Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
serangan dari tank terbang


__ADS_3

Erika terpana melihat Budi berjalan menghampirinya. Budi jauh lebih gagah dengan senjata itu di tangannya. Tak kalah keren dibanding Cobra. Tapi dia juga bertanya-tanya, apakah budi terlatih menggunakannya?


Budi berhenti di depan Erika. Dia menatap Erika untuk beberapa saat. Seperti ada banyak sekali yang ingin dia katakan.


“Bos. Sori ganggu. Aku liat Hind mendekat”


Suara Petir lewat handy talky mengalihkan perhatian mereka.


“Lah. Dari tadi gua di sini” sahut si Hind.


“Bukan kamu” sahut si Petir.


“Astaghfirulloh” gumam Budi.


“SEMBUNYIIIII!”


Budi berteriak kencang sekali. Membuat semua orang panik. Kang Sukron bergerak cepat membuka palka parit pelarian.


Cobra dan Alligator memimpin semua penghuni untuk masuk ke dalam parit pelarian. Erika membantu Stevani, sedangkan Budi membantu Putri.


“Hind. Sipain SMB luar!” teriak Budi.


“Siap bos” jawab si Hind.


Setelah semuanya masuk ke dalam parit perlindungan, Budi segera mengambil sikap siaga tempur.


“Mereka datang dari arah utara, Bos. Dari arah depan” info si Petir.


“Phia. Give me eyes!” pinta Budi.


Sephia memberikan apa yang Budi inginkan. Ada sebuah helikopter serbu mendekat dengan terbang rendah.


“Kang. Naikin yang depan!’ perintah Budi.


“Oke” jawab kang Sukron.


Dia lantas berlari menuju forklift. Tak menunggu lama, dia angkat senapan mesin berat itu hingga tembus ke teras galeri. Di bawahnya dia berikan balo ganjal sebagai penguat.


“Apa yang kamu dapet?” tanya Budi pada Sephia.


“Heli militer sulit diretas” jawab Sephia.


“Come on” seru Budi.


Sephia semakin cepat memasukkan barisan perintah pada komputernya.


*Pakai roket! Bumi hanguskan galeri itu*!


Sebuah suara muncul saat Sephia berhasil mencegat sinyal komunikasi helikopter itu.


“Engaged. Mereka nembakin laser ke kita” seru Sephia.


“Kunci mereka, Phia!” perintah Budi.


“Locked” jawab Sephia.


“Tunggu!”


Cobra berteriak saat Budi akan memberikan perintah menembak.


“Mereka nggak bisa sembarangan pake aset militer buat nyerang sipil. Mereka baru boleh nembak, kalo ditembak duluan. Biarkan mereka nembak duluan, baru kita balas” kata Cobra menjelaskan.


“Ten seconds” kata Sephia memperingatkan.


“Petir. Targertin pilotnya! Kalo gagal, semua yang turun, hajar tanpa ampun!” perintah Budi.


“Siap, bos” jawab Petir.


“Five seconds” seru Sephia lagi.


“Mereka udah lewat dari jarak optimal roket. Mereka pasti bakal pake canon” kata Cobra.


“Bravo, lempar smoke! Empat penjuru!” perintah cobra.


Tim bravo tidak segera bertindak.


“Do it!” teriak Budi.


Merekapun langsung bergerak. Mereka menerima granat asap dari kang Sukron.


Berempat, mereka langsung berlari ke luar dan melemparkan granat asap. Seluruh area bengkel kayu Budi kini tertutupi asap putih.


*Mereka memasang tirai. Pandangan terganggu*.


Terdengar laporan dari kokpit helikopter itu.


*Hancurkan saja*!


Terdengar jawaban dari laporan itu.


*Negatif. Tidak ada serangan. Kita harus terjunkan pasukan untuk memeriksa*.


Pilot menolak untuk mengeksekusi perintah. Terkonfirmasi sudah, apa yang dikatakan si Cobra.


*Nguuuuuuunggg weeerrrrrr*

__ADS_1


Helikopter itu melintas di atas bengkel kayu Budi. Dari monitor Sephia, helikopter itu terus melaju sampai di laut selatan, lalu berbelok ke kanan.


“Sebaiknya kita bersiap, bos. Pasukan darat, tak seperti pilot heli. Kita bisa bantu kamu, mereka juga bisa bantu siapapun yang bayar” kata Cobra memperingatkan.


“Ajari aku!”


“Retas radio mereka, Phia!” perintah Cobra.


“Oke” jawab Sephia.


“Buat apa ngeretas radio mereka?” tanya Erika. Dia bingung dengan cara berpikir si Cobra.


“Ok. We got them” seru Sephia. Semua mata tertuju padanya.


*KITA DITEMBAK, KITA DITEMBAK*


Terdengar teriakan dari helikopter itu. tapi bukan suara kedua pilotnya.


“Siapa yang nembak?” seru Budi.


Sephia dengan cepat memasuki mode rekaman. Dia memutar beberapa detik sebelumnya.


“Resort kuning. Ada yang mancing” seru Sephia.


“Hind. Kok bisa lolos?” tanya Budi.


Hind tidak bisa menjawab. Meskipun bukan sepenuhnya salah dia. Perintahnya kan hanya melumpuhkan, bukan mematikan.


“Petir. Elimisai dia!” perintah Budi.


“Oke” jawab Petir.


“TIARAAAAPP!”


Teriakan Sephia membuat semuanya sontak tiarap.


*BRATAK BRATAK BRATAK BRATAK*


Tembok belakang bengkel kayu Budi berbunyi keras diterjang tembakan peluru canon helikopter serbu itu.


*Klik*



*BEEEEEEERRRRRRTTTTTT*


Sephia menekan mouse pada komputernya. Dan tembakan balasan nyaring terdengar.


*Weeerrrrrr*


Dia memeriksa monitornya. Dia melihat helikopter itu berputar arah. Hidung helikopter itu kini menghadap galeri. Tapi mereka hanya mengambang, tanpa langsung menembak. Terlihat ada bercak putih pada kaca depan posisi gunner.


“Mereka setor nyawa, bos” Suara si Petir menyentakkan mereka.


“Bravo nyebar, bravo nyebar!” perintah si Cobra.


Kali ini tim bravo tak menunggu otorisasi dari Budi. Mereka langsung keluar dan menyebar, mencari posisi untuk menyerang siapapun yang turun dari heli itu.


“Jangan nyerang sebelum di serang!” perintah Budi pada tim Bravo, lewat handy talky.


“Siap” jawab salah satu dari tim Bravo.


“Petir. Pakai peluru skyshield! Pakai laser pointer juga! Sasar orang pertama yang turun dari heli itu!” perintah Budi.


“Mereka nyiapin roket, mas” seru Sephia.


Tampak peringatan adanya pancaran infra merah di monitor sephia.


“Bikin barikade, Phia! Sasar roketnya!”


“Automaticly” jawab Sephia.


“Petir. Incar gunnernya! Pake pointer!” perintah Budi pada Petir.


“Already, bos” jawab si Petir.


Dari monitor sephia, tampak pilot itu terkejut mendapat bidikan laser.


*Mereka punya sniper, cap*


Pilot penembak yang berada di depan, memberikan peringatan pada pilot pengendali helikopter.


*Kanopi kita masih sanggup menahan. Lanjutkan*!


Jawaban si pilot pengendali helikopter itu membuat Sephia langsung memasukkan sekian baris perintah pada komputernya.


*THHEEESSSS THHEEESSSS THHEEESSSS THHEEESSSS*


Terdengar suara khas roket meluncur. Langsung mode salvo.


“TIARAAAAPPP!” seru si Cobra.


“PETIR!” seru Budi.


*Klik*

__ADS_1


Sephia menekan mousenya lagi.


*Ngiiiiing*



*BEEEEEEERRRRRTTTTTTT*


Tepat saat dia turun untuk bertiarap, dua unit senapan mesin berat enam laras serentak memuntahkan peluru.


*DAAARRR DAAARRR DAAARRR DAAARRR DAAARRR*


Dengan peluru berisi butiran tungsten panas, kedua senapan mesin berat itu berhasil membuat tameng yang tidak bisa ditembus roket-roket itu.


Dua puluh roket dikali dua, melucur terus tanpa jeda.


Bersamaan dengan itu, Petir rupanya telah melaksanakan tugasnya. Sebutir peluru yang sama telah dia tembakkan ke arah kokpit helikopter itu. Hasilnya, butiran-butiran tungsten yang merah membara itu, sukses membuat kanopi anti peluru itu pecah berkeping-keping. Beruntung kedua pilot itu tidak terluka.


*Capt. Kita tidak ada perlindungan*.


Si gunner itu melapor lagi pada kapten pilotnya.


*Aku juga diincar*


Jawaban kaptennya itu membuat si gunner menoleh ke belakang. Dan ternyata ada titik merah di dahi kapten pilot itu.


*Markas. Pilot dan gunner tanpa perlindungan. Kalau memaksa menurunkan muatan, kita tamat*.


Sang kapten pilot melapor ke markasnya.


*Lanjutkan*!


Perintah itu mengejutkan Budi.


“Bos. Mereka akan nurunin pasukan” lapor si Petir.


*TANG PRANG BRATAK BRATAK BRATAK BRATAK*


“AAAA”


Ternyata gunner helikopter itu menembaki galeri menggunakan internal cannonnya.


“SMB kita kenapa?” tanya Budi.


*TANG TANG TANG TANG PRANG BRATAK BRATAK BRATAK BRATAK*


“Pelurunya abis, bos” jawab kang Sukron.


“PETIIIIR!” teriak Budi.


“Gunner down” jawab si Petir.


Seiring dengan jawaban si Petir, suara riuh tembok yang diterjang peluru tadi kini berhenti.


*DAR DAR DAR DAR DAR*


Berganti dengan suara riu tembakan di depan galeri. Rupanya pasukan yang diturunkan dari helikopter tadi, langsung disambut oleh tim Bravo. Dan helikopter tadi telah putar balik, dan pergi.


“Kang. Isi ulang SMB nya!” perintah Budi.


“Cobra, Hind, lets kick them out!” lanjut Budi.


“Bos. Aku diincar sniper musuh. Aku pindah posisi” lapor si Petir.


“Kamu sama Rika naik mobilnya Adel, muter timur, sergap mereka dari belakang! Aku sama Hind kacaukan mereka pake motor. Gator, bantu kang Sukron amanin mutiara!” saran si Cobra.


“Setuju” jawab Budi.


“Move!” seru si Cobra.


Budi menepuk pundak Erika. Setelah mengangguk sekali, Erika balik kanan dan mengikuti Budi berlari menuju parit pelarian.


*Tok tok*


“Din, buka!” perintah Budi.


Tak lama kemudian, pintu palka terbuka.


“Ngger. Gimana keadaan?” tanya bu Ratih.


“Tutup lagi, tutup lagi!” sahut Budi, setelah Erika turun.


Madina dan Adel buru-buru menutup lagi pintu palka itu.


“Tetap di sini ya, bu!” pinta Budi pada bu Ratih.


“Fit. Nanti jadinya kang Sukron sama si Gator yang akan mimpin kalian. Tapi mobil Adel mau kita pake dulu” kata Budi pada Fitri.


Fitri hanya menganggukkan kepalanya. Tanpa berkata lagi, Budi langsung balik kanan dan berlari menyusuri parit. Erika mengekor di belakangnya. Mereka berlari cepat menuju mobil Adel.


“Kamu yang nyetir!” perintah Budi.


“Hemm. Oke, deh” jawab Erika.


Budi tak menggubris nada keberatan dari Erika. Dia langsung mengambil posisi di kiri, dan menempatkan senapannya pada posisi yang nyaman.

__ADS_1


*Ciiiit*


__ADS_2