Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
pak fajar siuman, adel terharu


__ADS_3

Adel tidak menyangka kalau sidang maraton ini akan berlangsung sampai larut malam. Lama-lama tenaganya terkuras juga. Diapun sudah mulai tidak sabar. Tapi saat melihat Isma, kemarahannya berkobar lagi. Membuatnya terus bertahan sampai berakhirnya sidang.


Setelah sidang itu berakhir, Adel mengajak Sandi dan Sephia untuk makan malam. Tapi mereka berdua menolak dengan halus. Mereka beralasan kalau mamanya Sephia sudah memasak menu spesial untuk mereka berdua. Mau bagaimana lagi, Adelpun merelakan mereka pergi terlebih dahulu.


Adel juga sempat bertegur sapa dengan pak Paul. Secara langsung pak Paul menyampaikan permintaan maafnya atas penundaan kontrak itu. Walaupun masih belum bisa menerima, tapi Adel berusaha memaklumi.


Adel mengajak Luki untuk mampir ke masjid agung terlebih dahulu. Selain ingin sholat isya’, Adel juga bilang ingin istirahat barang sejenak. Tentu saja Luki mau. Buat dia, selagi bersama Adel, kemanapun akan dia jalani.


Benar saja, setelah menunaikan sholat isya, Adel langsung merebahkan tubuhnya di teras masjid. Beberapa orang yang mengenalinya sebagai artis, hendak memintanya untuk berfoto bersama. Tapi Tati mencegah mereka. dia menjelaskan kondisi Adel saat ini. Beruntung penggemar Adel itu mau mengerti.


Luki masih setia berjaga, disaat Tati dan Nike juga ikut tertidur karena lelah. Menjelang tengah malam, barulah Adel terbangun. Itu juga lebih karena suhu dingin yang menerpa tubuhnya. Luki sempat menawarkan wedang ronde kepada Adel. Tawaran yang susah ditolak disaat yang dingin seperti ini. Mereka menikmati hangatnya wedang ronde sambil menunggu kedua sahabatnya terbangun.


Walaupun tertidur, rupanya indera penciuman Nike masih tetap bekerja. Terbukti tak lama kemudian dia terbangun karena aroma wangi yang dia cium. Sambil tertawa Adel menawarkan wedang ronde padanya.


Sifat jahil Nike keluar disaat dia melihat Tati masih tertidur pulas. Dia meleletkan sedikit kuah ronde ke bibir Tati. Otomatis, bibir Tati bergerak-gerak merespon rangsangan itu.


Daripada karena rasanya, Tati terbangun lebih karena tawa Nike yang cukup kencang. Mereka sempat berdebat mengenai kejahilan Nike. Pada akhirnya, Tati juga mau dipesankan wedang ronde serupa.


Lepas tengah malam mereka baru kembali ke rumah sakit. Mereka mendapati semua orang sudah tertidur kecuali bapaknya Sinta, adiknya pak Fajar. Mengetahui kedatangan mereka, bu Susan terbangun. Mereka sempat berbincang mengenai jalannya persidangan. Adel juga sempat menanyakan perkembangan bapaknya. Bu Susan mengatakan kalau bapaknya sudah mengalami banyak perkembangan.


Keesokan paginya, Adel sengaja menahan kantuknya semenjak lepas sholat subuh. Dia sudah tidak tahan ingin segera menemui bapaknya. Walau dia tahu, hari ini ada agenda sidang lagi. Tapi sejauh yang dia tahu, sidang kali ini bisa diwakilkan ke kuasa hukum.


Waktu terasa berjalan sangat lambat baginya. Begitu jam besuk pagi dimulai, dia langsung menggunakan hak vetonya. Bahkan Madina juga sampai harus mengalah demi kakaknya. Dan betapa bahagianya Adel, melihat bapaknya sudah bisa duduk di ranjang.


“Alhamdulillah. Bapak udah bisa duduk?” komentar Adel saat berjalan mendekat.


“Iya. Alhamdulillah, nduk” jawab pak Fajar.


Adel salim dan sungkem pada bapaknya. Tangis bahagianya tak lagi bisa dia bendung. Dia tumpahkan di pangkuan bapaknya. Pak Fajar juga tak jauh berbeda. Air matanya meleleh saat tangannya membelai-belai kepala putri sulungnya.


“Dari kemarin kamu kemana nduk, kok nggak nemuin bapak?” tanya pak Fajar.


Pertanyaan itu sontak membuat Adel terdongak. Dia tidak segera menjawab. Dia berpikir dulu, jawaban apa yang kiranya tepat dia berikan.


“Tanya aja sama ibu!” jawab Adel, dengan nada dibuat seolah merajuk.


“Hem?” pak Fajar tidak mengerti.


“Namanya cinta sejati, mana mau kepisah sama cinta sejatinya. Apalagi cinta sejatinya lagi sakit begini” jawab Adel, mengarang. Pak Fajar tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


“Beneran nggak mau ngalah. Nggak mau digantiin, sekalipun sama anaknya sendiri” lanjut Adel.


Pak Fajar tergelak. Dia manggut-manggut seperti paham apa maksud Adel. sedangkan Adel sendiri masih bertanya-tanya, apakah bapaknya tergelak itu karena percaya jawabannya, atau malah sebenarnya bapaknya tahu, kalau dirinya berbohong.


“Itu yang bikin bapak setia sama ibu, nduk” komentar pak Fajar.


“Oh, so sweet” kata Adel.


Dia memeluk bapaknya. Rasa bahagianya mengalahkan rasa kantuknya.


“Eh, bapak udah sarapan, belum?” tanya Adel.


“Udah. Tadi disuapin ibu” jawab pak Fajar.


“Tuh, kan. Ibu ih, bener-bener. Cinta pertamaku dikekepin mulu, dari kemarin” komentar Adel sok merajuk.


“Hempf. Ha ha ha ha”


Pak Fajar tertawa mendengar ungkapan kekesalan putri sulungnya. Dia seperti melihat kembali Adel kecil yang suka rebutan sama ibunya.


“Tapi ngomong-ngomong, bapak pengen pipis, nih” kata pak Fajar.


“Ya basah semua dong, Del”


“Loh?”


Adel bingung. Adel bertanya dalam hati, bukannya kemarin-kemarin dikasih selang buat pipis?


“Dicopot, nduk. Nggak enak rasanya” kata pak Fajar, seolah mengerti apa yang dipikirkan anaknya.


“Hempf” Adel tergelak mendengar celetukan bapaknya.


“Kok ketawa?” tegur pak Fajar.


“Hi hi hi. Selang, keras” kata Adel sambil tertawa.


“Eh. Udah bisa ngeledek, anak bapak” komentar pak Fajar, sambil mengulurkan tangannya, hendak mencubit pinggang Adel.


“Ha ha ha ha”

__ADS_1


Adel tertawa sambil menghindar. Tapi kemudian dia mencari-cari selang dan uritori di sekitar ranjang rawat bapaknya. Uritori itu ada di gantungan di bawah ranjang.


“Ya udah, Adel panggil ibu, ya?” kata Adel kemudian.


“Buat apa?”


“Ya masa Adel yang masangin sih, pak? Ngeri ah. Hiii. Ha ha ha” jawab Adel.


“Hadeeh. Bapak pengen ke toilet, nduk” kata pak Fajar menjelaskan maksudnya.


“Loh. Emang udah boleh, sama suster?”


“Kenapa nggak boleh? Kan bapak udah sehat? Yang puyeng kan kepalanya, bukan kakinya”


“Ya tapi Adel harus nanya dulu, pak. Adel nggak berani ngambil tindakan sendiri”


“Bapak udah kebelet, nduk”


“Ya udah. Bentar, Adel panggil suster dulu” kata Adel.


Dia beranjak setengah berlari menuju neja suster. Dia berpikir, kalaupun belum boleh ke toilet, sudah menjadi tugas seorang perawat untuk memasangkan uritori.


“Sus” panggil Adel agak kencang.


“Iya. Kenapa, mbak?” tanya salah satu suster. Sikapnya berubah siaga, melihat Adel seperti terburu-buru.


“Enggak. Itu, bapak saya pengen ke toilet. Apa udah boleh, sus?” tanya Adel.


“Oh. Jangan dulu, mbak. Belum ada ijin dari dokter. Hasil scannya kan menunjukkan ada indikasi masalah di kaki pasien. Kemungkinan besar, pasien akan mengalami gangguan saat berjalan. Itu yang masih menjadi concern dari para dokter” jawab suster itu.


“Ya udah, kalo gitu. Tolong bantu pasangkan uritorinya, sus” pinta Adel.


“Oh, baik” jawab suster itu.


Merekapun segera kembali. Adel masih senyam-senyum sendiri, membayangkan bapaknya akan dipasangkan uritori oleh seorang perawat cantik. kalau ibunya tahu, pasti akan marah-marah.


“Astaghfirulloh”


Seruan suster itu membuyarkan lamunannya. Sontak Adel mengalihkan pandangannya ke depan.

__ADS_1


***


__ADS_2