
“Eh. Si Adel, gimana kabarnya?”
Pertanyaan sepele dari Erika itu cukup mampu menyita perhatian semua orang. Terutama Budi yang baru saja memasuki ruangan itu. Bahkan Bayu yang sedang menguappun jadi terpotong menguapnya. Matanya langsung segar mendengar pertanyaan itu.
Ya, mereka memang mengawali hari lebih pagi dari biasanya. Karena mereka memilih untuk bekerja, sesuai dengan yang bisa mereka kerjakan. Dan mereka harus menyesuaikan jam kerja di Indonesia, yang tentunya lima jam lebih awal.
“Oh, baik. Kenapa?” jawab Budi dilanjut bertanya balik.
“Nggak papa. Mau nanya aja, kelanjutan proyeknya, gimana?” sahut Erika.
“Oh. Ya tetep lanjut. Untuk kloter tiga, sementara ini disubcont dulu. Nunggu pembangunan bengkelnya jadi” jawab Budi.
“Wuih. Bengkelnya dibangun lagi, Bud?” tanya Deni.
“Iya, Den. Alhamdulillah, ada orang baik yang mau nolongin” jawab Budi.
“Si Luki, ya?” sahut Erika.
Sontak semua mata tertuju padanya. Tak terkecuali dengan Budi. Tapi kemudian dia tersenyum.
“Bukan. Temennya pak Fajar” jawab Budi masih sambil tersenyum.
Yang lain ikut tersenyum. Mereka mengucap syukur atas berita baik ini. Mereka sepakat untuk menghentikan sejenak aktifitas bekerja mereka. Dan bersama, mereka menggelar syukuran darurat.
Ya, di kamar Erika, yang disulap menjadi ruang kerja bersama, mereka duduk berkeliling. Hanya doa bersama, mengucap syukur atas pertolongan Gusti Alloh. Budi terharu dengan sikap teman-temannya. Walau bukan siapa-siapa mereka, tapi Adel seolah sudah mendapatkan tempat khusus di hati mereka.
Di tempat yang sangat jauh dari pandangan mata, Stevani sedang gelisah menantikan pertemuannya dengan pengacaranya. Kabar tentang tertangkapnya si otak intelektual beberapa hari yang lalu, membuatnya senang tapi sekaligus waspada. Karena ternyata si otak intelektual itu adalah orang yang sangat mengenal dirinya.
Isma mengetahui banyak hal tentang dirinya yang tidak diketahui orang lain. Beberapa tuduhan Isma yang dia tolak dengan keras, sebenarnya adalah hal yang benar. Hanya saja dia manipulasi secara data.
Dia sangat menyesali, betapa dirinya tidak menyadari kalau sebenarnya Isma bukanlah orang sembarangan. Dan kini dia harus berhadapan dengan sisi lain Isma yang tidak pernah terlihat sebelumnya.
“Mas Hendra” sapanya, saat bertemu pengacaranya.
“Apa kabar, mbak? Kok masih muram bergitu, wajahnya?” sahut Hendra sambil menyalami Stevani.
“Aku masih syok, mas. Kaya masih belum percaya gitu, kalo otak dari semua ini ternyata adalah Isma” jawab Stevani.
“Ya. Banyak yang belum percaya. Bahkan Adel dan Budi juga, saya dengar belum percaya”
“Tapi kan buktinya ngarah ke dia semua? Korek api itu, software itu, mentahan dari rekaman itu”
“Mereka juga tidak menolak soal itu. Hanya perasaan mereka saja. Mereka tidak percaya kalau Isma bisa melakukan hal sekeji itu. Seperti mbak Vani”
“Huuufttt. Terus kita harus gimana, mas?” tanya Stevani.
__ADS_1
“Mbak Vani yang tenang, ya!” pinta Hendra.
“Tenang gimana? Kemarin mas Hendra bilang bengkel kayu bapaknya Adel kebakaran lagi. Udah dipenjara aja masih bisa ngelakuin aksi kaya gitu. Gimana aku bisa tenang, mas?”
“Kebakaran kemarin nggak ada hubungannya dengan si otak intelektual. Itu murni perselisihan internal mereka”
“Serius? Tahu dari mana?”
“Pelakunya udah ketangkep, mbak. Dia mengakui semuanya. Ya walaupun polisi nggak percaya gitu aja. Mereka terus menyelidiki hubungan orang itu dengan kasus sebelumnya. Tapi paling tidak, sudah berkali-kali pelakunya mengatakan kalau dia membakar bengkel bosnya sendiri arena kesal dengan anak bosnya itu”
“Si Adel?”
“Ya. Musibah itu terjadi karena pertengkaran antara Adel dan pelaku. Dia malah tidak tahu tentang mbak Vani, tentang kasus yang menyangkut Adel dan keluarganya. Kata dia, itu tidak penting. Kata dia, yang penting itu gajian nggak telat. Mau bosnya jungkir balik juga, bukan urusan dia”
“Lah. Sableng itu orang” komentar Stevani.
“Ya. saya juga nggak habis pikir” jawab Hendra sambil tergelak.
“Huuuffft. Syukurlah kalo begitu. Semoga dia benar-benar nggak berkutik di dalam sel tahanan” komentar Stevani lagi.
“Ya. Di dalam sel itu, dia memang tidak berkutik. Jadi mbak Vani bisa fokus mempersiapkan persidangan tanpa hawatir ada tragedi baru”
“Oh iya, bener. Eh, tapi si Adel gimana? Dia pasti bakal nyiapin tuduhan baru buat aku, mas. Secara kan kebakaran ini terjadi setelah Isma ditangkap. Pasti dia nggak percaya gitu aja sama pernyataan polisi” tanya Stevani hawatir.
“Justru di sini kabar baiknya”
“Sampai sekarang, si Adel itu belum yakin kalau Isma itu pelakunya. Dia bimbang. Dari sebelum-sebelumnya kan, sudah banyak yang ditangkap. Tapi apa, bukan mereka kan, otak intelektualnya? Dari situ Adel mengatakan kalau dia berpikir, bisa jadi akan ada bukti baru yang akan mengarah pada orang lain lagi. dan polisi akan mengatakan kalau mereka terkecoh oleh bukti palsu yang disiapkan si otak intelektual yang asli”
“Eh, iya. Bener juga. Kalo dari sepak terjangnya, dia itu orang jenius. Bukan perkara susah buat nempatin semua bukti-bukti itu di sebuah tempat tanpa ada yang menyadari. Gimana kalau ternyata Isma itu sebenarnya juga hanya dijadikan kambing hitam? Hanya dijadikan umpan untuk mengaburkan jejaknya?” tanya Stevani.
“Tugas saya adalah mengeluarkan mbak Vani dari tempat ini. Perkara polisi salah tangkap, itu bukan urusan kita” jawab Hedra. Adel manggut-manggut mengerti.
“Dengan pasifnya Adel di persidangan nanti, ini akan meringankan mbak Vani. Sampai di sini sudah jelas, kalau mbak Vani terbebas dari semua tuduhan”
“Tapi kalo Isma bukan otak intelektualnya?” tanya Stevani dengan suara lirih. Hendra mengamati keadaan sekitarnya.
“Itu akan semakin memudahkan kita di persidangan. Tentu dia tidak mengerti apa-apa. Dia pasti hanya akan menolak semua tuduhan itu, tanpa tahu bagaimana caranya membuktikan ucapannya itu. Semua bukti sudah mengarah padanya. Terlalu susah bagi dia untuk meyakinkan hakim” jawab Hendra dengan suara lirih pula.
“Tapi itu berarti ancaman buat aku masih ada, mas”
“Iya. Memang” jawab Hendra pendek. Stevani mengernyitkan keningnya, tanda tidak mengerti.
“Kalau melihat trend dari kasus per kasus, orang itu punya sejarah dengan Budi. Entah apa dan bagaimana. Tapi yang jelas, kalau mbak Vani mau aman, jangan dekati Budi!” lanjut Hendra menjelaskan.
“What?”
__ADS_1
“Ya. Selama mbak Vani belum yakin siapa otak intelektualnya, jangan pernah berada di dekat Budi! ibarat kata nggak sengaja ketemu di jalan, mending menghindar aja! Daripada celaka”
“Huuuuffftt”
Stevani menghela nafas berat. Sebuah rasa kecewa hinggap di hatinya. Tadinya dia berpikir, setelah kasus ini selesai, dan dia dinyatakan tidak bersalah, dia bisa mengatakan pada Budi secara langsung kalau dirinya tidak pernah melakukan semua yang dituduhkannya. Dan bagaimanapun juga, di dalam hati dia mengakui, kalau dia masih mencintai Budi. Dan berharap bisa dekat lagi dengannya.
Ditengah kesibukannya kuliah, Adel tetap bersemangat mengawal pembangunan bengkel bapaknya. Dia menempatkan diri sebagai pengawas lapangan. Menjadi wakil bapaknya dalam mengawasi jalannya pembangunan.
Di sisi lain, dia mulai mengurangi jumlah job yang dia terima. Kepada om Diki, dia memohon untuk diberikan waktu lebih, agar bisa membantu bapaknya mengawal proses pengerjaan mebel yang didelegasikan kepada vendor. Beruntung, om Diki memahami kondisi yang dialami Adel. Diapun mengijinkan Adel untuk mengurangi porsi job yang dia ambil.
Pekerjaan pembangunan kembali bengkel pak Fajar itu, bisa dibilang ngebut. Hanya dalam waktu dua hari, pekerjaan itu sudah hampir selesai. Struktur beton yang masih kokoh menjadi faktor yang mempercepat pekerjaan itu.
Mesin-mesin yang dipesan juga sudah mulai berdatangan. Tanpa membuang waktu, sambil menyelam minum air. Sambil menyelesaikan beberapa bagian bangunan yang belum selesai, sekalian mesin-mesin yang sudah ada dimasukkan dan diinstal. Sehingga, di hari ke empat, seluruh pekerjaan bangunan dan instalasi mesin telah selesai sepenuhnya.
Disaksikan Budi dan kawan-kawan dari jarak jauh, Adel dan bapaknya meresmikan dimulainya produksi di bengkel kayu itu. Tidak ada perayaan mewah. Hanya ada nasi tumpeng yang dibagikan kepada para tukang dan juga ke beberapa tetangga yang diundang. Dengan satu doa utama, supaya bengkel kayu ini bisa terus berdiri dan bermanfaat bagi keluarga dan sekitarnya. Juga terlindungi dari segala mara bahaya. Semua yang hadir dan menyaksikan, mengaminkan doa itu.
Di hari itu juga, Adel mulai menarik pekerjaan yang sebelumnya didelegasikan ke vendor. Dengan mesin baru yang lebih canggih, Adel percaya akan bisa memangkas waktu produksinya. Budi memberikan dukungan penuh pada Adel. Dia terus menyemangati dan membantu memberikan ide-ide kreatif, untuk menjaga supaya para tukangnya tetap enjoy dalam bekerja.
Bersamaan dengan itu, pihak kepolisian juga seperti mengejar target. Selama seminggu berikutnya, adel beberapa kali dipanggil penyidik untuk datang memberikan keterangan.
Penyidik bilang, keterangan itu dibutuhkan untuk memfinalisasi berkas yang mereka pegang sebelum dinyatakan P-21.
Dan memang benar, di hari berikutnya, bertepatan dengan pengiriman pesanan kloter ke tiga, pihak kepolisian menyatakan berkas kasus Isma dinyatakan telah lengkap dan siap dilimpahkan ke kejaksaan.
Di sini Adel sudah tidak peduli. Mau Stevani bebas malam inipun, Adel sudah tidak memasukkannya dalam hati. Dia lebih memilih untuk fokus mengurus kuliah dan bengkel bapaknya. Kesuksesannya menyelesaikan sekian banyak masalah, menjadikan semangatnya semakin berapi-api.
“Abram bangga sama tata” komentar Budi saat melakukan panggilan Video dengan Adel.
“Tata juga bangga sama Abram. Tata bangga punya cowok hebat. Tata bangga punya cowok yang selalu rela berkorban apapun demi Tata” jawab Adel. Kedua matanya tampak berkaca-kaca.
“Alhamdulillah. Gusti Alloh lebih memilih Abram buat ngelakuin tugas itu. Bukannya si itu” jawab Budi.
“Hempf. Ha ha ha ha”
Lagi-lagi Adel tertawa geli disaat kekasihnya itu mengucapkan kalimat bernada cemburu.
“Udah ah, jangan bawa-bawa dia! Tata udah seneng dia nggak nongol lagi. Tinggal mikirin, gimana caranya bayar utang ke dia” kata Adel.
“Udah, bismillah aja! Yang penting ikhtiar, dibarengi sama doa. Selebihnya, pasrahin aja sama Gusti Alloh! Otak kita pasti kepusingan kalo mikirin gimana caranya”saran Budi.
“Iya, Bram. Makasih ya, Abram selalu bikin Tata semangat” kata Adel sambil tersenyum.
“Heem. Senyum ini yang bikin Abram pengen cepet-cepet pulang” komentar Budi. adel memainkan mimik wajahnya, seolah terkejut.
“Tungguin ya! begitu Abram bisa pulang, Abram bakal langsung ngelamar Tata” lanjut Budi.
__ADS_1
“Iya. Tata juga selalu nungguin momen-momen itu, Bram”
***