Permata Hati Sang Mantan Preman

Permata Hati Sang Mantan Preman
kabar baik buat Vani


__ADS_3

Stevani tampak serius mengulas kembali kajian yang baru saja dia dapatkan dari salah satu ustadzah. Air matanya meleleh saat teringat, betapa kajian kali ini berkaitan sekali dengan apa yang sedang dia alami.


Di dalam hati dia bersyukur masih dirangkul oleh Yang Maha Kuasa, Tuhan semesata alam. Dia sudah semakin iklas dengan kasus yang membelitnya.


Ibarat kata dia harus merasakan penjara untuk sekian tahun kedepan, bahkan atas tuduhan kejahatan yang sama sekali tidak dia perbuat, di dalam hati dia katakan pada Tuhannya, dia menerima semua ini.


Namun dia juga memohon dalam doanya, agar segera diberikan jalan. Segera diberikan kemudahan agar persidangan yang sangat dia nanti-nantikan segera dilangsungkan.


“Vani. Ada tamu”


Suara seseorang membuyarkan lamuannya. Seorang petugas jaga, berdiri dengan raut wajah tegas. Namun dia tidak merasa takut. Karena dia tahu, petugas itu orangnya baik.


“Oh, ya. Baik” jawab Stevani.


Dia langsung membereskan kitab dan buku catatan kajiannya. Sesaat kemudian, dia sudah berada di ambang pintu sel tahanan. Dia keluar dikawal petugas jaga itu.


“Mas Hendra?”


Ada senyum mengembang di bibirnya, setelah mengetahui siapa yang datang bertamu.


“Apa kabar, mbak?” sapa Hendra. Mereka bersalaman.


“Alhamdulillah, baik. Syukurlah, mas Hendra yang dateng” jawab Stevani.


“Emang kenapa,mbak? Budi ke sini lagi?” tanya Hendra.


“Enggak. Cuman aku kaya masih trauma aja. Aku nggak kuat denger tuduhan-tuduhan dia waktu itu”


“Oh. Yang dulu itu” komentar Hendra pendek.


“Ada berita apa, mas?” tanya Stevani.


Hendra tak langsung menjawab. Dia tersenyum terlebih dahulu. Membuat Stevani bingung.


“Sebentar lagi polisi akan menangkap si otak intelektual, mbak. Posisinya sudah dilokalisir” jawab Hendra.


“Apa? serius?” tanya Stevani kaget.


“Serius. Jejak sibernya juga ditengarai punya korelasi dengan jejak digital forensic dari rekaman percakapan yang diselidiki laboratorium digital”


“Korelasinya?”


“Laboratorium digital telah mengeluarkan data spesifikasi alat perekam berdasarkan data base yang mereka punya. Sejauh yang merea tahu, jenis alat perekam dengan spesifikasi itu belum diproduksi di Indonesia. Nah, saat ini pihak kepolisian bekerjasama dengan bea cukai, sedang melakukan pelacakan barang dengan ciri-ciri tersebut”

__ADS_1


“Darimana mas tahu sampe sedetil itu?” tanya Stevani lirih.


Hendra tidak segera menjawab. Dia memperhatikan sekitarnya. Walau dia berlagak tergelak dan tertawa.


“Ada baiknya mbak Vani nggak perlu tahu darimana saya dapetin info ini. Justru kalo saya nggak dapet info kaya gini, mbak Vani perlu banget nanyain kenapanya” jawab Hendra. Stevani tersenyum. Di merasa kalau jawaban Hendra ada benarnya juga.


“Kamu nggak lagi menghibur aku kan, mas?” selidik Stevani.


“Hem?” Hendra bingung dengan pertanyaan itu.


“Sejak kapan saya dibayar buat menghibur keluarga mbak Vani?” lanjut Hendra. Stevani tidak menjawab. Dia hanya mengernyitkan dahinya.


“Bukannya dari awal saya malah banyak ngasih kabar buruk buat mbak Vani?” tanya Hendra lagi. Lagi-lagi stevani tidak langsung menjawab. Dia merasa kalau Hendra masih punya kalimat yang akan disampaikan.


“Saya dibayar untuk membantu keluarga mbak Vani keluar dari masalah hukum. Kalaupun saya bawa kabar baik, ya memang begitu adanya” lanjut Hendra. Stevani tersenyum.


“Terus, kita harus gimana?” tanya Stevani. Dia tampak bersemangat dengan berita baik ini.


“Saya ada beberapa skenario yang harus saya bahas dengan mbak Vani. Secara garis besar, saya membaginya berdasarkan siapa otak intelektual itu sebenarnya” jawab Hendra.


“Maksudnya?”


“Kita belum tahu, apakah otak intelektual ini orang dari masa lalu Budi, apakah dia itu orang yang dekat dengan Budi, atau orang yang sama sekali tidak terkait dengan Budi”


“Ya. Bisa jadi orang ini adalah orang yang suka sama Budi. Dia ingin memiliki Budi, tapi terhalang oleh wanita lain. Secara gamblang, ada dua wanita yang terang-terangan juga mendekati Budi. Salah satunya sukses mendapatkan hatinya. Orang keduanya, adalah mbak Vani”


Adel manggut-manggut mendengar jawaban Hendra. Dia berpikir, masuk akal juga. Seperti dia yang juga dibilang nekad oleh Adel, bukan tidak mungkin buat orang lain melakukan tindakan senekad ini.


“Nggak peduli siapa mbak Vani, siapa Adel, selama menjadi penghalang, ya dia sikat” lanjut Hendra.


“Aku pikir kok berlebihan, ya? Terlalu ruwet dan nggak efektif. Emang sekarang mereka bubaran? Enggak kan?” komentar Stevani.


“Iya sih”


“Kalo dia dari masa lalu Budi, harusnya Budi dong yang jadi titik fokusnya?” tanya Stevani.


“Ngelawan Budi dengan kekerasan semata, udah terbukti nggak bikin Budinya ancur”


“Hem?”


“Budi nggak pernah takut sama yang namanya penjara. Dari penjara juga dia bisa bales dendam. Dan itu masih cukup menakutkan bagi siapapun yang berurusan dengannya”


“Lalu?”

__ADS_1


“Berdasarkan informasi-informasi yang berhasil saya himpun, Budi punya satu kelemahan, yaitu perasaannya”


“Oh, ya? Dia nggak berperasaan loh, sama aku. Dia ngadepin aku kaya ngadepin musuh bebuyutannya, tahu nggak?”


“Itu karena semua tuduhan sedang mengarah ke mbak Vani. Dan kalau benar otak intelektual ini adalah orang dari masa lalu Budi, kita punya point keunggulan di sini. Kita bisa menang dengan mdah di persidangan”


“Kalau ternyata dia sama sekali tidak terkait sama Budi?”


“Itu yang menjadi poin perhatian. Kalo orang ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan Budi, sudah barang tentu motifnya menjadi tanda tanya besar. Dan saya sendiri belum bisa melihat, amunisi apa saja yang masih dia simpan untuk persidangan. Ada kemungkinan, dia sudah menyiapkan strategi untuk melimpahkan kesalahan itu kepada mbak Vani. sehubungan dengan jaringan bodyguard mbak Vani”


“Jaringan? Aku cuman punya satu bodyguard”


“Yang berhubungan langsung dengan mbak Vani, memang cuman satu. Tapi sebenernya temen dia banyak. Kontrak dengan bapaknya mbak Vani adalah sebagai kelompok, bukan perorangan”


“Kalo mereka banyakan, kenapa mereka nggak ngebantuin aku saat Budi nyekap aku di gudang?”


“Itu yang saya juga nggak habis pikir”


“Hem?”


“Saya masih menunggu berkas dari bapaknya mbak Vani. Tentang siapa mereka, dimana mereka sekarang, dan juga jawaban atas pertanyaan, dimana mereka di malam itu”


“Emangnya kita bisa bawa mereka ke persidangan? Bunuh diri itu namanya, mas?”


“Kita emang nggak bisa ungkap mereka semua ke persidangan. Cuman satu aja, yang berhubungan dengan mbak Vani aja. Tapi informasi dari berkas itu sangat penting untuk membuat strategi”


Stevani menatap lekat mata Hendra. Ada banyak sekali pertanyaan dalam benaknya.tapi dia sendiri belum tahu, pertanyaan mana yang akan dia ajukan terlebih dahulu. Dia hanya menghela nafas berat.


“Lalu?”


“Di persidangan nanti, mbak Vani harus mengikuti setiap step yang sudah saya siapkan! Melenceng sedikit, kita bisa keteteran. Karena kita juga masih punya satu lawan yang juga cukup merepotkan”


“Adel?”


“Ya” jawab Hendra singkat. Stevani menghela nafas lagi.


“Jangan sampai terprofokasi! Mbak Vani harus fokus, harus bisa memilah. Nanti saya bawakan detilnya” lanjut Hendra.


“Ya. Percepat aja, mas! Semakin banyak diskusi, semakin banyak yang bisa kita eksplore!”


“Baik, mbak”


***

__ADS_1


__ADS_2