Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
kesedihan budi dan kemarahan adel


__ADS_3

“Ibu juga nggak tahu, nak Sandi. Tadi ada orang nyariin ibu ke pasar. Ngasih tahu kalo Budi masuk rumah sakit”


Sayup-sayup terdengar suara seorang wanita. Budi merasa kenal dengan suara itu. Tapi dia tidak bisa melihat orang yang bicara itu.


“Dia nggak tahu apa yang terjadi sama Budi, Bu?”


Sebuah suara lagi, suara laki-laki. Dia merasa kenal juga dengan suara itu. Tapi sama, dia tidak bisa melihat keberadaan orang itu.


“Dia hanya bilang kalau Budi sempat ngejar-ngejar Adel, kaya lagi marahan gitu, nak. Terus nggak lama kemudian, kedengeran suara pintu dibanting dari lantai atas. Dua kali kedengerannya”


“Terus, bu?”


“Kata orang itu, nggak lama kemudian, bu Lusi teriak manggil mereka. Pas mereka datang, Budi udah tergeletak di lantai bawah. Kepalanya berdarah”


“Jadi ceritanya Budi Jatuh, bu?”


“Nggak tahu, nak"


“Nggak mungkin Budi jatuh sendiri sampe ke bawah gitu, Bu”


Ada satu suara wanita lagi selain suara yang pertama. Budi jadi semakin penasaran, dimana sebenarnya mereka. Terdengar dekat, tapi tidak terlihat.


“Kata orang itu sih, bapaknya mbak Adel sempat marah-marah dan ngata-ngatain Budi. Tapi ibu nggak mau su’udzon”


“Mereka nggak bilang apa-apa, bu?” tanya Sandi.


“Tadi Putri sempet denger, orang itu bilang, dia sempet denger mas Budi bilang sesuatu tentang fitnah. Tapi nggak jelas kalimatnya gimana. Terus, dia juga bilang kalo pak Fajar nuduh mas Budi, kalo mas Budilah yang nyelakain mbak Adel. Dia juga nuduh mas Budi yang mbakar bengkel kayunya”


“Apa?”


Budi juga merasa sangat mengenal suara wanita itu. Ya, dia merasa sangat kenal dengan suara itu. Tapi dia juga tidak terlihat. Hanya gelap yang menyelimuti sekelilingnya.


“Putri bingung, mas. Kok bisa-bisanya mbak Adel sama pak Fajar nuduh mas Budi sekeji itu?”


Sandi terdiam. Dia tampak memikirkan apa yang dikatakan Putri. Membuat Putri bertanya-tanya dengan keterdiamannya itu.


“Mas Sandi mau bilang kalau yang dikatakan pak Fajar itu benar?” tanya Putri dengan raut muka tidak suka.


“Bukan gitu, Put. Kita emang pernah latihan sabotase. Kita pernah latihan nyelakain orang. Tapi kalo sampe tahapan klandestein gini, kita belum pernah. Thats impossible. Mustahil itu Budi” jawab Sandi.


“Jawaban jujur apa diplomatis?” tanya Putri lagi.


“Put!” tegur bu Ratih.


“Maaf, mas” kata Putri.


“Nggak papa, Put, “


“Aahh, aduuh”


Kalimat Sandi terpotong oleh suara Budi. Dia mulai siuman. Serta merta bu Ratih berdiri dan masuk melewati pintu sekat, mendekat ke ranjang Budi.


“Ngger, kamu udah siuman?” tanya bu Ratih.


“Kita panggil dokter, Put” ajak wanita tadi.


“Putri aja, mbak Rika” jawab Putri.


“Nggak papa. Yuk!” ajak Erika.


Mereka berduapun pergi memanggil dokter jaga.

__ADS_1


“Bu” panggil Budi lirih.


“Iya, ngger. Ibu di sini” jawab bu Ratih.


“Jangan marah sama Adel ya, Bu! Jangan benci dia! Dia cuman kemakan fitnah” kata Budi.


Bu Ratih melayangkan pandangannya ke Sandi. Sandi hanya bisa terdiam saat ditatap bu Ratih. Dia tidak tahu arti dari tatapan itu, dan tidak tahu harus berkomentar apa.


“Iya, ngger. Kamu jangan mikir yang berat-berat dulu! Semua baik-baik aja, kok” jawab bu Ratih.


Sesaat kemudian seorang dokter masuk ke dalam ruang unit gawat darurat. Putri dan Erika hanya bisa menunggu di luar, karena sudah ada Sandi yang menemani bu Ratih di dalam.


Dokter itu memeriksa keadaan Budi. Dan dinyatakan baik-baik saja. Dokter itu melakukan penangan pada keluhan-keluhan Budi. Hanya sebentar, lalu pergi. Dokter itu hanya mengatakan kalau Budi harus menunggu observasi lanjutan sebelum dipindahkan ke ruang perawatan.


Di luar, ternyata sudah banyak tamu yang datang. Lek Puji dan rekan-rekan pasar bu Ratih yang datang menjenguk. Tapi sayang, mereka belum bisa bertemu dengan Budi. Hanya bisa mengabarkan lewat Putri. Putri hanya menceritakan kalau Budi jatuh dari tangga. Tapi saat ditanya sebabnya apa, Putri bilang belum tahu. Putri membiarkan para tamunya berkomentar dengan spekulasi masing-masing.


“Bu, apa Budi ada salah sama ibu?” tanya Budi lirih. Matanya sayu menatap mata ibunya.


“Salah apa, ngger? Nggak ada” jawab bu Ratih.


Sekuat tenaga beliau menahan tangis. Terlalu sedih hatinya melihat anaknya terkapar tak berdaya seperti ini.


“Budi kena Fitnah lagi, Bu. Lebih kejem dari yang dulu” kata Budi.


Dia memalingkan wajahnya. Ada air mata yang meluncur saat dia memejamkan matanya. Bu Ratihpun demikian. Tak kuasa dia menahan kesedihannya. Dia bisa merasakan betul apa yang dirasakan Budi saat ini.


“Budi nggak nyangka bu, Vani bisa sesadis itu” kata Budi, beberapa saat kemudian.


Bu Ratih tidak menjawab. Dia sibuk menyeka air matanya sebelum putra sulungnya itu memalingkan wajah kembali menatapnya.


“Budi pikir, dengan dia ditahan dia akan tobat. Budi pikir dia bakal nunjukin sisi baiknya. Tapi ternyata, air matanya itu cuman kamuflase aja, bu” lanjut Budi.


“Sabar ya, ngger! Ciri orang baik itu akan selalu diuji” komentar bu Ratih.


“Maafin Budi ya, bu. Budi masih nyusahin ibu”


“Enggak, ngger. Udah kewajiban seorang ibu, ngerawat anak-anaknya” jawab bu Ratih.


“Bu, apa ibu masih akan sayang sama Budi, kalau ternyata Budi ngecewain ibu?” tanya Budi.


Bu Ratih mengernyitkan keningnya. Dia terkejut mendengar pertanyaan aneh dari Budi.


“Ngecewain apanya, ngger?” tanya bu Ratih. Budi menatap mata ibunya lebih lekat lagi.


“Apa yang kamu lakukan sejak dua tahun lalu itu, itu udah bikin ibu bangga. Apalagi belakangan ini. Apa yang kamu capai udah jauh lebih tinggi dari apa yang ibu harepin. Nggak ada yang ngecewain” lanjut bu Ratih.


“Apa ibu tetep akan sayang sama Budi, kalo ada orang yang bilang kalo Budi ini seorang kriminal?” tanya Budi lagi.


“Ngger, kalo ada orang yang paling ibu percaya setelah bapakmu, ya cuman kamu. Abis itu, Putri. Seribu orang bilang kamu orang jahat, ibu masih lebih percaya sama kamu, ngger” jawab bu Ratih mantap.


“Kalo ternyata itu bener, apa ibu bakal maki-maki Budi?”


Di sini bu Ratih terdiam. Hatinya mulai bertanya-tanya. Satu hal yang dia suka dari putra sulungnya, adalah kejujurannya. Budi tidak pernah menyembunyikan kejahatan yang pernah dia lakukan. Kalau dia bertanya apakah benar kata orang, yang bilang begini dan begitu, Budi selalu menjawab dengan apa adanya. Tapi di sisi lain, jawaban itu juga membuat hatinya resah.


*Kamu abis ngapain lagi, ngger? Apa yang maksa kamu berbuat jahat lagi*?


“Kewajiban seorang ibu adalah ngarahin anaknya supaya takut kepada Tuhannya. Karena seorang anak sejatinya adalah titipan, dan akan dipertanyakan nanti di hari kiamat. Ibu lebih takut kalo ibu nggak bisa jawab saat Gusti Alloh menanyakan, kenapa anakmu kamu tinggalkan dalam keadaan jauh dari agama. Jadi, sekalipun kamu nyata-nyata seorang kriminal, ibu nggak akan pernah ngelepas rasa sayang ibu sama kamu, ngger. Ibu akan selalu bimbing kamu supaya kembali ke jalan yang benar” jawab bu Ratih.


“Bu”


Hanya itu yang keluar dari mulut Budi. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia cium punggung telapak tangan ibunya.

__ADS_1


*Alhamdulillah, ya Alloh. Engkau masih berkenan mengijinkan satu malaikatMu untuk selalu bersamaku. Mohon petunjukMu ya Alloh. Mohon petunjukMu, agar aku bisa mengurai benang kusut ini. Aku nggak tahan liat ibu sedih begini karena aku ya Alloh*.


***


Di tempat lain, Madina masih setia mendengarkan curhatan kakaknya yang berapi-api. Sesekali dia mengalihkan perhatiannya kepada Tati, yang sesekali menimpali cerita kakaknya.


Walaupun sesekali juga dia tersulut emosinya, tapi Madina masih mencoba menggunakan rasionalitasnya. Baginya, terlalu jauh buat Budi melangkah, kalau sebenarnya yang Budi targetkan adalah bapak dan ibunya.


*Buat apa mas Budi susah-susah ngurusin si Dino dan kroni-kroninya, kalo yang jadi tujuan akhirnya adalah bapak? Buat apa dia harus adu jotos sampe nempatin Putri dalam bahaya, kalo dia bisa manfaatin si Dino buat ngancurin bapak? Kenapa harus bikin drama lupa ingatan dulu, kalo nyabot motor mbak Adel jauh lebih gampang? Toh kalo emang tujuannya buat dapetin kepercayaan dari bapak, dan dia punya dana besar, kan gampang. Dari awal dia bikin workshop dulu kan bisa. keliatan mentereng, keliatan kaya, cukup. Bapak pasti bakal langsung tertarik, tuh. Kalo targetnya adalah kepercayaan dari mbak Adel, kan nggak perlu juga nunjukin kekayaannya. Mbak Adel malah lebih salut kalo ternyata mas Budi itu orang kaya, tapi hidupnya sederhana. Kalo kaya gini ceritanya, jadi burem. Apalagi tempo hari dia sampe luka-luka gitu. Buat apa juga merekayasa kecelakaan kalo datang tepat waktu lebih disukai sama Bapak*?


“Dek, dengerin nggak sih, embak ngomong apa?” sentak Adel. Madina terkejut bukan main.


“Del, ngapain sih, pake teriak segala? Sampe kaget gitu, Madinnya” sahut Tati.


“Ya abisnya, embaknya lagi curhat malah dicuekin”


“Hei, Madin kan emang tipe pemikir, Del. Emang ekspresinya gitu kan, kalo denger orang cerita? Bukan cuek, dia lagi nganalisa” kata Tati membela Madina.


“Terus, apa analisa kamu?” tanya Adel kepada Madina.


Madina bingung harus menjawab apa. Dia tahu, yang dibutuhkan kakaknya saat ini adalah dukungan dan pendengar setia, bukan pendapat apalagi saran.


“Tuh, kan” komentar Adel. Tati tersenyum.


“Del, yang kamu butuhin sekarang itu, pendengar. Orang yang bisa ngedukung kamu. Ya kalo tadi Madin meleng, udah lah, maafin aja! sama adik sendiri masa keras, gitu” kata Tati.


“Huufft” Adel menghela nafas berat.


“Maafin embak ya, Dek!” pinta Adel, sambil bersimpuh di depan Madina.


“Mbak, mbak. Jangan bersimpuh juga kali! Entar Madin kualat. Nggak mau, ah” kata Madin seraya menggerakkan tangannya, meminta kakaknya untuk berdiri lagi. Adelpun berdiri lagi.


“Embak tahu, kamu pasti punya pendapat yang kontra sama embak” kata Adel. Madina terdiam. Dia menoleh ke arah Tati.


“Madin pikir, udah tugas Madin buat kontra sama pendapat mbak Adel” kata Madin.


“Maksudnya?”


“Sebenernya Madin juga sakit hati kalo ada yang nyelakain bapak sama ibu. Nggak peduli siapa orangnya” jawab Madin. Adel masih belum mengerti.


“Nggak masalah kalau mbak Adel punya pendapat seperti itu. Tapi Sebuah pernyataan perlu diuji kekuatannya. Tugas Madin buat nguji seberapa kuat pernyataan itu. Karena Madin nggak pengen pernyataan mbak Adel itu jadi senjata makan tuan. Terlalu berat buat Madin ngebayangin mbak Adel pake baju orange itu” lanjut Madina.


Adel melotot matanya mendengar lanjutan itu. Dia tidak menyangka kalau adiknya sendiri akan seberani itu padanya.


“Del, udah! Tahan emosimu. Madin itu terlalu sayang sama kamu. Dia kan nggak pernah keras omongannya kalau nggak ada bahaya” kata tati sambil mengelus-elus punggung Adel, mencoba menenangkannya.


“Budi itu temennya Sandi” kata Adel lirih, tapi penuh penekanan.


Giginya yang mengatup tak bergerak, membuat suara khas orang yang sedang diamuk amarah. Wajahnya dia dekatkan ke wajah Madina. Membuat Madina sedikit gentar menghadapi kemarahan kakaknya.


“Sandi bisa jadi penguasa, itu karena Budi. Apa yang Sandi nggak bisa, Budi bisa ngewujudin. Jangankan luka-luka, buat orang selevel dia, motong jarinya sendiripun pasti dia lakukan, kalo itu emang perlu. Jadi, apa yang mustahil buat dia?” lanjut Adel tanpa mengurangi kemarahannya.


“Kalo itu emang bener, berarti mbak Adel nggak perlu repot-repot balas dendam” kata Madina.


Adel terkesiap mendengar jawaban itu. Dia mengernyitkan keningnya, tanda kalau dia mempertanyakan maksud dari ucapan itu.


“Gimanapun juga, mbak Adel ini kan mantannya mas Sandi. Kalian bubar bukan karena mas Sandi yang mutusin mbak Adel, tapi mbak Adel yang mutusin mas Sandi. Kalo mas Sandi sampai tahu dan yakin kalau mas Budi masuk ke kehidupan mbak Adel cuman buat balas dendam, bisa dibayangin, kaya apa marahnya mas Sandi?” lanjut Madina menjelaskan.


“Kalo ternyata Sandi percaya sama Budi?” tanya Tati.


“Ya berarti itu sinyal buat kita, buat menguji kekuatan pernyataan mbak Adel tadi. Jangan sampai menjadi senjata makan tuan” jawab Madina.

__ADS_1


“Kamu pikir, mbak takut masuk penjara? Nggak. Embak nggak takut” kata Adel.


Wajahnya kembali dia dekatkan ke wajah Madina. Sambil tersenyum sinis, dia pergi menjauh dan keluar dari kamar. Madina tertegun mendapati sikap kakaknya yang seolah menganggapnya sebagai musuh. Tati mendekatinya. Dia memeluk tubuh Madina, dan membiarkan Madina terisak dalam pelukannya.


__ADS_2