Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
tak ketemu juga


__ADS_3

Kalo bu Susan juga ke tangerang, berarti emang mas Luki beneran lagi ngurusin masalah. Tapi kok sampe sama sekali nggak bisa ditelepon, sih? marah nggak ya, kalo aku samperin ke sana? Masa iya marah di samper istrinya sendiri?


Adelpun memantapkan hatinya untuk menyusul suaminya ke tangerang. Dia mengambil ponselnya, lalu mencari tiket ke tangerang. Dia mencari tiket yang paling dekat jam terbangnya. Tak peduli dengan harganya yang lumayan tinggi. Dengan langkah pasti, dia arahkan mobilnya menuju bandara.


Di rumah sakit, siang ini ada yang sedang berbahagia. Berdasarkan hasil pemeriksaan siang ini, Stevani dinyatakan sudah sembuh. Dan bisa melanjutkan ke rawat jalan untuk penyembuhan kaki dan tangannya yang terkilir.


Tapi diantara kebahagiaan itu, timbul satu tanda tanya besar. Pihak kepolisian belum mengijinkannya meninggalkan kota ini selama masa penyelidikan kasusnya Sandi. Sedangkan Stevani sudah merasa tidak aman lagi tinggal di kontrakannya.


“Gimana kalo Vani tinggal di galeri aja, bu?” usul Putri.


“Apa nggak malah bahaya Put, jauh dari mana-mana?” tanya bu Ratih.


“Soal keamanan, biar saya yang yang atur, bu”


Pak Paul, yang juga hadir siang ini, ikut memberikan usulnya.


“Saya akan turunkan Brandon sama Mike bergantian buat jaga di sana” lanjut pak Paul.


“Nah. Usul bagus itu, bu” komentar Putri.


“Mbak Hanin juga sering nginep, kan? Bisa buat temen. Bawahnya kamar mas Budi kan ada saung. Tinggal modif dikit, jadi kamar lagi. Kali aja mas Aldo mau nginep juga, sesekali” lanjut Putri.


“Aduh. Kayaknya nggak usah deh, Put. Malah bikin repot” kata Stevani tidak enak hati.


“Nggak bisa” seru Putri. Sontak semua orang terkejut mendengarnya.


“Apa gunanya aku sampe kaya gini, kalo akhirnya ada yang berhasil nyelakain kamu?” lanjut Putri menjelaskan. Stevani terkesiap.


“Sudah-sudah!” kata bu Ratih menenangkan Putri.


“Kalau pak Paul berkenan memberikan pengamanan, saya juga berkenan memberikan tempat untuk mbak Vani” lanjut bu Ratih.


“Jangan nolak, Van! Atau gua nggak bakal mau kenal lagi sama lu” perintah Putri tegas.


“I, i, iya. Iya, Put. Makasih. Makasih banyak” jawab Stevani tergagap.


Tok tok tok


Terdengar ketukan halus di pintu kamar rawat. Semua mata tertuju ke sana.


“Assalamu’alaikum”


Terdengar sapaan dari luar. bersamaan dengan itu, pintu kamar terbuka perlahan. Dan muncullah Madina dari balik pintu itu.


“Wa’alaikum salam” jawab mereka kompak.


“Lah Din, kok udah kesini lagi?” tanya Putri bingung.


“Bu. Ada titipan dari ibu, makan siang” kata Madina, tanpa menghiraukan pertanyaan Putri.


“Wah. Rejeki ibu lagi berlimpah, nih. Sampe tumpuk-tumpuk” komentar Putri.


“Put!” tegur bu Ratih.

__ADS_1


“Ee. Kalo gitu, yang tawaran saya, saya cancel dulu saja ya, bu. Mungkin buat nanti malam”


Suara pak Paul mengalihkan perhatian bu Ratih.


“Alhamdulillah. Nggak papa ya, pak?” tanya bu Ratih.


“Iya. Masih bisa pindah jadwal kok, bu” jawab pak Paul.


“Din. Ibu sama siapa? Kok ditinggal?” seru Putri, mengulangi pertanyaannya tadi.


“Ada mbak Tati. Tadi ditelepon sama ibu” jawab Madina.


“Eeeem” Putri merasa ada yang aneh dari jawaban sahabatnya itu.


“Iya. Ibu kayaknya mau ngobrolin mbak Adel sama mbak Tati. Tebakanku sih, obrolan dewasa. Makanya aku disuruh ke sini” kata Madin, menjawab kebingungan Putri.


“Oh. Ha ha ha. Emang jangan ikut deh, kalo obrolan dewasa! Lu orangnya cepet nyambung. Bahaya” komentar Putri.


“Put!” tegur bu Ratih.


“Ha ha ha” Madina ikut tertawa.


“Ya udah. Kalo gitu kita makan bareng, yuk! Abis itu, ibu carikan transport buat mbak Vani” ajak bu Ratih.


“Sudah ada, bu” sahut Aldo. semua perhatian teralihkan padanya.


“Sodara saya, sudah on the way ke sini” lanjut Aldo.


“Loh. Emangnya mbak Vani udah boleh pulang, mas?” tanya Madina pada Aldo.


“Kalo Putri?”


“Aku belum, Din. Kalo buat ketawa, masih nyut-nyutan. Tadi buat bangun juga, malah mau muntah” jawab Putri.


“Ya Alloh. Cepet sembuh dong, Put! Betah amat lu sakit?” komentar Madina.


Memang agak aneh komentar itu. Tapi getaran suara Madina, yang hendak menangis, membuat semuanya paham. Itu tadi adalah ungkapan kesedihan Madina atas musibah yang belum berlalu dari tubuh sahabatnya.


“Ya sudah kalo gitu, mas Aldo. Kita makan dulu, yuk!” kata bu Ratih, menanggapi ucapan Aldo sebelumnya.


Merekapun akhirnya makan bersama. Termasuk pak Paul juga. Dia tidak diijinkan pulang oleh Putri, kalau tidak makan siang terlebih dahulu. Daripada tidak dapat restu dari anak bungsunya si pujaan hati, pak Paulpun mengalah.


Di bandara, Adel akhirnya terbang juga, setelah sempat uring-uringan karena harus tertunda keberangkatannya. Adanya masalah di landasan pacu membuat pesawat tidak bisa mendarat maupun lepas landas. Dan waktu dua jam rasanya seperti sehari buat Adel.


Adel sempat terlelap di penerbangan itu. Semalaman menunggu suaminya, membuat tidurnya sangat kurang. Dan dia terkejut saat mendengar pengumuman, bahwa pesawat akan segera mendarat.


Setelah mendarat dan keluar dari bandara, Adel langsung memesan sebuah taksi, untuk mengantarkannya ke kantor suaminya.


Ongkosnya cukup mengejutkan bagi Adel. Tapi demi mencari kepastian, dia korbankan juga kocek yang cukup dalam itu.


Butuh waktu cukup lama untuk bisa sampai ke kantor itu. Sebuah kecelakaan lalu-lintas membuat jalan macet parah. Cuaca yang sedang panas terik itu terasa semakin panas buat Adel.


Selama perjalanan, dia tak pernah berhenti mencoba menghubungi nomor suami, mertua, bahkan nomor beberapa orang yang dekat dengan suaminya. Tapi tak juga membuahkan hasil.

__ADS_1


“Sudah sampai, bu”


Suara sopir taksi itu membuyarkan lamunannya. Dan terlihat sebuah pabrik dengan tulisan besar di tembok pagarnya. Sesuai dengan alamat yang dia tuju.


“Oh. Iya, bener. Ini ongkosnya, pak” jawab Adel.


Dia menyerahkan ongkos sesuai dengan yang tertera pada argo. Diapun masuk ke dalam pabrik itu. kepada scurity yang berjaga, Adel mengaku sebagai seorang sales rekanan Luki Pratama. Dan oleh scurity itu, Adel diarahkan ke resepsionis.


“Selamat sore, mbak” sapa Adel kepada resepsionis yang berjaga.


Di belakang resepsionis itu, tampak sebuah jam besar, yang menunjukkan kalau saat ini sudah pukul lima kurang seperempat.


“Selamat sore, bu. Ada yang bisa saya bantu?” jawab resepsionis itu.


“Mbak. Saya rekanannya pak Luki Pratama. Mau ketemu beliau. Apa beliau ada di kantor?” tanya Adel.


“Oh. Pak Lukinya sedang tidak ada di kantor, bu”jawab resepsionis itu.


“Tidak di kantor?”


“Betul, bu. Tadi memang pak Luki datang ke kantor, tapi hanya sebentar. Kemudian beliau pergi bersama beberapa staf dan rekan kerja beliau”


“Oh. Kalau ibu Susan, apa pernah ngantor di kantor ini?”


“Bu Susan? Tadi juga ada, bu. Tapi setelah bertemu dengan pak Luki, beliau juga langsung pergi lagi”


“Kalu boleh tahu, perginya kemana, pak Luki? Barangkali saya bisa mendekat ke posisi beliau”


“Waduh. Maaf, bu. Saya tidak diberi tahu”


“Oh. Yah, belum rejeki saya, kalo begitu” komentar Adel, sambil pura-pura tersenyum.


“Ibu rekanan lama ya, bu? Kenal bu Susan juga?”


“Iya. Bapak saya sih dulu, yang rekanan sama almarhum pak Imam Pratama. Sudah sering ketemu juga. Nah, sekarang sama-sama generasi muda nih, yang berkarya”


“Oh, begitu. Yah, sayang banget ya, bu” komentar resepsionis itu.


“Ya sudah kalau begitu. Saya pamit aja. Mungkin lain waktu, saya mampir lagi”


“Boleh minta kartu namanya, bu? Biar saya sampaikan ke pak Luki, kalau ibu datang”


“Waduh. Lagi nggak bawa, mbak. Bilang aja dari Fitri mebel! Tahu kok, pak Luki”


“Ibu Fitri, mebel, ya bu? Baik”


“Makasih ya, mbak”


“Sama-sama, bu”


Adelpun keluar dari kantor resepsionis itu. langkahnya sempat gontai, dan wajahnya sempat murung. Tapi segera dia perbaiki sikapnya saat hampir sampai di pos scurity.


Selepas dari pabrik suaminya itu, Adel berjalan menjauh. Tapi dia tidak tahu hendak kemana. Dia sudah tidak punya arah yang hendak dituju.

__ADS_1


Langit yang mulai meredup, bukan hanya karena waktu yang sudah menjelang maghrib, tapi juga karena mendung, membuat Adel khawatir.


Dia berpikir, lebih baik dia menginap dulu di hotel. Di sana dia bisa beristirahat sambil menelepon ibunya, meminta pertimbangan dari sang ibu.


__ADS_2