
“Good. You look great, Bud”
Mereka tersentak mendengar seruan dari kantor besar itu.
“Pak paul” sapa Stevani.
“Panggilin Aldo sama Riki” perintah pak Paul.
“Baik pak” jawab Erika.
Dia pergi ke kubiknya PPIC. Dan kembali bersama kedua rekan Budi.
“Nah, besok, Budi sudah mulai bekerja. Dia akan pegang frame” kata pak Paul. Mereka mengangguk.
“Tapi dia juga aku tugaskan buat upgrading pabrik kita” lanjut pak Paul. Mereka bingung dengan maksud atasan mereka itu.
“Jadi, kalau Budi butuh informasi mengenai logistik maupun anyaman, kalian juga harus mau berbagi” lanjutnya lagi.
“Baik pak” jawab si Riki.
“Jangan iri. Semua punya tanggung jawab dan resiko masing – masing”
“Siap” jawab si Aldo.
“Oke, kalo gitu, sekarang kamu pulang. Temui ibumu, dan pamerkan seragam itu” perintah pak Paul pada Budi.
“Nggak sembarang orang bisa pake seragam putih itu lho Bud” celetuk Stevani.
“Jarang yang betah” tambah Erika.
“Ini aldo sama Riki, termasuk betah, lho. Semoga kamu juga” lanjut Stevani.
“Jangan lupa, minta doa sama ibumu. Sekalipun aku bukan muslim, tapi aku juga sama. Doa ibu adalah sebuah keajaiban. Kamu harus minta. Kalau perlu, sambil sujud di kakinya. Agar kamu selalu selamat dan lancar, dimanapun kamu berada” kata pak Paul.
“Baik, pak” jawab Budi. Matanya berkaca – kaca lagi.
Budipun berpamitan kepada mereka semua. Di dalam hati, dia ingin berteriak saking senangnya. Tapi dia sadar, bukan teriak yang harus dia lakukan, melainkan sujud. Tanpa peduli tempat, dia serta merta merendahkan tubuhnya, lalu melakukan sujud syukur. Tepat di depan pintu masuk lobi.
Saking bahagianya, dia sampai tak sadar kalau sudah lebih dari semenit dia sujud syukur. Sampai si resepsionis cantik menegurnya. Langsung dia mengendarai si bongsor, dan mengarahkannya menuju pasar, tempat ibunya berjualan.
Sesampainya di pasar, dia ganti helmnya dengan topi setelan seragamnya. Lalu berjalan perlahan seolah hendak berbelanja ikan laut. Topinya dia turunkan agar wajahnya agak tertutup. Dari sekian pedagang yang ada, tampaknya mereka pangling semua. Karena mereka menawari ikan seperti orang kebanyakan. Dia memilih mendekat ke lapak ibunya, tanpa menjawab tawaran pedagang lain.
“Monggo pak, keting apa tengiri?” tawar bu Ratih. Budi jongkok di depan beliau.
“Sekilo berapa, bu?” tanya Budi, sambil menunjuk polyfoam berisi ikan tengiri.
Bu ratih tidak segera menjawab. Dia heran, suara laki – laki ini seperti tidak asing. Mirip sekali dengan suara yang setiap hari dia dengar. Beberapa saat tidak kunjung ada jawaban, budi mendongakkan kepalanya sambil tersenyum.
“ALLOHU AKBAR” seru bu Ratih. Seruan itu sontak membuat perhatian semua pedagang tertuju padanya.
“Budi?” seru bu Ratih lagi.
Budi melepas topinya. Sehingga jelaslah sudah siapa yang mengenakan seragam putih – putih itu. Budi mengulurkan tangannya, hendak sungkem. Seperti dihipnotis, bu Ratih memberikan tangannya untuk Budi salami dan cium. Hanya air mata yang berbicara banyak di sini. Serta tangan kirinya yang mengelus – elus kepala Budi.
“Budi diterima, bu” kata Budi kemudian.
“Oh, ya? Alhadulillah, ya Alloh” seru bu Ratih lagi.
Dia mengulurkan kedua tangannya ke depan. Budi tahu apa yang dimau ibunya. Dia berdiri dan memutari polyfoam ikan. Lalu dipeluknya tubuh ibu yang sedang berlinang air mata itu. Seketika, suasana blok ikan laut berubah mengharukan. Para pedagang lain ikut bahagia melihat Budi sudah mendapatkan pekerjaan lagi. Pastinya dengan pendapatan yang lebih baik.
“Bu, ada udang nggak?”
__ADS_1
Suara seseorang menyentakkan keharuan bu Ratih. Beliau langsung melapaskan pelukannya pada Budi. Dan terlihatlah wanita muda seumuran Budi berjongkok di depannya.
“Udang kecil, mbak. Sekilo lima puluh” jawab bu Ratih setengah tergagap. Sambil tangannya menunjukkan bak berisi udang.
“Eh, mas Budi, ya?” tanya wanita itu pada Budi.
“Iya betul. Dengan siapa, maaf?” jawab Budi.
“Wah, bener – bener. Adel doang yang dilihat, aku enggak” komentar wanita itu.
“Oh, temennya Adel?”
“Iya, aku Tati. Wajar sih kalo mas nggak ngenalin aku. Orang pas aku perform, masnya asyik ngobrol sama Adel”
“Oh, yang di Fishbed Cafe?”
“Iya”
“Eh, tapi ini bukannya saya mau minta diskon, ya bu. Ha ha ha” lanjut Tati.
“Iya, ibu tahu. Sebelumnya juga mbak Adel juga kaget lihat Budi beresin ikan” jawab Bu Ratih.
“Oh, Adel udah pernah kesini, bu? Udah ngobrol sama ibu, dong?”
“Ya terus? Ngobrol sendiri sama layurnya, gitu?” sahut Budi.
“Ha ha ha ha, mana bisa? Ngaco” komentar Tati.
“Ya udah, bu. Udangnya setengah kilo aja” lanjut tati.
“Setengah kilo ya mbak” kata bu Ratih mengulangi perkataan Tati.
“Eh, video call yuk, mas, sama Adel. Lagi kuliah, dia” ajak Tati.
Lantas Tati mengambil ponsel dari dalam tas slempangnya. Dia memainkan layar ponselnya beberapa saat.
“Hai, Del. Udahan kuliahnya?” sapa Tati tanpa salam.
“Udah. Tapi masih ada satu kelas lagi. Eh kamu lagi belanja ikan?” jawab Adel.
“Iya. inget sama beliau nggak?” tanya Tati.
Dia mengarahkan ponselnya ke arah Budi. Budi dalam posisi duduk di sebelah ibunya, dengan topi yang diturunkan. Dia berlagak sedang membantu Bu Ratih.
“Itu sih Bu Ratih, aku kenal. Tapi itu siapa? Pacarnya bu Ratih ya?” kata Adel.
“Sembarangan” kata Bu Ratih sambil tergelak. Adel juga ikut tertawa.
“Ya terus siapa? Kaya mas Budi, sih. Tapi kan, “ tanya Adel.
“Bener – bener deh, baru juga kemarin ketemu. Sekarang udah lupa sama aku” komentar Budi. Dia melihat ke arah ponsel Tati sambil melepas topinya.
“Ya Alloh, Budi. Kamu diterima? Alhamdulillah” seru Adel.
Sejenak tampilan layar Tati buyar. Entah apa yang sedang dilakukan Adel.
“Del, kamu kenapa?” tanya Tati.
Tapi tidak ada jawaban. Hanya isak tangis yang terdengar di ponsel Tati. Beberapa saat kemudian, layar itu kembali memunculkan gambar. Ternyata Adel baru saja melakukan sujud syukur. Dia tampak masih menangis. Dia tak mampu menyembunyikan keharusannya.
“Masya Alloh, nduk. Kok kamu sampe segitu terharunya lihat Budi pakai seragam lagi. Padahal baru kenal” komentar bu Ratih. Adel tak menjawab. Dia masih belum bisa berkata – kata.
__ADS_1
“Makasih ya, Del. Kamu udah bantu aku. Aku nggak tahu harus balas dengan apa” kata Budi. Adel masih saja menangis. Tiba – tiba Adel mematikan sambungan video callnya.
“Lah, kok dimatiin?” tanya Tati bingung.
Sesaat kemudian, muncul satu pesan singkat dari Adel
“Tolong sampein ke Budi, aku mau ke situ. Suruh tunggu, ya. Thanks” kata Tati membacakan isi pesan itu.
“Mbak Adel mau ke sini, mbak?” tanya bu Ratih.
“Bilangnya gitu, bu” jawab Tati.
“Ini bu, uangnya”
“Pas, ya?”
“Iya, makasih, bu”
“Sama – sama"
“Aku balik dulu, mas Bud” pamit Tati.
“Iya, makasih ya, mbak Tati”
“Sama – sama” jawabnya.
Bu ratih tersenyum menggoda Budi. Baru kenal saja sudah sampai segitunya Adel, ikut merasa terharu. Artinya,dia punya rasa dengan Budi. Budi hanya tertawa saja. Dia tidak tahu harus komentar apa.
Menjelang makan siang, Adel terlihat muncul di blok ikan laut. Kedatangannya disambut meriah oleh para pedagang. Terlebih, ada pembeli yang juga merupakan fans berat Adel. Niatnya langsung mau bertemu Budi dan bu Ratih, tapi terhambat mereka yang minta foto bersama.
Bu Ratih tersenyum saat Adel berjalan menghampirinya. Dia menyalami bu Ratih, sekaligus mencium tangannya. Membuat seisi blok ikan laut riuh lagi.
Mereka menggoda bu Ratih. Mereka mengatakan kalau bu ratih akan dapat mantu artis. Bu Ratih hanya tertawa dan mengaminkan.
“Gimana kalo kita makan bakso? Udah jam makan siang kan, bu?” ajak Adel.
“Kalian aja, berdua. Ibu makan di sini aja” tolak bu Ratih halus.
“Yah, kok gitu, bu?” tanya Budi.
“Ya terus ibu disuruh ngapain? Jadi obat nyamuk? Ogah” jawab bu Ratih.
“Hmpf. Ha ha ha ha” Adel tergelak mendengar kelakar bu Ratih.
“Jangan gitu dong bu, kan Adel jadi nggak enak, sama ibu” kata Adel.
“No, ibu tahu rasanya jadi obat nyamuk. Lebih menyakitkan daripada jomblo” jawab bu Ratih.
“Ibu pernah jomblo? Kasihan. Ha ha ha ha” goda Budi.
“Eh, bocah. Malah ngeledek ibu”
“Ha ha ha ha. Ampun, geli” Budi tertawa sambil menggeliat kegelian digelitik ibunya.
“Gimana, mas?” tanya Adel.
“Ya udah, hayu. Ibu dibungkusin aja, ya” jawab Budi.
“Iya” jawab bu Ratih.
“Kita makan dulu ya, bu” pamit Adel. Dia salaman lagi sama bu Ratih. Dan lagi – lagi, mendapat sambutan meriah dari para pedagang ikan.
__ADS_1
Adel hanya tertawa menanggapi riuhnya godaan teman – teman ibunya Budi itu. Dia mengajak Budi untuk berjalan kaki saja, menuju warung bakso di seberang jalan. Budi mengiyakan. Toh tidak jauh jaraknya. Kalaupun jauh, siapa sih yang tidak mau berjalan kaki berdua dengan wanita secantik ini.