
Sesampainya di rumah Erika, Budi disambut seruan Tya, yang terdengar senang, melihat Budi membawa bungkusan. Seolah-olah bungkusan nasi itu memang untuk dia.
“Emang kamu belum sarapan, ya?” tanya Budi.
“Baru makan punten doang, mas” jawab Tya.
“Ya udah, nih” kata Budi, memberikan bungkusan itu pada Tya.
“Alhamduillah. Beneran jadi enak, mbak. Ha ha ha ha” kata Tya, saat Erika menatapnya.
“Makasih ya, mas?”
“Sama-sama”
“Aku langsung pulang ya, mbak. Udah ditungguin” pamit Tya.
“Astaga, bocah. Udah dapet bungkusan langsung ngacir” komentar Erika.
“Ha ha ha. Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikum salam”
Erika menjawab dengan geleng-geleng kepala. Sedangkan Budi menjawab dengan tergelak, melihat Erika geleng-geleng kepala.
Untuk sejenak, mereka saling terdiam. Mereka termenung, sibuk dengan pikiran masing-masing. Padahal masing-masing, pikirannya kosong. Tak ada yang berarti yang mereka pikirkan saat ini.
“Ka” panggil Budi.
“Ya, mas?” sahut Erika.
“Besok minggu, tamunya dateng jam berapa?” tanya Budi.
“Belum tahu. Emang kenapa, mas?”
“Ini. Tadi abis kamu kasih info, mas Eko nelepon aku. bilangnya pak Janto, sopirnya, mau ijin lagi. sedangkan hari minggu tu ada pengiriman ikan ke ponorogo. Dia bilangnya nggak percaya sama sopir-sopir cabutan. Pernah dikentit, bilangnya. Dia minta tolong aku buat bawa mobilnya” jawab Budi panjang-lebar.
“Eeem”
Erika mengernyitkan keningnya. Dia merasa ada yang janggal dengan pernyataan Budi itu.
“Sandi komentar apa?” tanya Erika.
“Sandi? Apa hubungannya?”
“He he. Penasaran aja. Kalo sahabatnya lagi bingung, dia kasih saran apa? Nyuruh bener apa enggak? Kan tadi mau ngomongin sesuatu yang nggak bener” jawab Erika. Budi tersenyum.
Iya, ngomongin kamu. Pantesan kamu tahu nama-nama geng di kota ini. Ternyata kamu pernah gabung sama Sandi.
“Ya, dia sih ngingetin aku tentang jasanya mas Eko disaat aku jobless” jawab Budi.
“Syukur deh, kalo cuman gitu. Takutnya, malah disuruh bolos aja, kerjanya”
“Ya nggak mungkin, lah. Pak Paul juga udah berjasa besar buat aku. Lewat kamu juga”
Erika tersenyum mendapat pujian dari Budi.
“Makanya, aku mau ngeset jadwal. Kira-kira keburu apa enggak? Kalo nggak keburu, tugas aku entar ngapain dan di jam berapa? Kalo misal tugas aku di jam sepuluh, ya masih keburu, kan?”
“Kayaknya, mas perlu nanya langsung sama Farah, deh. Kepalaku masih belum bisa diajak mikir berat. Masih nyut-nyutan” jawab Erika.
“Oh” sahut Budi singkat.
“Mana yang nyut-nyutan?” lanjut Budi, sambil mengulurkan tangannya, hendak memegang kepala Erika.
“Eh”
Erika seperti terkejut saat tangan Budi sudah dekat dengan kepalaya. Dia seperti menghindar.
Dia kenapa? Dulu aja sampe pamer segala, sekarang malah ngehindar.
__ADS_1
“Maaf mas, kaget aja” kata Erika.
Walau begitu, masih tampak wajah kaget dan tegang di wajahnya. Budi menarik tangannya. tapi tatapan matanya masih lekat menuntut penjelasan. Dan Erika tahu akan hal itu.
“Aku malu aja, mas” kata Erika.
Budi tidak menyahut, hanya kernyitan keningnya yang semakin mengkerut.
“Sandi pasti udah cerita tentang aku, mas” lanjut Erika.
Budi manggut-manggut sambil mencebirkan bibirnya, pertanda mengerti akan perubahan sikap Erika.
“Yang apa, yang kamu maksud?” tanya Budi. Erika terkesiap. Dia bingung dengan pertanyaan Budi.
“Tentang hubunganku dengan dia. Tentang aku yang, “ Erika menggantung kalimatnya.
“Udah nggak virgin?” sahut Budi.
Erika mengangguk. Tampak dia malu, rahasianya dibongkar oleh Sandi.
“Bedanya apa, Ka? Setiap orang punya masa lalu. Termasuk aku”
“Eeem” Erika tidak bisa menjawab.
“Yang penting sekarang, kamu peduli sama aku, kamu baik sama aku, kamu tulus. Perkara kamu pernah ikut Sandi, pernah begituan, mungkin juga ada tujuannya kamu masuk PPRAM, bodo amat” lanjut Budi.
“Tujuan masuk PRAM ya nyelametin perut, mas. Apa lagi? Papaku aja udah nggak peduli, waktu itu. Terus, dari mana aku dapet makan, kalo nggak nyari sendiri?”
Gantian Budi yang terkesiap. Dia tidak menyangka kalau pikiran Erika akan terhubung dengan kenangan tidak mengenakkan dalam hidupnya.
“Udah, sini, aku pijitin kepalanya!” pinta Budi.
Dia memposisikan Erika memunggunginya. Seperti hendak memeluknya dari belakang.
“Kekurangan satu itu, nggak ada apa-apanya dibanding semua waktu yang udah kamu kasih ke aku, selama masa krisisku, Ka” lanjut Budi.
Erika tidak menjawab. Dia memejamkan matanya, menikmati pijatan Budi di kepalanya. Tanpa Budi sadari, ada air mata yang meleleh di pipi Erika. Hal yang baru pertama kali terjadi setelah sekian lama.
Malam ini, langit cerah penuh bintang. Budi mengikuti dengan khidmat acara kirim doa untuk bapaknya tercinta.
Ada beberapa tetangga yang membantu ibunya di dapur, menyiapkan hidangan. Ada juga beberapa orang lain yang ikut membantu. Tapi tidak ada Erika.
Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya Erika memutuskan untuk tidak ikut Budi. Dia tetap di rumah ditemani Tya dan Basuki, suaminya.
Saat acara sudah selesai, Budi sempat tertegun saat melihat Madina membantu Putri membereskan gelas dan piring.
Perawakan Madina sangat mirip dengan Adel. Wajahnyapun cukup mirip. Hanya terlihat lebih muda, memang.
Kesedihan yang siang tadi sempat terkubur karena kebersamaannya dengan Erika, kali ini menyeruak kembali. Rasa tidak terima itu muncul kembali.
“Ngger”
Sebuah teguran membuyarkan lamunannya. Saat dia menoleh, wajah ibunya sudah dekat dengan wajahnya. Seulas senyum tersungging di bibir ibunya.
“Oh, ya”
Budi paham arti teguran itu. Diapun lantas bergegas ke belakang, memindahkan tumpukan piring yang sedari tadi sudah dipegangnya.
Madina, yang paham akan sikap Budi, merasa tak enak hati. Dia sempat mengikuti langkah Budi dengan tatapannya.
“Jangan tersinggung ya, nduk!” Tegur bu Ratih. Madinapun sontak menoleh.
“Kangmasmu Budi masih galau” lanjut bu Ratih.
Madina termenung sejenak. Rasa tidak sukanya terhadap Luki juga menyeruak. Bercampur kesedihan karena bubarnya hubungan Budi dengan embaknya.
“Din. Temenin, yuk!”
Suara Putri mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
“Beli sabun. Sabunnya abis” lanjut Putri.
Madinapun mengangguk. Dia ijin pada bu Ratih untuk menemani Putri beli sabun. Bu ratih mengijinkan. Dia tahu, itu akal-akalan Putri agar suasana di rumah tidak semakin kaku.
***
Keesokan harinya, Erika sudah kembali masuk kerja. Semua orang kantor heboh, menanyakan kondisinya. Termasuk juga Aldo. Dia yang hanya mengantar tanpa menungguinya sampai pulang, berkata kalau dia merasa bersalah. Tapi Erika tidak menanggapinya sebagai sebuah kesalahan. Dia malah berterimakasih telah diselamatkan oleh Aldo.
Kehebohan kembali terjadi saat Budi datang. Banyak wanita yang berkelakar kalau dirinya sedang pusing, dan ingin dirawat oleh Budi. Sontak Erika melotot dan berkacak pinggang. Tentunya hanya bercanda saja. Pada akhirnya, mereka harus bubar saat bel tanda dimulainya pekerjaan, berbunyi.
“Montokan siapa, Do?”
Pertanyaan di dekat telinganya, sontak membuat Aldo menoleh. Dia yang hendak pergi ke lapangan, jadi terhenti langkahnya. Dia tersenyum mengetahui siapa yang bertanya.
“Aku nggak berani bilang, Bud” jawab Aldo sambil tergelak.
“Premium, kan?” tanya Budi lagi.
“Hempf” Aldo tergelak.
“Buat kamu aja. Iklas, aku” jawab Aldo.
“Takut, lu?” goda Budi.
“Nggak kuat, Bud. Alamat diurut mulu, gua”
“Hempf. Ha ha ha ha”
Budi tertawa lepas mendengar jawaban Aldo. Diapun membiarkan Aldo pergi ke lapangan. Sedangkan dia mampir ke dispenser air, untuk minum terlebih dahulu.
“Bud”
Sebuah panggilan membuat Budi menoleh. Bahkan saat proses minumnya belum selesai.
“Tolong diurus, ini!”
Budi tidak langsung menjawab. Dia habiskan dulu minumnya sampai semua air dalam gelasnya masuk ke dalam perutnya.
“Wah. Farah lu, mbak. Ngagetin orang minum aja” gerutu Budi.
“Wah. Budi, lu. Jelek” sahut Farah menirukan.
“Ha ha ha. Nggak enak didengernya, mbak. Nggak masuk iramanya. Ha ha ha” Budi tertawa mendengar ucapan farah.
“Udah nih, baca dulu! Terserah deh, kamu mau gimana. Yang penting di follow up!” perintah Farah.
“Apa, nih?” gumam Budi.
Farah tidak menanggapi gumaman Budi. Dia malah pergi begitu saja. Meninggalkan Budi yang sedang membaca lembaran kertas darinya.
“Hadeeh. Kenapa lagi, sih? Apa ada hubungannya sama kaburnya Madina? Dasar bocah tengik. Bikin susah aja” keluh Budi.
“Kenapa, mas?”
Terdengar sapaan dari arah belakangnya. Ternyata Erika yang menyapa.
“Ini” jawab Budi singkat. Dia acungkan laporan dari Farah pada Erika.
Erika yang tadinya mau mengambil air minum, jadi tertunda, karena tertarik pada apa yang diacungkan Budi.
“Lah” komentar Erika singkat.
“Terus, mas mau ke sana?” lanjutnya.
“Aku juga lagi bingung, mbak. Aldo lagi sibuk ngurusin material, Riki juga lagi bantuin tim anyaman. Operatornya kebagian WFH sih” jawab Budi.
“Entar aja, menjelang jam istirahat. Bareng sama aku”
“Aku diskusiin dulu sama mbak Farah. Semoga masih aman buat sampe sebelum istirahat” jawab Budi.
__ADS_1
“Oke” sahut Erika.
Budipun pergi ke kantor marketing, diiringi tatapan mata Erika. Tidak ada yang berani menegur, sekalipun Ratna dan Resti juga antri ingin mengambil air minum.