
Insiden siang itu rupanya tidak diperpanjang oleh rekan-rekan Budi. Tidak mereka jadikan bahan obrolan, apalagi bercandaan. Mereka terlalu takut pada sosok Budi. Terlebih lagi, kedatangan para pengunjung di stand mereka juga tak kalah banyaknya dari yang tadi pagi. Bahkan saat ekspo hari ini sudah mau ditutup, masih banyak yang mendatangi stand mereka. Seolah ekspo ini hanya digelar satu hari. Padahal sebenarnya masih ada dua hari lagi untuk berkunjung.
“Halo gaes”
Sebuah suara tenor mengalihkan perhatian Budi dan rekan-rekannya.
“Pak Paul?” seru Budi sambil mendekat. Rekan-rekannya yang masih sibuk berbenah dan merekap data ikut mendekat.
“Lancar, pak?” tanya Budi sambil menyalaminya.
“Puji Tuhan, lancar” jawab pak Paul.
Satu per satu mereka menyalami bos besar mereka. Sesekali pak Paul mengeluarkan kelakar, mengomentari anggota Budi yang punya sejarah menarik selama bekerja.
“Kalian luar biasa. Ekspo kali ini memecahkan rekor ekspo-ekspo sebelumnya” puji pak Paul.
“HOEEEEE” mereka semua bersorak dan bertepuk tangan.
“Padahal ini baru hari pertama. Masih ada dua hari lagi” lanjut pak paul.
Lagi-lagi mereka bersorak. Dan mereka juga mengomentari perhelatan ekspo hari ini.
“Gabungan dari pengalaman dan ide-ide brilian sangat terlihat jelas hari ini. Dan saya sangat mengapresiasi kinerja kalian semu”
“YUHUUUUUU”
“Dan sebagai apresiasi, “ sebuah suara lain muncul memasuki Stand.
“Mbak Rika?” seru Hilda. Tapi yang lain malah tertegun. Karena ada orang lain di belakang Erika.
“Pak Paul nraktir kalian makan malam” lanjut Erika.
“Ha?”
Mereka malah bingung. Lebih tepatnya mereka sedang menebak-nebak isi kresek hitam besar yang dibawa mas-mas di belakang Erika.
“Taruh sini aja mas, satenya!” perintah Erika pada mas-mas tadi.
“HOREEEEEE”
Mereka bersorak lagi. Baru mereka merasa senang, setelah mengetahui isi dalam kresek hitam itu. Tidak hanya lumayan, cukup mewah untuk makan malam di stand ekspo. Apalagi ini dalam versi lengkap. Ada gulai segala macam. Tanpa menunggu perintah kedua kali, begitu dipersilakan, mereka langsung menghambur ke kresek hitam itu. Satu per satu mereka mengambil jatah. Hanya pak Paul dan Erika yang tidak ada jatahnya.
“Loh, mbak Erika udah makan?” tanya Hilda.
“Mbak Rika sih, menunya Beda” Riki yang ikut bertugas dari sore tadi menyeletuk.
Sontak perhatian Erika teralihkan padanya. Termasuk Aldo dan Budi yang ada di sebelahnya
“Sosis bakar jumbo, sama pentol bakar. Saos mayonaise pedes manis” kata Aldo pada Budi pelan, terkesan berbisik.
__ADS_1
“Hempf” Budi tergelak mendengar celetukan Aldo.
“Mikir apa, kamu?” tanya pak Paul sambil menabok pelan pundak Budi.
“Iya. Ketawanya nuduh banget” sahut Erika.
“Ha ha ha ha” Budi malah tertawa lepas.
Yang lainpun ikut tertawa, mendengar tawa geli Budi.
“Aldo, pak. Saya mah, nggak komentar” kilah Budi.
“Ha ha ha ha. Suek lu. Malah dibilangin” komentar Aldo.
Pak Paulpun hanya tertawa mendengar kelakar anak buahnya. Saat mereka sedang makan, ada pak Bupati dan timnya datang berkunjung. Dan sudah pasti, pak Paullah yang menyambut pak mereka.
Erika selalu siap sedia di belakang pak Paul. Karena merasa menjadi ketua tim, Budi juga mengurungkan niatnya untuk menyantap makan malamnya. Dia juga ikut siaga, jikalau ada yang pak Paul butuhkan.
Tapi ternyata pak bupati dan pak Paul malah pergi entah kemana. Tapi Erika tidak diajak. Ya sudah, Budi berinisiatif pergi ke belakang stand.
Ada celah diantara stand dan warung di trotoar jalan yang bisa dia gunakan untuk makan. Belum juga sampai belakang, langkah kakinya terhenti oleh beberapa orang rekannya yang pamitan untuk pulang.
Dengan sigap Budi menyalami mereka. Dia mengucapkan terimakasih atas dedikasi mereka seharian ini. Tak lupa dia juga mendoakan agar mereka selamat sampai di rumah.
“Gimana kesannya jadi ketua tim?”
Budi yang baru saja duduk, terkejut mendapat sapaan itu. Tentu saja dia mendongak mencari sumber suara. Dan ternyata itu adalah Erika.
“Nyari apa?” tanya Erika bingung, melihat Budi celingukan lalu menghela nafas.
“Air. Lupa” jawab Budi.
“Nih!” kata Erika, menyodorkan minuman yang dibawanya. Budi malah tersenyum tanpa menyambut sodoran itu.
“Ini tinggal setengah, Budi” kata Erika, menyadari makna senyuman itu. Budi tersenyum lagi.
“Makasih, mbak. Takut baper” jawab Budi sambil beranjak dari duduknya.
“Dih” komentar Erika.
“Ha ha ha ha”
Budi tertawa mendengar komentar pendek itu. Dia tetap pergi ke depan tanpa membawa satenya. Beruntung ada air mineral botol di bawah LED TV. Langsung saja dia mengambil tiga botol sekaligus. Ukuran paling kecil memang.
“Denger-denger, tadi Adel ke sini, ya? tanya Erika. setelah Budi duduk kembali.
“Iya. Bawain makan siang. He he” jawab Budi.
“Hadeh. Emang bener, ya. Kalo udah jatuh cinta, lupa semuanya” komentar Erika.
__ADS_1
“Maksudnya?”
“Ya itu. Udah tahu itu sofa milik bapaknya Adel, pake didudukin. Dua-duaan lagi”
“Mana aku tahu, mbak. Aku cuman liat sekilas laporannya Hilda. Cuman sebatas tahu, nama pemiliknya EFA Meubel”
“Ya kan itu bapaknya Adel”
“Mana aku tahu kalo EFA itu singkatan dari Eka Fajar. Orang di workshopnya juga nggak ada plakatnya”
“Ish, ish, ish, ish. Sungguh terlalu” komentar Erika menirukan logat haji Roma Irama.
Budi tergelak dalam mengunyahnya. Dia tidak menjawab. Perutnya sudah terlalu lapar untuk dia tunda makannya. Tak dipedulikannya tatapan mata Erika yang menunggu komentarnya.
“Oh, iya. Tadi udah disampein ke pak Paul apa belum, mbak?” tanya Budi.
“Soal sofa yang nemenin sofa kamu?”
“Iya”
“Udah. Itu sofa calon mertua kamu, yang dipilih”
“Alhamdulillah” kata udi mengucap syukur.
“Dijaga, jangan sampe lecet! Serem kalo yang punya ngamuk” goda Erika.
“Ha ha ha ha. Tenang! Aman kok sama Budi” jawab Budi sambil tertawa.
Sejenak mata mereka saling beradu pandang. Budi mengernyitkan keningnya. Dia tidak paham dengan arti tatapan Erika. Seperti cemburu, tidak terima, tapi juga ada sorot bahagia di sana.
“Ish. Apa lagi, sih?” gumam Erika, saat ponselnya berdering.
Ternyata pak Paul meminta Erika menemuinya di suatu tempat. Dengan memutar bola matanya, Erika mengiyakan perintah bosnya itu.
“Kenapa?” tanya Budi.
“Nggak tahu, si bos. Jam segini masih aja nyariin” jawab Erika kesal.
“Tinggal dulu, ya? Jadi nginep sini, kan?” pamit Erika.
“Oh, iya. Nginep sih, jadi” jawab Budi.
“Ya udah. Aku pergi dulu. Kalo suntuk, paling aku mampir lagi”
“Oke. Pintu depan nggak bisa ditutup, mbak” jawab Budi.
“Maksud lo?”
“Hempf. Ya selalu terbuka untukmu, mbak. Ha ha ha ha”
__ADS_1
Erika pergi masih dengan bersungut-sungut. Tapi Budi tidak peduli. Dia melanjutkan makan malamnya sampai tuntas. Saat kembali ke depan, terlihat Aldo sedang memompa kasur angin berukuran besar. Cukup untuk tidur bersama empat orang sekaligus.