
Sepulang sekolah, Madina langsung pamit pada Putri untuk pulang. Setali tiga uang, Putri menyemangatinya untuk segera pulang. Karena dia, sudah dijemput oleh polisi ganteng tadi. Mentari sudah tidak segalak tadi, teriknya sudah mereda. Terlebih, beberapa kumpulan awan, berarak mentupinya. Membuat perjalanan Madina terasa lebih sejuk.
Sesampainya di rumah, dia melihat ada mobil SUV terparkir di depan rumahnya. Dia tahu mobil siapa itu. Tapi dia tidak melihat siapapun di teras rumahnya. Agak beranya-tanya, dia. Dimana gerangan tamu itu.
“Assalamu’alaikum” sapa Madina saat memasuki rumah.
“Wa’alaikum salam”
Ternyata tamunya ada di dalam rumah. Dia sedang asyik berbincang dengan kakaknya. Dia salim pada keduanya.
“Baru pulang, Dek?” sapa tamu itu.
“Iya, mas” jawab Madina.
“Mas Luki udah lama?” lanjutnya.
“Udah sepuluh menitan, sih”
“Wow” seru Madina.
“Apa?” tanya Adel sambil melemparkan bantal sofa.
“Iya, orang kita ngobrol doang” imbuh Luki.
“Sepuluh menit, dianggurin doang? Udah sini, sama Madin aja!” goda Madina. Dia menarik tangan Luki sampai dia berdiri.
“Hoe, hoe, hoe. Mau kemana?” tanya Adel sambil tergelak.
“Iiih, kepo. Tadi dianggurin” jawab Madina. Dia menarik Luki ke belakang.
“Weeh”
“Ha ha ha ha” Madina terus saja mengajak Luki ke belakang, tanpa menghiraukan Adel.
“Coklatnya di dalam tas, mbak” teriak Madina dari belakang.
“Coklat?" gumam Adel.
Adel langsung mengambil tas milik Madina. Dia buka tas itu, dan melihat-lihat isinya. Di dalam sana hanya ada buku-buku dan alat tulis. Sama sekali tidak ada coklat. Dan dia juga tidak memesan coklat.
“Jangan-jangan?”
Dia langsung memilah-milah buku milik adiknya itu. Dia merasa ada satu buku tulis yang tidak seragam dengan buku tulis lainnya. Baik dari ukuran, isi, maupun corak covernya. Dia menarik buku itu sedikit ke atas.
“Surat?” gumamnya.
Dia ambil surat itu. Dia tengok kanan, tengok kiri. Setelah merasa aman, dia membuka surat itu.
M2A4, down grade to M2A1.
Singkat saja pesan itu. Tapi Adel langsung terhenyak membacanya. Tanpa sadar dia meneteskan air mata. Tapi mendengar suara tawa dari belakang, Adel tersadar. Dia buru-buru menghapus air matanya.
“Eh, dek. Kamu mau ngajakin aku kemana?” tanya Luki.
“Makan” jawab Madina pendek.
“Ye, mas Luki udah makan, dek”
“Ya, kirain belum”
“Kamu mau ngetes mbak Adel, ya?” tebak Luki. Madina terkesiap.
“Iya, mas” jawab Madina. Luki menghela nafas berat.
“Sabar ya, mas! Tetep semangat!” saran Madina.
__ADS_1
“Ya udah, mas balik ke depan ya? Nggak enak sama mbak Adel. Entar dikirain, kita ngapain”
“Ha ha ha. Iya”
Madina merasa tidak punya alasan untuk menahan Luki di dapur. Dia membiarkannya kembali ke ruang tamu. Dengan harapan, kakaknya sudah menemukan surat yang ada di dalam tasnya, dan sudah membacanya.
“Diajak ngapain sama Madin?” goda Adel, saat melihat Luki kembali menghampirinya.
“Makan” jawab Luki singkat.
“Ha ha ha”
“Kecil-kecil bisa aja godain orang” komentar Luki.
“Ha ha ha ha. Udah dewasa kali. Udah tujuh belas tahun lewat”
Luki tidak menjawab. Dia meminum kembali minuman yang tadi disuguhkan Adel.
“Mas, apa kamu nggak capek? Udah tiga hari ini, kamu bolak-balik solo-pacitan. Mana sehari dua kali, lagi” tanya Adel. Luki tersenyum mendapat pertanyaan seperti itu.
“Ya, kalo ditanya capek, ya capek, sih”
“Terus, kenapa maksa?” potong Adel.
“Aku nggak tenang, tahu. Rasanya tuh, kaya bersalah banget gitu, kalo aku anteng di rumah, sedangkan Adel lagi sakit. Pengennya tuh, aku stay di Pacitan aja. Biar deket. Tapi ada kuliah yang nggak bisa aku tinggal. Papa paling nggak suka liat aku bolos. Apapun alasannya. Bolos sekali aja, marahnya bisa sebulan”
“Oh. Ha ha ha ha. Mas Luki kan ada ponsel, Madin ada ponsel. Kenapa nggak video call aja?”
“Video call? Kaya antar pulau aja. Orang cuman deket ini”
“Ya, kan capek”
“Kalo udah ketemu langsung, dan mastiin sendiri kalo Adel baik-baik aja, rasanya luntur itu yang namanya capek”
“Kok gombal? Serius”
Adel tersenyum lebar mendengar jawaban Luki. Dia tidak bisa memungkiri hatinya, kalau dia merasa tersanjung.
“Emang, aku segitu berharganya buat mas Luki?” goda Adel, memancing.
“Banget. Adel berharga banget buat aku. Adel, adalah cewek pertama, dan mungkin satu-satunya, yang bikin aku tersadar. Kalau masih ada satu hal di dunia ini, yang tidak bisa dibeli dengan uang, value. Itu yang Adel katakan di depan papa aku”
“Ha? aku, bilang gitu? Di depan papanya mas Luki?”
“Iya”
“Keren bener” komentar Adel.
“Eh, tunggu! Berarti, mas Luki, udah pernah ngelamar Aku, dong?"
“Aku nggak ngerti, kemain itu bisa dibilang lamaran, atau sekedar perkenalan. Yang jelas, tempo hari emang papa dan mama aku, berkunjung ke sini. Niatnya mau ngajakin Adel ikut ke lombok. Tapi Adelnya nolak”
“Wow, keren ya, aku. Terus?”
“Ya, kemarin itu, Adel hawatir sama kontrak yang udah diteken. Karena Adel bisa bertahan di dunia hiburan, itu karena nggak pernah nolak undangan, dan nggak pernah batalin undangan. Saat aku usulin buat dicancel terus di ganti rugi, Adel nggak mau. Adel keinget gimana susahnya membangun karir”
“Wih, aku bisa ngomong gitu, mas?”
“Iya. Adel juga nggak liat aku anak orang kaya. Udah pamer mobil juga, liatnya masih sebelah mata”
“Em, kayaknya sih, aku emang nggak terlalu silau sama yang namanya harta, deh. Abisnya bapak sama ibu udah punya semuanya sih. jadi, sekarang aja aku ngerasanya, mas Luki masih perlu nunjukin sesuatu yang sangat berharga. Kaya tadi tuh, yang mas luki bilang”
“Value?”
“Nah itu”
__ADS_1
“Bener kata orang. Hati sama pikiran kadang nggak sejalan” komentar Luki.
“Maksudnya?”
“Ingatanmu memang lagi bermasalah, tapi hatimu, masih sama seperti Adel yang aku kenal”
Adel terenyuh mendengar kata-kata itu. Di dalam hatinya dia mengakui, kalau Luki bukan lelaki yang suka memanfaatkan keadaan seseorang. Dia merasa kalau Luki benar-benar ada rasa sama dia. Bukan sekedar mengikuti perintah orang tuanya.
Ya Alloh, kapan kiranya engkau akan mengembalikan ingatan mas Budi, ya Alloh? Hamba masih menaruh harapan besar padanya. Apakah Engkau tidak meridhoi hubungan kami? Kalaupun begitu, hamba mohon, janganlah dengan cara seperti ini, ya Alloh. Hamba mohon, berilah mas Budi jalan, untuk mendapatkan kembali ingatannya. Sebagaimana Engkau memberikan jalan untuk hamba. Amin.
***
Hari terus berganti, usaha tak pernah kenal berhenti. Tapi hasil yang diharapkan, belum juga tercapai. Seminggu sudah, Budi berusaha mendapatkan ingatannya kembali. Tapi nihil. Hanya sakit kepala saja yang dia dapatkan. Melihatnya frustasi, bu Ratih memberinya sebuah saran.
“Sudahlah, ngger! Mungkin ada satu hal yang terlewat dari perhatianmu” kata bu Ratih.
“Apa itu, bu?” tanya Budi.
“Ikhlas” jawab bu Ratih.
Budi tidak mengerti apa maksud dari perkataan bu ratih itu. Dia melihat ke arah Putri. Tapi Putri malah mengangkat kedua bahunya. Sebagai pertanda, kalau dia juga belum mengerti arti dari kata-kata ibunya itu.
“Sepertinya hatimu belum ikhlas, menerima cobaan ini, ngger. Kamu belum terima, kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagimu. Cobalah untuk menerima kenyataan ini dengan ikhlas!”
Budi tertegun mendengar saran itu. dia merasa, kalau apa yang dikatakan bu Ratih itu ada benarnya. Secara tidak sadar, usaha yang dia lakukan semingguan ini, lebih karena didasari rasa sebal, kesal, dan sejenisnya. Juga karena ejekan, olokan, bahkan makian. Dia merasa dunianya tidak adil. Karena dia merasa tidak tahu apa-apa, tiba-tiba dibuly secara membabi-buta, dan keroyokan.
Apa yang berbeda antara aku yang sekarang dengan aku yang dahulu? Sekarang namaku Budi, mungkin sebelumnya, namaku Budi juga. Sekarang aku mempunyai seseorang yang menganggapku anak. Mungkin benar, dia adalah ibuku. Dia memanggilku, mas. Mungkin benar dia adalah adikku. Anggaplah memang aku kehilangan secara permanen ingatan masa laluku. Tapi aku hidup di keluarga yang sangat menyayangiku. Apa salahnya aku memulai hidup baru, dengan Budi yang sekarang? Yang tidak kembali, biarkan pergi. Aku harus tetap menjalani hidup, sekalipun tanpa masa lalu.
“Heeffff” Budi menghela nafas berat.
“Iya, bu. Ibu benar. saya memang belum ikhlas, kehilangan jati diri saya” jawab Budi.
“Ikhlasin aja, mas! Mas Budi akan tetap menjadi kangmas Putri. Sekalipun mas Budi nggak ingat sama Putri”
“Dan ibu, akan selalu menganggap kamu, sebagai anak ibu. Karena memang begitu adanya” sahut bu Ratih.
“Iya, bu. Saya akan mencoba iklas. Minta ijin ya bu, numpang hidup sama ibu, sama Putri” kata Budi.
“Ngomong apa sih, mas? Putri sedih dengernya”
Serta merta Putri memeluk tubuh Budi. Terdengar isak tangis di dada bidangnya. Budi merasakan sesuatu yang berbeda dengan pelukan itu. Terasa kehangatan dan kenyamanan dalam jiwanya. Tapi dia belum bisa mendeskripsikan, rasa yang sedang dia rasakan itu.
“Put, kamu nggak sekolah, kan?” tanya Budi. Sontak Putri melepaskan pelukannya.
“Ya enggak, lah. Ngapain hari minggu ke sekolah? Kurang kerjaan banget” jawab Putri sambil tergelak. Bu Ratihpun ikut tergelak.
“Kalo gitu, bantu aku ngenal tetangga-tetangga kita, ya!” pinta budi.
“Ide bagus. Kebetulan, Putri masih ikut grup WA muda-mudi RW sini”
“Nanti ibu yang temenin kamu silaturohmi, pintu ke pintu” sahut bu Ratih.
“Loh, ibu nggak ke pasar?”
“Enggak, ah. Ibu mau libur dulu. Nggak papa, kan?” jawab bu Ratih, diakhiri dengan pertanyaan.
Budi memandang bu Ratih dengan tatapan beribu arti. Sampai mengernyit dahi bu Ratih, saking tidak bisa membaca arti tatapan itu.
“Kenapa, ngger?” tanya bu Ratih, tak tahan ditatap begitu rupa.
“Tetangga yang punya usaha, dimana bu? Budi pengen ngelamar kerja. Biar ibu nggak perlu ke pasar lagi” jawab Budi.
“Allohu Akbar, ngger. Hatimu tetep sama. Kamu tetep Budiku” seru bu Ratih. Gantian dia yang memeluk Budi dengan derai air mata.
Tak mau membuang waktu. Pagi ini juga, Putri mulai menggambar peta lingkungan. Dia gambar secara menyeluruh terlebih dahulu, sebagai acuan koordinat. Baru dia gambarkan satu persatu blok, berdasarkan batas jalan. dengan penuh perhatian, Budi mencoba menyerap setiap informasi yang diberikan Putri.
__ADS_1