
Sesampainya di tempat tujuan, terlihat pak Paul sedang berbincang serius dengan beberapa orang. Gestur tubuhnya terlihat serius, tapi tempat mereka berada, tidak menyiratkan kalau mereka sedang membahas bisnis besar.
Karena tempat mereka berada ini, tak ubahnya seperti fishbed cafe. Hanya saja tempat ini menyatu dengan resort yang lumayan mewah. Dari logatnya terasa sekali kalau mereka bukan orang Indonesia. Dialek melayunya lebih kental pada melayu Malaysia.
Pak Paul yang melihat kedatangan mereka langsung melambaikan tangannya. Mengajak Budi dan Erika untuk bergabung. Dengan bangga pak Paul memperkenalkan Erika sebagai sekretarisnya, dan Budi sebagai staff PPIC. Keduanya langsung terlibat percakapan bisnis lintas negara.
Banyak sekali hal yang ditanyakan para tamu dari negeri jiran itu. Dan penjelasan Budi mengenai proses produksi, terlebih jika ada pesanan-pesanan khusus yang sifatnya mendadak dan urgent, sukses meyakinkan para tamu itu untuk menjatuhkan pilihan mereka ke PT.PRAM.
Setelah hampir satu jam mereka berdiskusi, akhirnya mereka sepakat untuk istirahat dahulu. Terlebih saat Budi mengatakan kalau dirinya belum sholat.
Alih-alih menerima tawaran tamu itu untuk makan makanan penunda lapar, Budi lebih memilih untuk segera menunaikan kewajibannya. Dia bilang, rasa laparnya tak lebih kuat daripada rasa hawatirnya kalau sampai kehabisan waktu untuk sholat. Para tamu itu memuji sikap Budi. Dan mereka ikut Budi menunaikan kewajiban.
Erika tidak ikut sholat, dia beralasan kalau dirinya sedang berhalangan. Jadilah dia duduk sendiri di meja paling ujung, yang paling dekat dengan bibir pantai. Menikmati sup buah ditengah teriknya mentari siang.
Sambil mengisi ulang daya baterai ponselnya, Erika menikmati siaran langsung dari seorang selebgram. Saking asyiknya menonton, dia sampai tidak sadar kalau ada seseorang yang berjalan mendekatinya.
“Mbak” panggil orang itu.
“Eh. Kamu, Bud” sahut Erika. Dia terkejut, dan reflek menengok ke belakang.
“Bawa casan, nggak? Abis bateraiku. Lupa ngecas” tanya Budi.
“Yah, lagi dipake, Bud. Sama, bateraiku juga low. Dari tadi kerja keras terus, sih” jawab Erika sambil tersenyum
“Hemm” keluh Budi sambil menghela nafas.
“RIKAAA”
Seseorang memanggil nama Erika. Sontak saja dia memiringkan tubuhnya ke kiri, mencari sudut pandang yang tidak tertutup tubuh Budi. Sedangkan Budi sendiri juga reflek ikut menoleh ke belakang.
“Ya, pak?” jawab Erika.
Ternyata orang itu adalah pak Paul. Dia melambaikan tangannya, meminta Erika untuk mendekat padanya. Erikapun bangkit dari kursinya. Sebuah tepukan dia berikan ke pundak Budi, sebagai isyarat kalau dia ijin meninggalkan Budi.
Untuk beberapa saat, Budi masih mengarahkan matanya ke arah Erika. Dia masih bersiaga, barangkali dirinya juga dibutuhkan pak Paul. Tapi nyatanya tidak. Suara rame dari ponsel Erika mengalihkan perhatiannya. Sontak dia mengalihkan pandangannya ke ponsel itu.
“Adel?”
Agak terkejut dia melihat apa yang sedang bermain di layar ponsel itu. Bukan mengenai siaran langsung itu yang membuat dia terkejut, bukan pula keberadaan Adel di tempat siaran itu dilangsungkan. Tapi penampilan Adel yang membuat Budi terkejut. Adel bergoyang dengan sedikit membungkukkan tubuhnya, menonjolkan bagian belakang tubuhnya semakin ke belakang. Dan dia berkata-kata manja seolah menggoda lelaki yang berjoget di belakangnya.
Walaupun masih terlihat elegan dan tidak norak, tapi sudah cukup menimbulkan kecemburuan di hati Budi.
Mengingat bahwa Adel pernah berjanji padanya untuk tidak bergoyang seronok lagi, Budi merasa kalau Adel bersungguh-sungguh untuk berubah. Tapi kenyataan yang dia lihat itu, membuat sebuah tanda tanya besar. Ada apa dengan Adel?
Erika yang sedang menemani pak Paul membahas kerjasama dengan tamu dari Malaysia itu, sempat melihat ke arah Budi. Dia tersenyum simpul.
Budi mencoba menyentuh layar ponsel Erika, dan menuliskan kata, good, di kolom komentar. Ketika komentarnya muncul di layar, gugurlah prasangka Budi kalau yang sedang bermain itu adalah sebuah Video. Terlebih saat ada yang merespon komentarnya itu. semakin menguatkan kenyataan kalau yang sedang dilihatnya itu adalah siaran langsung.
Semakin lama menonton siaran langsung itu, kecemburuan Budi semakin besar. Dia tidak sanggup untuk terus menonton penampilan Adel, yang semakin manja dan menggoda para penyawer di sekelilingnya.
Diapun pergi dari meja itu. Dia tinggalkan begitu saja ponsel Erika tanpa menyentuhnya lagi. Hatinya berkecamuk. Banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan langsung kepada Adel. Tapi kalau mengingat-ingat siapa dia dan siapa Adel pada awalnya, dia merasa tidak pantas mempertanyakan hal itu. Terlebih belum ada ikatan resmi yang memberikannya hak untuk melarang.
__ADS_1
*Kenapa kamu begitu lagi sayang? Apa kamu emang menikmati kebinalan semacam itu? Apa jangan-jangan selama ini kamu masih begitu? Mentang-mentang aku nggak tahu? Terus kalo kita udah nikah, gimana? Apa karena bapakmu lagi seret pemasukan, jadinya kamu ingkari janjimu sendiri buat dapetin uang sebanyak-banyaknya? Kenapa harus begitu, Ta*?
Pertanyaan-pertanyaan yang menumpuk di pikirannya, hanya mampu dia luapkan di dalam hati saja. sambil menghela nafas berat, dia berjalan menuju tempat memesan makanan.
Di tempat berbeda, Adel membungkukkan badannya kepada para penonton untuk mengucapkan terimakasih, di akhir penampilannya. Senyum manisnya sukses mengundang tepuk tangan yang meriah dari segenap tamu undangan. Dua orang musisi membantunya memunguti uang saweran yang berserakan di lantai. Uang yang dihambur-hamburkan ke tubuh Adel selama dia membawakan lagu.
“Del, jangan terlalu hot!”
Tati berbisik di telinga Adel, seketika setelah Adel duduk di sebelahnya.
“Kamu pikir aku suka, apa?” sahut Adel dengan berbisik juga.
“Aku takut banget ada yang iseng live di sini. Kalo mas Budi sampe tahu, bisa abis, aku” lanjut Adel.
“Ya makanya. Udah tahu begitu, kenapa masih seronok gitu, Del?”
“Baca sendiri, deh!” jawab Adel.
Dia memberikan ponselnya kepada Tati. Dan sesaat kemudian mata Tati terbelalak. Dia juga menutupi mulutnya yang ternganga. Dia menoleh ke arah Adel. Tapi Adel tidak memperhatikannya.
“Gila”
Itulah komentar pertama yang keluar dari mulut Tati. Matanya masih terbelalak, membaca baris demi baris, pesan singkat yang ada di layar ponsel Adel.
“Pengantin kok gitu?” komentar Tati lagi. Tapi Adel masih tidak memperhatikannya.
“Ih, nggak waras ini orang”
“Kan mempelai ceweknya cantik banget, Del. Seksi banget, lagi. Kok malah ngayalin kamu?” tanya Tati. Adel hanya mencebirkan bibirnya, sebagai isyarat kalau dia juga tidak tahu.
“Ih, sarap bener ini, Del. Pengen merawanin istrinya sambil bayangin kamu goyang. Astaghfirulloh” lanjut Tati.
“Tahu kan, sekarang?” tanya Adel. Tati menatap Adel beberapa saat.
“Pantesan, om Diki ngomongnya keras banget sama kamu” komentar Tati.
“Ih, orang punya kuasa kok semena-mena gitu sih? Pake ngancem bakal bubarin kita, kalo nggak nurut. Sebel, aku” lanjut Tati.
“Udah ya, nggak usah protes lagi!” pinta Adel sambil merebut ponselnya kembali.
Tati hanya bisa tertegun melihat kekesalan sahabatnya itu. Dia tidak mau menjawab. Dia tahu, yang dibutuhkan Adel saat ini hanyalah pendengar setia, bukan nasehat. Dia elus-elus punggung Adel sebagai bentuk dukungannya.
Setelah selesai meeting dengan pengusaha asal negeri jiran itu, Erika dan Budi dipersilakan untuk kembali ke pabrik. Sedangkan pak Paul melanjutkan kegiatannya dengan beramah tamah dengan tamunya itu.
Di dalam mobil, kini Budi tak seceria saat berangkat. Dia terlihat melamun. Pikirannya masih melayang, mengingat apa yang telah dia lihat di layar ponsel Erika.
“Bud” tegur Erika.
“Hem?” Budi tersentak dari lamunannya.
“Aku minta maaf, ya? Aku nggak bermaksud buat manas-manasin kamu” kata Erika. Budi tersenyum.
__ADS_1
“Iya. Bukan salah kamu, kok. Emang udah takdirku, harus liat itu”
“Aku juga nggak sengaja sih, liat itu. Saking pengen mastiinnya, aku sampe nggak denger kamu nyamper. Jadi belum sempet aku scroll, kamu udah dateng duluan”
“Ya, kalo Alloh berkehendak buat nguji, caranya suka nggak masuk akal”
“Setuju”sahut Erika.
“Termasuk kalo Alloh pengen ngebuka aslinya orang” lanjut Erika. Sontak Budi menoleh padanya.
“Eh, bukan Adel. Mantanku, Bud” kata Erika meralat ucapannya.
“Oh. Emang kenapa, mantan mbak Rika?” tanya Budi.
“Ya, gitu deh. Bilangnya setia, nggak tahunya buaya” jawab Erika. Jawaban itu sanggup membuat Budi tergelak.
Budi tidak menjawab. Pikirannya teralihkan oleh deretan resort di sepanjang jalan. Segala bentuk dan keunikannya, sangat memanjakan mata. Tapi dia seperti belum menemukan sesuatu.
Berbicara tentang tempat wisata, memang sudah sepaket antara penginapan dengan tempat makannya. Hiburan dan atraksi sudah menjadi bagian tak terpisahkan juga. Tapi bukankah tempat wisata juga punya korelasi dengan kreatifitas?
Kerajinan tangan seharusnya juga menjadi bagian yang menyatu dengan pesona alam ini. Tapi justru Budi belum melihat satupun tempat kerajinan tangan, yang memperlihatkan prosesnya secara langsung. Sejauh ini, dia baru melihat hasil yang siap untuk dipinang. Itu juga baru sebatas pakaian, tas, topi, dan sejenisnya.
“Kamu kenapa senyum-senyum?” tegur Erika.
“Ha? Oh, enggak” walau tergagap, tapi senyuman Budi mengembang semakin lebar, mengiringi jawaban singkatnya.
“Jangan-jangan, kalian pernah begituan di sini?” tebak Erika.
“Ha?” Budi tersentak.
“Ha ha ha ha. Kasih tahu nggak, ya?” kata Budi sambil tertawa.
“Dih, sumpah lu, pernah begituan sama dia di sini?” tanya Erika kaget.
“Ha ha ha ha. Enggak, lah. Sembarangan” tolak Budi.
“Kirain. Senyam-senyum sendiri, keinget waktu lagi indehoy”
“Pengennya sih, sama kamu” celetuk Budi.
“Apa?” tanya Erika kaget.
Dia menoleh ke arah Budi, tanpa menghentikan mobilnya. Beberapa detik lamanya, mereka saling memandang. Erika tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia juga terpana dengan tatapan mata Budi.
“Tapi boong”lanjut Budi. Dia tertawa tanpa suara.
“ADOOOOH”
Selanjutnya, dia mengaduh kesakitan, karena mendapatkan cubitan keras di lengan kanannya. Walau kesakitan, Budi tetap tertawa lagi. Dia merasa senang bisa mengerjai atasannya itu.
Erika pura-pura merajuk. Dia merasa malu telah berhasil dikerjai oleh Budi. Dia juga kesal pada dirinya sendiri, tidak bisa membaca arah pembicaraan Budi. Dia hanya bisa berharap, semoga Budi tidak menceritakan hal ini kepada Aldo dan Riki.
__ADS_1