
Sesampainya di rumah sakit, Adel mendapatkan kabar baik. Ternyata bapaknya sudah siuman. Tapi berhubung jam besuk sudah habis, dia tidak bisa menemui bapaknya. Dia hanya bisa melihat bapaknya dari balik diinding kaca, yang membatasi ruang rawat bapaknya dengan ruang tunggu, tempatnya menginap.
Air matanya meleleh tanpa bisa dia bendung, saat dia melihat bapaknya menoleh dan tersenyum padanya. Ada kelegaan luar biasa dalam hatinya. Seolah kepenatan yang semenjak tadi dia rasakan, luruh sudah tak bersisa.
Dengan bahasa isyarat, bu Lusi meminta putri sulungnya itu untuk beristirahat. Sudah ada dirinya yang akan selalu menemani sang bapak. Adel sempat tergelak, karena ada beberapa kalimat yang tidak dia mengerti. Hanya komat-kamit mulut seperti seorang dukun yang sedang membaca mantra.
Setelah puas melihat senyum bapaknya, Adel beranjak pergi. Dia tahu, suster akan segera menutup tirai pembatas pandangan. Dia sempatkan untuk sujud syukur. Memanjatkan beribu terimakasih kepada Gusti Alloh, atas perkembangan baik yang dialami bapaknya.
Kabar baik itu, membuat Adel merasa seperti baterai yang baru saja diisi penuh. Dengan bersemangat dia menjawab semua pertanyaan yang berkaitan dengan jalannya sidang. Semua orang yang menemaninya, menaruh perhatian penuh padanya.
Dia juga menyempatkan diri menemani Luki minum kopi sambil berbincang sampai larut malam. Bagaimanapun juga, dia berusaha keras untuk menjaga perasaan Luki, terlebih perasaan bu Susan.
Dia berharap, dengan memberikan sedikit waktunya untuk Luki, akan menyenangkan perasaan bu Susan. Sehingga tidak terlalu sedih, jikalau nanti pada akhirnya bu Susan mendapati dia tidak berjodoh dengan anak semata wayangnya.
Dia juga menyempatkan diri menghubungi kekasihnya. Menyadari kalau berduaan dengan Luki bukanlah hal yang benar, dia jadi teringat dengan Erika. Wanita itu sedang berada satu atap dengan kekasihnya. Dan itu membuatnya cemburu. Beruntung kekasihnya segera menjawab teleponnya.
Dia segera mengabarkan perkembangan bapaknya. Ucapan syukur serta merta terucap dari mulut Budi. Mereka terus berbincang sampai lupa waktu. Adel sendiri sampai tidak ingat jam berapa dia tidur. Karena dia tertidur sewaktu masih menelepon.
Karena masih mengantuk berat, setelah shola subuh, Adel tak kuasa membuka matanya. Dia tertidur lagi. Kontan saja orang-orang disekitarnya tertawa melihatnya. Walaupun mereka semua memakluminya.
Saking nyamannya, sampai-sampai dia harus dibangunkan oleh ibunya. Dia terkejut melihat ketiga pengacara Luki sudah berdiri di depan pintu. Luki mengatakan kalau hari ini ada agenda sidang lanjutan dari sidang kemarin.
“Apa bapak tahu, Bu?” tanya Adel.
“Tentu saja nggak diberitahu dong, nduk” jawab bu Lusi.
__ADS_1
Adel menatap dinding kaca yang masih tertutup tirai hijau. Sebenarnya dia enggan untuk ke mana-mana. Dia ingin menemui bapaknya. Sudah berat rasa kangennya, karena dari semalam belum bisa masuk menemui bapaknya secara langsung.
“Kita semua tahu kok, mbak. Mbak Adel pengen nemuin bapak” kata Madina sambil memeluknya dari belakang.
“Tapi bapak pasti lebih seneng, kalo cecunguk-cecunguk itu mendekam semua dipenjara” lanjut Madina. Adel tersenyum. Dia mengelus-elus kepala adiknya.
“Iya, sayang. Mbak Adel akan ke sana. Mbak Adel nggak akan nyia-nyiain bantuan mas Luki” jawab Adel. Madina memeluknya semakin erat.
“Mbak Adel akan berusaha bikin mereka semua membusuk dipenjara” lanjut Adel.
Seringainya keluar lagi tatkala dia teringat wajah Isma. Bara permusuhannya berkobar lagi. lelah dan penat kemarin sudah tidak dirasakannya lagi. Hanya semangat menuntut balas yang kini memenuhi dadanya. Adelpun meminta ijin untuk mandi dan berganti pakaian.
Tati, dan Nike masih setia menemani Adel. Hanya Sinta yang kali ini absen. Dia harus sekolah. Ada try out pagi ini. Adel maklum dan malah meminta Sinta utuk pulang. Persiapan menuju ujian nasional jauh lebih penting daripada menemaninya.
Di depan rumah sakit, adel dikejutkan oleh rombongan pria bermotor. Jumlah mereka banyak sekali. Dan ditengah-tengah mereka, ada dua sosok yang sangat familiar di benak Adel.
“Alhamdulillah, udah” jawab Sandi. Mereka bersalaman.
“Bapak, gimana?” tanya Sandi.
“Alhamdulillah, udah siuman” jawab Adel.
“Sehat, Nat?” sapa Adel ke Sephia, alias Natsya.
“Alhamdulillah” jawab Sephia.
__ADS_1
“Kalian mau kemana, rame-rame begini?” tanya Adel.
“Mau ke pengadilan. Kita juga dapet undangan. Kan kita juga terlibat kasus ini” jawab Sephia.
“Oh. Ya udah. Bareng aja, yuk!” ajak Adel.
“Niat kita emang begitu, Del” sahut Sandi sambil tergelak.
Merekapun pergi dari rumah sakit dengan berkonvoi. Sandi memerintahkan anak buahnya yang di depan untuk jalan terlebih dahulu. Memberikan ruang untuk mobil yang ditumpangi Adel dan juga mobil Luki dan pengacaranya. Baru kemudian yang lain mengikuti di belakangnya.
Polisi lalu lintas pun sempat dibuat tak berkutik saat mereka lewat. Saking banyaknya anak buah yang dibawa Sandi, lampu merah tak lantas menjadi penghalang. Bahkan polantas yang berjaga di perempatan, memberikan jalan untuk mereka.
Seperti ormas yang hendak berunjuk rasa, mereka parkir memenuhi jalan di depan kantor pengadilan. Sampai-sampai polantas mengalihkan arus lalu-lintas. Diakui atau tidak, para hakim merasa keder dengan kehadiran mereka. Karena mereka tahu reputasi Sandi dan gengnya.
Di dalam, Adel menemukan orang yang mengaku sebagai pengacaranya Budi. Secara terbuka Budi mengatakan kalau itu memang pengacanya. Walau belum terkonfirmasi, tapi Adel bisa menduga darimana Budi mendapatkan pengacara itu. Dia menduga kalau pengacara itu adalah pengacara yang dulu kabarnya diberikan oleh mantan kekasihnya Budi.
Persidangan kali ini lebih seru dari persidangan hari kemarin. Keterangan-keterangan dari Sandi dan banyak lagi saksi lain, semakin memberatkan pengacara Isma. Ditambah lagi dengan berkas-berkas pengacara Budi, yang melengkapi bukti-bukti yang diajukan jaksa.
Di persidangan kali ini, Adel merasa cukup menikmati. Dia hanya bertindak sebagai undangan, yang memantau jalannya persidangan. Perdebatan demi perdebatan semakin menguatkan keyakinan Adel, bahwa Isma tidak akan mampu keluar dari jerat hukum.
Sempat pandangan mata Adel bertemu dengan pandangan mata Stevani. Mereka beradu pandang selama beberapa saat. Dari tatapan matanya, seolah-olah Stevani ingin mengatakan kepada Adel, benar kan, bukan aku pelakunya? Aku hanya dijebak.
Tatapan mata Adel berpindah ke Isma. Isma tampak semakin gelisah, diberondong dari berbagai arah. Saat tatapan mata mereka bertemu, seringai Adel keluar lagi. Tak hanya Isma yang merinding, Stevani juga merasakan hal yang sama. Terlebih dia punya kenangan mengerikan dengan Adel. Yaitu disaat dirinya disekap, dan dilempar gas oleh Adel. Waktu itu dia sampai menyangka kalau dirinya sudah mati.
Saking enjoynya, sampai-sampai Adel tidak merasa kalau waktu berlalu begitu cepat. Dia baru tersadar disaat hakim menskors persidangan, karena sudah masuk waktu ishoma. Hakim juga memberikan kesempatan selama tiga jam kepada pengacara Isma, Stevani, dan Adi, untuk membuat nota pembelaan. Karena sidang pembacaan nota pembelaan akan dilakukan hari ini juga. Termasuk juga kepada tim pengacaranya pak Paul, karena dia terseret oleh Isma.
__ADS_1
***