Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
dikejar pendemo


__ADS_3

Siang harinya, Budi bersiap untuk menjalankan rencananya. Walau sebenarnya agak berat dia meninggalkan jalur produksi masker. Karena masih banyak hal yang perlu dia awasi.


Di sisi lain, sang sales cantik, zulfiana, juga merasa kecewa, saat melihat kedatangan Erika. Masih juga pukul sebelas, tapi Erika sudah mengajak Budi keluar. Padahal rencananya, dia mau mengajak Budi makan siang bersama lagi. Zulfiana hanya bisa manyun, saat mendapati Budi terlihat kalah power dibanding Erika.


“Mas. kayaknya tebakan mas Budi bener, deh” celetuk Erika.


“Tahunya?”


“Liat, deh!” jawab Erika.


Erika menunjukkan tablet yang dia bawa. Dan tampak dari CCTV gerbang belakang, ada dua orang yang tadi ikut berdemo, sedang makan di salah satu warung makan. Mereka berdua tampak sedang mengawasi PRAM.


“Dari depan juga ada, mas” kata Erika.


Dia mengubah tampilan layar tabletnya menjadi tangkapan gambar real time dari CCTV gerbang depan.


Tampak di kejauhan, tepat di belokan menuju warung makan di belakang PRAM, ada dua orang lagi sedang duduk-duduk di pos ronda. Terlihat kilatan cahaya, pantulan dari sebuah benda.


“Oke. Cuman bawa golok. Masih bisa diatasi” komentar Budi. Erika menatapnya.


“Are you ready to fight, baby?” tanya Budi.


“Any time handsome, as long as with you” jawab Erika.


Budi tersenyum mendengar jawaban itu. Kemudian Budi memaparkan rencananya berkaitan dengan keempat orang yang sudah menunggu mereka itu.


Budi lebih memilih meminjam motornya Aldo, ditukar dengan mobilnya Erika, jika Aldo ingin bepergian. Tak banyak tanya, Aldo meminjamkan motornya. Mereka bertukar kunci kendaraan.


Berbalut jaketnya Aldo, juga helm pinjaman, Budi dan Erika meluncur dengan santainya keluar gerbang depan.


Dari kaca spion, Budi mengetahui kalau kedua orag di pos ronda itu mulai bergerak. Rupanya mereka mengenali postur tubuh Erika.


Sesampainya di ujung jalan, masuk ke jalan besar, Budi langsung tancap gas. Dia ingin membuat jarak terlebih dahulu.


Budi langsung mengarahkan motor tunggangannya menuju jalan lintas selatan. Dia melirik sesaat saat melewati pasar wetan. Saat berbelok ke kanan, dia melihat dua motor melintas cepat dari arah jembatan.


Walau tahu kalau kedua motor itu kapasitas mesinnya besar, tapi Budi tidak panik. Itu karena motornya Aldo, walau matic, tapi mesinnya juga tak kalah besar. Diapun menggeber motor itu dengan cepatnya.


Menyadari targetnya tahu kalau sedang dikejar, keempat orang itu langsung mendekat tanpa pura-pura lagi. Tapi kelihaian Budi menggunakan motor matic, membuatnya selalu bisa membuat jarak. Dan terjadilah kejar-kejaran di jalan.


“Mas. Mereka ngeluarin senjata” seru Erika.


“Waduh. Main porno aksi, mereka” komentar Budi.


*Taakk*


“Aduuh”


“Golok, mas Bud” seru Erika, setelah menjitak helm Budi.


“Oh, golok? Oke”


Budi menggeber lagi motor tungganganya, membuat jarak lebih jauh.


“Ada skop Ka, di tumpukan pasir” seru Budi.


“Mana?”


“Itu di kiri jalan”


“Kiri jalan? Mana sih?”


“Dua puluh meter” jawab Budi.


“Lima belas” kata Budi lagi.


“Sepuluh” lanjutnya.


“Oke. keliatan” seru Erika.


Dia mengulurkan tangan kirinya, bersiap meraih sekop itu.


*Sreeekkk*.


“Woooi”


Dalam sekali raih, skop itu berhasil didapatkan Erika. Terbukti dengan teriakan orang yang melihat aksinya. Kini mereka berdua punya sesuatu untuk melawan.


“I’m ready to fight, baby” seru Erika.


“Ten minutes to jati kobeng” jawab Budi.


“And they are still pursue us” sahut Erika.


“Of course”


Budi masih terus berjalan zigzag, mencoba memecah perhatian kedau motor yang mengejar mereka. Tapi di depan sana, mendekati pantai soge, biasanya akan sepi dari kendaraan. Dan akan menjadi kesempatan buat pengejar itu untuk mendekat.


“Siaga satu, Ta!” seru Budi. Erika terbelalak.


“Ta?” tanya Erika.


“Ka” jawab Budi.


Budi terkejut, menyadari dirinya telah salah ucap. Untung mirip.


“Oh” komentar Erika singkat.


“Mepet kiri aja, mas!” pinta Erika.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Budi, tes ombak.


“Sekopnya cuman satu. Biar mereka di kanan semua”


“Oke”


Budi tersenyum mendengar jawaban itu. Dia pikir Erika merajuk dan ingin turun. Rupanya dia punya rencana.


Budi melajukan motor itu dengan mepet ke bahu jalan. Sehingga tidak ada lagi ruang untuk mendahului dari kiri. Hanya ada tebing juga pembatas jalan.


“WOOOI... BERHENTI ANJ***!”


Terdengar teriakan dari arah kanan mereka. Dan terlihat salah satu motor memepet mereka. Kilatan cahaya juga terlihat dari golok yang diacungkan.


*CIIIIT*


Budi mengerem mendadak.


*CIIIT.... BRAAAK.... GROSAK GROSAK GROSAK*


“BANG***”


Motor kedua yang kebetulan ada di belakangnya, telat menghentikan lajunya. Kedua pengendaranya terjatuh setelah menabrak roda belakangnya.


Budi tergelak saat pemegang golok itu berteriak mengumpat, menyadari dirinya telah menjatuhkan teman mereka tanpa perlawanan. Dan dia langsung tancap gas, meninggalkan kedua pengejarnya.


“BERHENTI ANJ***!”


*Wuuusss*



*DAAAANG*


Pengejar itu mengayunkan goloknya sekuat tenaga. Beruntung Erika sigap. Dengan sekop itu dia menangkis serangan golok itu. Tepat menganai plat sekop.


*DAAAANG*



*DAAAANG*



*DAAAANG*



*PAAANG*


“Kok beda?” gumam Budi.


Ternyata suara terakhir itu adalah suara sekop Erika yang mengenai jidat si pembawa golok. Dan dia jatuh dari motornya. Tinggal tersisa pengendara motornya.


“Yank. Nggak papa, kan?” seru Budi.


Mendapat panggilan ‘yank’, Erika tersenyum.


“Nggak papa, mas. Aman” jawab Erika.


“Batangnya enak digenggamnya” lanjut Erika.


“Woow” komentar Budi.


*Taakkk*


“Gagang sekop, mas” seru Erika, mengetahui Budi membayangkan sesuatu yang lain.


“Hempf. Ha ha ha ha”


Budi tertawa lepas, mendengar seruan Erika. Dia lantas mempercepat laju motor tunggangannya. Membuat Erika memeluk, karena terkejut.


Seperti dugaan Budi, satu orang yang masih tersisa itu, masih terus mengejar. Tidak seperti sebelumnya, kini dia lebih memilih untuk menabrak Budi dari belakang. itu karena dia hanya punya belati, sedangkan Erika masih punya sekop.


Berkali-kali orang ini memepet Budi untuk dijatuhkan di tebing ataupun di pembatas jalan. Tapi Erika tak kalah gesit. Sekalipun diserang dari kiri, dia masih bisa mengayunkan sekopnya dengan presisi.


Sampai akhirnya, mereka tiba di jalan masuk desa sidodadi. Di belakang mereka, terlihat pengejar mereka berhenti. Seperti ragu untuk mengikuti Budi, masuk ke jalan menuju hutan jati kobeng. Tapi pada akhirnya, dia ikut masuk juga. Dia langsung tancap gas.


“Mas. Dia ngejar. Gimana?” tanya Erika.


Budi tidak menjawab. Dia mengurangi laju motor tunggangannya. Dia sedang mengucapkan doa di dalam hati. Sebagai syarat yang harus dilakukan kalau tidak ingin tersesat di hutan ini.


Di depan mereka, ada sebuah pohon jati yang sangat besar. Paling besar diantara jati-jati yang lain. Budi membelokkan motornya ke sana. Jati yang berada tepat di pinggir jalan itu dia jadikan tempat bersembunyi.


“Mas. Ini masih keliatan banget” tegur Erika.


“Kita liat aja” jawab Budi.


Walaupun bingung, tapi Erika tidak protes. Dia turun dari motor, dan bersiaga, jika harus kontak fisik dengan orang itu. dan orang itu mendekat.


“Loh, kok?”


Erika bingung, orang itu malah melewati mereka begitu saja. Seolah tidak melihat keberadaan mereka. padahal begitu terbuka.


“Biarin aja dulu! Sampe bensinnya abis” perintah Budi.


“Emang dia bakal kembali, mas?”


“Lah. Katanya pernah ke sini?”

__ADS_1


“Sekali doang, mas”


“Udah! Liat aja!” tukas Budi.


Dan benar saja. Orang itu kembali lagi. Tapi lagi-lagi seperti tidak melihat keberadaan mereka. dan begitu terus, sampai lima kali bolak-balik.


Dan saat melintas ke enam kalinya, orang itu berbelok menuju jalan setapak di kiri jalan. Dan melintasi mereka berdua tanpa menyadari keberadaan mereka sama sekali.


“Yuk, ikutin!” ajak Budi.


Tapi ternyata Budi mengajak Erika mengikti dengan berjalan kaki. Erika menurut saja. Orang itu terus melajukan kendaraannya perlahan sampai jauh masuk ke dalam hutan. Di dalam sana, tampak ada sebuah rumah tua yang sangat tidak terawat. Di sanalah dia berhenti. Tampak orang itu bingung dengan kondisi sekitarnya.


“Sekopnya” pinta Budi lirih.


Erika memberikan sekop di tangannya.


Budi mengendap-endap, mendekati orang itu. Suasana teduh perlahan menjadi redup, dengan adanya awan yang berkumpul di langit di atas mereka.


*DAAANG*


Budi mengayunkan sekopnya ke kepala orang itu. Tanpa helm, cukup sekali ayun, orang itu langsung pingsan.


“Kok dibikin pingsan, mas?” tanya Erika.


“Kita bawa masuk dulu. Kita interogasi di dalem” jawab Budi.


Dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Ternyata tali rafia. Erika membantu mengikat tangan dan kaki orang itu. Lalu dia bantu Budi menggotong orang itu ke dalam rumah. Mereka mengikat orang itu di salah satu tiang penyangga atap rumah kosong itu.


Cukup lama mereka menunggu orang itu siuman. Berbagai pertanyaan langsung mereka lontarkan begitu orang itu siuman. Namun orang itu tidak mau mengaku.


Tanpa ragu, Budi menancapkan belati milik orang itu ke paha kiri orang itu. Sudah pasti orang itu menjerit kesakitan. Tapi orang itu masih bersikukuh tidak mau menjawab pertanyaan Budi.


Budi menambahi sayatan pada paha itu. Butuh beberapa sayatan, sampai orang itu menyerah pada rasa sakit yang dia rasakan.


“Bejo” kata orang itu lirih.


“Bejo. Rotan itu punya Bejo”


“Bejo siapa?” tanya Erika. orang itu menggeleng, masih sambil meringis kesakitan.


“Bejo siapa?” tanya Erika lagi, sambil menampar orang itu.


“Ya Bejo bandar, lah. Siapa lagi?” sahut orang itu.


“Aku nggak tahu siapa nama aslinya. Semua orang manggil dia, Bejo” lanjut orang itu.


“Dari mana rotan itu berasal?” tanya Budi.


Orang itu menggeleng. Budi habis kesabaran. Dia cabut belati itu serta merta, dan akan menancapkannya kembali. Orang itu berteriak kencang, menahan aksi Budi.


Dia menyebutkan sebuah tempat. Budi tidak langsung percaya. Tapi berkali-kali orang itu bersumpah kalau dia tidak bohong. Dia menceritakan bagaimana rotan itu bisa sampai di PRAM.


“Gimana, mas?” tanya Erika.


“Sayangnya jauh banget” jawab Budi.


“Ya udah. Kita balik aja, dulu” lanjut Budi.


“Oke” sahut Erika.


“Hoee. Lepasin aku!” teriak orang itu, saat Budi dan Erika beranjak.


Tapi Budi tampak tidak peduli. Dia biarkan saja orang itu tak berdaya. Erika mengikuti Budi, juga tanpa peduli.


Mereka kembali ke motor mereka. Saat berjalan, Erika menerima pesan singkat. Pesan itu memberitahukan dia, bahwa orang-orang yang tadi mengejar, masih mencari mereka. Dan sekarang, jumlah mereka berkali-kali lipat lebih banyak.


Ada video singkat, rekaman dari tangkapan satelit. Dan ada dua orang yang Erika kenali, orang yang dia jatuhkan dengan sekop, dan orang yang jatuh karena Budi mengerem mendadak.


“Mas. Ada jalan lain nggak, sih?” tanya Erika.


“Kenapa emang?” Budi balik bertanya.


“Kayaknya, jalan depan udah nggak aman, mas”


“Tahu dari mana?”


“Feeling, sih”


“Hempf”


Budi tergelak. Untuk kesekian kalinya, dia mendengar kata yang sama keluar dari mulut seorang Erika.


“Oke. Kita muter aja”


Budi memang tidak mengesampingkan feelling Erika. Karena kata itu, bagi Budi, bukanlah sekedar perasaan belaka. Melainkan sudah melalui perhitungan berdasar pengalaman Erika. Hanya saja keakuratannya masih dibawah sembilan puluh persen.


Budipun membawa Erika masuk ke desa Sidodadi, dan berbelok ke kanan, ke arah kuburan. Jalan itu, ujungnya akan tembus di jalan besar, tapi di kecamatan sebelah.


“Gimana? Punya feeling apa sekarang, sayang?” tanya Budi, setelah sampai di dekat jalan besar.


“Eeem”


Erika tidak segera menjawab. Dia memeriksa ponselnya tanpa diketahui Budi.


“Nggak tahu, mas. Kayaknya udah aman” jawab Erika.


“Oke”


Budipun melajukan motornya ke jalan besar. Lalu kembali ke kota, melewati jalan lama. Di tengah perjalanan, Erika mengajukan usul untuk pergi ke galeri dulu. Karena pak Paul memberikan kebebasan untuk mereka berdua. Dan dia yakin, kalau pak Paul juga ada di galeri. Budi setuju dengan usul tersebut.

__ADS_1


__ADS_2