Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
jadi,rotan itu


__ADS_3

Merekapun pamitan dengan semua yang ada di meja makan. Bu Lusi memandang Erika dengan tatapan kurang suka, namun dia berusaha tersenyum. Terlebih dengan Adel. Tak lama kemudian, terdengar suara mobil Erika melaju keluar dari halaman depan galeri.


“Kalo gitu, aku siapin dulu ya, kamarnya” kata bu Ratih.


“Ya Alloh, mbak. Nggak usah repot-repot! Kalo nggak ada yang rahasia, biar kita aja yang beresin” tolak bu Lusi halus.


“Itu dia. Ada dalemannya Budi. Jangan sampe keliatan sama Madin” jawab bu Ratih sambil tergelak.


“Madin sih, udah pernah liat, bu” celetuk Adel.


“Punya siapa?” seru Madina terkejut. Dia terbelalak mendengar celetukan kakaknya.


“Punya bapak” jawab Adel sambil cengengesan.


“Ya iya, lah. Kalo ibu lagi ngambek, kan Madin yang nyuciin” seru Madin.


“Din” tegur bu Lusi.


“Ha ha ha” Adel tertawa, melihat ibunya malu.


“Adel bantu bu” tawar Adel, saat bu Ratih mulai beranjak meninggalkan meja makan.


Di jalan, Budi terlihat termenung. Matanya menatap jalan di depannya, tapi pikirannya mengawang entah kemana.


“Mas” tegur Erika.


“Ya?” sahut Budi.


“Mampir klinik dulu ya? Biar dijahit lukanya. Takut infeksi”


Budi tidak menjawab. Dia hanya tersenyum geli mendengar pertanyaan Erika.


“Sekalian mampir laboratorium yang di kota” lanjut Erika.


“Emang udah dimasukin?” tanya Budi antusias.


“Udah. Tadi sebelum kemari” jawab Erika.


“Ya masa udah jadi? Cepet amat?”


“Kan kepala kliniknya itu tetangganya Tya, mas. Masih sodara juga, sih. Jadi diprioritasin. Dan ini orangnya udah WA. Bilangnya pengen nyampein hasilnya secara langsung”


“Oke” jawab Budi singkat.


Sesaat, terjadi keheningan antara mereka. Budi fokus ke jalan untuk menyalip truk di depan mereka. sedangkan Erika, tampak sedang mengetik pesan untuk seseorang.


“Rencana mas nanti, gimana?” tanya Erika.


“Rencana apa?” budi ganti bertanya.


“Ya pengamanan di galeri”

__ADS_1


Budi mengernyitkan keningnya. Dia bingung, nada bicara Erika terdengar seperti orang yang tidak cemburu.


“Siang kan ada mereka berempat. Malam ada si Brandon. Kalo belum ditarik sih” jawab Budi.


“Emang mas udah yakin sama si Brandon?” tanya Erika. Budi tambah bingung dibuatnya.


“Ya sebenernya belum, sih. Tapi aku juga bingung mesti gimana. Masa semua orang aku curigai. Kan berat jadinya. Emang ada temuan, Ka?”


“Iya, mas. Si Brandon masuk kantor kita, mas. Dia make komputer aku”


“Tahunya dari mana?” Budi belum percaya.


“Dari jejaknya, mas. Ada riwayat penghapusan data di software CCTV yang kita pasang, mas. Rekaman aksi si Basir kemarin, hilang, mas” jawab Erika.


“Ya masa dari kantor kita langsung? Banyak CCTV, juga”


“Kaya nggak tahu siapa Brandon aja, mas”


“Oke. kalo emang mereka masuk langsung ke kantor HRD, terus rekaman tentang kehadirannya dia hapus atau dia ganti dengan rekaman lain, kamu tahunya dari mana?”


“CCTV kantor kita itu sebenarnya berlapis, mas. Ada tiga lapis”


“What?”


“Ya. Yang diperlihatkan itu, lapis pertama. Semua orang tahu. Selain itu, ada lapis ke dua yang nggak nggak diberitahukan ke banyak orang. Sejauh ini, cuman aku yang dikasih tahu sama pak Paul. Dan cuman dia sama aku yang punya akses ke CCTV lapis ke dua itu. Yang ketiga, itu sebenernya CCTV yang pertama dipasang sebelum ada karyawan yang sekarang. Dan hanya pak Paul yang tahu dimana posisinya. Nah, begitu aku lhat ada riwayat penghapusan data, aku langsung cek CCTV lapis ke satu. Memang tidak ada jejak dia pernah masuk. Tapi pas aku cek CCTV lapis ke dua, ada dan jelas banget” jawab Erika menjelaskan.


Dia acungkan ponselnya, dan dia perlihatkan video rekaman CCTV lapis ke dua itu. dan memang terlihat si Brandon berjalan masuk kantor HRD.


“Tadi. Aku tuh ngeceknya kira-kira lima menitan sebelum mas Budi dateng”


“Karyawan udah pada pulang, dong?”


“Iya, lah. Masa pas masih ada karyawan?”


Budi manggut-manggut. Di otaknya sedang berjalan proses mencari solusi. Ada banyak kemungkinan dari tindakan si Brandon itu.


“Kita lihat hasil dari uji lab rotan itu dulu. Baru nanti kita diskusi lagi. Kalo kamu nggak capek” kata Budi membuat keputusan.


“Oke” jawab Erika singkat.


Budipun mempercepat laju mobil Erika. Mereka mampir ke klinik dulu, untuk penanganan lebih lanjut dari luka di lengan kiri Budi.


Sempat terjadi kehebohan saat Budi akan dijahit lukanya. Karena dia berpura-pura takut pada jarum suntik. Erika dan dokter yang menanganinya tertawa melihat polah si Budi. Tapi walaupun heboh, proses menjahit luka itu berjalan dengan lancar. Karena memang Budi hanya berpura-pura saja. dia hanya ingin merilekskan pikirannya dengan bercanda dan berkelakar.


Perjalanan merekapun berlanjut ke laboratorium yang dimaksud Erika. Ternyata kedatangan mereka telah ditunggu sang kepala lab. Langsung saja kepala lab itu mengajak keduanya ke dalam kantornya. Dia memperlihatkan hasil dari uji lab untuk rotan yang dibawa Erika.


“Jadi, ini benar-benar narkotika?” tanya Budi, setelah melihat daftar kandungan dalam rotan tersebut.


“Iya, mas Budi. Beberapa kandungannya memang masuk ke dalam jenis psikotropika” jawab kepala lab itu.


“Gimana bisa, sebatang rotan bisa penuh dengan kandungan narkotika?”

__ADS_1


“Itu yang kami belum temukan jawabannya. Mungkin direndam dalam waktu lama, atau mungkin sudah diberikan sejak pembibitan”


“Jadi semacam pupukkah?”


“Mungkin”


“Lalu, apa efek yang dihasilkan oleh kandungan ini?”


“Kami belum menguji sampai sejauh itu. dan kami juga tidak berani mengujinya langsung pada manusia. Tapi jika melihat komposisinya, mirip dengan obat perangsang yang biasa digunakan untuk wanita”


“Wow?” komentar Budi singkat.


“Tapi senyawa ini, dalam dosis kecil juga biasa dipakai dalam pengobatan lemah syahwat bagi laki-laki” kata kepala lab itu sambil menunjuk bagian tengah dari daftar itu.


“Kalau ini, dosisnya masih kecil apa besar, bu?” tanya Budi.


“Ini sudah masuk kategori ekstrim” jawab kepala lab itu. Budi menatap Erika.


“Seperti obat bius yang biasa dipakai dalam operasi sesar, efeknya akan bekerja dalam beberapa detik. Membuat pasien tidak merasa sakit sekalipun masih tersadar. Senyawa ini juga begitu. dengan dosis yang sebegini besarnya, pemakainya bisa langsung merasakan terangsang hebat. Bisa jadi, dengan sedikit sentuhan saja, dia bisa langsung orgasme. Bahkan mungkin tanpa sentuhan sekalipun, bisa orgasme”


Budi menatap Erika lagi. Seolah mau mengatakan kalau apa yang dia lihat pada Basir dan temannya adalah reaksi mereka menahan syahwat. Erika tidak berkomentar, tapi matanya seolah mengaminkan apa yang dipikirkan Budi.


“Dan seperti yang Erika sampaikan, kandungan dalam rotan itu baru bereaksi ketika bercampur dengan minuman beralkohol tertentu, yang kandungannya cocok untuk mengaktifkan kandungan psikotropika di rotan itu” kata kepala lab itu, mengalihkan perhatian Budi.


“Berarti tidak bisa dengan air, atau dibakar, atau direbus, gitu?”


“Tidak bisa, mas Budi. ini reaksi kimia, bukan fisika. Jadi harus dengan senyawa yang bisa mengaktifkan senyawa pada rotan ini”


Budi manggut-manggut mengerti. Emosinya agak bergejolak, mengetahui ada yang memanfaatkan tempatnya bekerja untuk peredaran narkotika.


“Mas?” tegur Erika. Budi menoleh. Tampak matanya memerah.


“Kami mohon, jangan libatkan kami dalam urusan narkotika ini!”


Suara kepala lab itu menyita perhatian mereka berdua.


“Jika memang ada peredaran narkotika jenis ini” lanjut kepala lab itu.


Budi dan Erika saling menatap lagi,tapi masih denan tanpa suara.


“Kami hanya ingin bisnis kami tidak terganggu dengan urusan narkotika. Pengujian ini, kami lakukan, tak lebih karena Erika adalah keponakan saya. Kalau bukan Erika, saya tidak akan membuka hasil pengujian ini. Karena terlalu berbahaya untuk kelangsungan bisnis kami” kata kepala lab itu lagi.


“Iya bu, kami mengerti” jawab Budi.


Tak lama kemudian, mereka berdua berpamitan. Erika yang mengambil peran untuk berbincang ringan dengan si kepala lab. Karena Budi sudah kacau pikirannya. Satu kejadian seperti terhubung dengan kejadian lainnya. Satu tanda tanya, belum terjawab, sudah muncul tanda tanya lainnya. Sampai di dalam mobilpun, Budi masih tetap termenung. Beberapa saaat dia habiskan dengan tidak melakukan apapun.


“Mas?” tegur Erika.


Budi hanya menoleh saja. Emosinya masih bergejolak.


“Selanjutnya kita gimana, mas? Lapor pak Paul?” tanya Erika.

__ADS_1


__ADS_2