Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
bengkel pak fajar kebakaran (lagi)


__ADS_3

Malam sudah sangat larut. Jam di dinding kamar sudah menunjukkan angka dua belas. Tubuhnya memang letih, tapi matanya belum mau terpejam.


Mungkin karena adrenalinnya masih terlalu tinggi, setelah berjibaku bertarung melawan waktu, membereskan semua perlengkapan ekspo.


*Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu*...


Dering ponsel itu mengalihkan perhatiannya. Tangan yang sedari tadi mengaduk-aduk kopi hitam, berganti meraih ponselnya. Dia tersenyum membaca nama yang terpampang di layar ponsel itu.


“Assalamu’alaikum” sapa Budi sambil berjalan.


“Wa’alaikum salam”


Ada perasaan haru yang menggelayut saat dia melihat seulas senyum merekah di wajah orang yang meneleponnya.


“Kok jaketmu tebel banget, ngger? Emang dingin, apa?” sebuah pertanyaan membuatnya tergelak. Ya, bu Ratihlah yang menelepon dengan panggilan video.


“Namanya juga di Jerman, Bu. Ya dingin, lah. Kalo panas sih, Mesir” jawab Budi berkelakar. Dia duduk di kursi balkon.


“Hempf. Ha ha ha ha. Bisa aja kamu, ngger” komentar bu Ratih, setelah tertawa.


“Gimana kabarnya, Bu? Sehat?” tanya Budi.


“Alhamdulillah, sehat” jawab bu Ratih.


“Kamu sendiri, gimana? Kok lesu gitu? Capek ya, abis beberes? Kelar jam berapa, beberesnya?” bu Ratih balik bertanya.


“Aduh, aduh, ibu. Udah kaya Adel aja. Kalo nanya berondongan” komentar Budi.


“Ha? Ha ha ha ha. Masa, sih?”


“Alhamdulillah, sehat. Budi keliatan ya bu, kalo capek? Emang iya, sih. Kejar-kejaran sama waktu. Baru juga kelar jam sebelasan, tadi” jawab Budi.


“Subhanalloh. Dari pagi baru kelar jam sebelas? Emang banyak banget, ngger ?”


“Ya kan sisanya harus diekspor balik ke Indonesia, bu”


“Oh, gitu. Ngurusin berkas segala macem, dong?”


“Ya gitu. Mantep banget rasanya, Bu. Mana dingin banget, lagi. Ada Adel, seru”


“Haish, sembarangan. Jangan ngayal! Nggak baik” sergah bu Ratih.


“Ha ha ha ha. Iya, bu. Bercanda”


“Eh, besok jadi pulang kan, ngger ?” tanya bu Ratih penuh harap.

__ADS_1


Tapi Budi tidak segera menjawab. Dia malah menatap wajah ibunya lekat-lekat.


“Kenapa?” tanya bu Ratih lagi.


“Itu dia, bu. Kita kejebak di sini”


“Kejebak?” tanya bu Ratih tidak mengerti.


“Iya. Pemerintah Jerman udah mutusin buat memberlakukan lock down” jawab Budi.


“Lock down? Apaan tuh?”


“Pengucian negara, bu. Jadi mulai sekarang ini nih, udah nggak ada lagi moda transportasi yang diijinkan keluar maupun masuk negara Jerman. Baik itu darat, laut, maupun udara. Paling engak buat sebulan kedepan” jawab Budi panjang lebar.


“Subhanalloh. Terus kaliah gimana di sana? Perijinannya, makannya, tinggalnya?” bu Ratih tampak agak panik.


“Alhamdulillah, bu. mengenai perijinan, tadi udah diberesin sama Erika. Soal tempat tinggalnya juga udah diberesin sama perusahaan. Soal uang makan sih, jangan ditanya, bu! Cuman nggak tahu nih, si Deni sama Bayu tadi nyari bahan makanan, apa udah dapet apa belum”


“Ya Alloh, ngger. jangan bikin ibu takut, dong! Ibu bisa bantu apa? Makanan kaleng bisa dipaketin, kan?” bu Ratih semakin panik.


Di luar kamar, terdengar sudara Deni dan Bayu berseru memanggil teman-temannya.


“Alhamdulillah. Udah dateng tuh, bu. Dapet banyak kayaknya, sampe minta bantuan buat bawa” kata Budi sambil berjalan.


“Alhamdulillah. Syukurlah kalo gitu” kata bu Ratih lega.


“IBUUUU”


Tiba-tiba terdengar suara Putri berteriak dari arah belakang. Sontak bu Ratih terkejut dan pergi keluar kamar.


“Ada apa, Put?” tanya bu Ratih bingung.


“Ini. Ini” jawab Putri terengah-engah.


“Rumah siapa itu, Put?” tanya bu Ratih.


Budi bertanya-tanya, tentang apa yang sedang dibicarakan ibu dan adiknya. Dia tidak dapat melihatnya, karena ponsel ibunya sedang dipegang sembarangan.


“Ini bengkelnya mbak Adel, bu” jawab Putri kemudian.


“Innalillahi. Iya, bener. Kok bisa?” respon bu Ratih kaget. Di seberang sana, Budi juga tak kalah kagetnya.


“Nggak tahu. Ini Madin juga belum bisa ditanyain” jawab Putri.


“Udah telepon damkar?”

__ADS_1


“Oh, iya. Damkar”


Putri langsung mematikan sambungan telepon dengan Madina, untuk menelepon petugas pemadam kebakaran. Budi sempat memanggil-manggil ibunya, tapi bu Ratih tidak merespon. Dia malah mematikan sambungan teleponnya begitu saja. Itu karena bu Ratih tengah bersiap-siap untuk mengajak Putri pergi ke rumah Adel.


Beberapa kali Budi mencoba menelepon ibunya lagi, namun tidak ada jawaban. Begitupun saat dia menelepon Putri. Sama sekali tidak ada tanggapan. Dia yang memakai handsfree di telinganya, tidak mendengar kalau Ratna mengetuk pintu kamarnya. Bahkan kini telah melongokkan kepalanya ke dalam kamarnya.


“Kamu kenapa sih, Bud?” tanya Erika, saat mereka mengadakan makan bersama.


“Makanlah, mas! Mbak Adel pasti ngerti, kok” sahut Ratna. Sontak Erika menatapnya dengan tatapan tajam.


“Iya. Dia setia, kok. Nggak bakal dia berpindah ke lain hati. Percaya deh! Aldo saksinya” tambah Hilda.


Gantian dia yang kini dapat tatapan tidak suka dari Erika.


Tapi Budi masih terus memainkan ponselnya, tanpa merespon candaan teman-temannya. Dia masih terus mengupayakan untuk bisa tersambung dengan orang yang berdekatan dengan posisi rumah Adel. Tapi hasilnya masih nihil.


“Bud! seenggaknya hargailah usaha Deni sama Bayu! Lagi turun salju gini mereka masih mau nyariin makanan buat kita” tegur Erika. budi menghela nafas berat.


“Bengkelnya pak Fajar, kebakaran” kata Budi kemdian.


“Apa?”


Hampir serempak mereka merespon penuh keterkejutan.


“Apaan sih, Bud? Norak banget bercandanya” komentar Erika.


“Siapa yang bercanda? Ini aku lagi cari kepastian. Tapi belum ada yang bisa dihubungi” sahut Budi.


“Emang kamu tahu dari siapa, mas?” tanya Ratna.


“Dari Putri. Tadi pas aku video call sama ibu, tiba-tiba Putri teriak manggil ibu. Dia bilang kalo bengkelnya Adel kebakaran. Tapi aku nggak dikasih liat sama ibu. Abis itu ibu sama Putri nggak ngangkat telepon aku. Pusing kan aku jadinya” jawab Bud menjelaskan.


“Astaghrfirullohal’adzim. Maafin Ratna, mas! Ratna salah ngomong” kata Ratna meminta maaf.


“Aku juga minta maaf, Bud” kata Hilda mengikuti Ratna.


“Ya udah, ya udah, ya udah. Mending sekarang buruan abisin makanya, terus bantu Budi cari informasi! Pasti udah pagi di sana sekarang” kata Erika memberikan ide.


“Baik, mbak” jawab mereka kompak.


Bahkan sambil makan mereka memainkan ponsel masing-masing. Ada yang menelepon, ada yang mengirim pesan singkat, ada yang memantau media sosial. Pokoknya segala sesuatu yang berhubungan dengan bengkelnya pak Fajar, mereka kumpulkan infonya.


Tapi entah mengapa, semua yang menelepon seperti terganjal sesuatu. Sama sama tidak mendapatkan jawaban. Yang mengirim pesan juga tidak segera mendapatkan balasan. Yang memantau media sosial juga belum mendapatkan hasil. Sampai-sampai mereka keheranan. Biasanya berita mengenai kebakaran dan semacamnya akan sangat cepat menyebar lewat media sosial. Apalagi yang menimpa publik figur. Tapi ini malah tidak ada sama sekali.


***

__ADS_1


__ADS_2