
Paginya, setelah membantu ibunya membuka lapak, Budi sudah bersiap dengan setelan hitam – putih. Semua berkas – berkas yang dia butuhkan sudah dia masukkan ke dalam tas. Sengaja dia berangkat lebih awal, agar tidak terburu – buru. Dia juga ingin mengulas kembali apa yang sudah dia pelajari mengenai perusahaan yang akan dia tuju itu. Sedikit banyak, pengetahuan itu akan membantu di saat proses wawancara.
Saat tiba di lokasi, ternyata sudah ada yang menunggu juga. Budi disambut resepsionis cantik yang murah senyum. Resepsionis itu meminta budi untuk mengisi daftar absensi dulu, sembari menunggu tes dimulai.
Budi mengangguk – angguk. Ternyata dari sekian orang yang ada dalam daftar, sebagian adalah sarjana. Tak kurang dari sepuluh orang yang sudah sarjana. Selebihnya, lulusan SMK sepertinya.
Sempat dia ditanya si resepsionis, karena tersenyum sendiri. Budi malah tertawa, malu dirinya ketahuan tersenyum sendiri. Dia mejelaskan kalau dia hanya lulusan SMK, sedangkan ada sebagian dari pendaftar, adalah lulusan Setrata satu. Entah mengapa, si resepsionis itu memberikan semangat pada Budi. Kata dia, rejeki sudah ada yang mengatur.
Detik berganti menit, menit hampir berganti jam. Semakin lama semakin banyak orang yang datang. Budi menjadi agak pesimis melihatnya. Biasanya kebutuhan untuk PPIC tidak akan sebanyak produksi. Kalau yang mendaftar sebanyak ini, terlalu kecil kemungkinannya untuk tembus.
Usut punya usut, ternyata sebagian dari mereka adalah pendaftar untuk bagian produksi. Budi menjadi lebih optimis jadinya. Berkurang setengahnya saja, kesempatannya sudah lima puluh persen lebih besar. Tercatat ada dua puluh orang yang mendaftar sebagai PPIC.
Tiba waktunya tes masuk dimulai, satu per satu nama dipanggil untuk wawancara. Khusus untuk tujuan produksi, para peserta tesnya dipindah ke area lain. Karena metode pengetesannya juga berbeda.
“Saudara Budi Utomo”
Suara petugas tes nyaring memanggi nama Budi. Bergegas dia berjalan menuju ruangan tes. Berkas – berkasnya diteliti. Dua sertifikat lomba ‘quality control cyrcle’ cukup menyita para panitia wawancara.
Budi diminta memperkenalkan dirinya. Dengan antusias, Budi memperkenalkan dirinya sebagai pribadi, dilanjut dengan memaparkan prestasinya selama bekerja di perusahaan sebelumnya.
“Kalau saudara kami pilih untuk bergabung dengan kami, apa yang menjadi rencana kerja anda?” tanya salah seorang penguji.
“Tugas pokok PPIC adalah memastikan komitmen yang sudah dibuat perusahaan dengan customer, berjalan sesuai yang disepakati. Tepat waktu, tepat jumlah, tepat kualitas. Turunannya, yang berhubungan dengan tepat waktu, ya melakukan efisiensi. Yang berhubungan dengan kualitas, ya perbaikan, yang berhubungan dengan tepat jumlah, memaintain rantai pasokan” jawab Budi.
“Apa yang diefisienkan, diperbaiki, dan dimaintain?” tanya penguji itu lagi.
“Paling susah dibentuk itu, habit. Kalau karyawan, jiwanya hanya jiwa buruh, ya sudah. Keperluan dia hanya masuk kerja, melakukan apa yang disuruh, habis jam kerja, pulang. Mereka tidak mikir kalau mereka bekerja sambil ngobrol, banyak melakukan hal tidak produktif, ya mereka tidak akan dapat tambahan selain yang normatif. Setting hollow, untuk di rangkai menjadi rangka mebel, bisa mengurangi waktu satu detik saja, bisa menambah berapa unit dalam satu hari? Katakanlah bisa menambah dua unit, salam satu bulan kapasitas produksinya naik berapa? Kalau itu dihargai di akhir tahun, apa tidak sayang kalau bonusan hilang hanya karena tidak mau memacu diri?” jawab Budi.
“Kita ada bonusan akhir tahun. Nyatanya sama aja, nggak nambah produktif” potong penguji itu.
“Sudah dilakukan efisiensi, kah?” tanya Budi. Para penguji terdiam.
“Lalu mengenai kualitas, apa yang diperbaiki?” tanya penguji lain.
“Kalau toolsnya sudah lengkap, ya habit. Sikap menggampangkan, akan menjadi bom waktu. Yang penting sudah dicek, tapi tidak memanfaatkan semua tools yang ada. Menunggu ada kasus, baru melakukan perbaikan, bukannya melakukan preventif. Dan preventif ini, melibatkan semua pihak. Termasuk pihak management. Jangan pernah ada main mata untuk urusan kualitas, terlebih menyangkut keselamatan. Orang produksi juga harus paham kualitas, harus paham target akhirnya. Sehingga ngelas juga bakal mikir lagi soal parameter mesin lasnya. Kalau kepanasan, kualitas bahannya akan berubah. Speknya akan bergeser, bisa jadi turun kualitasnya. Quality control, apalagi. Visual yang berbeda tidak boleh disepelekan. Gosong, pertanda kepanasan. Bagian anyaman, jangan mau menerima yang tidak sesuai syarat kualitas. Kembalikan. Seringnya antar bagian sudah akrab. Sehingga toleransinya terlalu besar. Leadernya tetangga, supervisornya sodara, ya sudah. Darimana bisa meningkat, produktivitas?” jawab Budi, panjang lebar. Kembali para penguji terdiam.
“Baik kalau begitu, kami rasa cukup. Silakan menunggu kembali untuk tes tulis. Nanti akan kami umumkan, siapa – siapa yang lolos ke tes tulis, dan siapa yang harus mengulang di kesempatan yang akan datang” kata salah satu penguji.
“Baik, terimakasih atas kesempatan yang diberikan. Selamat siang” pamit Budi.
“Siang”
__ADS_1
Budi keluar dari ruang tes wawancara. Beberapa orang tersenyum padanya. Ada juga yang bertanya, tentang bagaimana suasana di dalam. Budi hanya mengatakan kalau di dalam, sama saja dengan sidang tugas akhir. Budi bertanya kepada resepsionis, dimana dia bisa membeli minuman. Resepsionis itu menjawab, ada di samping. Ada kantin kecil di sebelah kantor ini.
Budi membeli dua botol minuman teh. Dia bawa kembali ke ruang tunggu. Si resepsionis tadi bingung saat Budi menyodorkan salah satu teh kemasan botol itu padanya. Budi bilang, ini sebagai rasa terimakasih atas kebaikannya menunjukkan sumber mata air. Sontak kelakar Budi menimbulkan gelak tawa dari peserta tes. Gayung bersambut, pemberian Budi diterima dengan senang oleh si resepsionis itu.
Setelah sekitar satu jam menanti, tibalah waktu yang ditunggu – tunggu. Semua peserta dikumpulkan di sebuah ruangan. Ruangan itu terletak di lantai dua, dari bangunan kantor itu. Dan salah satu penguji tadi masuk dengan membawa selembar kertas. Semua mata tertuju pada kertas tersebut.
“Baik, bapak –bapak, ibu – ibu, mas – mas, mbak – mbak. Di tangan saya, telah tertera nama - nama panjenengan semua. Bagi yang saya sebutkan namanya, mohon maaf, harus mengulang di kesempatan yang akan datang”
Sontak kalimat itu membuat suasana menjadi tegang. Terasa lebih tegang daripada di saat awal memasuki ruangan ini.
“Dan yang harus mengulang di kesempatan yang akan datang, adalah, “
Semua punggung terlihat tegak seolah bersiap mendengar berita buruk. Hanya Budi yang tidak.
“Mohon maaf, sodara Budi Utomo”
Budi tersentak mendengar namanya disebut. Sempat dia terdiam tak bergerak. Dia masih belum bisa menerima, harapannya pupus di tangga pertama. Tapi kemudian dia sadar. Mungkin perkataannya tadi terlalu keras untuk kelasnya pekerja.
“Baik pak. Terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya” jawa Budi.
“Tetap semangat ya” kata penguji itu. Dia menyalami dan tersenyum kepada Budi.
“Mas Budi”
Terdengar seorang wanita memanggil dari arah belakangnya. Budi menoleh ke belakang. Tampak penguji tadi berdiri di Ambang pintu kantor yang dia lewati.
“Ya?” jawab Budi.
“Bisa ikut saya?” tanyanya lagi. Budi berpikir sejenak, ada apa ini?
“Bisa” jawab Budi.
Budipun mengikuti wanita penguji tadi. Pandangannya lurus ke arah si penguji itu. Tak peduli beberapa karyawan di balik partisi di sebelah kirinya, melirik dan ada yang tersenyum padanya. Di ujung kantor bersekat ini, ada sebuah kantor lagi yang lebih tertutup. Penguji tadi mempersilakan budi untuk masuk ke dalam ruang kantor itu.
“Silakan masuk”
Di dalam kantor itu, terlihat seorang lelaki paruh baya, mungkin usia lima puluh tahunan. Dia tersenyum ramah dan mempersilakan Budi duduk di sofa. Penguji itu juga ikut duduk bersama lelaki paruh baya itu.
“Erika, sudah cerita semuanya pada saya” kata lelaki tua itu, sambil menunjuk wanita penguji itu.
“Beliau, pak Paul, kepala pabrik ini” kata si Erika, memperkenalkan atasannya.
__ADS_1
“Oh, siap” jawab Budi.
“Kamu pasti sedih ya, sampe lemes gitu?” tanya pak Paul.
“Em, ya. Saya hanya belum tahu, harus bilang apa sama ibu saya”
“Ya bilang saja kamu diterima kerja”kata pak Paul. Budu tergelak.
“Pak, kalau ditanya, sudah makan apa belum, saya bisa berbohong. Tapi kalau ditanya, diterima kerja atau tidak, bagaimana saya harus berbohong?”
“Yang nyuruh kamu berbohong juga siapa?”
“Maaf, maksud Bapak?”
“Saya, sengaja misahin kamu dari yang lain. Karena mereka tidak ada yang memenuhi ekspektasi saya” jawab pak paul. Budi masih menunggu kelanjutannya.
“Biarkan mereka sibuk dengan tes – tesan itu. Sekarang, kamu baca klausul kontrak ini. Minta gaji berapa?” lanjut pak paul.
Kini Budi tersenyum lebar. Sorot matanya memancarkan aura optimisme dan semangat juang yang sangat besar.
Dengan seksama dia membaca pasal demi pasal yang ada di surat perjanjian kerja itu. Gaji yang ditawarkan itu, sudah lebih dari cukup. Toh, harga bahan makan di kota ini, masih jauh lebih terjangkau. Menurut perhitungan Budi, dia masih bisa menabung, setelah membayar uang sekolah putri, dan makan sehari – hari.
“Saya sanggup pak, menjalankan semua yang ada di kontrak kerja ini” kata Budi.
“Minta gaji berapa?” tanya pak paul.
“Sesuai UMK saja, pak. Itu sudah cukup” jawab Budi.
“Otak kamu itu mahal, lho. Cukup kah hanya dengan gaji segitu?”
“Yang berat itu menjalankannya, pak. Itu yang harus saya buktikan terlebih dahulu”
“Ha ha ha ha ha. Nggak salah kamu, Er” komentar pak paul sambil tertawa. Erika hanya tersenyum.
“Ya sudah, panggil notraris” lanjut pak Paul.
Saat itu juga, perjanjian kerja itu ditandatangani kedua belah pihak. Pak paul masih sempat menanyakan sekali lagi mengenai besaran gaji yang Budi minta. Dan Budi masih tetap dengan pendiriannya, UMK.
“Kita banyak agenda dalam setahun ke depan. Dan prospeknya tinggi. Sekarang juga, kamu harus mulai mengenal lingkungan kerja kamu. Erika akan kasih tour keliling pabrik. Dia akan kenalkan kamu pada bagian – bagian perusahaan ini. Nanti aku nyusul” kata pak paul.
“Siap, pak”
__ADS_1