dan mas Budi, punya tanggung jawab untuk memastikan saudari Adel tetap bisa terlacak keberadaannya, sampai kasus ini selesai”
“Hemm. Bisa perang dingin ini sih” gumam Budi.
“Itulah resiko jadi orang ganteng” komentar polwan itu. Budi terkejut, rupanya polwan itu mendengar gumamannya. Diapun tergelak.
“Baik, bu. Terimakasih atas informasinya”
“Anda berhutang budi sama bu Salma, mas. Jangan sia-siakan!”
“Hem?” Budi tidak mengerti maksud polwan itu.
“Saya permisi dulu ya, mas?” pamit polwan itu.
“Siap. Silakan, bu!” Budi menjawab dengan sigap, meskipun dia masih dilanda kebingungan.
__ADS_1