Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
bakar jagung


__ADS_3

Sesampainya di galeri, mobil pak Paul terparkir manis di pojokan. Ada satu buah mobil lain yang Budi merasa kenal dengan mobil itu. Ternyata benar, itu mobil pakde Kusno. Dia datang bersama beberapa tetangga di lingkungannya. Mereka sengaja datang untuk menjenguk Putri.


Suasana tampak akrab, karena yang datang hanya orang-orang yang baik pada keluarganya. Ada ibunya Hanin juga di sana. Budi ikut berbincang di sana.


Cukup lama dan hangat kebersamaan mereka, disertai guyonan yang sukses mengundang tawa.


Setelah tak kurang dari satu jam mereka berbincang hangat, para tamupun pamit undur diri. Pastinya mereka juga dilepas dengan hangat.


Diiringi doa-doa yang mereka panjatkan, agar bu Ratih sekeluarga, serta orang-orang yang dalam perlindungan Budi mendapatkan keselamatan selalu. Tentu saja doa itu langsung Budi aminkan tanpa kecuali.


Tak lama kemudian, merekapun pulang. Meninggalkan Pak Paul, yang memang masih ditahan bu Ratih agar tidak pulang dulu.


“Oh iya, pak Paul” tegur Budi, saat para tamunya sudah pulang. Sontak semua perhatian tertuju padanya.


“Kenapa, Bud?” tanya pak Paul.


“Kayaknya si Brandon saya bebas tugasin saja, pak. Di pabrik pasti lebih dibutuhkan. Saya ada karyawan saya, pak. Mantan preman semua. InsyaAlloh aman”


“Emang, siapa yang mau jaga, mas?” Adel menyela.


“Kang Bejo” jawab Budi.


“Kenapa tiba-tiba, ngger?” sahut bu Ratih.


“Iya, Bud. Nggak papa, kok. Aku bisa minta lagi kalo emang dibutuhin” timpal pak Paul.


“Ya nggak tiba-tiba juga, bu. Kan udah dibicarain, tadi. Jadi Budi pikir, lebih baik dimulai dari sekarang aja, gitu” kata Budi menjawab pertanyaan ibunya.


“Tapi Brandonnya sudah datang, ngger”


“Datang?”


“Tuh”


Bu Ratih menunjuk ke sisi kiri galeri. Dan tampak si Brandon baru datang dari arah belakang. sepertinya dia baru saja patroli keliling bengkel kayu.


“Besok aja, ngger. Kasihan juga si Brandon. Baru datang masa disuruh pulang lagi? lagian kang Bejo juga pulangnya abis maghrib. Masa langsung disuruh jaga? Besok aja! Besok kang Bejo diliburin, masuknya malem, buat jaga” saran bu Ratih.


Seperti dugaan Budi, ibunya akan menyarankannya begitu.


“Iya udah deh, bu. Gitu juga boleh” jawab Budi mengalah.


“Sip” komentar bu Ratih, senang.


“Jagungnya mana, ngger? Dapet, nggak?” tanya bu Ratih.


“Dapet, bu. Itu di motor” jawab Budi.


“Ya udah, yuk disiapin!” ajak bu Ratih.

__ADS_1


“Di samping aja, bu. Di jalan buntu, tuh. Kalo ada yang berkunjung, biar nggak sungkan. Kalo Putri pengen ikut kan juga deket” saran Budi.


“Benar, itu” komentar pak Paul.


“Ya udah yuk, aku bantuin!” ajak pak Paul.


Budi hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Mengapa jadi yang tua yang bersemangat? Apa memang mereka berdua sengaja, biar suasana tidak menjadi kaku?


Apapun itu, Budi langsung beranjak membantu pak Paul. Madin dan Adel sigap menyiapkan perbumbuan dan wadah. Sedangkan Aldo, yang baru saja datang, langsung tanggap dengan menyiapkan bakaran dan kayu bakarnya.


Seperti dugaan Budi, Putri memaksa ingin ikut acara bakar-bakar itu. Dia tidak mau hanya menunggu di dalam.


Sambil tertawa geli karena ocehan Putri, Budi menyiapkan kursi roda, dan membantu Putri untuk berpindah pada kursi roda itu. Mereka semua berkumpul di jalan buntu di samping kanan bengkel kayu Budi.


Disaat semuanya larut dalam kegembiraan, bakar-bakar jagung, ada satu orang yang terlihat berbeda. Dia menyendiri agak jauh dari kerumunan. Duduk lesehan tanpa alas di atas jalan tanah.


Budi mendekatinya. Sebagai tuan rumah, dia merasa punya tanggung jawab untuk beramah-tamah dengan tamunya. Dia duduk di sebelah tamu yang sedang termenung itu.


“Aku turut berduka-cita ya, Del” kata Budi membuka percakapan.


Adel seperti tersentak dari lamunannya. Dia menoleh dan menatap Budi dengan tatapan cukup tajam, tapi terasa kosong juga buat Budi.


“Untuk apa, mas?” tanya Adel.


“Hem? Untuk apa?” gumam Budi bingung.


“Ya. Memang, harus Adel akui, Adel kacau banget, mas” kata Adel, menjawab kebingungan Budi.


“Basis perdaran narkoba, mas. Kebayang nggak sih, berapa pasal, itu? Berapa banyak, coba?” lanjut Adel lagi. budi mengangguk sekali.


“Kalo bener apa yang penyidik itu bilang, satu unit yang Adel kirim ke mas Budi, ada berapa pasak, coba? Kalo tiap pasaknya ada narkotikanya, berapa gram tiap unitnya? Satu set, berapa banyak? satu kloter udah nggak kebayang berapa banyaknya. Belum yang pesanan si Luki. Entah udah berapa ratus unit yang kejual” suara Adel mengecil, tapi penuh dengan emosi.


“Mana Adel juga nggak tahu lagi, siapa aja karyawan Adel yang dibeli sama dia. Mungkin semuanya”


Adel menutupi wajahnya, teramat berat beban yang dia rasakan.


“Berapa pasal coba, mas? Berapa tahun ancamannya?”


Air mata Adel kini berlinang mengiringi kepedihan hatinya. Budi hanya bisa menghela nafasnya.


“Tapi entah kenapa, Adel masih ngerasa sedih, ditinggal dia”


“Udah! Cukup nyalahin diri sendirinya. Bukan salah Adel, kok” kata Budi menghibur Adel.


“Tapi Adel udah ancur, mas. Nama udah rusak, bengkel nggak boleh buka dulu, rumah pake nggak boleh ditempati segala. Adel bingung harus gimana mas, biar tetep bisa makan”


“Minta dong, sama Gusti Alloh” jawab Budi.


“Excuse me?”

__ADS_1


“Kamu pikir, bengkel ini duitnya dari mana? Gusti Alloh yang nyariin”


“Ya” sahut Adel singkat.


“Jangan dipikirin gimana caranya! Yang penting ikhtiar. Angger obah, mesthi mamah”


Adel hanya menganggukkan kepalanya. Dia merasa malu, pernah menyakiti hati Budi, dan sekarang dia bergantung kepada Budi.


“Terus, yang serangan tadi, gimana, Del? Udah kamu laporin?”


“Loh. Kan yang dikeroyok, mas Budi. Sampe luka gini”


“Aku sih nggak mau nambah masalah, Del. Belum jelas juga siapa yang nyuruh. Kalo aku yang ditanya, ya aku lebih milih diem dulu. Tapi kamu kan rugi di mobil. Maunya gimana?”


“Adel nggak kepikiran, mas. Udahlah, biarin aja dulu! Mobilnya diurus nanti aja. mikirin kasus ini aja udah bikin Adel puyeng banget, mas”


“Ya udah kalo gitu. Aku ambilin jagungnya, ya?”


“Iya” jawab Adel.


Budi beranjak menjauh, kembali ke kerumunan. Dia mengambil dua tongkol jagung yang sudah dibakar. Dan dia kembali menemani Adel.


Tak ada yang menanyainya. Tak ada yang protes juga. Seperti sudah maklum dan kompak membiarkan mereka berdua berbincang secara pribadi. Dan mereka terus menikmati jagung bakar sampai larut malam.


***


Di tempat lain, Erika sedang berkendara sendirian, setelah mengantarkan orang tuanya ke bandara. Ke pangkalan udara lebih tepatnya. Karena ternyata, papanya itu berangkat tidak menggunakan pesawat komersil, melainkan menumpang pada pesawat hercules.


Dia hanya geleng-geleng kepala, saat papanya pamit dengan senyum geli. Itu karena Erika tertegun takjub, melihat papanya punya kenalan orang dalam seragam loreng. Hal yang sebenarnya tidak boleh dilakukan, tapi tengah terjadi.


Ya sudah, Erika balik kanan meninggalkan pangkalan udara itu.


Tiba di jalan yang penuh dengan jagung di kanan-kirinya, Erika mengurangi laju kendaraannya. Selain karena kondisi aspal yang banyak terkelupas, tadi saat berangkat dia melihat adanya pasir yang tercecer di lajur yang dilewatinya saat ini.


Dan benar, dia menemukan pasir itu. Dia menghindar ke kanan. Sekilas, dari pantulan lampu depannya, Erika melihat cairan berwarna merah yang sudah mengering di aspal.


“Apa di sini kejadiannya, ya?” gumam Erika.


Dia terus melajukan kendaraannya dengan kecepatan rendah.


“Emang jauh dari penduduk, sih. Wajar kalau nggak ada yang ngeributin. Untung mereka nggak kenapa-kenapa” lanjut Erika.


Tiba-tiba, dari arah belakang, muncul kendaraan dalam jumlah banyak. dari sorot lampunya, Erika bisa menebak kalau yang akan lewat itu adalah kendaraan roda dua. Deru kenalpotnya sanggup memecah kesunyian malam ini.


*DOK DOK DOK*


“Aww”


Erika terkejut mendapati pintu kanannya digedor orang dari luar. Saat ia menengok ke kanan, ada salah seorang pemotor yang memintanya menepi dengan bahasa isyarat. Di depannya, ada beberapa motor yang menghalangi jalannya.

__ADS_1


“Haiih. Mau ngapain lagi sih, mereka?” keluh Erika.


__ADS_2