
“NGGER!”
Perhatian mereka teralihkan oleh panggilan dari arah bengkel. Merekapun menoleh. Dan terlihat bu Ratih melambaikan tangannya. Budi mengajak Erika untuk ikut serta menemui ibunya.
“Ada apa, bu?” tanya Budi,setelah dekat.
“Nanti, Supri, Bejo Mangil, tetep kerja apa libur dulu, ngger?”
“Tetep kerja, bu. Masih ada yang harus diselesaikan” jawab Budi.
“Sini dulu yuk, diobrolin dulu!” ajak bu Ratih.
“Kenapa emangnya, bu?” tanya Budi bingung.
“Nggak papa, ngger. Itu, Supri nelpon. Kamu sendiri aja gih, yang bilang!” jawba bu Ratih.
“Oh. Kirain ada apa” komentar Budi lega.
Budipun menyambut ponsel yang diacungkan Putri. Diapun membahas strategi pekerjaan yang harus selesai hari ini maupun dalam beberapa hari ke depan.
Termasuk perpindahan posisi, karena kang Sukron masuk di tim keamanan. Sehingga kang Bejo kebagian melanjutkan pembuatan pesanan kusen.
Budi berpindah posisi saat kang Supri menanyakan beberapa hal sehubungan dengan kejadian semalam.
Dia keluar menuju jalan buntu di samping bengkel kayu. Selama berbincang, Budi sudah seperti seterikaan, bolak-balik tak karuan. Baru berhenti saat menyadari dirinya ditertawakan orang-orang di dalam bengkel kayu.
Saat dia selesai menelepon, terdengar suara motor masuk ke halaman depan. Ternyata Zulfikar yang datang. Dia tampak tergopoh-gopoh.
“Assalamu’alaikum” sapa Zulfikar.
“Wa’alaikum salam” jawab Budi sambil menyalami Zulfikar.
“Mas. Aku mau nanya”
Budi tersentak bingung, mendengar ucapan Zulfikar, yang tanpa basa-basi.
“Kenapa, Zul? Nggak ada yang gangguin Putri, kok. Tuh. Aman, sama ibu”
Budi menunjuk ke arah Putri. Sontak Putri menggerakkan kursi rodanya menghampiri kekasihnya.
Erika dengan sigap membantu Putri mendorong kursi rodanya. Sejenak terjadi keheningan, sampai Putri menyalami Zulfikar.
“Mas. Mas Budi kenapa harus ngebakar outletnya si Bejo?” tanya Zulfikar.
Budi terkejut. Tentang pembakaran itu, dia belum cerita. Dan sekarang, Zulfikar menanyakan itu.
“Ngebakar?” tanya Budi.
“Lu dapet info dari siapa? Ngaco banget” lanjut Budi sambil tergelak.
__ADS_1
Di sini, gantian Zulfikar yang tampak terkejut. Dia menatap ke arah Putri. Putri menatap Zulfikar dengan tatapan sendu.
“Kamu yang bilang, Put?” tanya Budi.
Putri tidak segera menjawab. Dia hanya menganggukkan kepalanya, beberapa saat kemudian.
“Gila lu, Put. Sembarangan banget, ngomong” komentar Budi.
“Kan sama mas Zul, mas” sahut Putri, lirih.
“Di berita kan, udah ada. Kebakaran outlet obat salah satu pabrikan. Putri pikir, itu perbuatan mas Budi. Karena kan nggak mungkin, masalah di sini bakal selesai, kalo penyebabnya nggak diberesin. Ganti sales kan gampang, mas ” lanjut Putri.
Budi merasa nada bicara Putri tidak los seperti biasanya. Dia seperti berbohong.
“Hufft. Jangan berasumsi, Put! Penjara urusannya. Pacarmu emang baik. Temennya, belum tentu” sahut Budi.
Putri tampak takut dan sedih. Untuk beberapa saat, mereka bertiga terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Kayaknya, bukan cuman Putri aja mas, yang berpikiran begitu” kata Zulfikar, setelah cukup lama saling terdiam.
“Maksudmu?”
“Bejo juga berpikiran begitu, mas. Anak buahnya udah pada ngumpul. Dan mereka lagi nyusun strategi buat balas dendam” jawab Zulfikar.
“Dari mana kamu tahu?”
Zulfikar terkesiap mendapat pertanyaan seperti itu.
“Fatoni?”
“Ya. Dia dapet info dari intel yang menyusup ke kelompoknya si Bejo”
“Yakin, lu? Apa untungnya buat Fatoni, ngasih tahu kita?”
“Kalo Bejo sampe nongol karena mau balas dendam sama mas Budi, dan dia bisa ditangkep, untung besar lah, dia” jawab Zulfikar lirih.
Budi menatap lekat mata Zulfikar. Dia berusaha mencerna apa yang dikatakan pacar adiknya itu. Sebuah alasan yang agak dipaksakan, menurutnya. Hampir mustahil si Bejo itu akan datang ke bengkel kayunya, karena ada Erika di sini.
“Putri harus kita amanin, mas. Dia paling rentan saat ini” kata Zulfikar, setelah beberapa saat terdiam.
“Sementara ini, tempat inilah yang paling aman” jawab Budi.
“Come on, mas. Mereka mafia, bawaannya senpi. Kalo cuman golok sih, aku percaya sama mas Budi. Kalo mereka sampai bawa laras panjang, gimana? Yang lain bisa lari, Putri belum bisa. Kalo sampe kita kelolosan, Putri kesandera, apa mas yakin, bakal masih bisa seteguh ini?”
“Itu jadi tugas kamu buat ngamanin dari jauh. Kalo emang Fatoni bisa dipercaya, harusnya dia juga udah nyusun strategi buat jemput bola”
“Mas. Pasukanmu kurang banyak”
“Kamu nggak usah mikirin pasukanku! Kalo emang pasukanku kurang banyak, lapisin dong, sama pasukanmu! Hadang Bejo dari titik terjauh dari sini! Yang di sini, biar aku yang mikirin harus gimana. Yang pasti, aku nggak akan nyelakain adikku sendiri” jawab Budi.
__ADS_1
Zulfikar terkesiap. Dia merasa tidak bisa lagi memaksa Budi mengikuti apa yang dia harapkan.
“Oke. Aku harap mas Budi udah nyiapin tiga lapis rencana. Karena Bejo bukanlah Sandi, mas”
“Dan kamu bukanlah aku, Zul”
“Maksud mas?”
“Aku kalo udah gedek, susah buat percaya lagi sama orang itu. Kamu? Baru kemarin kamu bilang gedek sama Fatoni. Sekarang, kamu main percaya aja sama dia. Kan kamu sendiri yang bilang, kalo Fatoni itu orangnya selengehan”
“Demi Putri, mas. Aku nggak peduli siapa yang kasih info, selama itu tentang keselamatan Putri, aku akan dengerin”
“Itu yang mesti kamu olah lagi, Zul. Jangan malu buat bertanya sama yang lebih senior! Aku juga belajar banyak dari pak Daud”
Zulfikar terdiam. Tampak wajahnya bersemu merah. Nafasnya mulai terdengar tidak beraturan. Tapi kemudian berubah menjadi helaan panjang.
“Nggak usah tersinggung! Aku lebih khawatir daripada kamu. Tapi grasak-grusuk juga nggak bagus” kata Budi, menanggapi helaan panjang nafas Zulfikar.
Zulfikar masih terdiam. Butuh beberapa saat untuk dia menguasai dirinya. Selama itu pula, Budi terus menatapnya.
“Ya sudah, mas. Aku carikan bala bantuan dulu. Aku kabari mas Budi, kalau keadaannya genting” kata Zulfikar, kemudian.
“Good. Itu lebih baik”jawab Budi.
“Langsung pamit ya, mas? Salam buat ibu. Assalamu’alaikum” kata Zulfikar, sambil menyalami Budi.
“Wa’alaikum salam” jawab Budi.
“Aku cari bantuan dulu ya, Put?” pamit Zulfikar pada Putri.
Putri hanya menganggukkan kepalanya saja. Zulfikar tampak merasa aneh, Putri masih terdiam saat bersalaman dengannya. Tapi dia segera pergi, setelah Putri mencium tangannya.
Dan setelah Zulfikar keluar dari halaman depan galeri, Putri langsung menangis sejadi-jadinya. Membuat bu Ratih berlari mendekatinya. Semua orang bingung, mengapa Putri menangis.
“Beneran, kamu bilang begitu sama Panjul?” tanya Budi.
Masih sambil menangis, Putri menggelengkan kepalanya. Budi terkejut.
“Loh. Bilang apa, dong?” tanya Budi lagi.
Butuh beberapa saat untuk Putri menjawab pertanyaan Budi. Dia berusaha keras menghentikan tangisnya.
“Cuman bilang seperti yang mas Budi bilang. Sampe sales itu aja, mas” jawab Putri. Raut wajah Budi seketika berubah.
“BANG***”
Budi berteriak sambil beranjak ke depan.
“NGGER” panggil bu Ratih.
__ADS_1
“Mas Bud, tunggu!”