Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
extra part ter*****


__ADS_3

Huwannuru yahdil kha irina dziyau hu...


Perjalannya terhenti oleh sebuah panggilan. Budi mengambil ponselnya. Dan nama Armita terpampang di layar ponselnya.


“Assalamu’alaikum” sapa Budi. Terlihat wajah Armita hampir memenuhi layar.


“Sombong ya, yang udah nikah” seru Armita. Membuat Budi terkesiap.


“Lah. Tahu dari mana, Mit?” tanya Budi bingung.


“Nih”


Armita merubah arah kameranya. Dan terlihatlah seorang wanita lain di sebelahnya.


“Liz. Apa kabar?” sapa Budi.


“Kabar buruk, lah. Nggak jadi kawin sama kamu” jawab Liza. Kembali Budi terkesiap. Dia merasa bersalah pada keduanya.


“Hempf. Ha ha ha ha”


Tapi ternyata Liza hanya mengerjai Budi semata. Dia tidak bisa menahan tawanya, melihat ekspresi bersalah Budi.


“Ish. Kalian ngeprank aku, ya?” seru Budi.


“Ha ha ha ha” kali ini suara Armita yang mendominasi.


“Ya cemburu juga sih, mas. Abisnya kamu kawinnya sama cewek yang pernah ngata-ngatain kamu. Haduh emosi jiwa ini sih” kata Liza. Budi masih belum mengerti makna kalimat itu.


“Kamu kok kurusan, Liz?” tanya Budi, berusaha merubah topik.


“Iya. Dibikin pusing sama orang polda” suara Armita yang menjawab.


“Ha?” Budi terkejut mendengarnya. Tampak Liza menegur Armita atas info yang Armita berikan.


“Emang kamu kenapa, Liz?” tanya Budi lirih.


“Ya keseret kasus kamu itu, mas” jawab Armita.


“Kok bisa?”


“Ya sama kaya kaya mantanmu. Liza juga nggak tahu, kalo papanya itu, ternyata pengedar” jawab Armita.


“Loh. Emang papa tiri kamu itu siapa, Liz?” tanya Budi lebih lirih lagi.


“Respati”


“Ha?”


Lagi-lagi suara Armita yang menjawab. Dan Budi terkejut mendengarnya.


“Lah. Jadi kamu sama Erika itu, sodaraan, dong?”


“Ya begitulah. Saudara atas dasar anak dalam asuhan” jawab Liza.


“Makanya dia juga ikut keseret” sahut Armita.


“Terus, sekarang gimana?”


“Alhamdulillah. Aku udah dinyatain nggak bersalah, mas” jawab Armita.


“Ini baru aku jemput” kata Armita.


“Ish” sergah Liza.


“Jemput dari?”


“Taha, “


“Eemm”


Armita tidak sempat menyelesaikan kalimatnya, karena mulutnya dibungkam Liza. Tapi Budi sudah bisa menangkap maksud Armita tadi.


“Ya Alloh, Liz. Sori banget, ya? Suer, nggak berguna banget aku jadi orang. Pas kamu butuh, aku selalu aja nggak ada” keluh Budi.


“Jangan ngomong gitu dong, mas. Aku nggak ngerasa gitu, kok. Aku cuman pengen berkabar aja. Aku takut aja, mas Budi juga kena imbasnya. Secara, mas Budi kan pacaran sama anaknya Respati” sahut Liza.


“Ya, emang kena banget, sih” jawab Budi.


“Sampe sekarangpun aku masih nunggu kesempatan”


“Kesempatan buat apa?”


“Ya, barangkali ada kesempatan buat duel lagi. Aku pengen nusuk jantung dia, kaya dia nusuk jantung Erika”


“Innalillahi. Jadi, mbak Rika, meninggal ditangan papanya sendiri?”


“Iya, lis. Aku telat buat ngadang” jawab Budi.


Air matanya kembali meluncur begitu saja. Dengan mata yang berubah memerah.


“Ya Alloh” keluh Liza.


Dia merasakan kesedihan juga, mendengar kabar dari Budi.


Untuk beberapa saat, mereka terdiam. Budi dengan sabar menunggu Liza untuk bisa bicara kembali.


“Mbak Rika dimakamin dimana, mas?”


“Di TMP bunga bangsa, Pacitan” jawab Budi.


“Nanti kalo aku bisa ke Pacitan, tolong tunjukin mas, ya?”


“InsyaAlloh”


“Ya udah, mas. Kita harus jalan dulu. Nanti disambung lagi, ya?” pamit Armita.


“Oke” jawab Budi.


“Selamat ya mas. Semoga sakinah, langgeng selamanya” kata Liza memberikan selamat.


“Makasih, Liz. Maafin semua salah aku ya, Liz. Juga tentang janji yang nggak bisa aku penuhin”


“Impas kok, mas” jawab Liza.


“Impas?”


“Iya. Dia juga mau kawin, mas Bud” seru Armita.


“Oh, ya? Sama siapa?”

__ADS_1


“Entar aja aku kirimin undangannya. Yang pasti lebih ganteng dari kamu. Hi hi hi” seru Armita.


“Wah. Nggak bener, nih. Lebih baik, boleh. Lebih ganteng, jangan! Ha ha ha ha” komentar Budi bercanda. Liza tertawa mendengar gurauan Budi.


“Ya udah ya mas, Liza pamit” kata Liza kemudian.


“Eemmm” Budi malah tampak bingung.


“Kenapa?”


“Nada bicaramu aneh” jawab Budi.


“Ya pamit mau pulang, sekalian pamit mau kawin” seru Armita.


“Ha ha ha ha” dia tertawa mendapat cubitan dari Liza.


“Abis kawin mau dibawa Brazil” lanjut Armita.


“Wuih” seru Budi.


“Kan yang mau ngawinin dia kan anaknya sacho. Induk perusahaan kita kan udah buka cabang di Brazil, yang pegang di sana anaknya sacho ini. Jadinya, abis kawin, langsung deh di ajak ke Brazil” seru Armita lagi.


“Busyet. Nggak kira-kira nyarinya. Berat, berat” komentar Budi.


“Untung nggak jadi sama Budi, lu” goda Armita.


“Wah. Kerjaan Mita ini sih. Kamu kan, yang nyomblangin?”


“Ha ha ha ha”


Armita tertawa lepas, sedangkan Liza hanya tertawa malu-malu.


“Ya udah, kita cabut dulu ya mas Bud?” pamit Armita lagi.


“Iya deh. Mau ke pasar, kan?”


“Ke pasar?”


“Beli terong, kan?”


“Hempf. Ha ha ha ha. Kok tahu, sih?” seru Armita heboh.


“Udah ah, malu gua ketahuan. Ha ha ha ha. Assalamu’alaikum”


tuuut


“Ha ha ha ha. Wa’alaikum salam” jawab Budi setelah tertawa.


Dia geleng-geleng kepala. Diantara rasa cemburunya, saat teringat masa lalu, namun Budi merasa lega, masa lalunya telah mendapatkan tambatan hati juga.


Doa terbaik dia panjatkan untuk masa lalunya itu. Semoga langgeng selamanya. Lantas dia melanjutkan kembali perjalanannya menuju rumah.


Tepat pukul sembilan pagi, Aldo bersama kedua orang tuanya datang. Hanya berselang satu menitan dari kedatangan Madina.


Rupanya Aldo juga mempunyai seorang adik laki-laki. Jadi tamu pagi ini ada empat orang. Budi menyambut para tamunya bersama sang ibu. Stevani sengaja dia sembunyikan terlebih dahulu.


Setelah berbasa-basi sejenak, Budi lantas memberikan kode kepada adiknya untuk membawa sang kakak sulung untuk keluar dari kamar. Aldo sempat terpana. Walau pakaian yang Stevani pakai masih terhitung gamis pada umumnya, namun riasan wajah Stevani memang agak berbeda dari riasan sehari-hari. Tampak lebih cantik.


“Nah. Memasuki tujuan utama kami mas Budi dan bu Ratih, kami selaku orang tuanya Aldo, ingin melamar mbak Stevani Larasati untuk menjadi istri putra kami, Aldo. Apakah lamaran kami bisa diterima, mas Budi?” kata ayahnya Aldo.


Budi tersenyum tenang menanggapi pertanyaan ayahnya Aldo ini. Dia menggoda Aldo dengan senyumnya, lalu berganti dengan menatap Stevani.


“Saya, mewakili almarhum bapak saya, sebagai wali dari kakak saya Stevani, secara umum, welcomed” kata Budi mengawali jawabannya. Namun dia buat menggantung.


Kali ini dia menatap Stevani. Stevani, yang sedang diapit Putri dan Madina, terlihat gugup ditatap adik beda ibunya.


“Mbak. Mas Aldo ngelamar embak. Apa embak bersedia, menikah sama mas Aldo?” tanya Budi.


Sempat Stevani menatap mata Budi saat Budi berbicara. Kemudian dia berganti menatap sang kekasih, Aldo. Beberapa saat lamanya, Stevani terdiam. Seperti bingung hendak mengatakan apa.


“Iya. Saya bersedia” jawab Stevani.


“Alhamdulillah” seru Aldo seraya sujud syukur.


Sontak seruan Aldo mengundang gelak tawa dari semua yang hadir. Setelah sujud syukur, Aldo diberi kesempatan untuk bertukar cincin dengan Stevani. Hari pernikahan merekapun gilirannya dibahas.


Bu Ratih yang masih mengerti hitungan jawa, menyampaikan pendapatnya. Ayahnya Aldo juga memiliki pendapatnya sendiri. Setelah menimbang beberapa hal, disepakatilah sebuah tanggal yang menurut semuanya sebagai tanggal yang baik untuk pernikahan Aldo dan Stevani. Kali ini Fitri yang menjadi petugas dokumentasi.


Setelah acara intinya selesai dilaksanakan, acara kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah. Budi sempat terkejut saat istrinya datang membawa nampan berisi menu soto khas Pacitan. Diapun meminta Putri untuk membantu Adel.


Sembari menikmati hidangan, Budi melemparkan beberapa candaan kepada Aldo, untuk mencairkan suasana. Dan candaannya itu berhasil mengundang komentar dan gelak tawa.


Menjelang pukul sebelas siang, ayahnya Aldo menyatakan kalau hajatnya datang ke rumah Budi telah selesai. Ucapan terimakasihpun tak lupa dia sampaikan, teriring rasa bahagia karena lamaran itu diterima oleh Stevani. Sekaligus ayahnya Aldo menyatakan pamit undur diri.


Semua anggota keluarga bu Ratih mengantarkan para tamunya sampai ke halaman depan. Dan mereka tetap di sana sampai mobil yang Aldo kemudikan menghilang di perempatan sana.


Sempat para tetangga bertanya walaupun dari rumah masing-masing. Dan bu Ratih menjelaskan agenda acara tadi. Beberapa candaan mereka lemparkan untuk menggoda Stevani. Dan Stevanipun tersenyum malu-malu. Merekapun akhirnya beranjak kembali menuju rumah.


Tiba-tiba, ada sebuah mobil yang berhenti di depan halaman rumah. Semuanya seperti sepakat untuk berhenti dan balik kanan.


“Mbak Ning?” seru Stevani, saat melihat siapa yang keluar dari sisi kiri mobil itu.


“Mas Hendra?” serunya lagi.


Stevanipun turun untuk menyongsong keduanya.


“Kok bisa barengan? Kenal dimana?” tanya Stevani sambil menyalami mbak Ning dan Hendra.


“Ya di kontrakan belakang lah, mbak” jawab mbak Ning.


“Apa kabar mbak Vani?” tanya Hendra.


“Baik, mas. Kalian apa kabar? Udah berapa bulan ya, kita nggak ketemu?” jawab Vani, dilanjut bertanya.


“Tiga bulan lebih, lah” jawab mbak Ning.


“Ya lebih, lah. Tapi kok bisa kenal, sih? Gimana ceritanya?” Stevani masih penasaran.


“Ya karena ngusut kasusnya mbak vani dulu itu” jawab mbak Ning lirih.


“Mas Hendra kan ngusutnya sampe ngontrak di belakang. Yang pojokan”


“Oh. Sebelahnya mas Yusuf?” sahut Stevani.


“Iya” jawab Hendra.


Stevani tidak segera mengomentari mereka. Dia terlihat seperti sedang menerka-nerka, bagaimana mereka bisa sampai sedekat ini. Yang pada akhirnya Stevani tergelak sendiri.


“Jadi ceritanya, dulu itu minta bantu mbak Ning? Buat nyari CCTV? Pasti caranya aneh, deh” komentar Stevani kemudian.

__ADS_1


“Kok mbak Vani bisa nebak, sih?” seru mbak Ning lirih. Tampak raut malu-malu tergurat di wajahnya, karena Vani bisa menebak dengan tepat.


“Lah, mas. Bukannya dulu mas Hendra punya cewek, ya?” tanya Stevani.


“Udah aku suruh ke laut, mbak. Ruwet. Mending mbak Ning, ngayomin” jawab Hendra.


“Oke. Terus? Jangan bilang udah nikah!” todong Stevani.


“Iya, mbak. Sebelum geger di watu karung itu” jawab mbak Ning.


“Lah, kok baru bilang, sih?”


“Mas Hendra lagi nggak aman posisinya, mbak. Jadi ya, kita sengaja diem-diem dulu waktu itu. Terlebih, mas Hendra juga mundur dari firma hukum yang ngurusin kasusnya papanya mbak Vani”


Mendengar akhir ucapan mbak Ning, raut wajah Stevani tiba-tiba berubah. Tampak sekali kemarahan di wajahnya. Membuat mbak Ning bingung.


“Oke, aku ngerti. Tapi, tolong jangan panggil orang itu papa Vani lagi!” kata Stevani, beberapa saat kemudian.


“Oh. Iya. Maaf, mbak” kata mbak Ning.


“Aduh, sampe lupa. Masuk dulu, yuk!” ajak Stevani.


“Makasih mbak Vani. Di sini aja” tolak Hendra halus.


“Kita ke sini, pertama mau mengabarkan pernikahan kita, ” kata Hendra.


Dia menggantung kalimatnya disertai senyuman malu-malu.


“Kemudian saya juga mau menyerahkan amanah, yang saya terima dari almarhum ibu Gita Shella Syarifah” lanjut Hendra.


Kali ini nada bicaranya jauh merendah dan lirih.


Mata Stevani langsung berkaca-kaca setelah mendengar nama ibu kandungnya disebut Hendra.


“Ibu bilang ke saya untuk menyerahkan koper ini, saat mbak Vani sudah hendak menikah. Dan saya denger, mbak Vani mau menikah. Maka dari itu, saya pikir, sudah waktunya untuk saya serahkan” lanjut Hendra lagi.


“Koper?”


“Ini, mbak”


Hendra menyerahkan sebuah koper berwarna hitam kepada Stevani. Walau masih bingung, namun Stevani menerima koper itu.


“Kita sarapan dulu yuk!” ajak Stevani.


“Makasih mbak Vani. Tapi kita mesti segera pamit. Kita mau ke surabaya. Ya, lepas dari sana, saya mesti nyari sesuap nasi sendirian, mbak” tolak Hendra halus.


“Ya Alloh. Sesempit itukah waktunya mas, sampe nggak bisa sarapan dulu?” komentar Stevani.


“Lain waktu ya, mbak. Mungkin pas hari H, kita abisin dua porsi-dua porsi” jawab Hendra.


“Sembarangan. Perutku kecil, mas” tukas mbak Ning, tapi bercanda. Membuat Stevani tergelak.


“Ya udah kalo emang waktunya mepet. Ati-ati di jalan!” kata Stevani mengalah.


“Iya mbak, siap” jawab Hendra.


“Makasih ya mas, mbak. Jangan lupa ngabarin, kalo udah lahiran!” kata Steavni sambil mengelus perut mbak Ning.


“Eh, kok tahu sih mbak, kalo aku lagi hamil?” tanya mbak Ning lirih.


“Lah, beneran ini? Vani cuman ngasal lho mbak”


“Iya, mbak. Jalan dua bulan”


“Alhamdulillah” Stevani mengungkapkan rasa syukurnya.


“Maaf mbak Vani, kami undur diri. Sudah kesiangan” kata Hendra pamitan.


“Oh, iya. Silakan mas, makasih” jawab Stevani.


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikum salam”


Ketiganyapun berjabat tangan bergantian. Dan tak lama kemudian, mobil Hendra sudah bergerak meninggalkannya.


Tinggallah Stevani tertgegun sendirian, menatap koper yang entah apa isinya.


“Apa itu, mbak?”


Stevani terkejut mendengar ada yang menegurnya, tepat selangkah di belakangnya. ternyata Adel. Dia jadi tertegun dipanggil Adel dengan sebutan ‘mbak’.


“Hei. Malah bengong” tegur Adel lagi. Stevani tersentak.


“He he. Abisnya aneh, kamu manggilnya, mbak” jawab Stevani.


“Loh, bener kan? Mau dipanggil apa emang, tante?”


“Ha ha ha ha. Tambah tua dong, Adel” seru Stevani. Merekapun saling melemparkan candaan.


Di teras rumah, Budi dan bu Ratih masih berdiri memperhatikan Stevani. Budi tersenyum saat ibunya seperti sedang memikirkan sesuatu. Tapi bukan sesuatu yang berat, melainkan seperti seorang remaja yang iri, melihat temannya dapat pacar baru, sedangkan dia sendiri jomblo.


“Kapan pak Paul datang, bu?” tanya Budi.


“Hem?”


Bu Ratih yang masih melamun, sempat tidak tersambung dengan pertanyaan Budi. Tapi tak lama kemudian, ada binar-binar harapan di raut wajahnya.


“Emang, kamu udah ikhlas, ngger?” tanya bu Ratih.


“Heemm. Kalo nurutin egonya Budi, nggak akan ada habisnya, bu” jawab Budi. Bu Ratih mengernyitkan keningnya.


“Sampe kapanpun, rasanya Budi nggak akan bisa ikhlas” lanjut Budi. Binar-binar di wajah bu Ratih perlahan memudar, mendengar kelanjutan ucapan Budi.


“Tapi Budi nggak mau nyesel seumur-umur, bu. Budi nggak mau ngeliat ibu sedih di masa tua nanti, cuman karena kegoisan Budi” lanjut Budi lagi. Bu Ratih tidak menyela.


“Mumpung ibu masih kaya Yeni Inka, “ goda Budi sambil tergelak. Membuat bu Ratih berkacak pinggang, seolah merajuk.


“Silakan menikah lagi, bu” lanjut Budi, mengakhiri jawabannya.


“Kamu serius, ngger? Kamu udah pikirin bener-bener?” tanya bu Ratih.


“Iya, bu. Budi udah pikirin mateng-mateng. Kebahagiaan ibu adalah yang utama buat Budi”


Jawaban itu tak pelak membuat air mata bu Ratih meluncur begitu saja tanpa bisa beliau bendung. Serta merta bu Ratih memeluk Budi dan menumpahkan keharuannya di pundak putranya.


“Ibu nggak akan ngelupain bapak, ngger. Bapak akan selalu ibu sebut dalam doa ibu” kata bu Ratih dalam tangisnya.


“Iya, bu. Budi percaya” jawab Budi.

__ADS_1


Semua yang melihat pelukan bu Ratih dengan Budi, merasa lega. Akhirnya Budi memberikan izinnya kepada sang ibu untuk menikah lagi.


Menikah lagi, bukan berarti melupakan yang sudah berpulang, melainkan melanjutkan ibadah, agar tidak tergelincir ke perbuatan maksiat.


__ADS_2