Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
bertemu di penjara


__ADS_3

Stevani masih termenung di dalam sel tahanannya. Apa yang dijanjikan pak Paul, rupanya tidak kunjung datang. Sedangkan interogasi demi interogasi semakin membawanya mendekat ke dalam penjara yang sebenarnya. Dia merasa semakin tak punya harapan. Tapi ingatannya pada kata-kata dokter Dian, sedikit menaikkan semangatnya.


“Vani” panggil seseorang.


“Ya” jawabnya. Ternyata salah satu petugas jaga yang memanggilnya.


“Ada tamu” kata petugas itu.


Pintu sel tahanan di buka, dan Stevani berjalan keluar dalam penjagaan petugas itu. beruntungnya dia, walaupun sedang ditahan, tapi dia mendapatkan sel yang belum ada penghuninya. Sel yang memang ditujukan khusus untuk tahanan wanita.


Berbeda dengan Dino. Saat dia lewat di depan sel tahanan Dino, dia melihat ada banyak orang berada dalam satu sel. Saking banyaknya, sampai-sampai dia baru kali ini melihatnya. Ada senyum tersungging di bibirnya. Dalam hati dia merasa, paling tidak dia bisa melihat Dino hidup sengsara di sel itu.


Di ruang khusus menerima tamu, terlihat seorang pria dengan setelan kemeja lengan panjang dan celana bahan berwarna hitam. Masih muda dan terlihat menawan. Dia berdisi dan tersenyum saat melihat Stevani mendatanginya.


“Hendra. Pengacaranya pak Paul”


Dia memperknalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya. Stevani tersenyum. Harapan yang hampir saja sirna dari dalam hatinya, akhirnya datang juga.


“Vani” jawabnya. Dia terima uluran tangan itu.


“Maaf ya, aku baru bisa kemari. Aku harus banyak diskusi sama pak Paul” kata Hendra.


“Nggak papa. Aku seneng, akhirnya kamu datang. Aku harap kamu bawa berita baik buat aku” jawab Stevani.


“Em. Ya, aku pengennya gitu”


“Kok pengennya gitu? Maksudnya?”potong Stevani.


“Apa yang mbak Vani minta sama pak Paul, udah aku pelajari. Terutama mengenai transaksi itu”


“Oh, ya. Apa yang mas Hendra dapet? Isma kan, yang masuk ke kantor aku? Isma kan, yang make komputer aku?” tanya Stevani. Hendra terdiam beberapa saat.


“Ini saya ambil dari CCTV pabrik” jawab Hendra. Dia menyerahkan sebuah tablet kepada Stevani.


Stevani fokus melihat apa yang sedang bermain di layarnya. Rekaman aktivitas kantor di sore hari. Tampak dia keluar dari kantor Isma, kembali ke dalam kantornya sendiri. Tak lama kemudian, dia keluar lagi tanpa membawa tas.


Lama dia menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sampai dia harus mempercepat pemutaran video itu. Dan terlihatlah Isma keluar dari dalam kantornya.


Tampak matanya berbinar, pertanda dia bersemangat. Tapi itu tak bertahan lama. Karena ternyata Isma tidak berjalan menuju kantornya, melainkan langsung melenggang keluar kantor. Di detik yang sama, dari pandangan kamera pengawas lain, terlihat Isma langsung menuju parkiran, lalu keluar dengan mobilnya. Kembali ke kamera yang menghadap ke pintu kantornya, sama sekali tidak terlihat adanya orang yang keluar masuk.


“Aku udah periksa video itu sampe sehari sebelumnya. Dan nggak ada yang tampak mencurigakan”


“Tapi aku nggak mungkin bisa transfer, mas. Token aku aja ketinggalan di tas. Lihat sendiri kan, aku nggak bawa tas, keluarnya”


“Ya. Memang”


“Maksud mas?”


“Ya memang, tanpa token, mbak Vani nggak bisa melakukan transaksi apapun dengan akun rekening itu. Lain cerita kalau sebelum pergi”


“Apa? jadi mas Hendra kesini cuman mau bilang kalo aku ngelakuin transaksi itu sebelum aku pergi dari kantor, gitu?”


“Jangan kebawa emosi dulu, mbak! Kita lagi nyari sehelai benang diantara gunungan perca. Pastinya mata kita bakal sering ketipu, karena semuanya benang. Harus sabar dan telaten, mbak”


Stevani terkesiap mendengar jawaban itu. Sudah pasti dia tersulut emosi, karena yang dia nanti-nantikan, malah membuat semangatnya terjun bebas. Tapi di dalam hati dia membenarkan ucapan Hendra.


“Lalu?” tanya Stevani.


“Mbak Vani harus membantu saya untuk mematahkan argumen ini” jawab Hendra.

__ADS_1


Dia menyodorkan sebuah map, berisi selembar kertas. Mata Stevani terbelalak saat membaca isinya. Ternyata itu adalah laporan yang serupa dengan yang diberikan oleh pak Paul. Hanya saja, laporan itu lebih menitik beratkan pada waktu terjadinya transaksi.


“Transaksi itu terjadi, tepat tiga menit sebelum mbak Vani keluar dari kantor”


“Tap, tap, tapi tapi. Bukan aku yang melakukan itu, mas” kata Vani tergagap. Matanya mulai berkaca-kaca. Hendra tidak menjawab. Dia merasa tidak tega dengan klientnya yang satu ini.


“Apa nggak bisa ditelusuri dengan cara lain?” tanya Stevani.


“Maksud mbak?”


“Rekaman. Rekaman itu. kamu punya salinannya, nggak?”


“Ada”


Hendra memainkan tabletnya, membuka file hasil dia menyalin dari penyidik. Lalu dia memberi Stevani head set. Stevani lansung memutar rekaman suaranya sendiri.


“Ini. Ini, mas. Ini dua percakapan berbeda waktu dan tempat” seru Stevani.


Dia memberikan sebelah earpiece itu kepada Hendra. Agak berat buat hendra menerima pemberian Stevani itu. Karena menurutnya itu kurang sopan secara etika. Tapi Stevani memaksa.


“Kalo dari awal sampe sini, itu di hotel. Tapi dari sini, ini pertanyaanku kepada Budi, bukan Dino. Dan ini aku tanyain pas dia mau pulang kerja. Tapi dia nggak denger kayaknya. Dia malah jawab pertanyaanku yang selanjutnya” kata Stevani. Hendra menulis apa yang Stevani sampaikan.


“Aku nggak pernah bahas suntikan sama Dino” kata Stevani lagi.


“Nah, yang ini. Skenario ini, adalah pertanyaanku ke mbak Farah. Ini aku nanyain strategi penjualan ke makassar. Mau joint venture, apa buka agen” lanjut Stevani. Walau merasa bingung, tapi Hendra menulis apa yang Stevani katakan.


“Mengenai mulus, ini aku sama Dino lagi ngebahas Isma. Bukannya Adel”


“Yang lupa ingatan ini, bukan Dino yang nanya. Itu Marsya. Itu aku lagi di lobi”


“Dan yang terakhir ini, itu potongan dari beberapa percakapan yang berbeda. Itu, itu, itu editan, mas” kata Stevani mengakhiri komentarnya pada rekaman itu.


“Kenapa? Mas masih nggak percaya sama aku? Buat apa di sini?” tanya Stevani, menyentakkan lamunan Hendra.


“Eem”


Hendra tampak tidak sampai hati untuk mengatakan apa yang sedang dia pikirkan. Dia hanya menyodorkan lagi sebuah berkas. Yang isinya merupakan hasil laboratorium digital forensik.


Yang menyatakan kalau rekaman yang dihasilkan stetoskop milik Zulfikar itu, merupakan satu kesatuan utuh yang belum mengalami modifikasi sama sekali.


“Mas, bisa nggak sih kasih aku sesuatu yang bisa bikin aku semangat? Bilang kek, kalo kamu curiga itu ulah temen aku yang sirik, apa alatnya dituker diam-diam, apa itu suara speaker, atau apa kek!” kata Stevani kesal.


“Speaker?” tanya Hendra. Dia seperti menemukan sesuatu dengan kata, speaker.


“Bisa jadi kan?”sahut Stevani. Nadanya masih terdengar ketus.


Hendra masih menatap matanya tanpa berkedip. Tapi Stevani tahu, Hendra sedang memikirkan sesuatu.


“Selain mbak Vani, siapa yang punya kunci kontrakan Mbak Vani?” tanya Hendra.


“Ya bu kontrakan, lah. Siapa lagi? kan aku belum kawin” jawab Stevani. Terdengar masih ada kekesalan di dalam hatinya.


“Eh?” Stevani seperti menyadari sesuatu.


“Apa mas Hendra juga memikirkan apa yang aku pikirin?” tanya Stevani.


“Ada beberapa kemungkinan yang terlintas di pikiranku” jawab Hendra.


“Apapun itu, tolong selidiki kontrakan aku mas! Aku lagi nggak dikontrakan di tanggal yang mereka bilang Putri merekam pake alat itu” pinta Stevani dengan nada lirih.

__ADS_1


“Baik, mbak Vani. Aku akan selidiki. Aku akan lakuin yang terbaik buat bebasin mbak Vani. Mbak Vani yang sabar, ya!” jawab Hendra.


Belum juga sempat menjawab kalimat Hendra, mendadak dia dikejutkan oleh kedatangan seseorang. Seseorang yang telah membuatnya mendekam di sel tahanan ini. Perasaannya bercampur aduk dalam satu waktu. Antara marah, sedih, bertanya-tanya, dan lain sebagainya.


Di sisi lain, Budi yang sebenarnya hendak menjenguk Sandi, juga terlihat terkejut. Dia tidak menyangka akan bertemu Stevani secepat ini.


Perasaannya juga bercampur aduk. Antara marah, saat teringat Adel dibuat lupa ingatan, perasaan bersalah, sedih, dan bermacam-macam perasaan lain yang tidak bisa dia jabarkan. Dia tidak tahu harus bersikap bagaimana di depan Stevani. Dia lewat saja, menuju meja yang berada di paling pojok.


Dari arah ruang tahanan, Sandi juga terkejut saat melihat Stevani. Tapi kemudian dia tersenyum saat melihat Budi berada di pojokan.


“Halo, Bud. udah lama?” sapa Sandi.


“Baru juga duduk” jawab Budi. Mereka bersalaman.


“Gimana kabarnya Adel” tanya Sandi.


Budi tersenyum menanggapi pertanyaan itu. Buatnya, sekarang pertanyaan itu mengandung dua arti.


“Astaga, kamu mikirnya kok sampe ke situ, sih? kaya aku udah nggak laku aja” kata Sandi menanggapi senyuman Budi. Budi malah semakin lebar senyumnya, bahkan dia tergelak.


“Sehat” jawabnya singkat.


“Eh, Bud. Aku kok nggak yakin sih, kalo dia otak dari penyerangan itu” komentar Sandi lirih.


Budi terdiam beberapa saat. Dia ingin menoleh ke arah Stevani. Tapi dari sudut matanya, dia bisa melihat kalau Stevani juga sedang melihatnya.


“Aku juga nggak yakin kalo Sephia itu orang kamu” jawab Budi.


“Udah terbukti, kan. Jangan lihat sampulnya doang! Lihat nih, Sandi! Ahlinya soal kaderisasi” kata Sandi.


“Ya. Sephia emang berhasil buktiin kemampuannya. Soal Stevani, dia juga harus buktiin, kalo apa yang aku tuduhkan itu, salah”


“Ya, emang. Tapi firasatku jarang meleset”


“Sekalinya meleset, fatal” celetuk Budi sambil tergelak.


“Haish. Masih inget aja” komentar Sandi.


“Firasatmu nggak bisa dijadiin alat bukti di persidangan, Ndi. Nggak laku”


Mereka berdua tertawa kecil. Membuat yang berada di seberang sana, melirik tak suka. Tapi Sandi dan Budi cuek. Budi memberikan makanan yang dia bawa dari rumah untuk sandi. Tentunya, Sandi tidak menyia-nyiakan makanan enak yang jarang dia temui di tahanan.


“Oh ya, Bud. Mengenai pengacara, kamu pake apa enggak?” tanya Sandi.


Budi yang sedang menyeruput minuman coklat itu, terkejut dan terbatuk-batuk karena pertanyaan itu. Dia tidak segera menjawab. Dia melihat Sandi tanpa bicara.


*Jujur, aku ragu san, buat bermain hukum. Buat aku, yang penting udah tahu siapa pelakunya, itu udah cukup. Aku males manjang-manjangin urusan beginian. Aku pengen hidup damai. Tapi aku juga nggak bisa mengabaikan Adel. Itu yang bikin aku bingung. Belum lagi, seperti yang kamu bilang, sebenernya aku juga nggak yakin kalo Vani yang menjadi otak dari pengeroyokan itu*.


“Lagi mau cari” jawab Budi singkat.


“Oh. Bapaknya Adel kan banyak linknya tuh. Emang belum dapet?”


“Aku belum nanya. Baru keinget pas kamu nanya”


*KRIEEEET*


Terdengar suara kayu berderit. Mereka berdua sontak menoleh ke arah suara. Ternyata Stevani sedang berpamitan dengan pengacaranya, karena waktu kunjung telah selesai.


Untuk beberapa detik, menjelang kembali ke sel tahanannya, mata Stevani meradu pandang dengan mata Budi. keduanya terpaku. Sorot mata mereka sama-sama terlalu abstrak untuk bisa diterjemahkan.

__ADS_1


__ADS_2